
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
Dokter pribadi datang ke apartemen mewah Bara. Dokter tampan itu cukup heran melihat seorang wanita muda kini tengah terbaring lemah di atas ranjang Bara.
"Siapa wanita ini, Bara? Jangan bilang kamu membeli wanita bayaran…!!" Kata sang dokter.
Dokter tampan yang bernama David Nixon. Pria tampan blesteran dengan kesempurnaan pada postur tubuhnya yang tinggi berisi dan berotot. Wajahnya tampan dengan mata abu kecoklatan yang sangat indah dan rahang yang tegas menambah plus ketampanannya, serta memiliki hidung mancung dan bibir sensual yang terlihat segar dengan berwarna merah muda.
Dokter yang masih betah pada kesendiriannya setelah di tinggalkan oleh sang tunangan yang ketahuan berselingkuh. Dokter tampan dan mapan yang menjadi salah satu pria idaman kaum hawa di kota itu. Dokter pribadi sekaligus sahabat baik Bara Daimos sejak mereka sama sama sekolah di luar negeri.
"Dia cukup cantik dan manis, kau pandai memilih wanita, Bara. Apa benar dia wanita bayaran? Wajah lugunya seperti bukan wanita bayaran. Tunggu dulu Bara…!" Ucap David melihat ke arah Bara.
"Sejak kapan kau mulai suka menggunakan wanita bayaran untuk menemanimu tidur?" Tanya David heran. Pasalnya dia tahu Bara dengan baik, Bara tidak akan pernah mau berhubungan dengan banyak wanita. Apa lagi wanita bayaran seperti itu? Jadi David cukup heran.
"Jangan sembarangan bicara kau…dia istri keduaku." Jujur Bara. Setidaknya David bisa menjaga rahasianya sampai hubungannya bersama Cira selesai.
"Apa…dia istri kedua mu? Sejak kapan, bagaimana bisa seperti itu?" Tanya David tidak percaya.
"Apa Mona tahu ini?"
Bara tidak langsung menjawab, dia melihat ke arah Cira.
"Monalah yang memilihnya sebagai istri kedua ku. Sebagai ibu pengganti untuk melahirkan anak kami." Jelas Bara. David tahu kisah Bara dan Mona yang tidak akan bisa memiliki seorang keturunan dari rahim Mona.
"Jadi begitu." Balas David mengerti.
"Sebaiknya cepat kau periksa, ada apa dengannya?" Kata Bara melihat ke arah David.
"Baiklah." Pasrah David tidak banyak bertanya.
David segera melakukan pemeriksaan, saat melihat intens wajah Cira. Dia sedikit bergumam.
"Wanita yang sangat cantik dan manis. Bara beruntung mendapatkan mu, tetapi kau yang tidak beruntung mendapatkannya." Gumamnya pelan yang masih dapat Bara dengar.
"Jangan banyak bicara, cepat periksa dan pergi dari sini." Balas tegas Bara cukup kesal mendengar perkataan sahabatnya yang selalu saja lancang kepadanya.
"Bahkan brengsek itu tidak tahu caranya memperlakukan seorang wanita cantik seperti mu. Lihatlah lebam ini, pasti ulahnya yang sejak awal tidak suka padamu." Gumam David seolah tidak mendengar peringatan Bara.
Bara cukup terkesan dan mulai kesal akan ucapan berani David tentangnya.
"Apa kau sudah bosan hidup, David?" Ancam Bara. Namun itu tidak lah berlaku untuk David.
"Kau dengar itu, bahkan dia berani mengancam ku karena membela dirimu dan mengumpat dia yang memang pria brengsek." Ucap David seolah berbicara pada Cira, sembari terus melakukan pemeriksaan.
David cukup terkejut waktu tahu ada luka cambukan pada kedua lengan Cira. Cira terpaksa di pasangkan cairan infus karena suhu tubuhnya yang cukup tinggi.
Bara kembali tercengang, dia pun terlihat benar-benar kesal kali ini. Bara berdiri menantang dengan berkacak pinggang. Sebelum Bara mengatakan ancam selanjutnya, David lebih dulu berbicara mengenai kondisi Cira.
