GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
23. Kecurigaan Bara Daimos.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Cira begitu terkejut dan menjadi kaku di dalam gendongan ala bridal Bayu. Tatapan matanya yang terkejut membulat sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, dan pandangannya melihat ke arah mata Bayu yang berada beberapa centi dari wajahnya.


"Apa yang anda lakukan pak?" Tanya Cira.


Wanita yang telah bersuami itu sadar, jika di dekatnya ada sang suami yang kini melihat adegan tersebut. Walaupun di antara dirinya dan suami tidak memiliki perasaan apapun, tentunya Cira harus tetap menghormati dan menghargai pernikahan dan suaminya.


"Melakukan yang seharusnya aku lakukan." Balas Bayu dengan tatapan hangat dan teduhnya menatap Cira.


Cira tercengang atas jawaban Bayu. Seandainya mereka hanya berdua dan masih dengan status yang lama, tentunya tidak masalah bagi Cira dan pastinya akan senang akan hal itu. Tetapi status dan posisinya saat ini berbeda dan tidak mengesahkan adegan dan situasi yang terjadi sekarang.


"Maaf Pak, tolong turunkan saya. Saya bisa jalan sendiri." Sahut Cira mencoba berontak dan berusaha turun dari gendongan Bayu.


"Bergerak sedikit saja, aku jatuhkan tubuhmu ini." Ancam dan gertakkan Bayu sembari mencoba untuk menjatuhkan tubuh Cira. Walaupun gerakkan Bayu tidaklah benar akan terjadi, tetapi cukup membuat ngeri Cira yang berada dalam gendongan Bayu.


"Aaaa…jangan pak…!" Takut Cira dengan mata yang terus membulat karena terkejut.


Sontak tangan kanan Cira terkalung di leher dan menggenggam erat kain jas Bayu. Cira takut jatuh ke lantai yang pastinya akan sangat sakit. Belum sembuh rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya akibat kekerasan yang ia dapatkan semalam, dia tidak ingin menambah rasa sakit itu lagi ada di tubuhnya.


Sedangkan Bara yang cukup terkejut akan tindakan Bayu menggendong istrinya, masih dapat mengontrol mimik wajahnya yang datar. Namun rahangnya mengeras dengan beberapa kali menggerakkan giginya.


Bara cukup marah melihat adegan mesra mereka berdua. Satu adalah istri keduanya dalam ikatan pernikahan kontrak. Satunya lagi adalah keponakan laki-laki yang sangat ia sayangi. Bagaimana bisa keduanya melakukan adegan itu di depan matanya dan di hadapan semua orang.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Bara dengan nada suara yang cukup keras.


Cira segera melihat ke arah Bara. dapat ia lihat bagaimana tajam dan dinginnya tatapan mata suaminya itu. Mengerikan hingga membuat seluruh tubuhnya panas dingin dan merinding. Sedangkan Bayu tidak bergeming sama sekali, tubuhnya tetap pada posisi membelakangi Bara.


"Tolong turunkan aku, aku mohon." Mohon Cira sedikit berbisik dengan raut wajah yang memelas. Ia takut membuat Bara marah dan berakibat fatal pada dirinya.


Bayu melihat mimik memelas wanitanya. Namun itu tidak dapat meluluhkan hati dan keinginan Bayu. Yang ia inginkan adalah membuat kekasihnya itu nyaman dan segera memberikan pengobatan untuk sakit kakinya yang terkilir.


"Tolong jangan membuat aku dalam masalah, jangan buat tuan Bara marah padaku." Mohon Cira terus dengan wajah yang memelas.


"Cukup diam dan percaya padaku. Kamu akan baik baik saja." Sahut Bayu mencoba memberikan ketenangan untuk Cira.


Ketenangan yang tidak mempan sama sekali terhadap Cira yang sudah takut dan semakin ngeri melihat wajah datar Bara, tetapi tatapan mata Bara seakan ingin membunuh dirinya sekarang juga.


Bayu tahu harus berbuat apa untuk sang kekasih. Pria itu membalik tubuhnya dan menghadap ke arah Bara yang kini menatap tajam mereka berdua.


