
***Perusahaan Daimos Grup***
Tumpukan demi tumpukkan berkas berjejer rapi di atas meja kerja yang ada di hadapan Cira. Hari itu juga ia resmi bekerja di perusahaan Daimos grup menjadi asisten sekaligus sekretaris kedua untuk Bara Daimos, sementara waktu untuk beberapa bulan ke depan.
Jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, bahkan sudah lewat beberapa menit. Cira tidak sama sekali beranjak dari mejanya. Perintah jelas dari Bara harus ia selesaikan, setidaknya 50% dari berkas yang ada di hadapannya harus di selesai hari ini juga. Itu sebagai ujian untuk Cira yang akan masuk bergabung ke dalam perusahaan Daimos grup.
Sekretaris Bara yaitu Lian begitu iba melihat Cira yang mendapat perintah mutlak dari atasannya. Ingin membantu pun tidak bisa, ia tidak ingin mendapatkan masalah dari atasannya yang kejam dan dingin itu.
Perintah Bara padanya untuk mengawasi Cira menyelesaikan pekerjaannya sangat jelas, bahkan untuk pergi makan siang saja Cira tidak memiliki waktu. Cira hanya makan beberapa biskuit dan minum air mineral yang ia titip pada Lian untuk di belikan tadi siang.
Lian segera beranjak dan melangkah cepat mendekati asisten Kai, saat pria dingin itu baru saja keluar dari ruangannya.
"Asisten Kai…!" Tegur pelan Lian saat mereka cukup berada pada posisi dekat.
Kai tidak menjawab, pria itu hanya diam melihat Lian. Wanita manis yang menjadi sekretaris Bara sekaligus teman baiknya sewaktu sekolah menengah atas dan semasa kuliah. Wanita satu satunya yang berani berada dekat bersama Kai dan juga Bara. Mereka bertiga dulu adalah teman semasa kuliah beberapa tahun, sebelum akhirnya Bara di kirim kuliah ke luar negeri oleh papanya.
"Wanita itu…maksudku, Cira…sudah berbuat apa sehingga mendapatkan hukuman seperti itu dari tuan Bara?" Tunjuk Lian ke arah Cira dengan beberapa tumpukan berkas di atas mejanya.
Kai ikut melihat ke arah Cira yang di maksudkan.
"Sebaiknya kau awasi saja dia seperti yang tuan Bara katakan…tetap diam dan tenang, jika tidak ingin mendapatkan hukuman dari tuan, kau mengerti…." Balas peringatan Kai untuk Lian.
"Aku mengerti…Tapi setidaknya, katakan pada tuan Bara untuk memberikan waktu istirahat makan siang. Dia hanya makan biskuit dan minum air mineral yang dia titip beli padaku tadi." Jelas Lian merasa iba kepada Cira.
Kai merengutkan kedua pangkal alisnya, pasalnya ia tidak tahu jika Cira melewatkan waktu makan siangnya.
"Dia belum pergi makan siang…!!" Ucap Kai melihat intens ke arah Lian.
"Iya, tadi aku sudah mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin." Sahut Lian sembari menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Tapi dia menolak, katanya tidak keburu untuk makan siang karena masih banyak berkas yang harus ia selesaikan dan di laporkan hari ini juga. Jadi dia hanya titip membeli biskuit dan air mineral untuk mengganjal perutnya." Ucap Lian memberitahukan apa yang tadi siang terjadi pada mereka berdua.
"Dia yang menolak untuk makan siang, bukan tuan yang melarangnya untuk makan siang." Balas Kai tidak peka.
Lian melihat heran ke arah Kai yang tidak peka dan iba terhadap Cira.
"Kau ini…!" Ucap Lian kesal sembari memukul lengan atas kiri Kai karena tidak mengerti maksud darinya.
"Aduhh…kau apa apaan…?" Balas Kai meringis karena pukulan Lian yang cukup keras, mengundang perhatian dari Cira.
Cira melihat ke arah Kai dan Lian yang berdiri tidak jauh darinya, hanya Lian yang tersenyum melihat ke arah Cira. Sedangkan Kai hanya memasang wajah datarnya.
Cira mengerti isyarat dari Lian untuk melanjutkan pekerjaannya, diapun mengalihkan kembali perhatian ke arah komputer dan berkas yang ada di hadapannya.
"Kau ini memang tidak peka, lama-lama kau tertular dingin dan kejam seperti tuan Bara. Dia itu anak baru, setidaknya berikan kelonggaran padanya." Sahut pelan Lian sembari menekan beberapa kata-katanya.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau katakan sendiri kepada tuan Bara?" Sahut Kai tidak ingin di salahkan.
