
***Perusahaan Daimos Grup***
Bara memerintahkan Cira untuk mempresentasikan materi rapat. Beberapa berkas yang kemarin Cira selesaikan menjadi materi rapat hari ini. Cira tidak dapat menolak perintah mutlak tersebut, walaupun di dalam hatinya menolak.
Cira berdiri di depan layar besar yang ada di hadapan semua orang. Dengan di bantu oleh Lian dan Kai, Cira akan mulai menjelaskan satu persatu apa yang kemarin ia selesaikan.
Diam diam Cira mengatur nafasnya agar stabil dan lebih tenang. Cira tidak boleh membuat sebuah kesalahan. Dia harus bersikap profesional dalam bekerja, menyingkirkan urusan pribadinya untuk saat ini.
Begitu dia berdiri di hadapan semua yang hadir di dalam ruang rapat. Matanya dapat melihat semua orang, dan saat itu juga ia sungguh terkejut melihat satu pria yang tersenyum ke arahnya. Bayu Dirgantara, kekasih yang selama ini Cira cintai dan menjadi cinta pertama Cira.
Cira diam terpaku melihat pria yang terus tersenyum melihat ke arahnya.
"Bayu…!" Gumamnya berbisik.
'Apa dia bekerja di perusahaan ini? Bayu mengatakan bekerja di dalam perusahaan milik om nya. Itu artinya Bayu adalah keponakan laki-laki Bara Daimos.' Gumam Cira di dalam hatinya terkejut mengetahui kebenaran itu.
Pandangan mata Cira sontak melihat ke arah Bara dan Bayu secara bergantian. Apakah benar Bayu adalah keponakan laki-laki Bara? Atau Bayu yang salah mengatakan sesuatu. Cira sungguh terkejut dan hanya dapat diam pada tempatnya.
"Silahkan sekretaris Cira, rapat hari ini bisa di mulai." Ucap perintah Kai menyadarkan Cira dari keterkejutannya.
Tidak pada waktunya Cira harus terpaku karena terkejut. Dia harus bersikap profesional dan menyelesaikan semunya dengan cepat.
'Selesaikan semuanya dengan cepat, Cira. Tidak ada gunanya kamu terkejut seperti ini.' Gumamnya di dalam hati, untuk menguatkan diri dan tidak terfokus pada apa yang ia lihat.
"Selamat pagi. Perkenalkan, saya Elcira Ardelia. Sekretaris baru presdir tuan Bara Daimos." Salam perkenalan Cira kepada semua orang yang menatapnya dengan berbagai pandangan.
"Saya akan mulai mempresentasikan materi rapat hari ini." Ucapnya kembali melihat ke arah Kai dan Lian yang akan membantunya memperlihatkan satu persatu berkas yang kemarin Cira selesaikan dengan baik.
Cira mendapatkan kembali fokusnya dalam bekerja. Namun tidak dapat ia pungkiri jika pandangan matanya terus berusaha menghindari untuk melihat ke arah Bayu, pria yang terus melihat ke arahnya dengan senyum yang tidak pernah pudar sama sekali.
Bayu seakan mendapatkan pemandangan indah bagi matanya, hingga senyum di wajahnya tidak dapat pudar sama sekali. Bayu begitu tergila-gila pada wanita yang kini terlihat cantik dan anggun saat bekerja. Pria itu tidak pernah tahu jika wanitanya begitu baik dalam bekerja kantoran.
Bayu hanya mengetahui jika Cira adalah seorang pembisnis kecil dengan usaha cafe yang di miliki oleh wanita itu. Walaupun ia tahu jika Cira adalah lulusan terbaik management bisnis dari salah satu universitas ternama di kota mereka.
Cira akhirnya berhasil menyelesaikan semua perintah yang di berikan oleh Bara kepadanya. Bara hanya berniat untuk menguji Cira, terlihat tidak percaya akan kemampuan baik Cira saat ini. Presentasi yang di lakukan oleh Cira tidak ada celah kesalahan sama sekali, sangat profesional dan memuaskan untuk Bara.
