GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
8. Awal Kehidupan Berumah Tangga.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Bara Daimos***


… Elcira Ardelia…


Untuk selanjutnya aku akan mulai menjalani kehidupan berumah tangga, yang entah akan seperti apa? Akupun tidak tahu, aku juga tidak akan tahu seperti apa karakter tuan Bara atau om Bara Daimos yang sebenarnya.


Aku hanya mendengar sedikit tentangnya, jika tuan Bara Daimos adalah pria yang sangat sulit untuk di dekati, dingin, angkuh dan terkadang kejam kepada orang yang tidak ia sukai. Aku sedikit bergidik ngeri mendengar kebenaran itu.


Begitu aku sah menjadi istri kedua, aku akan tinggal di apartemen milik om Bara yang sangat besar dan mewah dengan furnitur dan interior mahal pada setiap sudut apartemen. Apartemen yang begitu terlihat mewah dan mahal, bahkan kediaman keluarga Santoso kalah mewah dari apartemen ini. Sekaya apa suami baruku ini? Aku benar-benar tercengang melihat semua yang ada di dalam apartemen, penuh akan kemewahan.


Inilah awal dari kehidupan ku berumah tangga.


Kamar yang aku tempati sekarang bahkan lebih mewah dan besar 3 kali lipat dari kamarku yang ada di kediaman keluarga Santoso. Kamar yang di dominasi oleh warna putih, abu dan coklat, membuat kamar itu terlihat hangat namun misterius.


Ini adalah kamar yang akan aku tempati sekarang, kamar pribadi om Bara bersama dengan tante Mona di saat mereka ke apartemen ini. Mungkin kamar ini akan menjadi milikku mulai sekarang, kamar yang akan aku tempati bersama dengan suami baruku. Suami yang harus aku patuhi dan hormati.


Aku terdiam sejenak melihat ke sekeliling kamar tersebut, kamar yang begitu mewah dan luas.


"Kamar ini besar sekali. Bahkan sofa besar juga ada di sini." Gerutuku pelan sembari terus melihat ke sekeliling kamar tersebut.


Aku melangkah membuka sebuah pintu kayu besar, dan ternyata itu adalah kamar mandi yang cukup luas dan besar serta mewah. Aku melangkah kembali ke sebuah pintu kaca besar, dan aku terdiam cukup terkejut karena melihat ruangan di balik pintu kaca itu. Dapat aku lihat ruangan itu adalah wardrobe yang di miliki oleh om Bara yang terlihat rapi, besar, dan bersih.


Berbagai setelah jas mahal berjejer rapi, sepatu dan beberapa tas mahal juga ada di sana. Aku membuka sebuah pintu kayu yang berwarna putih, aku terpaku melihat banyaknya pakaian dan gaun wanita seperti dress, beberapa baju setelan, sepatu dan tas tas mahal dengan merk ternama.


"Ini semua pasti punya tante Mona. Itu berarti, kamar ini adalah kamar pribadi tante Mona dan om Bara. Jadi untuk apa aku ada di sini. Apa tidak ada kamar yang lainnya?" Gerutuku tidak suka karena di tempatkan di dalam kamar pribadi milik pasangan suami istri yang telah menjebak ku masuk ke dalam pernikahan kontrak untuk menjadi seorang ibu pengganti bagi mereka.


Aku kembali melangkah untuk keluar kamar itu sembari menyeret dua buah koper yang aku bawa. Tepat di depan kamar yang terletak di lantai dua, aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang tadi menuntun ku masuk ke dalam kamar tersebut.


"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu kepadaku sembari melihat ke arah koper yang aku genggam.


"Apa ada kamar yang lainnya?" Tanyaku, raut merengut wajah wanita itu dapat aku mengerti, jika wanita itu tidak mengerti apa yang aku maksudkan.


"Apakah tidak ada kamar lainnya, selain kamar yang tadi aku masuki?" Tanyaku kembali sembari menunjuk ke arah kamar yang ada di belakangku.


"Ada nona, tapi itu hanya kamar untuk tamu. Kamar itu adalah kamar anda dan tuan." Jawabnya dengan raut wajah yang terlihat tenang.


