
***Panti Asuhan***
Semua yang ada di tempat itu terkejut dengan tubuh Cira yang terhuyung ke arah belakang, kecuali Caroline. Gadis ini terlihat tidak suka akan tindakan Cira yang menurutnya pasti hanya bersandiwara.
"Kamu baik baik saja, sayang." Tanya Karina terlihat khawatir melihat Cira kini mulai pucat pasi.
"Kamu masih kurang sehat. Seharusnya tidak memaksakan diri untuk bekerja." Kini giliran Bayu yang berucap. Pria itu masih jelas mengingat jika Cira baru hari ini masuk kantor kembali, setelah tiga hari sakit dan di rawat.
Karina melihat ke arah Bayu. Dapat ia tangkap jika perkataan Bayu mengatakan yang sebenarnya.
"Kurang sehat. Kamu sakit sayang?" Tanya Khawatir Karina kepada Cira.
"Sudah tiga hari ini Cira di rawat, karena tiba-tiba pingsan di kantor." Sedikit penjelasan dari Bayu.
"Pingsan di kantor. Kalau kamu masih sakit, kenapa tidak libur saja. Minta cuti sama atasan mu." Ucap Karina.
"Bagaimana mau minta cuti sama atasan yang galak. Oma tahu kan bagaimana Om Bara? Seorang yang pekerja keras, dan semua yang mengikutinya harus ikut seperti dia. Jadilah Cira seperti ini, kelelahan." Ungkap Bayu selayaknya anak kecil yang sedang merajuk.
Karina mengerutkan keningnya, dia terdiam dan berpikir untuk mencerna semua ucapan Bayu. Ucapan Bayu terniang kembali di ingatan Karina, Cira bekerja bersama Bara, apa ini benar?
"Maksudnya, Cira bekerja di bawah perintah Om Bara mu langsung, begitu?" Tanya Karina ingin kejelasan.
"Iya Oma, Cira adalah sekretaris sekaligus asisten kedua Om Bara di kantor." Balas Bayu tanpa beban sama sekali. Sedangkan Caroline yang tahu jalan cerita Cira, Mona Dan Bara hanya diam menyimak saja.
Karina cukup terkejut tidak percaya, mulutnya sedikit terbuka dan matanya membulat sempurna. Bagaimana bisa seperti ini?
'Baru saja aku mengatakan ide perjodohan yang di tolak oleh Cira. Sekarang pada kenyataannya, Cira dan Bara sudah saling mengenal. Bahkan mereka bekerja di satu tempat yang sama dan setiap hari bertemu.' Gumam Karina di dalam hatinya melihat ke arah Cira yang memandangnya dengan tatapan yang berbeda.
'Dunia memang sempit dan takdir tidak dapat di tebak akan ke mana membawanya.' Gumam Karina kembali di dalam hatinya.
''Semoga saja mereka miliki ikatan jodoh. Aku berharap Bara dan Cira saling menyukai di saat kebersamaan mereka setiap hari di kantor. Aku hanya akan sedikit membantu untuk lebih mendekatkan mereka.' Gumam Karina masih asyik dengan pikirannya sendiri.
Tanpa Karina sadari sendiri, dia melupakan Mona sebagai istri pertama Bara yang masih sah saat ini. Apakah dia bisa melakukan itu?
Sedangkan Cira tidak bisa mengatakan apapun? Bagaimana bisa takdir membawa mereka seperti ini? Baru saja ia dan Bara akan di jodohkan oleh Karina, dan dengan tegas di tolak oleh Cira sendiri. Ini semua tidak masuk akan, tetapi nyata terjadi tanpa dapat Cira cegah.
"Oma, kenapa Oma diam saja." Tegur Bayu yang masih berdiri di samping Cira.
"Tidak ada sayang. Oma hanya tidak menyangka saja, kalau Cira ternyata kerja bersama Om kamu." Ucap Karina dengan tatapan matanya yang terlihat puas dengan senyum kemenangan yang kini di perlihatkan kepada Cira.
Cira hanya dapat tersenyum getir akan semua itu.
"Oma mengenal Cira." Kini giliran Bayu yang ingin kejelasan dari Omanya.
"Kami sudah saling mengenal cukup lama. Iya kan sayang." Ucap Karina melihat ke arah Cira yang terlihat mulai salah tingkah akan situasi mereka sekarang.
__ADS_1
"I…Iya tante." Balas Cira sembari menelan salivanya dengan susah payah.
"Dunia memang sangat sempit ya, dan takdir kita ternyata terus terhubung, iya kan Cira." Giliran Bayu yang menatapnya dengan aneh.