__ADS_1
"Dengar Bara…!" Katanya melihat dingin ke arah Bara.
"Setelah dia siuman berikan obat ini padanya." Ucap David sembari meletakkan beberapa obat ke atas nakas.
"Dengar, suhu tubuhnya tinggi akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya, kurang istirahat dan tertekan. Kau mengerti." Katanya melihat sang sahabat.
"Setidaknya perlakuan dia dengan baik, walaupun dia bukan wanita yang kau cintai. Pada kenyataannya, dialah wanita yang sudah di pilih untuk melahirkan anakmu." Ucap David tidak menyukai cara Bara yang kasar terhadap istri keduanya tersebut.
Bara hanya diam dengan wajahnya yang datar. David melangkah mendekati Bara, kemudian menepuk pundak pria angkuh itu.
"Ingat satu hal. Jika dia berhasil memberikan mu seorang anak, jangan sampai semua perbuatan mu berbalik arah kepadamu. Hanya akan ada penyesalan nantinya. Ingat kawan, bagaimana juga wanita itu yang akan menjadi ibu kandung dari anakmu kelak. Bukan Mona." Ucap peringatan David ingin sahabatnya itu lebih bersikap baik kepada Cira.
"Aku pergi dulu. Jika sampai besok pagi dia belum siuman juga. Bawalah ke rumah sakit, aku siap membantu mu untuk menyembunyikan identitasnya." Kata David kembali, setelah itu berlalu dari kamar itu. Meninggalkan Bara yang menemani Cira dan merenungi dirinya yang telah bersikap kejam kepada istri keduanya.
Bara melangkah mendekati ranjang, di mana ada Cira yang masih belum siuman. Dia kembali berpikir akan semua ucapan David.
Semua perkataan David ada benarnya. Sebenarnya Cira tidak bersalah di sini, dia hanya korban dari ide gila Mona. Awal Bara tidak menyukai Cira adalah karena Cira hadir di antara hubungan dirinya dan Mona.
Namun kembali lagi jika mengingat ancaman kedua orang tuanya. Kembali ia frustasi akan semua yang terjadi pada rumah tangganya bersama Mona. Jika dia tidak ingin bercerai dari Mona, inilah pilihan yang terbaik. Pernikahan kontrak dan menggunakan jasa ibu pengganti.
Lalu di mana letak kesalahan Cira di sini? Jika Cira benar-benar bisa memberikannya seorang anak keturunan keluarga Daimos. Bukankah seharusnya ia senang dan berterima kasih kepada Cira. Berkat Cira ia mendapatkan anak kandungnya.
Bara menatap wajah pucat itu. Ada lebam pada leher dan ujung bibirnya yang semalam ia tampar. Kembali ia mengingat bagaimana brutalnya ia kepada Cira semalam. Berhubung badan dengan melakukan tindakan kekerasan yang tidak seharusnya Bara lakukan.
Bara memejamkan matanya untuk meredam rasa bersalah yang kini timbul di hatinya. Beberapa kali Bara menelan saliva dan mengusap kasar wajahnya, ia marah pada dirinya sendiri akan keadaan yang telah terjadi padanya selama ini.
Bara berlalu meninggalkan kamar itu menuju ke ruang kerjanya. Ia harus menenangkan hati dan pikirannya untuk semua masalah pribadinya. Melihat wajah Cira yang tidak berdaya, membuat hatinya kembali bergejolak. Berada di antara rasa kasihan dan marah pada wanita itu secara bersamaan.
Saat bangun, ia sadar selang infus kini terpasang pada lengannya. Ia pun melihat infus itu.
"Kapan ini terpasang? Apa aku tadi sekarat?" Gumam Cira pelan sembari melihat jarum infus yang terpasang pada punggung tangannya.
Perlahan Cira menurunkan kedua kakinya. Berusaha untuk berdiri dengan bantuan meja nakas yang ia pegang. Cira meraih botol infusnya dengan susah payah. Kakinya yang di perban masih terasa sakit, dan susah untuk bergerak leluasa.
"Apa yang kau lakukan!" Tanya Bara yang ada di ambang pintu, dan melihat Cira ingin meraih botol infusnya.
