
***Apartemen Bara Daimos***
Pagi ini begitu cerah bagi beberapa orang untuk segera beraktivitas. Namun tidak begitu bagi Cira. Wanita yang tengah hamil itu, berusaha keras menahan diri akan siksaan di pagi hari. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya di dalam toilet kamarnya.
Sendiri dan tidak ada yang menemani. Bahkan Bara yang juga ada di apartemen tersebut, tidak datang ke dalam kamarnya. Sejak semalam setelah olahraga malam mereka selesai dan Cira tertidur pulas, Bara kembali ke dalam kamar tamu untuk tidur bersama Mona istri pertamanya yang kebetulan meginap di apartemen malam itu.
"Ya Tuhan, ini sungguh menyiksaku…" Gumamnya pelan setelah selesai mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. Ia duduk lemas di atas lantai tepat di depan closed.
"Sayang…tolong bantu mama…jangan seperti ini…mari kita sama-sama kuat menjalani hari hari kita. Tolong bantu mama kuat untuk menghadapi hari hari selanjutnya." Gumamnya kembali sembari membelai lembut perutnya yang masih rata dan bergejolak.
Ia berharap itu akan berhasil, dan membuat perutnya kembali normal.
Dia masih sadar, tidak akan mungkin meminta bantuan dari siapapun di dalam apartemen itu. Kehamilannya harus tetap di rahasiakan seperti permintaan Bara. Ia harus bertahan hingga waktu yang pria itu tentukan.
Cira berusaha mengatur nafasnya, dan terus membelai lembut perutnya. Mencurahkan kasih sayang kepada anaknya yang berada di dalam perutnya. Setidaknya itu sedikit membantunya untuk meredakan rasa mual yang ia rasakan.
Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya dan akan bersiap untuk pergi ke kantor. Walaupun lemas tubuhnya masih terasa, ia berusaha kerasa menahannya. Tidak membuat Mona curiga pagi ini adalah tugas terberat yang harus ia laksanakan hari ini.
Setelah selesai. Cira segera keluar dari dalam kamar dan turun menuju ke dapur mempersiapkan sarapan untuk Bara seperti biasanya. Tentunya pagi ini ada tambahan untuk Mona juga.
Sesampainya Cira di dalam dapur, Mery tengah mempersiapkan bahan sarapan yang akan ia masak. Mona memberikan dirinya perintah melalui pesan WA untuk membuatkan Bara nasi goreng seafood dan kopi hitam pahit seperti permintaan Bara pagi ini.
Dengan menggunakan masker untuk menutupi hidungnya, Cira memasak nasi goreng seafood secepat mungkin. Aroma nasi goreng itu sangat menyiksanya.
Bahkan Mery yang sedang menemaninya di dalam dapur terlihat heran dengan masker yang Cira pakai pagi ini.
'Apakah wanita ini sedang sakit sehingga memakai masker?' Itulah pertanyaan Mery yang ada di dalam benaknya.
"Ada apa?" Tanya Cira melihat gelagat aneh Mery yang melihatnya terus menerus.
"Apa anda sakit nona?" Tanya Mery pada akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.
Cira terdiam sejenak, ia mencerna maksud pertanyaan Mery kepadanya.
'Sakit.' Pikirnya.
Ia pun teringat akan masker yang ia gunakan. Mungkinkah itu penyebab Mery melihatnya aneh.
"Sepertinya saya sedikit Flu. Jadi saya harus memakai masker agar tidak menularkan yang lainnya." Balasnya sembari terus melakukan aktivasi memasaknya.
Itulah alasan tepat yang dapat Cira katakan.
Mery tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya lemah dan segera berlalu untuk menyiapkan alat makan di atas meja. Sarapan hampir selesai semuanya.
Cira kembali ke dalam kamar untuk mempersiapkan dirinya pergi ke kantor. Pagi ini sepertinya dia harus pergi sendiri ke kantor. Tidak mungkin dia ikut satu mobil bersama Bara, seperti biasanya. Ada Mona yang akan melihat itu, jadi Cira hanya menempatkan diri pada posisi aman untuk hari ini.
Kembali ke ruang makan. Di sana ternyata sudah ada Bara, Mona dan Kai yang terlihat duduk dan siap untuk sarapan bersama.
Cira duduk pada kursi yang masih kosong. Begitu dirinya duduk, dia cukup ragu makan nasi goreng seafood buatannya. Ia takut mual setelah memakan itu, tetapi demi kesehatan anaknya ia harus sarapan dengan baik.
