GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
20. Cinta Mati Bayu Dirgantara.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Cira dan Lian sudah selesai menyiapkan ruang rapat yang akan di gunakan pagi ini.


Lian melihat ke arah Cira yang tidak banyak bicara sejak tadi pagi. Lian melihat teliti dari ujung kepala, wajah dan kaki Cira. Lian kemudian menilai Cira secara diam-diam.


"Cira memiliki tinggi dan postur tubuh yang langsing berisi. Wajahnya cantik walaupun make-up nya sedikit tebal hari ini. Penampilannya menggunakan pakaian yang bermerek, itulah putri keluarga kaya sekelas keluarga Santoso." Gumamnya menilai penampilan Cira hari ini.


Lian kembali memperhatikan langkah kaki Cira, sedikit pincang yang ia paksakan dengan menggunakan sepatu hak tinggi 7 cm.


"Cira, kaki mu sakit?" Tanya Lian ke arah Cira yang ada di sampingnya.


Cira melihat ke arah Lian, kemudian melihat ke arah kakinya yang di katakan sakit. Langkahnya memang sedikit pincang, akibat terkilir dua hari yang lalu, belum sembuh dan belum di obati. Cira memaksakan dirinya dan menahan semua rasa sakitnya.


"Sedikit, kemarin terkilir. Tapi sekarang sudah lebih baik." Bohongnya. Padahal rasa sakit yang ia tahan sangat menyiksanya.


Lian melihat intens wajah Cira dari arah samping. Jika di lihat lebih teliti lagi, mata Cira sedikit bengkak. Namun sukses di tutupi oleh make-up yang cocok pada kelopak matanya.


"Kamu habis menangis?" Tanya Lian menghentikan pergerakkan tangannya saat akan meletakkan beberapa berkas di atas meja.


"Tidak." Gelengnya berbohong. Cira sekarang sudah pandai berbohong untuk menutupi luka dan rasa sakitnya.


"Ada apa Cira? Kamu pasti sedang berbohong sekarang." Kata Lian tidak percaya, ia merasa ada yang tidak beres pada gadis cantik di sampingnya.


"Tidak mbak. Saya baik baik saja. Ayo kita selesaikan ini, saya tidak mau mendapatkan masalah dari atasan kita yang seperti kutub utara. Seperti yang mbak katakan." Balas Cira mencoba tersenyum ke arah Lian.


Lian terdiam sejenak. "Kamu benar, dia itu kutub utara. Dingin dan arogan." Balas Lian membalas senyum Cira yang begitu terlihat manis.


"Baiklah, mari kita selesai ini. Dan duduk menunggu kedatangan mereka." Kata Lian senang jika melihat teman satu ruangannya kini ceria kembali.


Mereka menyelesaikan semuanya dengan cepat dan rapi. Duduk pada kursi sekretaris yang sudah di siapkan pada ruangan tersebut. Menunggu kedatangan presdir dan beberapa orang yang akan terlibat di dalam rapat pagi ini.


Kabar yang ia dengar saat melangkah menuju ruang rapat. Semua manager dan ketua bagian serta sekretaris mereka di harapkan hadir dalam rapat kali ini. Cukup membuat beberapa orang tegang dan takut. Mereka sebenarnya berharap rapat ini akan di tunda dan tidak jadi di adakan.


Beberapa menit kemudian beberapa dari mereka datang, namun ternyata sekretaris beberapa manager serta ketua bagian. Mereka datang melihat kesiapan ruang rapat yang akan di gunakan. Termasuk Caroline Santoso, adik angkat Cira ikut dalam rapat itu.


Caroline datang mendekati kakak angkatnya. Gadis itu tahu jika Cira bekerja di perusahaan tersebut sejak kemarin. Kabar itu ia dapatkan dari Mona, tante tersayangnya.


"Hai…Cira…!!" Sapa Caroline tersenyum remeh melihat penampilan Cira yang berbeda dari sebelumnya.


Cira diam dan melihat saja. Cira tahu jika Caroline hanya datang untuk basa basi saja.


"Penampilan mu ternyata sekarang sudah berubah ya." Kata Caroline mengomentari penampilan Cira pagi ini.


"Bahkan make-up mu sangat tebal dan terlihat menor." Ucapnya terlihat aneh ke arah Cira.


Lian tahu maksud perkataan Caroline. Dia tidak suka pada gadis sombong dan angkuh di hadapannya.

__ADS_1


"Tidak juga. Make-up Cira cantik dan sangat cocok untuknya." Bela Lian karena Cira hanya diam saja.


