
***Perusahaan Deimos Grup***
Kedua insan itu sama-sama menahan perasaan mereka yang sebenarnya. Mereka berbuat seperti itu dengan alasan masing-masing.
Bara mulai memiliki perasaan khusus terhadap Cira, tetapi berusaha ia tahan. Pria itu memiliki beberapa alasan yaitu rasa cintanya kepada Mona, dan tidak ingin menyakiti perasaan istri pertamanya itu. Bara takut jika dirinya tidak dapat menahan perasaannya terhadap Cira, akan merasakan rasa kecewa karena Cira tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Bara takut cintanya bertepuk sebelah tangan.
Sedangkan Cira sebenarnya mulai memiliki perasaan terhadap Bara akan sikap baik, hangat dan perhatian pria itu selama kebersamaan mereka berdua beberapa bulan ini. Namun Cira berusaha menepis dan menahan perasaan tersebut, ia takut itu hanyalah perasaan sesaat saja karena kebersamaan mereka selama ini. Alasan utama bagi Cira adalah balas dendamnya kepada Bara dan Mona, ia tidak ingin balas dendamnya terpengaruh karena perasaannya yang mulai timbul.
Di sinilah awal keduanya cukup berusaha untuk menahan perasaan masing-masing. Membohongi hati mereka, menahan benih cinta yang mulai bersemi, dan mempertahankan ego masing-masing untuk tujuan serta alasan mereka berdua.
Bara melanjutkan pembicaraan mereka kembali. Untuk kali ini, Bara tidak bisa lagi menahan perasaan cintanya kepada Cira, dia akan jujur dan menerima jika cintanya itu mungkin akan bertepuk sebelah tangan.
"Walaupun kamu istriku di dalam pernikahan kontrak. Kamu tetap istri kedua ku yang sah di mata hukum dan agama. Ingat itu…Jadi selama kontrak itu berlangsung kamu tetaplah istri ku." Ungkap Bara ingin sedikit merubah perjanjian kontrak di antara mereka berdua secara perlahan.
Bara pun heran akan sikapnya, dia merasa konyol akan perubahan dirinya yang tidak dapat ia kontrol begitu saja. Kebersamaan mereka berdua merubah segalanya. Di awal hubungan mereka dia tidak menyukai dan membenci kehadiran Cira, kini dia mulai menyukai kebersamaan mereka bahkan mencintai Cira. Lucu, sungguh lucu bagi Bara.
"Saya tahu tuan. Tapi tuan juga harus ingin satu pasal yang tidak bisa saya langgar begitu saja. Di larang keras memiliki perasaan pada tuan, dan tidak ada perasaan di dalam pernikahan kontrak itu." Ungkap Cira mencoba mengingatkan Bara.
Bara tahu dan ingat pasal tersebut. Pasal itulah seperti senjata makan tuan untuk mereka berdua.
"Apa karena ada sebuah larangan, sehingga sebuah perasaan hati yang timbul harus di tahan begitu saja?" Pertanyaan Bara yang membuat Cira heran.
'Ada apa dengan nya? Apa dia mulai memiliki perasaan terhadap ku? Tidak, tidak mungkin seperti itu?' Batinnya. Cira melihat serius dan intens ke dalam mata Bara.
'Tatapan matanya. Ahhh…aku bukan orang yang bodoh, yang tidak mengerti dan melihat arti tatapan tuan Bara padaku saat ini. Tatapannya sama seperti tatapan Bayu yang begitu penuh perasaan hatinya kepada ku. Tidak mungkin, tuan Bara mulai menyukaiku dan …!' Batinnya tidak percaya. Cira segera mengalihkan pandangan matanya. Ia takut akan tatapan Bara saat ini.
"Mengapa diam saja? Tatap mataku…!" Perintah Bara. Dia tahu Cira menghindari tatapan matanya yang kini menunjukkan apa yang ia rasakan di dalam hatinya saat ini.
Cira beberapa kali menelan salivanya dengan susah payah. Walaupun berat untuk menatapnya lagi, tetapi harus ia lakukan.
"Tuan…andaikan ada sebuah perasaan yang mulai timbul, mungkin itu pengaruh akan kebersamaan kita selama ini. Jangan sampai kita salah mengartikannya." Balas Cira pada akhirnya berani menatap Bara dengan tatapan yang berusaha ia biasakan.
"Salah mengartikannya? Apa kita anak ABG yang tidak bisa membedakan apakah itu perasaan yang sebenarnya atau tidak?" Ucap Bara tidak setuju dan tidak suka akan jawaban Cira.
