
…Elcira Ardelia…
Air mataku seakan sudah mengering, terlalu banyak dan terlalu sering untuk aku menangis. Menangisi kehidupanku yang selalu tidak ada kebahagiaan dari hari ke hari, terkadang aku ingin merasakan bagaimana rasanya bahagia? Walaupun hanya sedetik saja.
Namun seakan kebahagiaan itu sangat susah aku raih. Di saat aku mendapatkan sedikit kebahagiaan, pasti akan selalu di iringi oleh bencana dan air mata kesusahan yang akan aku alami. Membuatku takut untuk merasakan rasa bahagia dan meraih kebahagiaan ku.
Begitu juga seperti yang sekarang ini aku alami. Aku akan menjalani sebuah pernikahan kontrak dan menjadi ibu pengganti. Sedangkan saat ini aku memiliki seorang kekasih yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku, jadi bagaimana mungkin aku menjalani pernikahan tersebut?
Apakah mampu aku melupakan cinta dan kekasih pertamaku itu? Apakah aku mampu untuk menghancurkan hatiku dan hatinya dengan pernikahan kontrak yang tidak aku inginkan, apakah aku mampu melupakan cintaku pada Bayu Dirgantara. Pria yang sangat baik dan selalu peduli kepadaku selama 3 tahun ini.
Aku tidak mampu melakukan apapun? Hidupku seakan bukanlah milikku. Aku yang hanya menjadi anak angkat dari keluarga pengusaha kecil di kota A, aku tidak memiliki hak untuk memilih sendiri, apa yang aku inginkan? Aku hanya bisa bersyukur, karena masih ada yang mau mengasuh dan mengadopsi diriku menjadi putri mereka.
Aku sudah menjadi anak yatim piatu sejak aku kecil, tidak dapat memilih ataupun meminta takdir nasib seperti yang aku inginkan. Semua itu sudah di atur dan di tentukan oleh papa angkatku. Aku hanya bisa menerimanya dengan tulus ikhlas dan menjalaninya dengan sebaik dan senyaman mungkin.
Aku Elcira Ardelia, sering di panggil dengan panggilan Cira. Usiaku kini 23 tahun, aku adalah anak angkat dari keluarga Santoso. Namun nama belakang Santoso tidak pernah ada pada nama belakangku.
Aku di adopsi sejak usiaku 1 tahun, aku hanya di jadikan pelengkap keluarga dan pemancing anak bagi papa, agar keluarga Santoso bisa mendapatkan anak kandung keturunan mereka sendiri. Itu berhasil mereka lakukan setelah aku di adopsi selama 1 tahun, mama angkatku hamil dan akhirnya melahirkan seorang putri kandung mereka sendiri yang sangat cantik.
Aku dan adikku hanya berpaut 3 tahun, sejak kelahiran adik kecilku yang di beri nama Caroline Santoso, aku hanya sebuah anak pajangan bagi papa. Aku menjadi penjaga dan pengasuh bagi putri keluarga Santoso, hanya mama yang selalu sayang dan peduli kepadaku salama ini.
Kebahagiaan tidak lagi aku rasakan, semua kebahagiaan adalah milik Caroline. Semua yang terbaik hanya untuk Caroline, seperti kasih sayang, kemewahan, fasilitas, pakaian, pendidikan yang terbaik, dan juga apa yang aku miliki dan di sukai? Jika itu di sukai oleh Caroline aku harus merelakannya untuk Caroline.
Aku hanya akan mendapatkan sisa-sisa apa yang tidak di inginkan oleh Caroline? Sungguh hidup yang tidak pernah adil untukku. Aku hanya bisa bersabar dan bersyukur masih di berikan tempat tinggal, makanan serta pendidikan yang layak. Meskipun aku di anggap selayaknya seorang pembantu rumah tangga dan pengasuh anak bagi papa, aku rela.
Aku menerima semua itu dengan hati yang ikhlas. Walaupun aku di adopsi oleh keluarga yang cukup kaya raya, tetapi aku hidup mandiri setelah menyelesaikan kuliahku. Aku belajar mendirikan usahaku sendiri, aku memiliki sebuah cafe kecil tempat tongkrongan anak muda. Usahaku itu sudah berjalan selama 4 tahun ini.
Aku juga senang telah lulus kuliah dengan nilai yang cukup tinggi dan bagus. Aku mengambil jurusan manajemen bisnis., karena aku ingin mengikuti jejak papa angkatku. Beliaulah panutanku, walaupun beliau tidak pernah menganggap aku ada setelah kelahiran adikku Caroline.
