GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
30. Kejujuran Bayu.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Bayu dan Bara kini duduk berhadapan di dalam ruangan presdir. Bara meminta Bayu menghadap kepadanya, Bara yang merasa penasaran akan dugaannya terhadap kedekatan Cira dan Bayu. Ingin tahu jelas dari Bayu langsung, setelah itu ia akan memutuskan sesuatu untuk Cira.


"Ada apa pak…?" Tanya Bayu masih dengan panggilan sopan karena mereka berada di dalam area kantor.


"Apa kamu mengenal Cira?" Tanya Bara langsung pada intinya.


Bayu tidak langsung menjawab, ia melihat intens pamannya itu. Bayu ingin melihat apakah Bara kini curiga akan kedekatan dirinya dan Cira.


"Iya, aku mengenal Cira dengan baik." Balas Bayu tahu jika pamannya terlihat curiga akan hubungan dirinya bersama Cira.


"Mengenal baik seperti apa?"


Bayu tersenyum mendengar pertanyaan pamannya tersebut. Bayu tidak pernah mengira jika Bara akan bertanya urusan pribadinya.


Bara melihat heran akan senyuman yang Bayu tampilkan. Namun Bara pandai mempertahankan dan mengatur raut wajahnya yang akan selalu datar serta tenang.


"Apakah urusan pribadi dapat di bicara di dalam kantor, pak presdir?" Tanya Bayu sebagai penguluran waktu.


Bara tahu maksud perkataan Bayu.


"Katakan, ada hubungan apa antara kamu dan Cira? Apa kamu tahu siapa Cira sebenarnya?"


Bayu menghela nafasnya. Ia mengalah dan akan melayani semua pertanyaan Bara.


"Baiklah Om Bara." Kini Bayu mulai bersikap akrab kepada Bara.


"Apa Om Bara masih mengingat ceritaku beberapa tahun yang lalu?" Tanya Bayu.


Bara tahu cerita apa yang di maksudkan?


"Iya, Om masih mengingatnya. Apa ada hubungannya dengan Cira?" Balas Bara, sebenarnya dia semakin yakin jika Cira dan Bayu memang benar dekat. Bara hanya ingin keyakinan itu langsung keluar dari mulut Bayu sebagai pengakuan yang jujur.


"Cira adalah kekasihku selama 3 tahun ini." Ucap Bayu dengan sekali tarikkan nafasnya.


Bara terdiam. Dia tidak terkejut akan kejujuran Bayu. Bara bertahan pada datar dan tenang raut wajahnya.


"Apa kamu tahu siapa Cira?"


"Aku tahu. Dia adalah putri angkat tuan Mike Santoso, dan kakak perempuan dari Caroline Santoso. Yang otomatis menjadi keponakan perempuan dari tante Mona." Penjelasan Bayu membuat Bara kini tahu, jika Bayu mengenal baik Cira dan keluarga angkatnya.


"Baiklah." Ucap Bara puas akan pengakuan Bayu.


"Om mengerti. Om harap kamu bisa menempatkan diri saat ada di dalam kantor. Om tidak ingin hubungan kalian di ketahui oleh orang orang di kantor ini."


"Mengapa begitu Om. Hubungan kami tidak ada yang salah, lagi pula kami ada di dalam departemen yang berbeda. Hubungan kami tidak akan menggangu pekerjaan kami sama sekali. Aku berjanji." Ungkap protes Bayu.


"Bersikaplah profesional Bayu. Om tidak ingin ada omongan tentang dirimu dan juga Cira di dalam kantor ini."


"Tapi Om Bara...!!" Ucap Bayu terputus.

__ADS_1


"Sudahlah Bayu. Dengarkan perkataan Om. Cira baru bekerja beberapa hari di perusahaan ini. Apakah mungkin akan ada perkataan orang yang baik mengenai dirinya? Gosip tentang campur tangan Mona, sehingga Cira bisa masuk ke perusahaan ini dan bisa menjadi sekretaris ku, mungkin saja sudah membebaninya. Jangan kamu tambah lagi bebannya untuk bekerja di perusahaan ini." Saran sekaligus modus Bara untuk merenggangkan kedekatan mereka berdua.


"Tapi Om…"


"Bersikaplah dewasa Bayu. Om berharap kamu dapat bekerja sama, jika kamu memang menyayanginya."