"Tuan…Apa maksud tuan? Jangan bilang tuan memiliki perasaan kepada saya. Apakah tuan akan bilang sudah jatuh cinta kepada saya?" Ucap Cira dengan senyuman yang mengalihkan perasaan hatinya. Ia ingin menguji Bara.
"Iya. Aku memiliki perasaan kepadamu, aku menyukai mu bahkan sekarang sudah jatuh cinta kepada mu." Ucap Bara jujur dengan keluar begitu saja.
Senyum Cira memudar akan kejujuran Bara.
"Karena saya sedang hamil anak tuan saat ini."
"Tidak." Gelangnya mantap.
__ADS_1
"Perasaan itu ada sebelum aku tahu kehamilan mu." Sambungnya dengan cepat.
Cira terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka tidak percaya akan pendengarnya. Apakah benar Bara jujur? Atau Bara hanya sedang membuat lelucon saja.
"Lelucon anda berhasil tuan. Saya hampir percaya kepada anda." Ucap Cira mencoba untuk mengelak dari kejujuran Bara yang masih tidak dapat ia percayai.
"Lihat mataku!" Perintahnya sembari mencakup wajah Cira dengan kedua tangannya. Bara membuat pandangan mata Cira hanya tertuju pada matanya.
"Lihat dengan jelas, apa aku sedang membuat lelucon? Apa aku sedang berbohong. Seperti apa aku di matamu?" Tanyanya benar-benar serius.
Kembali Cira menelan salivanya. Ada kejujuran yang ia lihat dari sorot mata Bara.
"Tuan, jika ini benar. Ini semua salah, tidak seharusnya ini terjadi." Ucap Cira masih mencoba untuk mengelak. Ia takut hanya akan di permainkan oleh pria itu.
Pernikahan kontrak dan perjanjian mereka adalah yang sebenarnya. Tidak lebih dari itu sebagai pedoman Cira saat ini.
"Mengapa tidak boleh terjadi. Apa kita dapat mengendalikan setiap perasaan yang sudah ada?" Ucap Bara masih mencoba meyakinkan Cira yang terlihat belum dapat percaya kepadanya.
"Dengarkan aku Cira…Aku akui jika di awal hubungan kita, aku tidak suka padamu bahkan membenci dirimu. Tapi entah mengapa seiring berjalannya waktu kita bersama, perasaan yang awalnya nyaman bersama mu, perlahan berubah mulai menyukai kebersamaan kita, mulai menyukai dirimu, aku mulai tidak ingin jauh darimu. Bahkan sekuat apapun aku berusaha untuk menahan perasaan itu dan meyakinkan jika itu hanya sesaat saja, ternyata aku salah. Aku benar-benar menyukai dirimu dan sekarang mulai ada cinta yang aku rasakan untukmu." Ungkapan Bara yang membuat Cira terdiam dan tidak dapat berpikir jernih. Bara jujur dan bersungguh-sungguh.
"Aku mencintaimu Cira. Jauh sebelum aku tahu kau tengah mengandung anakku. Itu murni dari hatiku dan bukan hanya sesaat ataupun sebuah lelucon seperti yang kamu katakan."
Cira diam terpaku, tetapi tangan yang ada di pangkuannya tergenggam kuat untuk menahan gejolak hati yang sekarang timbul. Antara harus percaya atau tidak. Antara marah dan senang. Apakah dia bisa bahagia karena rencana membuat Bara jatuh cinta kepadanya berhasil. Sehingga balas dendamnya akan terlaksana.
Membuat Bara mencintainya dan takut kehilangan dirinya adalah salah satu tujuan Cira. Di saat Bara telah mencintainya, dia akan menunjukkan cinta Bara untuknya kepada Mona, agar wanita itu dapat merasakan apa yang Cira rasakan akan kehilangan sebuah cinta dan kekasih hati seperti yang ia rasakan sekarang.
Tapi mengapa sekarang berbeda? Di saat pengakuan cinta Bara saat ini, hatinya malah bimbang dan tidak nyaman akan balas dendamnya. Apakah bisa dia benar-benar balas dendam kepada Bara yang kini terlihat tulus mencintainya. Apakah dia selemah itu akan cinta seseorang? Apakah dia pada akhirnya yang akan kalah dalam pertarungan ini? Cira bimbang dan bingung.