Aku terdiam sejenak. Aku cukup mengerti jawaban yang di katakan oleh wanita tersebut.


"Bukannya kamar itu adalah kamar tante Mona dan om Bara." Sahutku.

__ADS_1


"Itu dulu, sekarang itu adalah kamar anda dan tuan. Itu perintah dari nyonya muda." Balasnya dengan menekan setiap kalimat terakhirnya.


Aku tahu maksudnya, tidak ada bantahan dan harus mengikuti semua yang sudah di atur oleh tante Mona. Itulah yang harus aku lakukan sekarang.


Tanpa mengatakan apapun, dengan langkah yang berat aku kembali masuk ke dalam kamar itu. Lalu aku melihat dua buah koper yang aku bawa dari rumah, aku bingung harus meletakkan baju dan barangku di mana? Aku menghela nafasku, aku sekarang terlalu lelah karena acara tadi pagi.


Aku akan mandi terlebih dahulu, agar pikiranku bisa segar kembali. Tidak mungkin aku memakai gaun panjang putih ini seharian. Aku putuskan untuk mandi dan menyegarkan tubuhku, lalu melakukan pengecekkan laporan cafe hari ini.


Sementara waktu urusan cafe aku serahkan kepada Sarah, teman dekatku sekaligus manager cafe yang akan menggantikan aku. Aku tidak tahu, apakah aku bisa bekerja di cafe? Atau harus berdiam diri di dalam apartemen ini sebagai seorang tawanan, atau menjadi seorang istri kedua yang di sembunyikan dan istri yang baik untuk om Bara.


Aku akan mendiskusikan ini kepada om Bara, aku harap om Bara mengizinkan aku untuk kembali bekerja lagi. Aku mandi dengan sangat cepat, karena tidak ingin nantinya telihat oleh om Bara yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam kamar, itu akan sangat memalukan jika om Bara melihat ku dengan kondisi yang baru selesai mandi, karena jujur aku belum siap dan malu bertemu om Bara dalam kondisi seperti itu.


Setelah selesai membersihkan diri, aku hanya menggunakan baju rumahan yang biasa aku gunakan dalam kondisi santai di rumah, baju rumahan setelan celana kain dan baju oblong yang sangat nyaman untukku.


Aku duduk pada sofa yang ada di dalam kamar, dan mulai mengecek semua laporan yang dikirimkan oleh Sarah kepadaku melalui email ke dalam laptop yang aku miliki. Begitu asyik dan seriusnya aku bekerja, sehingga tidak sadar waktu telah menunjukkan jam 6 sore, dan sebentar lagi jam makan malam. Om Bara tidak ada muncul sama sekali.


Apa aku peduli? Tentu saja tidak, justru aku berharap hari ini ia tidak muncul di sini. Aku suka kesendirian ku hari ini, apartemen mewah dan besar itu terasa sunyi serta nyaman karena hanya ada aku dan wanita paruh baya yang menjadi penjagaku di sana.


Aku tidak peduli akan hal itu, om Bara mau datang ke apartemen itu atau tidak aku tidak peduli. Aku hanya ingin hidup dengan tenang di dalam apartemen om Bara, karena aku terlalu lelah akan banyaknya masalah yang aku hadapi akhir akhir ini.


Sebuah ketukkan pada pintu kamar terdengar, aku bangkit dan segera membuka pintu lalu melihat wanita yang menjadi penjagaku berdiri di depan pintu kamar yang aku buka.


Aku terdiam sejenak, apakah aku akan di layani oleh wanita ini?


"Tidak perlu, aku bisa masak makanan ku sendiri." Balasku, karena aku biasa melakukannya sendiri di kediaman Santoso.


"Maaf nona, tidak bisa seperti itu. Nyonya muda sudah memerintahkan saya untuk melayani semua kebutuhan nona selama ada di sini." Balasnya dengan raut wajah yang datar.


"Baiklah." Balasku pasrah. Jika wanita ini sudah menyebutkan nama tante Mona, itu artinya tidak ada bantahan lagi. Agar semuanya aman dan tidak ada masalah aku putuskan untuk mengalah.


"Masak saja apa yang bisa di masak." Balasku.


"Baik nona." Balasnya sembari menundukkan kepalanya tanda hormat kepadaku.


