GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
11. Malam Pertama.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Bara Daimos***


Tatapan tajam om Bara menatap intens diriku yang melangkah mendekatinya. Aku bahkan hanya berani menatapnya sekilas, lalu tertunduk kembali.


“Hai wanita...!! Tidak bisakah kau lebih cepat lagi. Jangan sok suci, seperti wanita yang masih perawan yang belum pernah melayani seorang pria.” Ungkapnya ketus dengan tatapan yang terlihat jelas tidak suka terhadapku.


'Aku memang masih perawan. ' Teriakan itu hanya bisa aku katakan di dalam hatiku.


"Jangan sampai aku bertindak kasar lagi padamu." Ancamnya, yang cukup membuatku bergidik ngeri, membayangkan tindakan kasar yang akan dia perbuat kepadaku.


Aku dengan cepat melangkahkan kakiku, dan segera duduk pada pinggiran kasur tepat di sampingnya. Aku menelan salivaku, aku tidak berani menatapnya yang kini melihatku intens.


Bahkan beberapa tetes air yang ada pada rambutku yang masih basah, jatuh ke atas pundakku. Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini, ini adalah pengalaman pertamaku. Bahkan untuk berciuman saja aku baru beberapa kali melakukannya, selama aku memiliki seorang kekasih kami menjalin hubungan asmara yang saling menghormati dan tidak pernah melampaui batasan kami dalam menjalin kasih.


Jadi bagaimana caranya aku melayaninya? Jika aku saja tidak pernah melakukan hal itu. Aku diam dengan tubuh yang kaku, aku diam dengan tubuh yang sedikit gemetar takut melakukan kesalahan.


"Cepat lakukan…!!" Perintahnya dengan sebuah bentakan.


Aku sontak terkejut dengan tubuhku yang semakin gemetar.


'Melakukan apa? Aku tidak tahu harus melakukan apa?' Gumamku di dalam hati. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa?


"Ma…af tu…an. Aku tidak ta…hu…ha…rus…ber…buat apa?" Tanyaku mencoba untuk berani mengeluarkan suaraku yang masih bergetar karena rasa takut.


Bukannya menjawab. Dia malah tertawa terbahak-bahak, seakan ucapanku adalah lelucon baginya.


"Hahaha…!!" Tawanya menggelegar.


Aku mengerutkan keningku melihatnya. Apa yang dia tertawakan? Apakah om Bara sedang menertawakan diriku.


"Kau bersikap polos dan lugu seperti ini, seolah kau adalah wanita perawan dan suci yang belum pernah di jamah oleh seorang pria." Ungkapnya.


Aku terdiam, dan hanya itu yang bisa aku lakukan.


"Lakukan, cepat…!!Jangan sok polos dan lugu seperti itu…cuiihh…!!" Ucapnya meremehkan diriku.


Aku masih diam, karena jujur aku tidak tahu harus berbuat apa?


"Cepat…!!" Bentaknya.


Sontak aku langsung mendekatinya dan langsung mencium bibirnya. Hangat dan kenyal yang aku rasakan, aku memejamkan mataku karena malu akan sikap beraniku. Aku masih tetap diam menempelkan begitu saja bibirku pada bibirnya. Tanpa pergerakan sedikit pun.


Om Bara dengan cepat mencakup kasar wajahku, dan menikmati habis bibirku yang menempel pada bibirnya. Sesekali bibirku ia gigit hingga aku meringis kesakitan.


"Balas aku, jangan seperti patung." Bentaknya, yang membuat aku hanya mengangguk begitu saja.

__ADS_1


Aku pun membuka mulutku, hingga lidah om Bara berhasil menyusup masuk ke dalam rongga mulutku. Beberapa kali lidahnya mencoba mebelit lidahku, namun aku hanya dapat terus berusaha mengimbangi gerakkan pria ini.


Pagutan yang aku lakukan benar-benar kaku, tetapi om Bara terus mencoba menikmatinya dengan memperdalam untuk menciumku. Pagutan panas yang kami lakukan, hingga membuat aku tidak bisa bernafas dengan leluasa. Pagutan demi pagutan yang tuan Bara lakukan membuat aku ikut terlena.


"Cepat bernafas, kalau tidak ingin kau cepat mati karena kehabisan oksigen." Katanya terengah saat melepaskan pagutan panas kami. Kami masih sama-sama terengah karena kekurangan pasokan udara pada pernafasan kami berdua.


Aku hanya bisa tertunduk malu sembari mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku bahkan tidak berani menatap wajah om Bara, aku malu luar biasa dan sudah dapat di pastikan jika wajahku kini merah padam. Ini untuk pertama kalinya bagiku dan pengalaman pertama untukku melakukan ciuman panas seperti itu.


Wajahku terus menghangat karena rasa malu, degup jantungku tidak beraturan seakan terdengar seperti genderang mau perang. Namun nampaknya tidak berpengaruh dengan om Bara, dia malah tersenyum lapar melihat tingkah laku maluku saat ini, ingin rasanya aku menghindar dan pergi dari hadapannya. Apakah aku bisa? Tentu saja jawabannya, tidak.