Cira sontak terkejut, dan kembali jatuh terduduk pada pinggiran ranjang. Dia melihat ke arah Bara yang datang mendekatinya.
Saat Cira ingin membalas, perkataannya terhenti akan pergerakan tangan Bara yang ada di luar perkiraannya. Bara meletakkan punggung tangannya pada kening Cira.
"Suhu tubuh mu masih hangat." Ucapnya setelah selesai memeriksa suhu tubuh Cira.
"Mau ke mana?" Tanya Bara dengan tatapan yang dingin. Cira melihat datar ke arah Bara.
"Saya ingin ke kamar mandi, tuan." Balas Cira sudah tidak tahan menahan buang air kecilnya.
Bara tidak menjawab, dia hanya melihat Cira dengan sangat dingin. Cira yang sudah tidak tahan berusaha bangkit dan mengabaikan Bara. Wanita itu berusaha kembali meraih botol infusnya. Namun dengan gerakkan cepat Bara meraih botol infus itu dan memberikannya pada Cira. Cira menerimanya dengan pasrah.
__ADS_1
Cira melangkah dengan pincang dan kesusahan. Bara hanya bisa mengamati dari arah belakang wanita itu. Bara menggaruk alisnya yang tidak gatal, karena merasa gereget melihat Cira.
Dengan langkahnya yang panjang Bara menghampiri Cira. Pria itu segera mengangkat tubuh Cira ala bridal, yang sontak membuat Cira terkejut akan perbuatan Bara. Mata Cira membulat sempurna karena terkejut.
"Apa yang tuan lakukan?" Tanya Cira ingin tahu Bara akan berbuat apa?
"Apa kau tidak bisa melihat, aku sedang melakukan apa?" Balas Bara.
Cira merasa sedikit risih akan kedekatan wajah mereka.
"Maaf tuan, tolong bisa turunkan saya."
"Diam dan jangan banyak bicara."
Bara dengan cepat melangkah membawa tubuh Cira masuk ke dalam kamar mandi. Cira hanya bisa diam karena menahan sesuatu yang ingin keluar dari bawah sana.
Perlahan Bara mendudukkan tubuh Cira di atas closed, kemudian keluar tanpa mengatakan apapun. Cira melihatnya heran.
"Ada apa dengannya?" Gumam pelan Cira heran melihat sikap Bara.
"Sudahlah. Aku sudah tidak tahan lagi." Ucapnya. Kemudian melakukan sesuatu untuk menuntaskan panggilan alamnya.
Setelah selesai, dengan perlahan Cira keluar dari dalam kamar mandi. Cukup susah ia melangkah karena kakinya yang masih terasa sakit. Bara yang duduk pada sofa hanya diam mengamati dari jauh. Cira berhasil kembali ke sisi ranjang dengan usaha yang tidak mudah. Nafasnya terengah-engah, dan kini tinggal menggantung kembali botol infusnya.
"Susah banget sih." Gumamnya kesusahan untuk menggantung botol infusnya.
Dari arah belakang, Bara merampas botol infusnya dan segera menggantungkannya. Cira berusaha menghindari ke arah samping.
"Selalu membuat susah saja." Ucap pelan Bara yang masih bisa terdengar oleh Cira.
"Terima kasih, tuan." Balas Cira.
Bara melihatnya dingin. Itulah Bara Daimos.
"Minum obatmu, lalu tidur kembali." Perintahnya dengan ujung matanya melihat ke arah obat yang ada di atas nakas.
Cira duduk pada sisi ranjang. Ia meraih obat yang di maksudkan dan meminumnya dengan segera. Cira yang mengerti akan perintah Bara melakukan semuanya dengan cepat, karena sebenarnya kondisi tubuhnya masih lemas.
Cira berusaha untuk tertidur kembali. Bara hanya diam mengamati dengan pandangan matanya yang dingin. Di rasa semuanya sudah aman, Bara melangkah ke sisi lainnya. Naik ke atas ranjang dan berusaha juga untuk tertidur, dia cukup mengantuk setelah semalaman berada di ruang kerja untuk merenungi semua yang terjadi di dalam hidupnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.
"