Aku tidak terlalu peduli akan hal itu, aku tetap menyayangi mereka semua. Merekalah keluargaku saat ini, papa adalah panutanku dalam hidup ini. Aku akan buktikan jika aku pantas menjadi anak mereka, aku akan buat mereka bangga kepadaku.
Apapun akan aku lakukan untuk mereka, agar mereka menganggap aku ada dan menyayangiku. Semua yang bisa aku lakukan untuk mereka akan aku lakukan.
Seperti yang sekarang aku lakukan, hidup dan masa depanku di pertaruhkan. Aku di jadikan sebuah pertukaran oleh papaku sendiri, aku di jadikan pertukaran bisnis oleh papaku. Aku di paksa melakukan pernikahan kontrak dan menjadi ibu pengganti dengan suami tanteku sendiri. Seorang pria yang sudah beristri dan sangat mencintai istrinya tersebut.
Perusahaan papa yang berada di ambang kebangkrutan dan terlilit banyak hutang pada beberapa perusahaan. Papa membutuhkan suntikan dana yang sangat besar dari perusahaan Daimos Grup, dan hutangnya akan lunas jika papa setuju menyerahkan aku kepada tante Mona dan Om Bara.
__ADS_1
Apakah aku bisa menolak? Tentu saja jawabannya tidak akan bisa. Ucapan papa sangat melukai hatiku.
"Ingat Cira. Kamu sudah kami jadikan anak angkat dan mengasuhmu sejak kecil hingga dewasa, tidak bisakah kamu membalas budi dengan tubuhmu itu? Seharusnya kamu senang bisa menikah dengan pria kaya raya seperti tuan Bara Daimos. Banyak wanita yang menginginkan posisi itu, dan itu jatuh padamu." Ungkap papa dengan menunjuk ke arahku.
'Setidaknya, jangan menjadi beban kami terlalu lama.' Ucapan papa pada saat itu sungguh mengiris sakit hatiku.
Aku hanyalah beban bagi mereka, itulah yang mereka pikirkan selama ini. Air mataku jatuh tidak dapat tertahan lagi. Betapa sakit hatiku mendengarkan perkataan papa, sedangkan mama yang selalu peduli dan sayang padaku hanya bisa terdiam dan menatapku sedih.
"Baiklah, akan aku terima pernikahan ini. Setidaknya aku sudah membalas budi kepada keluarga ini. Jika dengan cara menjual ku kepada keluarga Daimos bisa membuat kalian senang dan menyelamatkan perusahaan papa. Akan aku lakukan, aku akan mengurangi beban kalian." Ucapku membalas perkataan papa, sekaligus mengabulkan permintaan mereka.
Sampai kapanpun akan aku ingat perkataan papa kepadaku. Aku hanya sebuah beban bagi mereka, dan aku tidak ingin lagi menjadi beban bagi mereka.
Pernikahan tanpa cinta akan aku jalani, walaupun aku tidak tahu pernikahan kontrak seperti apa yang akan aku jalani nantinya? Setidaknya aku bisa keluar tanpa beban dari rumah keluarga Santoso, yang selalu menganggap aku hanya sebagai seorang pelayan. Aku hanya harus bertahan selama beberapa tahun, sampai seorang anak lahir dari rahimku.
...--------------------------------...
Pernikahan itupun terjadi, acara pernikahan yang berlangsung sangat sederhana karena hanya di hadiri oleh beberapa orang saja. Papa, mama, Caroline, tante Mona, asisten pribadi Bara, beberapa petugas dari kantor catatan sipil yang telah di atur dan dua saksi pemuka agama.
Pernikahan yang benar-benar akan menjadi sebuah rahasia bagi umum. Apakah bisa aku jalani? Mereka tidak ingin ada pesta ataupun resepsi seperti layaknya pernikahan pada umumnya, sebab itu tidak terlalu di butuhkan. Cukup pernikahan itu sah di mata hukum dan agama.
Aku yang tidak begitu mengenal dan tahu sosok dari tuan Bara Daimos, cukup terkejut melihat wajahnya yang tampan dan dewasa. Rahangnya yang tegas, dengan hidung mancung dan bibirnya yang berwarna merah secerah buah cerry, postur tubuhnya tinggi atletis, dengan kulit putih bersihnya.