Jujur ini untuk pertama kalinya aku di layani di tempat aku tinggal, dan untuk pertama kalinya ada yang hormat dan mengikuti semua keinginanku. Apakah ini berkah? Atau hanya kesenangan sesaat.


"Oya. Apakah om Bara akan datang ke sini?" Tanyaku ingin tahu. Mungkin saja ada sesuatu yang tante Mona katakan kepada wanita ini tentang om Bara.


"Maaf nona, saya tidak tahu." Jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah." Balasku sembari menganggukkan kepalaku tanda mengerti.


"Terima kasih." Sahutku sebelum akhirnya wanita itu undur diri, dan aku bersiap untuk membersihkan tubuhku yang penat dari bekerja tadi. Bersiap untuk makan malam, lalu beristirahat tidur.


Hari ini hari yang sedikit melelahkan, sekaligus hari yang sedikit menenangkan karena tempat itu terlalu sepi dan hening. Hanya aku dan wanita itu yang ada di sana, aku bisa bernafas lega. Tetapi aku masih sadar jika lambat laun akan ada sesuatu yang terjadi, dan sesuatu itu adalah semua yang telah di rencanakan oleh tante Mona untuk keberadaan ku di apartemen ini.


Beberapa jam telah berlalu, makan malam sendiri tidak membuat aku merasa sedih. Aku masuk kembali ke dalam kamar dan ingin mengistirahatkan tubuhku, karena ini sudah pukul 10 malam. Jika om Bara tidak datang juga, besok aku putuskan untuk kembali bekerja di cafe seperti biasanya.


Tetapi itu ternyata tebakkan ku yang salah, terbukti dari sebuah ketukkan pada pintu kamar yang terdengar kembali. Aku segera membuka pintu dan melihat wanita penjaga yang bernama Mery berdiri di sana, aku melihatnya dengan intens. Aku tahu jika ia datang pasti membawa sebuah berita atau perintah dari tuannya, yaitu tante Mona.


"Maaf nona, tuan akan segera datang. Silakan anda turun untuk menyambut tuan di bawah." Ucap Mery sembari menundukkan sedikit tubuhnya, lalu menggeser tubuhnya ke samping.


"Menyambut tuan, om Bara akan datang. Mengapa harus seperti itu?" Tanyaku.


"Ini sudah keharusan dan menjadi tugas anda nona, sebagai istri tuan Bara. Ini perintah dari nyonya muda." Balasnya.


Aku tercengang, benar tebakkan ku. Ini semua perintah dari tante Mona. Semua sudah di atur oleh wanita itu, dan aku tidak bisa menolaknya.


Sudah keharusan dan menjadi tugas sebagai seorang istri, bagaimana aku bisa menolaknya? Baiklah demi hidup tenang, akan aku ikuti aturan dari tante Mona. Berusaha menjadi istri kedua yang baik untuk om Bara, cukup akan mengurangi masalah yang aku miliki.


Aku ikut turun ke bawah untuk menyambut om Bara yang merupakan suamiku sendiri mulai sekarang, walaupun pernikahan yang kami jalani adalah pernikahan kontrak. Pernikahan itu tetaplah sah di mata hukum dan agama.


Aku berdiri di ruang tengah menghadap ke arah pintu masuk, sedangkan Mery berdiri di samping pintu masuk untuk membukakan pintu untuk om Bara. Jantung ku berdetak cepat karena kedatangan orang yang terkenal kejam dan angkuh pada setiap orang yang tidak ia sukai.


Suara bel terdengar, Mery segera membukakan pintu untuk om Bara. Mery menyambut kedatangan tuannya dengan menunduk hormat saat om Bara melangkah masuk dan melewati dirinya. Tatapan ku masih melihat lurus ke arah sosok yang penuh akan aura yang berkharisma.


Tiba-tiba om Bara menghentikan langkahnya di hadapanku, dia menatapku dari ujung kaki hingga ke ujung kepalaku. Tatapan dingin dan datarnya sungguh menakutkan, lebih menakutkan dari raut wajah papa angkatku Mike Santoso.


Tatapan mata kami bertemu, aku diam terpaku dan hanya dapat memasang wajah datar tanpa senyum sedikitpun.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2