Lian terdiam sembari melihat intens ke arah Kai.
"Mana aku berani katakan itu sendirian, setidaknya ayo kita katakan berdua. Kasihan dia…" Bujuk Lian.
"Aku juga tidak berani, sudahlah…biarkan saja, dia juga tidak akan sakit atau mati karena tidak makan siang satu kali."
Lian terkejut dengan membulatkan matanya sempurna karena perkataan Kai.
"Lagi pula semua anak baru akan mendapatkan kesulitan seperti itu. Kau ingat bagaimana dirimu dulu, sama seperti itu juga kan…" Sahut Kai kembali mengingatkan bagaimana Lian dulu saat baru pertama kalinya masuk ke dalam perusahaan tersebut.
Semua yang ingin menjadi karyawan di perusahaan Daimos grup, tidak akan menjalankan pekerjaannya dengan mudah. Penuh akan perjuangan dan rasa sakit, sehingga dapat bertahan lama di dalam perusahaan tersebut.
"Kau benar…Aku hanya merasa iba padanya…"Balas Lian melihat sedih ke arah Cira.
"Sudahlah, cukup awasi dia saja hingga menyelesaikan pekerjaannya sebanyak 50% hari ini. Seperti perintah tuan Bara." Balas Kai, kemudian berlalu dari tempat itu dan masuk ke dalam ruangan Bara.
Lian hanya diam dan melangkah mendekati mejanya yang ada di samping Cira, duduk dengan tenang sembari memperhatikan Cira bekerja. Dia cukup senang akhirnya ia memiliki teman bekerja di sana, pasalnya sudah sangat lama Bara tidak mengangkat sekretaris baru lagi.
Beberapa sekretaris lamanya selain Lian semua di pecat, karena berusaha bersikap genit dan mencoba menggoda Bara. Tidak ada sekretaris yang benar-benar ingin serius pada pekerjaannya, selain memiliki modus ingin mendekati sang pewaris tahta kerajaan Daimos grup.
Jadi Lian yang sudah lama bekerja sendiri, begitu senang saat Bara memperkenalkan Cira sebagai sekretaris baru yang akan bergabung dengannya membantu Bara.
"Cira…!" Panggil Lian mendekati Cira yang sedang serius pada layar monitor.
Cira lebih muda sepuluh tahun dari Lian.
"Kamu masuk ke perusahaan ini melalui nyonya Mona." Tanya Lian ingin tahu.
Cira menghentikan pergerakannya yang sedang mengetik. Ia tahu maksud perkataan Lian.
"Iya mbak, aku keponakan tante Mona." Balas Cira yang sukses membuat Lian terkejut. Pasalnya Lian tidak tahu jati diri Cira sama sekali.
"Keponakan nyonya Mona. Kamu putrinya tuan Santoso?"
"Iya." Balas Cira menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Jadi kamu saudarinya Caroline yang menjadi sekretaris manager di perusahaan ini."
"Iya, saya kakak perempuannya Caroline." Kata Cira terpaksa mengakui jika dirinya adalah kakak perempuan Caroline. Itulah permintaan Mona yang menginginkan, jika Cira akan di kenal sebagai keponakan Mona mulai sekarang.
"Waahh…kalian berdua bisa dengan mudah menjadi sekretaris di perusahaan ini, berkat nyonya Mona." Ucap Lian.
Cira mengerutkan keningnya akan perkataan Lian.
__ADS_1
"Maaf…!" Ucap Lian tahu jika dirinya sedikit salah bicara.
"Maksud ku…berkat nyonya Mona, kemampuan kalian tidak akan di ragukan oleh tuan Bara." Sahutnya kembali dengan senyum canggung yang merasa tidak enak hati.
Cira tersenyum, dia mengerti mengapa Lian berkata seperti itu. Cira tahu bagaimana kemampuan adiknya Caroline yang tidak seberapa tetapi mampu masuk ke dalam perusahaan tersebut. Itu semua adalah bantuan dari Mona yang berhasil membujuk Bara.
"Tidak juga, mbak. Saya di sini masih masa percobaan, jika tidak memenuhi syarat. Saya juga pasti akan keluar dari perusahaan ini. Saya akan di tes selama beberapa bulan ke depan." Balas Cira menjelaskan sembari tersenyum, dia tahu jika dia masuk bekerja di sana tidak akan lama.