Bayu terdiam, dia berpikir apa yang di katakan oleh pamannya itu ada benarnya juga.


"Baiklah om." Bayu pada akhirnya setuju untuk menjaga jarak mereka di dalam kantor.


Setidaknya di dalam pikiran Bayu, ia senang bisa melihat dan mengawasi Cira setiap harinya. Cira yang sekarang bekerja bersamanya dalam satu kantor, memudahkan dirinya untuk bertemu atau melihat Cira setiap hari.


Jika tidak bisa bersama di dalam kantor, mereka masih bisa bersama saat jam berangkat dan pulang kantor. Itulah pikiran Bayu dengan senyum tipis membayangkan, jika dia dan Cira akan berangkat dan pulang kantor bersama setiap harinya.


Setelah tidak ada yang di bicarakan lagi, Bayu berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Bara dengan pikirannya sendiri.


"Setidaknya aku bisa sedikit menjauhkan kalian. Bagaimana juga Cira sudah terpilih akan melahirkan anakku bersama Mona. Tidak seharusnya ada Bayu di antara rencana kami." Ucap Bara pelan dengan tatap matanya jauh ke arah pintu ruangan, di mana baru saja Bayu keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"Setelah urusan dengan Bayu selesai. Selanjutnya membicarakan masalah ini bersama wanita itu." Itulah rencana Bara selanjutnya.


Bara ingin kejujuran dari Cira, sekaligus memberikan peringatan terhadap istri keduanya itu. Bara tidak menginginkan hubungan Bayu dan Cira berlanjut di saat pernikahan kontrak masih ada di antara dirinya dan juga Cira.


...--------------------------------...


***Apartemen Mewah Bara Daimos***


Cira sudah kembali ke apartemen sore itu. Dia di jemput oleh supir Bara yang sudah menjadi supirnya selama dua hari ini.


Cira sedikit kesulitan dalam melangkah menaiki tangga, mandi dan melakukan aktivasi lainnya. Pada akhirnya Cira memilih berdiam diri di dalam kamar. Hari ini cukup melelahkan baginya, mengerjakan beberapa laporan yang ada di dalam cafe. Cukup menguras pikiran dan juga tenaganya.


Bara datang dan bertanya kepada Mery tentang keberadaan Cira. Mery mengatakan jika Cira pulang jam 4 sore tadi, langsung masuk ke kamar dan tidak keluar sampai saat ini.


Bara masuk ke dalam kamar, dia mendapati Cira tengah tertidur pulas. Tanpa Bara sadari jika istri keduanya itu sedang demam tinggi.


"Wanita ini bahkan bisa tidur dengan pulas. Dari mana saja dia baru pulang jam 4 sore, apa dia benar-benar sakit dan susah untuk berjalan? Seperti yang di katakan oleh Bayu. Sepertinya dia berbohong." Gumam Bara melihat kesal ke arah Cira yang tertidur pulas.


Bara yang sudah terlanjur kesal pada Cira, melihat ke arah nakas. Di mana ada segelas air putih di atas nakas. Bara meraih gelas itu dan segera menyiramkan air yang ada di dalam gelas ke arah wajah Cira.


Cira cukup terkejut akan guyuran air yang terasa dingin pada wajahnya. Dia yang masih merasa lemas berusaha membuka matanya. Bara semakin kesal melihat sikap lamban Cira.


"Bangun…!!" Bentak Bara sembari menyibakkan selimut tebal yang di pakai oleh Cira.


Cira terkejut, namun apalah daya dengan tubuhnya yang masih lemas dan demam tinggi. Cira berusaha bangkit dari tidurnya akan bentakkan Bara padanya.


Sembari mengatur nafasnya yang panas dan berat, Cira bergumam di dalam hatinya.


'Apa yang ingin di lakukannya lagi padaku. Tidak bisakah dia melihat aku sedang sekarat sekarang?' Gumam Cira.


"Dari mana saja kau jam 4 sore baru pulang. Bukankah tadi kau meminta ijin padaku jam 1 siang. Selama 3 jam kau ada di mana?" Tanya bentak Bara terlihat marah melihat sikap lamban Cira.


"Maaf tuan. Saya ada sedikit urusan dengan pekerjaan lama saya." Balas Cira mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Urusan pekerjaan lamamu? Apa kau pikir aku akan percaya?"