Tatapan mata pria dingin itu tidak lepas saat melihat ke arah Cira. Wanita yang di anggapnya remeh dan tidak mengerti apapun masalah pekerjaan di dalam dunia bisnis. Ternyata pada kenyataannya lain, Cira begitu menguasai medannya hari ini. Cira berhasil membuat Bara mengakui kemampuannya sekarang.
"Sekian presentasi dari saya. Atas perhatiannya saya ucap terima kasih, selamat siang." Ucap Cira mencoba untuk tersenyum sebagai sikap sopan santunnya.
Bayu lah yang pertama kali memberikan tepuk tangannya kepada Cira, beberapa dari mereka memandang ke arah Bayu yang tersenyum puas dan terus bertepuk tangan, tanda jika apa yang Cira lakukan hari ini sangat bagus dan memuaskan. Pada akhirnya mereka pun ikut bertepuk tangan mengikuti apa yang di lakukan oleh manager perusahaan tersebut.
"Presentasi yang sangat bagus sekali. Tanpa cela dan sangat memuaskan. Kata setuju dari saya." Ucap Bayu untuk pertama kalinya terdengar memuji pekerjaan seseorang.
__ADS_1
Sukses membuat orang di sana dan Bara terlihat tidak percaya. Mereka mengenal Bayu begitu dingin dan tegas dalam bekerja di perusahaan itu. Tidak pernah sekalipun memuji pekerjaan seseorang ataupun bawahannya. Kini untuk pertama kalinya mereka melihat sikap Bayu yang berbeda dari sebelumnya.
Cira terdiam, dia tahu mengapa Bayu memujinya. Itu karena mereka saling menyukai dan memiliki hubungan khusus.
"Terima kasih pak, atas pujiannya." Balas Cira ramah dengan senyumnya, dia mencoba bersikap jika mereka tidak saling mengenal.
Bara melihat intens ke arah Bayu, dia sangat mengenal baik keponakan laki-lakinya tersebut. Senyum Bayu dan tatapan teduhnya terlihat jelas mengarah kepada Cira. Bara melihat keduanya dengan curiga secara bergantian.
"Menurutmu, apakah ada yang ingin di rubah?" Tanya Bara mengarah kepada Bayu yang kini melihat ke arahnya.
"Tidak sama sekali. Semua bagus dan saya setuju, pak presdir." Balas Bayu masih tetap pada pendapatnya terhadap pekerjaan Cira.
Bara menatap tajam dan curiga kepada keponakannya tersebut, biasanya Bayu tidak pernah puas akan pekerjaan seseorang. Perdebatan pastinya akan terjadi setiap Bayu mengikuti rapat apapun. Kini untuk pertama kalinya dia hanya mengikuti dan setuju.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Bara melihat ke arah satu persatu yang hadir di sana.
Jika Bayu selaku manager tertinggi perusahaan di bawah jabatan presdir saja setuju, apa ada alasan untuk mereka merasa keberatan atau mengajukan ketidak puasan mereka, terhadap presentasi dan pekerjaan yang di lakukan oleh Cira? Tidak akan ada yang berani.
"Baiklah. Jika tidak ada masalah yang mengganjal. Itu artinya berkas yang di selesaikan oleh sekretaris ku cukup bagus dan memuaskan bagi kalian semua." Ungkap Bara dengan tatapan matanya tajam.
Semua menelan saliva mereka melihat tatapan tajam dan perkataan Bara yang sarat akan makna. Kai, Bayu dan Lian tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
"Bagaimana bisa seorang sekretaris yang baru bekerja satu hari, bisa menyelesaikan berkas yang bahkan tidak dapat kalian kerjakan dengan benar. Jadi apa yang kalian kerjakan selama ini?" Ucap keras Bara sembari menggebrak meja yang ada di hadapannya.
Tubuhnya seakan memanas akibat teringat siksaan yang sakitnya masih dapat ia rasakan. Cira memucat seketika, tubuh dan pikirannya seakan trauma akan sikap keras Bara. Lian tahu jika Cira tidak baik baik saja, karena melihat tubuh Cira terdiam kaku. Begitu juga Bayu yang tahu akan perubahan Cira saat ini.
Lian beranjak mendekati Cira, ia tahu jika gadis itu kini sedang takut. Beberapa mata melihat perubahan Cira, hingga membuat Bara pun ikut melihat ke arah Cira.