Perjanjian yang sudah di bicarakan, sudah sangat jelas. Cira ada di perusahaan itu hanya untuk mengenal baik Bara seperti apa? Setelah Cira berhasil mengandung anak Bara, Cira akan berhenti bekerja di sana.
"Ooo seperti itu…kontrak percobaan mu berapa bulan?" Tanya Lian.
"Tidak ada mbak. Saya tidak memiliki kontrak masa percobaan, tante Mona yang akan menentukannya. Saya berhak lanjut bekerja atau berhenti kapanpun." Sahutnya menggeleng. Tidak mungkin Cira mengatakan, jika dirinya akan berhenti bekerja hingga dia berhasil mengandung anak dari presdir perusahaan tersebut.
"Oooo…sabar ya Cira, kamu harus berusaha dan tunjukkan jika kamu memang layak menjadi karyawan tetap di perusahaan ini." Ucap Lian memeberikan sebuah dukungan.
Cira hanya tersenyum dan melanjutkan kembali pekerjaannya, karena masih sangat banyak yang harus ia selesaikan.
Suasana kembali menjadi hening, mereka berdua kembali kepada pekerjaan mereka masing-masing.
Cira harus menyelesaikan pekerjaannya minimal 50% dari tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Berkas yang berasal dari beberapa devisi management di serahkan kepadanya. Beberapa berkas yang harus di cek dan di perbaiki di serahkan semuanya kepada Cira. Cira cukup memiliki pengalaman dalam hal itu, jadi dia tidak memiliki kesulitan sama sekali.
Kemampuan Cira dengan IQ di atas rata-rata itu lah yang di tunjukkan oleh Mona tadi pagi kepada Bara, sehingga Bara tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan Mona yang menyarankan Bara agar memberikan kesempatan kepada Cira untuk membuktikkan kemampuannya.
Sedangkan Mona sudah lebih dulu memperingati dirinya, jika dia harus terus berusaha agar bisa bekerja dan berada dekat bersama Bara. Itulah tugas khusus yang di berikan Mona kepada Cira. Suka tidak suka Cira harus melakukannya, agar tidak ada masalah baru yang akan timbul.
'Hanya beberapa bulan saja. Aku akan bebas dan tidak akan berada dekat dengan om Bara. Begitu aku di nyatakan hamil anak om Bara, kami tidak akan bertemu lagi sampai anak itu lahir.' Ucap Cira di dalam benaknya, pada saat dia harus menerima pekerjaan menjadi seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi kedua bagi Bara untuk beberapa bulan ke depan.
Lebih dari 50% berkas telah di selesaikan dengan baik oleh Cira. Lian yang melihat dan mengawasinya pun cukup terkesan akan cara Cira bekerja dengan cepat, namun dia harus memastikan kembali apakah pekerjaan Cira sudah benar atau tidak.
Beberapa berkas yang telah di selesaikan oleh Cira di bawa masuk ke dalam ruang presdir, agar dapat di cek kembali oleh Bara dan juga Kai. Apakah pekerjaan yang di selesaikan Cira dapat di terima dengan baik oleh Bara atau tidak, sebelum di kembalikan kembali ke masing-masing devisi management sebagai bahan laporan mereka selanjutnya untuk di tanda tangani oleh ketua tim, lalu di serahkan kembali kepada Bara untuk di tanda tangani dan di setujui.
Semua berkas yang di perbaiki oleh Cira, adalah beberapa berkas penting yang tidak dapat di selesaikan dengan baik oleh beberapa ketua tim dan anggota tim management mereka. Beberapa pekerjaan sekretaris lainnya di perusahaan itupun di serahkan kepada Cira untuk di selesaikan.
Bara dan juga Kai cukup terkejut dan terkesan tidak percaya saat melihat semua berkas yang telah di selesaikan oleh Cira. Cukup baik dan rapi, bahkan kata sempurna sangat cocok untuk menilai pekerjaan Cira hari ini. Bekerja dengan rapi, baik dan cepat. Cira cocok berada pada posisinya sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi kedua Bara Daimos.
Tidak ada alasan untuk Bara tidak setuju atau menolak kehadiran Cira di perusahaannya. Cira salah satu yang termasuk ke dalam daftar orang-orang yang memiliki kemampuan dan IQ di atas rata-rata, sangat merugikan jika menolak kemampuan yang di miliki oleh Elcira Ardelia.
Jadi Bara setuju memberikan kesempatan untuk Cira bekerja sementara waktu di dalam perusahaannya, seperti yang di sarankan oleh Mona istrinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.