Cira menghembuskan nafasnya yang semakin berat dan panas.


"Terserah tuan jika tidak percaya pada ucapan saya. Setidaknya saya tidak berbohong dan keluyuran di luaran sana." Balas Cira mencoba melihat ke arah Bara yang berdiri tegak di hadapannya.


Kepala Cira kini mulai berputar dan pandangan matanya yang panas mulai tidak bagus.


Bara melihat wajah pucat Cira dengan sedikit rona merah pada bagian pipinya. Mata Cira sendu terlihat berantakan dengan wajah yang basah akibat guyuran air yang Bara lakukan.


"Dasar wanita murahan. Apa kau pikir aku akan percaya pada ucapan mu itu?"


Cira hanya diam dengan sendu. Dia tidak memiliki tenaga untuk melawan Bara saat ini. Bahkan jika Bara akan menyiksanya sekarang, matilah dia hari ini. Tubuhnya terasa sakit dan remuk redam akan luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya. Cira pasrah akan dirinya sekarang.


"Cepat siapkan air hangat untuk aku mandi sekarang. Setelah itu Siapkan makan malam untuk ku." Perintahnya.


Bara tidak peduli akan kondisi Cira yang terlihat sekarat. Bara hanya melangkah ke arah sofa dan menunggu apa yang ia minta selesai di siapkan oleh Cira.


Cira menatap pria itu dengan tajam dan benci dari balik matanya yang panas dan mulai berair. Cira mulai bangkit dengan melangkah perlahan, Cira berusaha dengan kakinya yang pincang akibat terkilir dan kini sedang di perban.


Bara melihat ke arah Cira. Namun ia yang masih marah dan kesal terhadap Cira, sama sekali tidak peduli pada wanita itu. Tidak ada rasa iba sedikit pun di hati Bara melihat Cira kesulitan dalam melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Cukup lama ia menunggu Cira mempersiapkan air hangatnya untuk mandi, tetapi Cira tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Apa yang di lakukan oleh wanita itu. Bahkan untuk menyiapkan air hangat saja, dia membutuhkan waktu yang begitu lama." Gerutunya semakin kesal pada Cira.


Bara bangkit dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Begitu ia ada di dalam kamar mandi, kini ia dapat melihat apa yang terjadi kepada Cira. Wanita itu jatuh terkapar di lantai yang penuh akan genangan air yang tumpah dari dalam bathtub.


Bara segera berlari dan meraih tubuh Cira. Dapat Bara rasakan jika tubuh Cira sangat panas, terlihat juga kulitnya yang merinding akibat dinginnya air yang membasahi tubuhnya.


"Cira…Cira…!!" Panggil Bara sembari menepuk-nepuk pipi Cira yang terasa panas.


Cira tidak sadar juga. Bara akhirnya mengangkat tubuh basah itu dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar tidur. Perlahan Bara meletakkan tubuh Cira yang tidak sadarkan diri ke atas ranjang.


Bara berdiri dengan kebingungan melihat kondisi tubuh Cira yang basah, panas dan meriang.


"Wanita ini hanya bisa buat aku susah saja." Ucap Bara sembari mengusap kasar wajahnya karena terbebani akan kondisi Cira.


Dengan terpaksa Bara mengambilkan pakaian ganti untuk Cira. Baju yang Cira gunakan basah semua, dan harus segera di ganti. Kalau tidak, tubuh Cira akan terus meriang dan bisa bisa masuk angin.


Dengan terpaksa Bara sendiri yang menggantikan pakaian Cira. Dari membuka semua yang di pakai oleh Cira, dan memasangkan baju ganti yang kering dan nyaman untuk Cira gunakan.


Beberapa kali Bara harus menelan salivanya saat melihat lekuk tubuh Cira. Membangkitkan dengan mudah sesuatu yang seharusnya tidur. Bara juga dapat melihat beberapa luka cambukan dan lebam di tubuh wanita itu. Ada sedikit rasa iba yang akhirnya meruntuhkan rasa kesal dan marahnya tadi pada wanita yang sekarang terlihat tidak berdaya dan rapuh.


Setelah selesai, Bara dengan cepat bangkit dan menyelimuti tubuh Cira. Ia melangkah pergi untuk menghindari perasaan yang menurutnya salah saat melihat Cira. Bara pergi untuk menghubungi dokter pribadinya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2