'Kenapa keduanya menatapku seperti itu? Ada apa dengan mereka berdua?' Gumam Cira di dalam benaknya, merasa tidak nyaman akan tatapan mata mereka.
Cira hanya tersenyum sebisa mungkin untuk menutupi rasa gelisahnya. Dia benar-benar ada pada situasi yang sulit.
Cira lalu berpikir sejenak. Monalah yang memerintahkannya untuk datang ke sini, untuk menemui dan menemani mama mertuanya. Apa dia sengaja ingin mempertemukan dirinya dengan Karina? Apa tujuan Mona? Itulah yang kini Cira pikirkan.
Bukankah seharusnya Cira di sembunyikan dengan rapat dari anggota keluarga Daimos hingga dia melahirkan nantinya? Tapi mengapa Mona justru mempertemukannya dengan Karina? Sedangkan kasus Bayu berbeda, karena mereka tidak sengaja di pertemukan di tempat kerja yang sama. Tanpa mereka berdua sadari.
Karina dan Caroline dapat melihat jelas tatapan teduh serta hangat Bayu kepada Cira. Kedua wanita berbeda usia itu terlihat curiga akan sikap ramah Bayu, seakan memuja sosok Cira.
'Tatapan Bayu begitu hangat dan seakan penuh puja. Apa Bayu benar-benar menyukai Cira? Bahkan Bayu tidak pernah sekali pun melihat ku dengan tatapan seperti itu. Ini tidak boleh terjadi, mereka tidak boleh saling menyukai. Bayu hanya milikku.' Gumam Caroline di dalam benaknya, sembari melihat ke arah Bayu dan Cira secara bergantian.
Kepalan kedua tangan Caroline kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan rahangnya mengeras untuk menahan amarahnya terhadap Cira yang berani membuat Bayu menyukai wanita itu, Caroline marah karena Bayu menatap Cira dengan begitu hangat dan penuh puja.
Sedangkan Karina tidak kalah curiga akan tatapan hangat penuh puja Bayu kepada Cira.
'Tatapan anak ini begitu hangat terhadap Cira. Apa Bayu menyukai Cira? Bagaimana ini, jika benar seperti itu? Itu artinya akan sangat sulit untuk aku menjodohkan Bara dengan Cira. Tidak mungkin aku mengorbankan perasaan cucuku sendiri, jika benar Bayu menyukai Cira.' Gumamnya di dalam hati. Karina dapat melihat begitu memujanya Bayu terhadap Cira.
Karina harus mencari tahu tentang perasaan Bayu, dan dia berharap kalau Bayu tidak memiliki rasa kepada Cira. Agar memudahkannya untuk melancarkan semua ide rencananya.
"Baiklah, karena kita sudah kumpul di sini. Oma senang melihat kalian ada bersama Oma." Ucapnya sebagai pengalihan tatapan Bayu.
"Sudah Oma. Semuanya berjalan dengan lancar seperti yang kita inginkan. Beberapa perusahaan, mall, dan Butik ternama yang ikut bekerja sama dengan perusahaan Daimos grup. Setuju untuk mengikuti acara lelang amal yang kita adakan, dan pendapatan dari lelang itu 50% nya akan di sumbangkan ke beberapa panti asuhan yang sudah Oma pilih." Itulah informasi yang di berikan oleh pihak perusahaan saat keputusan rapat telah di ambil.
"Bagus. Oma senang. Sebagian harta dan pendapatan yang kita miliki adalah hak untuk mereka." Ungkap Karina bahagia sembari melihat ke arah anak anak yang sedang bermain di taman.
Cira dan Bayu terlihat bangga akan sikap murah hati Karina. Wanita kaya raya yang Royal dan tidak sombong. Sedangkan Caroline masih sibuk mengamati sikap Bayu kepada Cira, pria yang selalu mencuri-curi pandang ke arah wanita yang sedang menyembunyikan kehamilannya itu.
"Kalau begitu mari kita kembali. Urusan Oma di sini sudah selesai, karena ada urusan yang harus Oma lakukan sekarang." Ucap Karina.
Wanita paruh baya itu melihat ke arah ibu Sofia dan ibu Nadia selaku kepala panti. Karina segera pamit undur diri, tidak lupa Cira, Bayu dan Caroline juga pamit. Mereka sudah selesai melakukan tugas di panti asuhan itu.
Sejenak Karina memberikan perintah kepada asisten dan supir yang mengantarkannya tadi, untuk mengikuti mereka dari arah belakang. Karina ingin satu mobil bersama Bayu, Cira dan Caroline. Bayu sendiri yang mengemudikan mobilnya, dan itu mobil pribadi Bayu.
"Oma akan ikut bersama kalian." Ucap Karina melihat ke arah mereka secara bergantian. Mereka berempat berdiri di samping mobil Bayu.