Perlahan ia pun memakan sedikit demi sedikit sarapan yang sudah tersaji di hadapannya. Tersiksa dan berusaha ia tahan. Itulah yang sedang Cira lakukan.
Bara memperhatikan semuanya dengan seksama. Pria itu tahu jika Cira terpaksa memakan sarapannya pagi ini. Namun karena ada Mona di sana, ia tidak bisa berbuat apapun.
"Cira…!" Panggil Mona melihat ke arah Cira.
__ADS_1
Cira melihat ke arah Mona.
"Iya tante." Balasnya.
"Apakah tidak ada kabar baik tentang kehamilan mu?" Tanya Mona yang sukses membuat tubuh Cira menjadi kaku.
Mona bertanya tentang kabar kehamilannya yang sangat wanita itu tunggu-tungggu.
Cira melirik sejenak ke arah Bara yang melihat ke arahnya. Ada isyarat dari tatapan matanya, untuk merahasiakan kabar kehamilan itu seperti keinginan Bara.
"Belum tante." Balas Cira, kemudian menundukkan pandangan matanya ke arah makanan yang ada di atas meja.
"Sepertinya kamu harus ikut program hamil Cira. Aku ingin kamu memeriksakan kondisi tubuhmu. Ini sudah tiga bulan lebih, tetapi belum juga ada kabar baik tentang kehamilan mu." Ucap Mona melihat Cira sedikit sinis. Hanya Cira yang melihatnya.
Cira hanya diam saja. Kalau sudah seperti itu, apakah kehamilannya bisa di sembunyikan lebih lama lagi? Wanita hamil itu pun melihat sejenak ke arah Bara dan Mona secara bergantian.
"Kai…tolong buat janji temu dengan dokter David, agar dia dapat menjadwalkan pemeriksaaan untuk Cira." Perintah Mona kepada Kai.
Kai terdiam. Matanya melirik sejenak ke arah sang bos yang ada di sampingnya. Bara hanya mengedipkan matanya sekali, itu tanda untuk mengikuti semua perintah Mona.
"Baik nyonya." Balas Kai menerima perintah.
"Sayang, kamu juga ikut melakukan program hamil dan pemeriksaan itu ya." Ucap Mona dengan lembut melihat ke arah Bara.
"Tentu." Balas Bara dengan senyum tulusnya.
Mona sebenarnya masih marah kepada Bara tentang kejadian semalam yang ia ketahui, tetapi wanita itu dapat menahannya. Tidak ada alasan untuk dia marah atas kejadian semalam. Bara berhak memilih ingin melakukan hubungan itu bersamanya ataupun Cira.
Mona kesal, marah, dan kecewa karena dia juga memiliki hati yang bisa sakit dan terluka. Jika melihat prianya bersama dengan wanita lain. Kesulitan dan rasa sakit ini harus ia tahan dan telan sedalam mungkin, demi seorang anak yang ia inginkan. Itulah keinginannya sejak awal pernikahan kontrak yang ia setujui sendiri.
Semua mata melihat ke arah Mona. Untuk apa Mona ikut ke kantor bersama mereka?
Bara tidak menjawab, dia hanya diam dan melihat ke arah Mona.
Mona tahu arti tatapan suaminya tersebut.
"Kamu lupa. Hari ini ada rapat untuk urusan ulang tahun perusahaan, beberapa butik ternama yang bekerja sama dengan mall yang kita miliki, ikut dalam acara itu. Acara amal ulang tahun perusahaan. Mereka akan menyumbangkan beberapa gaun dan pakaian di dalam amal nanti." Jelas Mona dengan sikap yang santai.
Bara terlalu fokus untuk urusan Cira dan pekerjaan yang harus ia selesai selama tiga hari yang lalu. Sehingga ia lupa akan jadwal rapat tersebut.
"Oiya.... aku ingat. Baiklah, kau ikut denganku." Balas Bara tanpa perlawanan apapun.
Itu artinya pagi ini ia tidak akan satu mobil bersama Cira. Ada rasa kecewa di hatinya.
"Cira…kamu ikut tante satu mobil bersama om Bara." Ucap permintaan Mona dengan senyuman yang tentunya ia paksakan.
Di dalam hatinya, ia merencanakan sesuatu untuk Cira kali ini.
Cira melihat ke arah Mona. Tentunya ia tahu perintah itu tidak mudah untuk ia bantah. Sedangkan Bara, diam diam di dalam hatinya merasa senang karena Cira bersama dengannya, Bara lega bisa mengawasi wanita hamil itu.
"Iya tante." Balasnya setuju.
"Baiklah…Ayo kita berangkat." Ajak Mona karena mereka sudah selesai sarapan.
