GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
41. Bersikap Manja Dan Manis.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Bara duduk di samping Cira yang masih memejamkan matanya, untuk meredam rasa lemas dan mualnya. Setelah muntah tadi, Cira merasa lebih baik pada perutnya. Hanya sakit pada tenggorokan dan lemas badannya masih terasa.


"Kau benar-benar sakit. Kenapa diam saja?" Tanya Bara melihat ke arah Cira. Dia begitu cemas melihat kondisi Cira saat muntah tadi.


"Tidak separah itu tuan. Kondisi saya lebih baik setelah muntah tadi." Balasnya. Cira mencoba membuka matanya dan memperbaiki duduknya, kemudian melihat ke arah Bara yang ada di sampingnya.


"Apa benar?" Tanya Bara selidik dan melihat ke arah wajah Cira yang masih pucat.


"Sebaiknya kau pulang lebih awal. Nanti aku minta supir untuk mengantarkan mu pulang."


"Tidak tuan. Saya sudah lebih baik. Saya hanya masuk angin saja." Balas Cira cepat.


Bara masih melihatnya dengan curiga, apakah Cira benar baik baik saja?


"Dasar keras kepala." Gumam Bara pelan masih dapat Cira dengarkan.


Cira menelan Salivanya, dia kini sadar jika telah membantah perintah Bara. Cira berpikir dengan cepat untuk membuat Bara agar tidak marah kepadanya.


"Tuan…!" Panggil Cira mencoba bersikap manja dan manis, dengan merangkul lengan Bara.


Bara melihat ke arah Cira yang tersenyum dan merekatkan tubuhnya dengan manja.


"Apa…?" Tanya Bara terlihat datar dengan tatapan aneh melihat Cira bersikap manja kepadanya.


"Saya tidak ingin pulang lebih awal, karena ingin pulang bersama tuan." Ucapnya dengan menampilkan senyum andalannya yang menampilkan dua lesung pada pipinya yang putih dan mulus.


Bara menaikkan sebelah alisnya melihat Cira bisa bersikap manja seperti itu. Wanita itu terlihat manis di mata Bara.


"Jangan marah…!" Ucapnya manja dan lembut.


"Kau sekarang sudah pandai merayu ku rupanya…." Balas Bara dengan senyum jahilnya.


Cira tahu senyuman itu, senyum jahil dan licik Bara Daimos. Ada sesuatu yang sekarang pasti di inginkan oleh Bara.


'Ya ampun mati aku. Senyumnya ini akan meminta yang ada di luar normal. Apa yang akan ia inginkan.' Gumam Cira di dalam hatinya.


"Jangan berpikir yang aneh aneh tentangku." Kata Bara melihat Cira hanya diam dan melihat ke arahnya dengan menerawang.


"Tidak tuan. Saya tidak berpikir apapun?" Balas Cira mengelak. Dia segera memperbaiki duduknya dengan benar. Kedua tangannya kini berada di atas pangkuannya, ia tidak bergelayut manja lagi kepada Bara.


Bara kecewa karena Cira menghentikan sikap manjanya yang terlihat manis di matanya.


"Sebaiknya saya kembali bekerja dulu. Jika tidak ada yang anda butuhkan lagi." Ungkap Cira ingin bangkit dari duduknya.


Bara dengan cepat menarik tangan Cira untuk kembali duduk di sampingnya.


"Tunggu dulu, kau mau lari…!" Ucap Bara tidak terima kalau Cira ingin melarikan diri.


"Tidak tuan…!"


"Kalau begitu lakukan sesuatu untuk ku sebelum pergi dari ruangan ini. "


"Apa tuan?"


"Cium aku dulu, baru kau bisa keluar."


"Mana bisa seperti itu tuan, tadi kan sudah."


"Kau mau melawan ku…!" Ancam Bara.

__ADS_1


Cira terdiam tanpa dapat mengatakan apapun? Dia kalah lagi dari Bara yang selalu saja memakai ancama padanya. Cira tahu tidak akan pernah menang melawan Bara.


Wanita itu menghela nafasnya perlahan, kemudian meraih wajah Bara dengan kedua tangannya. Cira mecium bibir Bara cukup lama, sedikit kecupan panjang Cira lakukan sebelum menghentikan ciumannya tersebut.