"Maaf sebelumnya, pak presdir. Maaf atas tindakan saya saat ini, yang mungkin tidak sopan di mata bapak. Sekretaris anda tidak mungkin jalan begitu jauh dengan kondisi kaki yang cukup parah, dan saya hanya membantu untuk meringankan sakitnya. Lagi pula ini adalah solusi yang cepat dan baik untuk sekarang. Saya harap bapak bisa mengerti." Ucap Bayu melihat ke arah Bara. Dia mencoba memberikan pengertian kepada Bara agar mengerti situasi dan keadaan mereka saat ini.


Bara masih diam, dia hanya menatap curiga ke arah dua orang yang terlihat mesra selayaknya sepasang kekasih.

__ADS_1


'Ada apa dengan anak ini. Tidak biasanya dia akan peduli pada seseorang. Apalagi seorang wanita. Apakah mereka berdua…!!???' Gumam Bara di dalam benaknya melihat curiga terhadap tindakan yang di lakukan oleh keponakannya tersebut.


Ada terbesit sebuah dugaan yang tidak mungkin dan tidak boleh terjadi di antara keduanya. Kecurigaan adanya hubungan asmara di antara mereka berdua. Jika itu terjadi, hubungan mereka adalah hubungan terlarang yang tidak boleh terjadi dan terjalin. Bagaimana juga, Cira adalah istri kedua Bara Daimos yang sah di mata hukum dan agama, walaupun hanya menjadi istri yang di sembunyikan. Sedangkan Bayu adalah keponakan laki-laki yang ia sayangi.


"Saya mohon anda mengerti situasi kami saat ini, tuan Bara." Ucap Bayu kembali, karena Bara hanya diam melihat saja.


"Kalian hutang penjelasan padaku." Ucapnya. Setelah melihat tajam ke arah Cira, ia berlalu begitu saja melewati Bayu dan Cira.


'Mampus aku, apa yang akan terjadi padaku setelah ini?' Gumam Cira di dalam hatinya, ia melihat dan tahu Bara berada pada mode marah saat ini melihat adegan dirinya yang tidak ia inginkan. Ini semua kemauan dan ulah Bayu.


"Kau lihat bukan, tidak akan terjadi apapun padamu." Ucap Bayu menyadarkan Cira pada pikirannya.


Cira melihat intens ke arah Bayu yang tersenyum ke arahnya, dan bergumam dalam hatinya. 'Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padaku, Bayu? Kamu tidak tahu bagaimana kejamnya om mu itu padaku'.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit, kakimu ini harus di obati." Ucapnya kembali, karena Cira hanya diam saja.


"Bisakah tidak membuat karyawan lainnya melihat kita seperti ini. Aku mohon." Mohon Cira dengan raut wajahnya yang kini terlihat frustasi.


Bayu mengerti, dan menghembuskan nafasnya perlahan. Tidak ada alasan untuknya tidak mengikuti permintaan kekasihnya.


"Baiklah. Kita akan lewat lift yang langsung ke basement." Balas Bayu ingin menenangkan kekasihnya itu.


"Terima kasih." Balas Cira terlihat tulus. Kemudian pandangan matanya ia alihkan ke arah samping bahu Bayu.


Bayu hanya tersenyum melihat tingkah Cira. Ia pun melangkah dan mendekati lift yang akan membawa mereka menuju ke arah basement. Kebetulan lift tersebut berseberangan dengan lift khusus presdir.


"Iya." Balas Cira singkat dengan anggukan kepalanya. Bayu hanya tersenyum melihat sikap patuh Cira yang terlihat menggemaskan di matanya.


Interaksi mereka terlihat jelas pada pantulan pintu lift, dan pembicaraan mereka dapat terdengar hingga ke telinga Bara yang sedang berdiri di depan lift bersebrangan dengan lift yang akan di gunakan oleh Cira dan Bayu.


Lift mereka sama-sama terbuka, mereka masuk ke dalam lift masing-masing. Saat pintu lift akan tertutup, tatapan mata Bara, Bayu, dan Cira saling bertemu pandang untuk beberapa detik hingga pintu lift tertutup dengan sempurna.


...--------------------------------...


…Rumah sakit…


Bayu begitu penuh perhatian, sabar dan penuh kasih sayang memperlakukan Cira. Di saat Cira merasakan rasa sakit akibat tindakan dari dokter, beberapa kali remasan tangan Cira menggenggam kuat lengan Bayu.