Tanpa banyak berkata, mereka berangkat ke kantor bersama. Saat melangkah menuju ke parkir basement, rangkulan tangan Mona tidak lepas dari lengan Bara. Cira dan Kai yang ada pada posisi di belakang mereka, dapat melihat dengan jelas betapa mesra dan hangatnya hubungan mereka berdua.
__ADS_1
Bara dan Mona duduk di kursi belakang, sedangkan Cira dan Kai ada di kursi depan. Sikap Mona yang terus menempel pada tubuh Bara, seakan tidak rela melepaskan pria itu dari pandangan mata dan rangakulannya.
Bara merasa kurang nyaman akan sikap Mona kali ini. Tidak seperti biasanya, pria itu akan sangat senang melihat sikap manja Mona selama ini. Entah mengapa kali ini, ia merasa benar-benar tidak nyaman karena ada Cira di sana. Ada apa dengannya?
Cira berusaha bersikap biasa saja akan kemesraan mereka. Dia meyakinkan hati dan perasaannya untuk bersikap acuh akan pemandangan tersebut. Bersikap selayaknya orang asing di antara hubungan rumah tangga Bara dan Mona. Bukan sikap seorang istri kedua, walaupun statusnya juga sah di mata hukum dan agama. Dia harus bisa menempatkan dirinya.
...--------------------------------...
***Perusahaan Daimos Grup***
Mereka sudah sampai di perusahaan. Mereka melangkah masuk dengan pandangan semua orang mengarah kepada mereka. Kini Cira hanya memiliki posisi seorang sekretaris sekaligus asisten kedua Bara Daimos.
Mona merangkul erat lengan Bara. Menunjukkan senyum pada setiap karyawan yang mereka lalui, seolah menunjukan jika dialah nyonya muda keluarga Daimos. Istri tercinta Bara Daimos. Tentunya dengan sikap anggun dan ramahnya untuk membalas tegur sapa setiap karyawan yang mereka lewati, karyawan yang akan selalu memberikan sikap hormat mereka kepada atasannya.
Mereka menggunakan lift khusus untuk presdir perusahaan. Sampainya di lantai atas ruangan Bara, mereka langsung di sambut oleh Lian.
"Selamat pagi tuan, nyonya!" Sapa Lian ramah kepada Bara dan Mona yang baru saja datang.
Cira yang ada di belakang mereka, segera berdiri di balik meja sekretaris yang ada di sana.
"Pagi Lian." Balas Mona dengan senyum ramahnya.
"Apakah kamu sudah membaca pesan yang aku kirimkan?" Tanya Mona kepada Lian.
"Sudah nyonya. Saya sudah membuat janji temu untuk nyonya besar." Balas Lian.
Bara mengerutkan keningnya karena mendengar jawaban Lian.
"Nyonya besar?" Ucap Bara ingin kejelasan.
Mona dan Lian melihat ke arah Bara yang terlihat heran akan perbincangan kedua wanita itu.
"Iya sayang. Kemarin mama memintaku untuk membuatkan janji temu ke salah satu panti asuhan yang sering mama kunjungi. Mama ingin, pada saat ulang tahun perusahaan kali ini, hasil dari acara amal yang akan kita adakan di sumbangkan ke Panti asuhan itu." Ungkap Mona menjelaskan.
Bara kini mengerti dan tidak ada bantahan lagi. Jika itu sudah berhubungan dengan sang mama.
"Baiklah, lakukan apapun yang mama inginkan." Balas Bara, kemudian dia melangkah masuk ke dalam ruangannya bersama Kai.
"Baiklah Lian, aku harap kamu melakukan semua yang aku minta. Jangan sampai mama mertuaku kecewa, kau mengerti." Ucap Mona dengan tatapan datarnya setelah kepergian Bara. Itulah sikap Mona jika Bara tidak ada bersamanya.
"Siap nyonya. Semua akan saya atur seperti yang anda inginkan." Balas Lian terpaksa bersikap baik. Padahal di dalam hatinya tidak suka pada sikap Mona yang cepat berubah-ubah.
Mona adalah pemegang kendali dari semuanya. Itulah yang ia inginkan sejak awal pernikahannya bersama Bara Daimos. Menjadi wanita satu-satunya di keluarga Daimos yang akan menjadi pemegang kendali di dalam keluarga itu. Jalanya semakin dekat, jika ia memiliki anaknya bersama Bara Daimos melalui Elcira Ardelia.
Tanpa banyak kata Mona menyusul Bara masuk ke dalam ruangan itu, tentunya dengan sikap angkuhnya dan tatapan sedikit sinis melihat ke arah Lian dan Cira.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1