"Sudah tuan." Ungkapnya dengan melihat intens ke arah Bara.


"Hanya begitu saja…!"


"Apa maksud tuan?"


"Lakukan dengan benar…!"


"Melakukannya dengan benar, bagaimana lagi?" Cira tidak mengerti.


"Lebih lama lagi."


Cira tidak habis pikir terhadap laki-laki yang ada di hadapannya itu. Sejak kapan pria itu suka sekali mencium dirinya? Bahkan setiap ada kesempatan Bara selalu mencuri ciuman darinya. Selama dua bulan ini Cira di buat getar getir olehnya, karena Bara akan mencuri ciuman pada tempat yang tidak seharusnya melakukan itu, misalnya di dalam mobil, di saat tidak ada orang di meja sekretaris, dan di saat Kai dan Lian tidak melihat mereka di dalam satu ruangan.


Selama dua bulan penuh Cira harus olahraga jantung oleh ciuman Bara yang di curi darinya. Cira hanya bisa mengelus dada, dan tidak berani melawan sama sekali.


"Maaf tuan. Nanti saya mual lagi, sepertinya perut saya tidak nyaman rasanya." Alasan yang tepat untuk Cira pakai.


"Alasanmu saja…!" Bara merajuk. Cira tahu laki-laki ini tidak akan berhenti jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


'Baik satu kali ini saja. Setelah itu tidak lagi.' Gumam Cira di dalam benaknya.


Cira akhirnya mengalah, Cira kembali melihat ke arah Bara yang ada di sampingnya. Kembali Cira meraih wajah Bara dengan kedua tangannya, memberikan sebuah ciuman dan kecupan panjang kepada Bara. Cira mencoba memainkan lidahnya untuk membuat Bara membalasnya, dan itu berhasil.


Pagutan mereka cukup panas dan memburu, Cira yang masih ada pada kesadarannya karena rasa mual datang lagi. Akhirnya melepaskan pagutan mereka dengan kecupan lembut untuk Bara.


"Sudah tuan. Perut saya bergejolak lagi. saya mulai mual." Ucap Cira berusaha menelan Salivanya sembari memejamkan matanya untuk meredam rasa mualnya.


Kedua tangan Cira tidak sengaja meremas kedua pundak Bara karena rasa mualnya yang mulai menyiksanya lagi.


"Sebaiknya kau ke dokter. Agar tidak begini terus." Ucap Bara kembali.


"Iya. Tuan, sebaiknya saya ke ruang kesehatan untuk tidur sebentar saja." Balas Cira melihat ke arah Bara. Wajah Cira benar-benar pucat.


Bara menghela nafasnya.


"Baiklah. Nanti pulang kerja kita langsung ke dokter. Kau mengerti?"


"Iya tuan."


"Apa kau masih bisa ke ruang kesehatan? Aku panggilkan Lian agar mengantarkan mu ke sana."


"tidak tuan. Saya bisa sendiri."


"Kau yakin?"


"Yakin tuan."


"Baiklah. Ayo kita turun bersama, setidaknya sampai di lantai bawah aku akan menemanimu." Ungkapnya, Bara sebenarnya benar-benar khawatir akan kondisi Cira.


Dia juga harus cepat ke ruang tunggu untuk menyambut kedatangan Rama Ricardo yang sebetar lagi datang. Setidaknya dia dapat mengawasi Cira sampai ke lantai bawah.


"Iya tuan." Setuju Cira. Dia butuh tidur sejenak agar merasa lebih baikan lagi.


Mereka bangkit, lalu menuju ke lantai bawah. Bara melihat Cira ke arah ruang kesehatan. Sedangkan dia harus ke ruang tunggu yang berada di samping ruang aula pertemuan yang di miliki oleh perusahaan Daimos.


Cira kembali di sambut oleh perawat jaga di sana. Dia di arahkan ke tempat tidur untuk beristirahat, kemudian menutup tirai agar tidur Cira nyaman.

__ADS_1


Di ruang tunggu. Bara bertemu dengan Lian dan Kai. Bara mendekati Kai dan mengatakan sesuatu.


"Kai…!" Panggil Bara cukup pelan agar mereka berdua saja yang dapat mendengarkan.


"Iya tuan." Balas pelan Kai, tahu maksud dari tuannya.


