
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
Bara dan Kai tengah sarapan bersama di apartemen mewah yang di miliki oleh Bara Daimos, ketika Kai datang untuk menjemput Bara pagi ini. Rutinitas tersebut biasa mereka lakukan jika mereka hanya berdua saja. Kai akan selalu menemani tuannya untuk makan atau sarapan bersama, karena Bara sangat benci makan seorang diri.
Bara melihat heran ke arah Kai yang hanya memandangi nasi gorengnya, menu sarapan yang tidak di makannya sama sekali.
"Kenapa hanya diam saja? Ayo, cepat makan nasi goreng mu, kita harus segera berangkat ke kantor!!" Tegur Bara saat melihat Kai hanya diam saja.
Kai melihat ke arah tuannya itu, lalu kembali melihat ke arah wajah Cira yang terlihat memasang raut kecewanya. Sikap Kai tersebut tidak luput dari pandangan mata Bara.
"Ada apa?" Tanya Bara setelah selesai memasukkan potongan roti bakar keju buatan Cira ke dalam mulutnya.
"Tidak ada, tuan." Balas Kai dengan cepet meraih sendok dan garpu makan yang sudah tersedia di hadapannya.
Kai sebenarnya belum memakan nasi goreng buatan Cira, bukan karena tidak suka atau menolak niat baik Cira. Namun dia hanya menunggu tuannya untuk sarapan bersama seperti biasanya. Sedangkan saat dia melihat ke arah wajah Cira, Kai merasa tidak nyaman karena Cira masih berdiri di sana melihat mereka berdua sarapan, sedangkan Cira hanya berdiri dan diam mengamati. Namun Kai tidak dapat berbuat apa pun, atau mempersilahkan Cira untuk duduk sebelum ada perintah dari tuannya.
Kedua laki-laki itu menikmati sarapan yang cukup lezat dan pas pada selera lidah mereka. Bara dan Kai begitu menikmati sarapan mereka hingga tidak tersisa sedikitpun. Tidak peduli akan seorang wanita yang masih setia berdiri di tempatnya. Setelah selesai sarapan, mereka berdua bangkit dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Namun, tiba-tiba suara panggilan Cira menghentikan mereka yang berada di ruang tengah.
"Tunggu tuan." Panggil Cira menghentikan langkah Bara dan Kai.
Bara menghentikan langkahnya, lalu membalik tubuhnya melihat ke arah Cira yang ada di belakangnya.
"Ada apa?" Tanya Bara terlihat tidak senang.
"Apakah saya boleh beraktivitas bekerja seperti biasanya?" Tanya sekaligus meminta izin, Cira memberanikan dirinya untuk bertanya hal ini.
Bara melihat intens ke arah wajah Cira, dia sangat mengerti apa maksud Cira meminta izin darinya.
"Tanyakan itu pada Mona. " Balasnya singkat.
Tanpa ingin mendengarkan kelanjutan dari ucapan Cira, Bara dengan segera berlalu dari apartemen itu. Jika di lanjutkan lagi, sudah di pastikan akan ada rasa kesal yang timbul di hati Bara terhadap Cira yang tidak ia sukai.
Cira mengerti dan hanya bisa diam saja. Dia melihat begitu saja kepergian dari suaminya yang angkuh dan dingin itu. Beberapa kali sudah Cira menarik dan menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
"Bertanya pada tante Mona, aku bahkan tidak tahu nomer ponsel tante Mona. Bagaimana caranya aku bertanya?" Gumam pelan Cira sembari menarik dan menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
"Sudah lah, itu artinya aku benar-benar menjadi tawanan di apartemen ini. Aku tidak boleh dan tidak bisa kemanapun?" Gumam Cira lagi dengan wajah yang kecewa akan nasibnya kali ini.
Cira kembali ke ruang makan untuk menghabiskan sarapannya yang tidak tersentuh dari tadi. Sarapan sendiri dan paling terakhir adalah hal biasa yang Cira lakukan selama berada di kediaman keluarga Santoso, begitu juga di tempat barunya itu. Semua sama saja.
Semua pergerakan Cira menjadi perhatian oleh Mery selaku penjaga Cira di apartemen Tersebut. Setelah selesai Cira sarapan, wanita itupun kembali naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Mengurung diri karena tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
...--------------------------------...