Caroline melihat ke arah sekretaris pribadi presdir mereka. Dia tahu jika Lian tidak seharusnya ia singgung. Sebenarnya Lian cukup arogan dan terkadang kejam seperti atasannya. Lian tidak segan segan menghajar dan menegur mereka yang tidak ia sukai.


"Maaf ya mbak. Aku sedang bicara kepada kakak perempuanku. Tidak ada urusannya dengan mu." Balas Caroline. Ia merasa ada di atas angin karena dukungan Mona, tantenya.


Lian tersenyum remeh dan mengejek ke arah Caroline, wanita itu tahu gadis sombong yang ada di hadapannya tersebut hanyalah mengandalkan dukungan dari tantenya.


"Memang tidak ada urusannya dengan ku. Tapi kau terlalu besar kepala hanya karena dukungan dari nyonya Mona. Tanpa nyonya, kau bukan siapa-siapa." Ucapnya remeh seakan menghina kemampuan Caroline yang memang ada di bawah standar perusahaan mereka.


"Bahkan kemampuan mu tidak seberapa. Kau hanya mampu berdiri di balik nyonya Mona. Tidak memiliki kemampuan apapun yang perlu di banggakan." Remeh Lian dengan tatapan menjijikkan melihat ke arah Caroline.


Lian tahu bagaimana sikap arogan dan sombong Caroline di dalam perusahaan tersebut. Sikap di atas angin yang suka memandang remeh karyawan lainnya, tanpa melihat kemampuan dirinya sendiri yang sebenarnya.


Bahkan dia bekerja menjadi sekretaris manager, hanya untuk menarik perhatian pria tampan yang tidak pernah melihatnya sama sekali. Sangat memalukan, melakukan segala cara untuk menarik perhatian seorang pria yang acuh dan dingin kepadanya.


"Apa maksud mu?" Tanya Caroline kesal akan perkataan yang meremehkan dirinya.


Lian tersenyum mengejek ke arah Caroline.


"Naikan dan perbaiki dulu kemampuan mu, baru kau menghina dan mengomentari orang lain." Ucapnya dengan tatapan yang cukup tajam dan tidak suka melihat ke arah Caroline.


Caroline menggenggam kuat kedua tangannya, hingga buku buku jarinya memutih menahan amarahnya. Hinaan Lian tidak bisa ia balas, bahkan dia tidak dapat menyentuh Lian sama sekali, walaupun dia melaporkan Lian yang sudah tidak sopan kepada tantenya, Mona. Itu tidak akan berpengaruh dan menjatuhkan Lian.


"Nikmati setiap hari harimu selajutnya, kakak." Ucap Caroline ke arah Cira, kemudian berlalu dari tempat itu. Caroline keluar dari ruangan tersebut.


"Sepertinya kamu dan dia tidak akur." Komentar Lian melihat ke arah Cira yang hanya diam sejak tadi.


"Apa dia selalu seperti itu di rumah." Komentarnya lagi.


"Tidak. Hanya terkadang saja." Kali ini Cira berkata jujur.


"Tenang Cira. Aku akan selalu mendukungmu. Aku tahu kamu gadis yang baik." Kata Lian membelai lembut pundak Cira.


Cira hanya diam saja sembari melihat ke arah berkas yang ada di tangannya. Ada rasa haru di dalam hati Cira atas perhatian kecil dari Lian.


"Mbak. Aku permisi ke toilet dulu." Ucap Cira tanpa melihat ke arah Lian.


Lian tahu jika Cira sedang tidak baik baik saja hari ini. Dia mengerti dan mengijinkan Cira untuk menghindar beberapa waktu.


"Baiklah. Serahkan semua yang ada di sini padaku." Sahut Lian menenangkan Cira.


Lian melihat punggung Cira dari kejauhan. Sangat jelas Cira tengah ada masalah dan menahan sakit pada kakinya yang terlihat sedikit pincang. Lian merasa iba terhadap teman barunya tersebut.


"Terlihat jelas kamu tertekan hari ini. Tapi kamu bisa menahan dan mengendalikan diri dengan hanya diam saja." Gumamnya pelan melihat Cira yang sudah menghilang dari pandangan matanya.


Beberapa menit kemudian, beberapa orang yang akan ikut dalam rapat hari ini datang satu persatu. Banyak bisikan terdengar dari mereka, jika rapat dadakan hari ini di sebabkan oleh sekertaris baru presdir. Sekretaris yang mampu menyelesaikan beberapa berkas penting yang tidak dapat mereka selesai, menurut kemauan dan kehendak dari Bara Daimos.