"Buat janji dengan David untuk memeriksa kondisi Cira. Sepertinya dia benar-benar sakit, kita ke sana saat pulang nanti." Perintahnya dengan bisikkan. Tentu Kai mengerti akan perintah tersebut.


"Baik tuan. Saya mengerti." Balasnya.


Bara hanya menepuk pundak Kai sebagai tanda puas akan sikap Kai, karena Kai cepat mengerti maksudnya. Bara duduk pada sofa sembari menikmati kopi hitam hangat buatan Lian, Pria itu menunggu kedatangan Rama Ricardo. Namun pikirannya masih kepada Cira, dia tidak ingin Cira sakit yang akan menghambat program hamil mereka.


Beberapa menit kemudian Rama Ricardo datang bersama sekretaris dan asisten pribadinya. Mereka saling menyambut dengan berjabat tangan dan rangkulan hangat, kemudian duduk pada sofa yang ada diy sana sembari menikmati suguhan yang sudah di siapkan oleh pihak Bara.


Rama melayangkan pandangan matanya mencari seseorang, tetapi tidak dapat ia temukan apa yang ia cari saat ini. Rama Ricardo rindu bertemu dan ingin melihat wajah wanita yang ia sukai sejak setahun yang lalu. Siapa lagi kalau bukan Elcira Ardelia.


Saat pintu kaca ruangan itu terbuka, pandangan mata Rama dengan cepat melihat ke arah pintu. Namun ia kecewa, karena yang datang bukanlah orang yang ia harapkan. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya, yang datang adalah Bayu Dirgantara.


"Selamat datang tuan Rama Ricardo. Maaf saya terlambat menyambut anda." Ucap Bayu menyambut Rama, dan mengulurkan tangannya ke arah Rama yang sudah berdiri di hadapannya.


Rama dan Bayu juga berteman baik. Sama seperti Bara dan Rama. Mereka bertiga berteman baik saat berada di luar negeri, dan sering kumpul bersama untuk saling menghibur diri. Begitu juga dengan dokter David dan juga Kai. Mereka dekat dan bersahabat baik.


"Apa kabar tuan Rama?" Tanya Bayu sembari merangkul sang sahabat.


"Aku baik. Kau apa kabar?" Tanya Rama balik setelah melerai pelukkan mereka. Bara hanya diam duduk dengan tenang melihat interaksi keduanya.


"Aku baik." Balas Bayu sembari duduk pada sofa kosong yang ada di sana.


"Aku pikir kau sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ini." Ucap Rama.


"Sebenarnya sih begitu. Tapi masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum keluar dari perusahaan ini." Balas Bayu.


"Seharusnya kau sudah memimpin perusahaan Dirgantara grup. Kasihan papa mu, seharusnya beliau sudah mulai pensiun."


"Iya aku tahu." Balas Bayu dengan senyum.


Bara diam dan hanya menyimak. Pikirannya ada pada Cira yang sedang tidak baik baik saja.


"Oya Bara, sepertinya sekretaris mu kurang satu lagi di sini, di mana dia?" Tanya Rama yang sudah tidak tahan ingin tahu Cira di mana?


Bara dan Bayu melihat ke arah Rama. Terlebih lagi Bayu. Bayu tahu maksud perkataan Rama, karena dia hanya melihat Lian salah satu sekretaris Bara. Sedangkan Cira tidak ada di sana, Bayu teringat Cira yang kurang sehat hari ini. Kini wanita itu sedang berada di ruang kesehatan.


'Apa sakitnya berlajut?' Gumam Bayu di dalam benaknya.


Bara melihat ke arah Rama yang terlihat penasaran, sedang saat melihat ke arah Bayu. Bara melihat Bayu terdiam dan sedang berpikir dengan wajahnya yang terlihat cemas.


'Apakah Bayu tahu Cira sedang kurang sehat saat ini?' Gumam Bara di dalam benaknya.


"Dia kurang sehat saat ini." Balas Bara pada akhirnya untuk menjawab rasa penasaran Rama dan Bayu.


"Kurang sehat. Dia sakit." Rama majukan tubuhnya terkejut akan berita tentang Cira.


Bayu dan Bara cukup heran melihat sikap Rama tidak pada biasanya. Rama merespon cepat kabar Cira saat ini. Ada apa dengan Rama?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2