…Di Dalam Mobil…
__ADS_1
Bara tengah melakukan panggilan kepada istri tercinta yang tidak memiliki kabar sejak semalam. Mona tidak sama sekali menghubungi dirinya, membuat hati Bara begitu gelisah dan merasa tidak nyaman akan situasi mereka saat ini.
"Hallo sayang…!!" Sapa Mona dari seberang telepon terdengar lembut di telinga Bara.
"Hai sayang…apa kabarmu pagi ini…?" Tanya Bara tersenyum bahagia mendengar suara lembut Mona. Hatinya kini sedikit tenang mendengar Mona terdengar ceria.
"Baik sayang, aku baik…!" Balas Mona menekan kalimat terakhirnya.
Mona tahu jika suaminya itu kini sedang gelisah dan merasa tidak nyaman. Mereka cukup dewasa untuk tahu perasaan masing-masing akan keadaan yang sekarang mereka lalui.
"Apa kamu sudah sarapan?"
"Sudah, baru saja. Oya sayang, aku akan ke kantor mu pagi ini. Apa kau ada waktu?"
"Tentu saja, datanglah…aku merindukanmu sayang." Balas Bara mencurahkan apa yang hatinya rasakan saat ini terhadap wanita yang begitu ia cintai.
Dalam hati Bara merasa bersalah karena pernikahan dan malam pertamanya bersama Cira semalam. Ia seperti suami yang telah mengkhianati istrinya. Walaupun kenyataannya tidak seperti itu, tetapi Bara tetap merasa bersalah kepada Mona.
Mona tersenyum mendengar kata kata manis yang terlontar dari mulut suaminya tersebut. Ia tahu jika Bara begitu sangat mencintai dirinya.
"Aku juga merindukan mu sayang. I love you." Balas Mona terharu sekaligus bahagia.
"I love you too honey." Balas Bara sembari mengembangkan senyum bahagianya.
"Baiklah, aku akan bersiap ke sana." Ucap Mona ingin mengakhiri percakapan mereka.
...--------------------------------...
Sedangkan Mona kini tengah menuju ke apartemen mewah milik Bara, di mana Cira berada di sana. Sebelum Bara menghubungi dirinya, ia sudah lebih dahulu menghubungi Cira meminta wanita muda itu untuk bersiap dan pergi bersamanya. Ada yang akan mereka berdua lakukan, melancarkan ide ide yang ada di kepala Mona saat ini.
Mona tahu jika Cira akan selalu mengikuti apa pun yang ia perintahkan. Itulah yang Mona inginkan sejak memutuskan Cira menjadi istri kedua suaminya.
Sesampainya Mona pada depan loby apartemen, Cira sudah berdiri menunggu di sana. Dengan segera supir pribadi Mona membukakan pintu mobil untuk Cira dan duduk tepat di samping Mona.
Pandangan datar Mona melihat ke arah Cira, menilai penampilan Cira saat ini. Cira cukup anggun dengan setelan gaun selutut dan blezer yang di gunakannya, Tas kecil dan sepatu hell tinggi 7 cm dengan merek ternama menambah anggun penampilannya. Cira cantik dengan make up natural dan rambut panjangnya yang hanya di ikat sebagian. Mona cukup puas akan apa yang menjadi perintah darinya untuk Cira lakukan.
Mona mengatakan kepada Cira agar menggunakan pakaian layak untuk mereka pergi mengunjungi kantor Bara. Cira tidak banyak tanya, karena ia tahu itu tidak ada gunanya. Lebih baik mengikuti apa yang di katakan Mona tanpa bantahan dan banyak pertanyaan agar semuanya aman.
Cira tidak lupa akan apa yang terjadi semalam kepadanya. Cira tahu jika ia setuju ikut pergi ke kantor Bara, tentunya ia akan bertemu pria dingin itu. Sehingga ia berusaha tampil dengan layak mengikuti selera Bara dan Mona.
Semua yang ia gunakan saat ini sudah di siapkan oleh Mona. Gaun, pakaian, tas, sepatu, dan beberapa perhiasan yang ada di dalam wardrobe di kamarnya bersama Bara adalah pilihan Mona semua. Cira mengetahui itu dari Mery wanita penjaga yang menghampiri dirinya ke dalam kamar untuk memberikan panggil Mona kepada Cira.
"Kamu cukup baik dalam memilih apa yang seharusnya kamu gunakan." Komentar Mona memandang datar ke arah Cira.
Cira melihat ke arah Mona. Wajahnya cukup datar dengan pandangan mata yang tidak dapat di artikan.