"Maafkan saya tuan. Jujur ini begitu tiba-tiba dan membuat saya tidak mudah untuk percaya akan pengakuan tuan ini." Ungkap Cira apa yang harus menjadi kejujurannya.
Bara terdiam. Dia paham jika ini akan membuat Cira terkejut, karena semuanya terjadi secara tiba-tiba.
Pria itu dapat mengerti, dan menghembuskan nafasnya secara perlahan sebelum akhirnya menjawab.
"Aku tahu dan paham, jika kamu tidak akan mudah percaya. Apa lagi jika mengingat bagaimana sikapku yang kasar dan kejam di awal hubungan kita. Di tambah perasaan mu mungkin masih kuat untuk Bayu, cukup menjadi alasan jika kamu tidak mudah untuk percaya pada pengakuan ku ini." Jelas Bara terlihat mengerti dan paham perasaan Cira.
"Tapi aku benar-benar dengan perasaan cinta ku ini." Imbuhnya lagi.
"Tapi saya tidak memiliki perasaan yang sama seperti itu untuk tuan?" Ungkapnya, kemudian tersadar apakah dia salah bicara?
"Maafkan saya tuan…!" Sedih Cira tertunduk takut melihat Bara akan marah.
Alih alih marah, Bara malah mencakup wajah Cira dan mengecup cepat bibirnya.
__ADS_1
"Aku tahu dan mengerti." Kembali satu ciuman pada bibirnya dengan pagutan yang cukup lama di berikan oleh Bara.
"Biarkan berjalan secara perlahan. Biarkan perasaan ku lebih dulu ada untukmu, aku akan menunggu dengan sabar balasan darimu." Ucapnya setelah melepaskan pagutan mereka.
"Lalu bagaimana dengan tante Mona? Bukankah itu artinya hati tuan telah mengkhianati cinta tante Mona?" Tanya Cira mengingatkan Bara tentang Mona.
"Itulah salah satu alasan ku, mengapa berusaha menahan perasaan hatiku kepadamu. Aku bersalah kepada Mona yang telah mengkhianatinya. Ini di luar kendaliku, aku sungguh bersalah kepadanya." Terlihat jelas Bara merasa bersalah.
'Ini baru awal dari balas dendamku. Aku ingin tahu bagaimana reaksi tante Mona? Jika tahu suaminya memiliki perasaan kepada wanita lain?' Batin Cira berkata.
"Tuan…sebaiknya kita mulai menjaga jarak." Cira mencoba memberikan sebuah usulan.
"Menjaga jarak!" Heran Bara.
"Mengapa seperti itu?"
"Tuan…sekarang aku sudah hamil, seperti perjanjian kita di awal bersama tante Mona. Begitu saya berhasil hamil, kita tidak akan bertemu sampai saya melahirkan." Ungkapnya mengingatkan.
"Tidak bisa. Aku tidak bisa…!" Tolak keras Bara tidak setuju.
"Aku sudah nyaman seperti ini." Imbuhnya lagi.
"Bagaimana kalau tante Mona menentang keinginan tuan ini?"
"Apapun alasannya aku tidak bisa. Aku akan tetap bersama mu dan melakukan apa yang aku inginkan. Masalah Mona, seharusnya dia mengerti keadaan dan situasinya. Bagaimana juga ini semua adalah ide dan keinginannya sejak awal?"
"Ide dan keinginan tante Mona sejak awal?" Heran Cira. Dia berpikir jika keduanya lah yang menginginkan pernikahan kontrak itu berlangsung dan memakai jasa ibu pengganti untuk mendapatkan seseorang anak keturunan keluarga Daimos.
Bara diam sejenak, dia berpikir apakah dia salah bicara? Ia pun menghela nafasnya.
"Benar. Sejak awal ini adalah ide dan keinginan Mona. Aku menentangnya dan tidak setuju dari awal, tetapi dia bersikeras untuk melakukan sebuah pernikahan kontrak dan memakai jasa ibu pengganti untuk mendapatkan seorang anak yang tidak kunjung ia lahirkan."
"Tapi kenapa? Ada apa dengan tante Mona? Mengapa tante Mona tidak kunjung memberikan tuan seorang anak?"
"Itu…!" Ucap Bara terhenti.
Ia rasa sudah terlalu jujur dalam mengungkapkan apa masalahnya bersama Mona. Apakah Cira harus tahu semua awal dan akar dari permasalahan Bara dan Mona? Permasalahan yang pada akhirnya ikut menyeret Cira ke dalamnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.