Aku hanya bisa menerima semua perlakuannya padaku, tanpa dapat protes sama sekali. Aku pasrah malam ini, semua pengalaman pertamaku di rengut begitu saja, kini giliran kesucian mahkotaku. Hanya menunggu waktunya tiba, dan semuanya hilang tanpa berbekas sama sekali.


"Apa kau tidak bisa melakukan apa pun dengan benar?" Ucapnya dengan nada tegas dan tidak suka saat melihat ke arahku.


"Maaf tuan." Balasku, hanya itu yang dapat aku katakan.


Om Bara tidak berkata apa pun. Tatapan matanya yang lapar serta haus melihat tubuhku yang hanya terbalut oleh handuk putih.


"Lepaskan…!!" Perintahnya sembari menunjuk ke arah handuk yang ada di tubuhku dengan ujung matanya.


Aku menelan salivaku sembari menggigit ujung bibirku, sungguh aku sangat malu dan gugup sekarang. Namun apalah dayaku yang tidak dapat melakukan apa pun, atau pun melawan suamiku tersebut.


Aku yang takut di hukum dan mendapatkan tindakan kekerasan darinya, begitu takut melihat aura gelap dari om Bara. Dengan rasa gugup dan terpaksa aku membuka perlahan handuk yang membelit tubuhku. Kini dapat terlihat setiap lekukan tubuhku yang termasuk dalam katagori indah, dengan kulit yang cukup putih, mulus dan bersih tanpa cela sedikit pun.


Wajahku memanas hingga ke telinga, sudah dapat di pastikan jika wajahku kini merah padam.


Lagi-lagi aku hanya bisa melirik om Bara sekilas, aku benar-benar mati kutu tidak tahu harus berbuat apa?


"Maaf tuan, saya takut berbuat kesalahan. Apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk tuan?" Tanyaku memberanikan diri dengan gugupnya. Sedikit tidaknya aku masih berusaha untuk membuat om Bara nyaman dan tidak mudah marah lagi kepadaku.


Dua kali cekikan yang om Bara lakukan tadi padaku, masih dapat aku rasakan sakitnya. Tentunya aku tidak ingin merasakan itu lagi, hidupku tidak mungkin berakhir begitu saja malam ini. Aku harus memutar otakku agar selamat malam ini, tentu saja tidak dengan harga diri dan kesucianku yang sebentar lagi akan terenggut.


Om Bara nampak tersenyum dengan tatapan intens melihat ke arahku yang masih tersipu malu. Terlihat jelas pada wajahku yang sudah memerah karena aku juga merasakan wajahku memanas.


Om Bara menyentuh tengkukku, lalu berbisik di telingaku.


"Buat aku terbuai dan mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan. Jika kau berhasil membuat aku puas, akan aku berikan sebuah hadiah untukmu." Bisiknya yang membuat bulu kudukku merinding karena sensasi geli dari nafasnya yang hangat.


Dapat aku rasakan dengan jelas nafasnya yang hangat dan beraroma mint. "Apa kau mengerti?" Tanyanya dan aku hanya bisa mengangguk setuju, walaupun aku tidak mengerti.


Aku mencoba menyentuh dan membelai bagian dadanya yang bidang, dapat aku rasakan ototnya yang kokoh. Kulitnya yang putih lembut dan terlihat bersih, aku melihat dan terpaku akan pesonanya. Gerakan tanganku yang lembut pada kulit dadanya terhenti kerena cekalan kuat tangan om Bara.


Aku melihat ke arah wajahnya yang kini terlihat lebih melunak, aku melihat ke dalam sorot matanya. Dapat aku melihat kilatan penuh akan hawa n*fs* yang dia rasakan saat ini. Tatapan mata kami bertemu dan saling memandang, entah mengapa ada tatapan yang berbeda dari mata om Bara kepadaku.


Dengan gerakan cepat pria itu pun membalikkan tubuhku, dengan posisi kini tubuhku ada di bawahnya. Aku hanya bisa pasrah dan diam mengikuti apa pun yang ingin ia lakukan? Aku hanya seorang pelayan, wanita rendahan, dan wanita yang ia bayar mahal. Apakah aku bisa melawan dirinya? Tentu saja tidak, kini aku hanya dapat pasrah.

__ADS_1


Om Bara mendaratkan ciuman panasnya yang menggebu pada bibirku, aku berusaha mengimbangi pagutan yang ia berikan, walaupun sangat kaku aku masih terus berusaha. Tangannya mulai meraba dan mer*m*s buah dadaku yang sudah menantang.


Aku sontak terkejut akan sentuhan pada salah satu bagian sensitifku tersebut. Hatiku menolak namun tubuhku berkhianat, aku hanya bisa meremas kain sprei yang ada. Perlahan om Bara menurunkan setiap cumbuannya dari wajah turun ke leher, lalu turun terus ke arah sebuah benda yang menarik perhatiannya. Begitu ganas ia melahap habis dua buah dada yang aku miliki, aku ingin menolak tapi lagi-lagi tubuhku berkhianat dan menikmati sentuhan kasar tersebut. Tubuhku terlihat nyata menikmati setiap sentuhan dan cumbuan yang di lakukan pria tersebut.