"Baik Oma. Akan Bayu antar Oma langsung pulang ke mansion." Setuju Bayu merasa senang jika Omanya ingin ikut bersama mereka.
"Bukan ke mansion, tapi ke kantor. Ada yang ingin Oma bahas bersama Om Bara dengan segera." Balasnya, tetapi lirikkan matanya sejenak melihat ke arah Cira yang tidak sengaja juga melihat ke arah Karina.
"Baiklah, ayo…!" Ajak Bayu tanpa banyak curiga ataupun bertanya.
__ADS_1
Caroline dengan cepat duduk di bangku depan samping kemudi, dia ingin selalu berada di dekat Bayu. Sedangkan Cira dan Karina duduk pada bangku belakang. Bayu segera melajukan mobilnya ke arah kantor.
...--------------------------------...
***Perusahaan Daimos Grup***
Sedangkan di dalam ruang kerja Bara setelah rapat selesai, Mona ikut masuk ke dalam karena ajakan dari Bara. Padahal wanita itu ingin segera pulang, ada yang harus ia kerjakan.
"Mengapa kamu mengirim Cira ke panti asuhan untuk menemani mama?" Tanya langsung Bara tanpa basa basi. Ia sudah cukup bersabar menahan pertanyaan tersebut.
Bara tidak suka jika Cira bertemu dengan mamanya. Seharusnya sosok Cira mereka sembunyikan dari anggota keluarga mereka. Tapi Mona malah melakukan hal yang ada di luar perjanjian mereka.
"Ada apa, itu tidak jadi masalah bukan." Balas Mona dengan sikap tenangnya sembari duduk anggun pada sofa yang ada di sana.
"Tidak masalah katamu. Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?" Ucap Bara masih dapat menahan nada suaranya yang sedang kesal.
"Seharusnya kehadiran Cira kita sembunyikan dari anggota keluarga Daimos. Tapi kamu malah mengirimnya untuk bertemu dengan mama, apa maksud mu?"
Mona masih bersikap tenang, dia melihat ke arah Bara dengan senyum tipis mengembang pada bibirnya. Wanita itu tahu jika Bara saat ini sedang berada pada mode marah.
"Aku tidak memiliki maksud apa pun. Tidak ada gunanya kita menyembunyikan sosoknya dari anggota keluarga Daimos. Lagi pula mama tidak akan curiga siapa Cira sebenarnya, karena dia pergi ke sana tidak sendiri. Ada Bayu dan Caroline yang menemaninya." Ungkapnya.
Bara terkejut karena nama Bayu yang di sebut. Bayu ikut pergi bersama Cira, walaupun ada Caroline di sana. Bara tetap tidak suka jika Cira berada dekat dengan Bayu. Pria yang ia ketahui menjadi kekasih dan cinta pertama Cira, sekaligus keponakan laki-lakinya.
"Bayu ikut ke sana!" Ungkapnya dengan penekanan setiap kata-katanya.
"Iya." Angguk Mona tanpa mengerti maksud Bara.
Mona tidak tahu jika Bayu dan Cira memiliki hubungan yang sangat dekat. Jadi dia sengaja mengirim Cira bersama dengan Bayu dan juga Caroline. Agar Karina mama mertuanya tidak curiga apa pun terhadap Cira.
Mona mengirim Cira ke tempat itu, ingin menunjukkan siapa nyonya besar keluarga Daimos. Karina Richard Daimos, wanita terhormat dan kaya raya. Jauh jika di bandingkan dengan sosok Cira yang hanya anak angkat dari keluarga Santoso.
Mona sengaja menunjukkan perbedaan kasta dan kedudukan antara Cira dan anggota keluarga Daimos. Agar Cira mengerti dan tahu diri, kalau dia tidak akan pantas berada di dalam keluarga Daimos yang sangat di hormati. Lagi pula Mona yakin jika Karina tidak akan melihat ataupun peduli pada sosok Cira yang ikut datang ke sana. Itulah tujuannya.
Cira adalah wanita yang tidak akan pernah pantas untuk berada di dalam keluarga Daimos yang terhormat. Jadi Cira tidak akan memiliki niat untuk berani merebut Bara dari sisinya.
Mona curiga jika hubungan Bara dan Cira mulai semakin baik. Mona takut jika di antara mereka berdua memiliki perasaan di masa depan, Mona tidak ingin itu terjadi. Cira hanya istri kedua yang telah mereka kontrak, dan hanya sebatas ibu pengganti untuk melahirkan anak mereka. Setelah tujuan mereka terwujud, semuanya berakhir seperti perjanjian kontrak yang sudah di tentukan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.