__ADS_1


Lian tidak tuli untuk tidak mendengarkan bisikan mereka. Beberapa mata melihat ke arahnya. Lebih tepatnya lagi melihat dan mencari keberadaan sekretaris baru presdir yang sangat menggemparkan seisi kantor pagi ini. Entah siapa yang menyebarkan berita tersebut?


Setelah semuanya berkumpul di ruang rapat. Cira belum kembali juga, dia membutuhkan waktu sedikit lama untuk mempersiapkan dirinya.


Presdir masuk ke ruang rapat dengan langkah panjang dan tegapnya. Wajahnya yang datar dengan tatapan mata dinginnya mencari keberadaan seseorang di sana. Pria itu mencari keberadaan Cira sebagai sekretaris barunya yang akan membantunya mempresentasikan materi rapat hari ini.


Setelah duduk, Bara berbisik kepada Kai. Tentunya sikap Bara menjadi perhatian dari semua orang yang hadir.


"Di mana wanita itu?" Tanya Bara kepada Kai.


Kai sontak melihat ke arah di mana Lian duduk. Benar saja, Cira yang di cari tidak ada di sana. Saat Kai akan menjawab tidak tahu, dari arah pintu samping ia melihat kedatangan Cira dengan langkahnya yang tergesa-gesa karena melihat ruang rapat yang sudah ramai akan kehadiran beberapa orang.


"Itu dia, tuan." Balas Kai melihat ke arah di mana sekarang Cira duduk.


Kedatangan Cira di sana menjadi perhatian semua orang. Ada yang terlihat kagum karena kecantikan sekretaris baru presdir tersebut. Ada yang memandang tidak suka, dan ada juga yang memandang terkejut saat melihat kehadiran Cira di sana.


Kai datang mendekati Cira dan berkata sesuatu.


"Sekretaris Cira, tuan Bara ingin anda yang mempresentasikan materi hari ini, karena semua materi berkas hari ini anda yang menyelesaikannya." Ucap Kai yang sontak membuat Cira dan Lian terkejut. Bagaimana bisa dia yang hanya seorang sekretaris, mempresentasikan materi rapat.


"Tapi tuan." Ragu Cira ingin menolak. Namun panggilan namanya yang di lakukan oleh Bara, mengalihkan perhatiannya dan semua orang yang hadir di sana melihat ke arahnya.


"Elcira Ardelia. Cepat…!" Panggilan Bara sedikit keras dan tegas.


Cira melihat ke arah Bara. Mau tidak mau ia pun beranjak bangkit setelah menghembuskan nafasnya secara perlahan. Melangkah tanpa ragu, Cira mendekati atasannya tersebut.


"Iya tuan." Ucap Cira setelah berdiri di samping Bara, semua mata memandang ke arah mereka.


Terlebih lagi dua pasang mata yang melihat dengan tatapan berbeda. Satu mata melihat Cira dengan sikap sombongnya meremehkan, dia adalah Caroline Santoso yang tahu siapa sebenarnya Cira untuk Bara. Sedangkan satu pasang mata lagi melihat Cira dengan kagum dan penuh kerinduan di dalam sorot matanya, dia adalah Bayu Dirgantara.


Pria tampan yang menduduki kursi manager di perusahaan tersebut. Pria tampan yang merupakan keponakan laki-laki Bara Daimos. Pria yang menjadi cinta mati dari Caroline Santoso. Pria tampan yang menjadi incaran dari semua gadis dan wanita yang menginginkan menjadi pasangannya.


Pria yang sangat mencintai Elcira Ardelia. Wanita yang begitu sangat ia rindukan beberapa hari ini, di saat wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar sama sekali. Kini pria itu melihat wanitanya begitu cantik dan anggun dengan setelan pakaian kantornya. Wanita yang mampu mengalihkan perhatian dan hati seorang Bayu Dirgantara.


Bayu Dirgantara adalah cinta pertama Elcira Ardelia. Hubungan cinta di antara mereka telah terjalin selama 3 tahun berjalan sampai detik ini. Hubungan yang mereka jalin tanpa di ketahui oleh keluarga mereka masing-masing. Hubungan yang banyak menyembunyikan sesuatu, bahkan siapa mereka yang sebenarnya?


Melihat kekasih hatinya ada di sana, tepat di hadapannya. Senyum Bayu Dirgantara mengembang begitu saja tanpa bisa ia cegah. Membuat wajah tampannya yang selalu datar dan dingin, menjadi semakin tampan dengan senyum langka yang ia perlihatkan saat ini. Kedatangan Cira membuat hati Bayu Dirgantara berbunga-bunga. Cinta matinya hanya untuk Elcira Ardelia.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2