Aku tidak pernah tahu jika tuan Bara Daimos suami tante Mona adalah pria dewasa yang sangat tampan, aku pikir dia adalah pria dewasa yang akan memasuki usia paruh baya. Apakah benar pria ini yang akan menjadi suami kontrakku sekarang? Itulah pertanyaan yang ada di dalam hatiku.
Namun segera aku tepis jauh pikiranku itu, aku tidak peduli bagaimana pria itu, yang aku inginkan semuanya cepet berlalu tanpa hambatan dan masalah sama sekali. Apakah itu bisa terjadi? Tidak ada yang akan tahu kelanjutannya.
Kini kami telah sah menjadi sepasang suami istri di mata hukum dan agama, walaupun aku hanya istri keduanya.
Kontrak perjanjian pra nikah sudah kami tanda tangani. Walaupun banyak poin yang membuat aku keberatan, karena tidak banyak menguntungkan diriku. Semua menguntungkan bagi mereka dan papa, aku hanya mendapatkan beberapa harta setelah melahirkan anak untuk tante Mona dan om Bara.
Ini benar-benar tidak masuk akal, sesuatu yang tidak bisa aku bantah dan lawan. Air mata kesedihan dari wanita yang selama ini telah membesarkan diriku membuat aku luluh begitu saja. Aku tidak kuasa melihat mama begitu menderita dan terbebani akan pernikahan ini.
"Setelah ini, kamu akan tinggal di apartemen yang sudah kami siapkan." Ucap tante Mona melihat datar ke arahku.
Tatapan matanya saat bertemu di rumah Santoso beberapa hari yang lalu kini telah berubah. Sedangkan om Bara yang sudah resmi menjadi suamiku hanya diam dengan raut datar wajahnya melihat dingin ke arahku. Aku seperti sebuah sampah yang tidak berharga di hadapan mereka.
__ADS_1
"Apa kau mengerti?" Tanya tante Mona ketus karena aku hanya diam saja melihat ke arah mereka secara bergantian. Raut wajahku sama datarnya seperti mereka.
Untuk memasang raut sedih dan kecewa, sudah tidak ada gunanya bagiku saat ini. Dua orang yang ada di hadapanku ini benar-benar telah menjebakku ke dalam masalah yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi.
"Iya aku mengerti, tante…!" Balasku lemah setelah menghela nafasku yang terasa berat.
"Bagus, dan ingat pernikahan ini tidak boleh bocor ke publik. Jika tidak ingin ganti rugi yang harus kamu pertanggung jawabkan." Ungkap sedikit ancaman dari tante Mona.
"Aku mengerti, tante." Balasku bangkit dari dudukku. Aku tidak tahan berlama-lama bersama mereka yang terlihat selalu mengintimidasi dan tidak suka kepadaku.
"Kamu mau ke mana?" Tanya tante Mona karena aku bangkit dari dudukku.
Aku menghela nafasku perlahan, setelah melihat sejenak ke arah om Bara yang hanya diam dan dingin. Akupun menjawab yang membuat mereka tercengang.
"Aku sudah menjadi tawanan kalian berdua, apa aku bisa pergi ke tempat lainnya. Tentu saja aku akan masuk ke dalam penjara yang sudah di siapkan untukku, penjara yang di sebut sebuah apartemen untukku." Balasku cukup tenang, tatapan mataku cukup dingin ke arah mata tuan Mike Santoso, atau papa angkatku yang berada tidak jauh dari meja kami.
Tante Mona tercengang mendengar perkataanku, sedangkan om Bara masih terlihat sama seperti biasanya. Aku tidak peduli, aku cukup lelah dan butuh istirahat sejenak untuk pertarungan selanjutnya dari rencana yang sudah mereka buat untukku.
"Apakah ada lagi yang harus di bahas?" Tanyaku melihat datar ke arah sepasang suami istri yang ada di hadapanku.
Cukup lama aku menunggu, dan pada akhirnya om Bara lah yang bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.
Tante Mona hanya bisa mengikuti suaminya, setelah ia memerintahkan asisten pribadi om Bara untuk mengantarkan aku ke apartemen yang akan aku tempati sekarang.
Tanpa ingin pamit dan mengucapkan kata perpisahan, aku berlalu begitu saja. Membawa pergi semua kenangan buruk dan rasa sakit hatiku terhadap keluarga Santoso.
Hidupku untuk selajutnya baru saja di mulai. Aku harus berusaha kuat menjalaninya hingga pada akhirnya aku yang mengalah, atau aku yang harus pergi pada waktu yang telah di tentukan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.