"Cira…Cira…apa kamu baik baik saja?" Tanya Lian pelan sembari menyentuh pundak Cira.
Lian dapat merasakan tubuh Cira gemetar.
"Cira…Cira!" Panggil Lian menyadarkan Cira dari ketakutannya.
Cira melihat ke arah Lian dengan matanya yang berkaca-kaca. Lian terdiam melihat wajah pucat dan ketakutan Cira. Wanita itu tahu jika Cira tidak baik baik saja.
"Ada apa? Apa kamu sakit?" Tanya pelan Lian terlihat khawatir.
"Ada apa dengannya?" Tanya Bara dengan suara yang terdengar keras.
Sontak mengalihkan pandangan mata Lian dan Cira mengarah kepada Bara. Tanpa dapat di cegah, air mata Cira jatuh luluh ke pipinya begitu saja, saat melihat ke arah Bara yang seakan mengintimidasi dirinya. Cira semakin gemetar karena rasa takut.
"Maaf tuan, sebenarnya sejak pagi ini, Cira sedang tidak sehat." Lian berkata untuk membantu Cira kali ini. Cira segera menghapus air matanya dengan tangan yang gemetar.
__ADS_1
Bara kembali melihat tajam ke arah Cira yang terlihat jelas ketakutan hingga tubuhnya gemetar dan air mata yang tidak dapat ia tahan.
'Ada apa dengannya? Tadi dia terlihat baik baik saja.' Gumam Bara di dalam benaknya melihat curiga ke arah Cira.
"Bantu dia untuk duduk." Perintah Bara dengan dinginnya.
Lian segera menuntun Cira kembali duduk di tempat mereka. Cira hanya mengikuti saja.
"Apa kamu baik baik saja Cira?" Tanya Lian lagi setelah mereka duduk.
"I…iya mbak. Aku baik, maaf…!" Balas Cira dengan nada yang berusaha ia atur agar terdengar tidak bergetar.
"Kalau kamu sakit, seharusnya kamu katakan." Sahut Lian sembari mengelus lembut punggung tangan Cira yang ada di pangkuan gadis itu.
"Iya mbak, maafkan saya." Jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
'Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Tubuhku gemetar setelah mendengar kemarahan pria itu. Apa aku trauma akan kejadian semalam?' Gumam Cira di dalam benaknya.
'Cira, jangan seperti ini. Bagaimana kamu bisa bertahan jika begitu saja kamu sudah takut dan trauma akan bentakkan pria itu.' Gumamnya kembali sembari menggigit kuat bibirnya, dan meremas kuat kain celananya.
Cira menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Dia berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya yang memburu karena takut. Cira berusaha membuat dirinya normal kembali.
Rapat masih berlangsung, karena Cira yang di ketahui kurang sehat pada akhirnya Kai yang melanjutkan. Cira dan Lian hanya duduk dan terus mengamati jalannya rapat pagi ini. Bara tidak lagi memakai nada tingginya setelah melihat Cira ketakutan saat tadi dia membentak semua orang. Bara tahu Cira takut kepadanya.
Rapatpun selesai dan di tutup oleh Kai. Beberapa dari mereka satu persatu keluar setelah memberikan sikap hormat mereka terhadap Bara.
Kini hanya tertinggal Bara, Kai, Lian dan Cira yang akan keluar ruangan paling akhir. Bara menatap tajam ke arah Cira yang ada di hadapannya sekarang.
"Kalau memang kurang sehat seharusnya katakan, jangan membuat malu diri sendiri di hadapan semua orang." Ucap tajam Bara dengan tatapan dinginnya.
"Maaf tuan. Tidak akan saya ulangi lagi." Balas Cira dengan menundukkan pandangan matanya.
Cira masih takut melihat ke arah Bara.
Begitu selesai mendengus kesal melihat Cira yang sangat tidak ia sukai. Bara melangkah keluar dari ruang rapat, pria itu cukup malas terlalu banyak bicara kepada Cira. Hanya akan mengundang emosinya saja, lebih baik pergi dan menghindari wanita yang selalu membuat hatinya kesal dan marah setiap kali melihat wajahnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.