"Terima kasih." Hanya kalimat itu yang dapat Cira ucapkan sebagai balasan sopan santun darinya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah melakukan hal yang seharusnya kamu lakukan semalam bersama Bara?" Tanya Mona dengan berat hati. Ia ingin tahu sampai mana perkembangan Bara dan Cira setelah kemarin mereka menikah dan sah sebagai pasangan suami istri.
Mona ingin tahu tentang malam pertama Bara dan Cira. Walaupun hatinya sakit akan kenyataan itu, tetapi itulah yang harus ia lalui demi semua rencana yang sudah ia susun dengan rapi dan matang. Demi mempertahankan posisinya, suami dan juga memiliki anaknya bersama Bara.
Cira cukup tahu ke mana arah pembicaraan mereka, Cira menggenggam tali tasnya dengan kuat agar dapat menjawab sesuatu yang membuat dirinya malu. Kejadian semalam terlintas kembali di dalam pikirannya. Malam pertama yang tidak akan dapat Cira lupakan, malam di mana kesucian mahkotanya terenggut begitu saja.
"Sudah, tante." Balas terbata Cira dengan anggukkan pelan kepalanya.
Mona mengeraskan rahangnya, pandangan matanya begitu dingin melihat ke arah Cira. Cira tahu dan dapat merasakannya. Mona puas mengetahui apa yang ingin ia tahu, tanpa berkata lagi ia pun mengalihkan pandangan matanya ke arah depan.
Cira tahu jika Mona cukup tidak nyaman mengetahui jika suaminya telah bercinta dengan wanita lain. Cira tahu Mona pasti terluka, namun ia juga tidak tahu harus bagaimana? Semua sudah terjadi, dan itu semua adalah kemauan Mona sendiri.
"Jalan…!" Perintah Mona kepada supirnya.
"Baik, nyonya." Balas supir sembari mengangguk mengerti. Mobilpun melaju ke arah tujuan mereka.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara ataupun obrolan antara Mona dan Cira. Kedua wanita beda usia itu terdiam seribu bahasa, hanyut akan pikiran mereka masing-masing.
Beberapa saat telah berlalu dan mereka memasuki area perkantoran yang sangat luas dan besar. Dapat terlihat dari begitu tinggi dan mewahnya gedung perkantoran tersebut. Terlihat jelas betapa suksesnya perusahaan itu.
"Apa pun yang akan terjadi nanti, jangan pernah membantah, karena itu sudah tertera di dalam kontrak yang sudah kamu tanda tangani." Ucap tiba-tiba Mona mengalihkan pandangan mata Cira.
Cira melihat ke arah wanita yang bahkan tidak melihat ke arahnya. Mona masih setia pada pandangan matanya ke arah depan.
"Ikuti semua yang aku inginkan. Hingga semuanya berakhir seperti yang sudah di sepakati." Ucap Mona lagi dengan melihat ke arah Cira.
"Jika kamu mencoba untuk melanggar semuanya, tentunya kamu sudah tahu konsekuensinya seperti apa? Bukan berdampak padamu saja, tetapi juga berdampak pada perusahaan papamu." Kata Mona mengingatkan sekaligus sebagai peringatan untuk Cira.
Cira tahu apa yang Mona maksudkan? Begitu ia setuju untuk melakukan pernikahan kontrak itu. Ia tidak bisa melawan dan juga tidak memiliki hak akan apa yang tidak ia sukai. Menurut dan patuh pada Bara dan Mona hingga semua berakhir pada waktunya, itulah yang harus Cira lakukan untuk beberapa bulan ke depan dalam hidupnya.
"Iya tante, saya mengerti." Balas Cira dengan pasrah.
"Mulai sekarang, semua orang akan mengenal dirimu adalah keponakan perempuan ku. Ingat itu baik baik. Aku tidak ingin ada yang curiga dan mengetahui hubungan sebenarnya dirimu dengan Bara, kau mengerti."
"Iya tante, saya mengerti." Angguk Cira mengerti.
"Ayo turun." Perintah Mona setelah puas akan jawaban Cira.
Mona keluar dari mobil setelah di bukakan pintu oleh supirnya, sedangkan Cira keluar dengan segera tanpa banyak bantahan apa pun? Ia berusaha mengatur nafas dan perasaannya saat ini. Ia tidak boleh melakukan kesalahan apa pun? Sekarang ia akan menghadapi dua orang yang menggenggam kuat kendali atas dirinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.