Mulutku mengeluarkan sebuah suara yang dapat menambah kehancuran harga diriku. Suara yang malah membakar hasrat om Bara untuk melakukan hal lebih dari itu. Perlahan laki-laki itu menurunkan setiap sentuhannya, kini dia telah berada di bagian bawah tubuhku yang paling sensitif, bermain di area itu dengan lihainya.


"Aaaahhhh…Tuan…!!" Rintihan yang keluar begitu saja.


Om Bara semakin bersemangat melakukan hal lebih dari yang sekarang ia lakukan, sentuhan om Bara membawa tubuhku melayang dan terbuai akan kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan serta dapatkan selama hidupku, ini untuk pertama kalinya bagiku.


"Aaaaaaaaahhhhh…!!" Rintihan yang begitu saja keluar dengan bersamaan sesuatu yang aku rasakan keluar hangat di bawah tubuhku.


Nafasku terengah-engah sembari menelan salivaku untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering. Tanganku menggenggam erat kain sprei di sampingku.


"Ternyata kau begitu mudah terbuai, dan puas akan permainanku. Dasar wanita murahan." Ucapnya, aku tidak peduli apa pun ucapannya? Tubuhku kini terasa lemas karena sesuatu yang telah keluar dari bawah sana.


"Sekarang kau bisa merasakan kenikmatan yang sebenarnya, aku harap tubuh kotormu ini layak untuk aku nikmati." Ucapnya terlihat memandangku remeh.


Air mataku jatuh begitu saja saat aku memejamkan mataku. Harga diriku, perasaan hatiku telah hancur, dan kini tinggal menunggu kehancuran yang terakhir yaitu mahkotaku yang terenggut begitu saja. Jika om Bara mengetahui jika aku masih tersegel, apakah di matanya aku masih menjadi wanita kotor dan murahan seperti tuduhannya itu?


Om Bara kembali mencium bibirku dengan ganasnya, pagutan demi pagutan kasar ia lakukan tanpa jeda. Dapat aku rasakan sebuah benda keras dan tumpul berada di sela-sela bagian bawah tubuhku. Perlahan om Bara mulai mencoba memasukkan miliknya ke dalam milikku, tidak mudah untuk dia lakukan, beberapa kali ia harus berusaha menempatkan miliknya pada posisi yang tepat.


Dengan sekali sentakan kuat dan keras om Bara melakukannya dengan tekanan kuat pada gerakannya. Begitu om Bara berhasil masuk dengan susah payah, aku menjerit kesakitan akan sesuatu yang terasa sakit pada bagian bawah tubuhku. Sungguh sakit bagaikan tersayat akan sebuah silet.


"Kau masih perawan?!!" Katanya dengan sebuah pertanyaan atau ucapan tidak percaya, akan sesuatu yang ada di luar perkiraannya sembari menghentikan gerakkan tubuhnya.


Aku hanya bisa menangis dan menangis menahan rasa sakit, aku membekab mulutku dengan punggung tangan kananku. Sangat sakit, semua kini sudah hancur tidak tersisa apa pun lagi. Aku benar-benar sudah menjadi wanita kotor dan murahan seperti yang om Bara katakan.


Om Bara terdiam dengan pandangan mata yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Namun karena hawa n*fs* yang sudah menguasai dirinya, om Bara melanjutkan gerakkan tubuhnya menikmati tubuh dan milikku yang berharga, perlahan tanganku di singkirkan dari wajahku yang menutupi mulutku untuk menahan rasa sakit.


Om Bara mencium bibirku dengan lembut, tidak seperti tadi. Perlahan rasa sakit itu pun hilang beriringan dengan ciuman lembut yang di berikan oleh om Bara padaku. Om Bara berusaha membuat aku merasa nyaman dan ikut menikmati gerakan yang ia lakukan, aku hanya bisa memejamkan mataku karena hatiku masih sakit akan perbuatan dan perkataannya.


Sudah tidak ada yang tersisa apa pun lagi dari diriku. Om Bara merampas semuanya dengan paksa dariku. Om Bara terus menguasai tubuhku, beberapa gerakan dan posisi kami lakukan atas tuntunan darinya untuk aku ikuti, aku hanya bisa pasrah mengikuti apa pun yang ia inginkan. Beberapa bercak darah perawanku terlihat di atas sprei putih. Om Bara memeluk erat tubuhku bersamaan dengan sebuah semburan hangat yang terasa memenuhi rahimku.


Om Bara mendaratkan sebuah kecupan lembut pada keningku, sebelum akhirnya dia bangkit dari atas tubuhku, pria tersebut terlihat lelah berbaring di samping tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mataku, karena aku juga kelelahan akan perbuatan pria itu padaku. Tubuhku lemas, lelah terasa hancur lebur. Untuk bergerak sedikit pun, aku tidak mampu.


Malam ini adalah malam bersejarah bagiku, malam pertamaku setelah pernikahanku bersama tuan Bara Daimos.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2