Bayu hanya diam dan menikmati momen mereka berdua. Begitu lama mereka tidak bertemu, kerinduan di dalam hati Bayu menumpuk hingga tidak terbendung lagi. Kini telah terobati di saat Cira memerlukan dirinya ada di samping gadis tersebut.


"Tahan sayang…! Sedikit lagi…" Ucap Bayu lembut sembari membelai sayang punggung tangan Cira yang sedang meremas kuat lengannya.


Kata sayang yang di ucapkan Bayu, mengalihkan perhatian Cira ke arah Bayu. Kini ia sadar apa yang tengah terjadi tanpa di sengaja, dan mengalir begitu saja karena keadaan.

__ADS_1


Tatapan mata Cira melihat ke arah Bayu, genggaman tangannya yang kuat kini mengendur. Namun begitu rasa sakit itu muncul, kembali Cira harus meremas kuat lengan yang tadi ia genggaman. Sakitnya membuat dirinya tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Itu hanyalah sikap repleks dari tubuhnya.


"Aduh dokter…sakit sekali." Ucap Cira melihat sang dokter yang sedang menanganinya.


"Maaf mbak. Tolong di tahan sedikit, kakinya bengkak sekali dan memerah. Ini sudah terlambat dalam penanganan, sehingga sakitnya berkali-kali lipat." Jawab sang dokter sembari melakukan aktivitasnya.


"Kamu dengar apa kata dokter…? Kaki mu yang terkilir sudah sangat parah karena telat penanganan. Mengapa kamu bilang baik baik saja." Ucap Bayu menimpali perkataan dokter.


Cira terdiam dan melihat sekilas ke arah Bayu. Dia masih terus ingin menghindari Bayu, dan memangkas kedekatan yang ada di antara mereka berdua. Cira sadar diri, jika ia sudah tidak pantas lagi untuk Bayu. Bayu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya.


Walaupun sakit untuk melepaskan cinta dan kekasih pertamanya. Cira harus melakukan itu. Cira hanya bisa diam dengan pikirannya sendiri.


Bayu sadar akan perubahan sikap dan mimik wajah Cira saat ini. Kedekatan mereka berdua sudah saling mengenal satu sama lainnya. Cira tidak bisa membohonginya, jika saat ini ada masalah yang sedang di hadapi oleh kekasihnya itu. Bayu tidak ingin melihat kesedihan dan kecemasan ada pada wajah Cira.


Dokter selesai melakukan tugasnya.


"Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak dulu. Istirahat sampai bengkaknya berkurang. Tiga hari lagi harap datang untuk kontrol kembali. Saya resepkan obat untuk penghilang rasa nyeri dan demam. " Kata dokter sembari menulis sesuatu pada status rekam medis Cira.


"Tapi saya tidak demam, dokter." Balas Cira.


"Sekarang mungkin tidak. Obat demamnya untuk berjaga-jaga jika anda demam karena rasa sakit yang tidak dapat di tahan. Jika anda tidak demam, tidak perlu di minum." Balas dokter menjelaskan.


"Baik dokter. Akan saya ingatkan." Balas Bayu mendahului saat Cira ingin menjawab.


Dokter melihat ke arah Bayu. Melihat bagaimana Bayu begitu lembut dan penuh perhatian kepada Cira. Membuat sang dokter salah sangka.


"Tolong di pantau terus istrinya ya pak….!" Kata dokter membuat keduanya tercengang untuk beberapa detik.


"Baik dokter. Tentu saja, saya akan pantau terus istri saya yang nakal ini." Sahut Bayu lebih cepat, dengan senyuman yang mengembang kebahagiaan di wajahnya. Perkataan dokter yang mengira mereka adalah sepasang suami istri membuat Bayu bahagia.


Jawaban yang sukses membuat Cira kembali terkejut dan tercengang akan ucapan Bayu.


"Kam…!!!" Ucap Cira terputus karena tiba-tiba kepalanya di bawa masuk ke dalam pelukkan dada bidang Bayu. Hingga Cira tidak dapat meneruskan perkataannya.


Tingkah laku mereka menjadi perhatian aneh dari sang dokter. Namun itu bukan urusannya, dia mengerti berbagai macam karakter orang yang berpasangan. Jadi hanya dapat mengerti apa yang dia lihat saja.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat tajam dan menyaksikan semuanya dari awal mereka datang ke rumah sakit itu.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2