
***Perusahaan Daimos Grup***
Cira jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Kepalanya pening dengan kondisi tubuh yang memang lemas sejak pagi. Semua orang panik dan khawatir saat melihatnya terbaring lemah di atas dinginnya lantai ruangan.
Beberapa orang memanggil namanya. Bara yang sejak awal memang khawatir akan keadaan istri keduanya itu. Terus mengawasinya sejak awal kedatangan Cira, wajah pucat tidak bersemangat wanita itu yang membuat Bara tidak melepaskan pandangan matanya.
Bara lebih dulu dan cepat meraih tubuh Cira dari pada Bayu dan Rama. Pria itu menepuk-nepuk pelan pipi Cira untuk membangunkannya.
Saat Bayu ingin meraih tubuh kekasihnya karena khawatir, mendapatkan sikap penolakan yang halus dari Bara. Sejenak tatapan mata mereka bertemu, dan seakan saling memberitahukan. 'Kini Cira adalah urusannya'. Tangan Bayu melemah dan kembali pada posisinya, dia hanya dapat memandang lemah wajah sang kekasih.
Rama tidak dapat melakukan apapun karena tidak memiliki hak atas Cira. Pria itu hanya dapat diam pada tempatnya berdiri di dekat mereka.
"Kai cepat siapkan mobil." Perintah Bara cepat melihat ke arah Kai yang ada di hadapannya.
"Siap tuan." Balasnya cepat, ia segera bangkit dan berlalu pergi melaksanakan apa yang di perintahkan oleh tuannya.
Saat Bara ingin mengangkat tubuh Cira, tiba-tiba Bayu mencegahnya.
"Tuan, biarkan saya yang mengangkatnya." Ucap Bayu pelan dengan tatapan yang memohon ke arah Bara.
"Di sini banyak karyawan yang akan melihat. Tidak baik jika ada rumor tentang anda, jika sekarang anda ingin mengangkat tubuh Cira." Ungkap bisiknya menahan tangan Bara. Bisikkan yang hanya dapat di dengar oleh Bara, Bayu dan Lian yang sedang bersimpuh mengelilingi Cira.
Bara melihatnya sejenak. Apa yang Bayu katakan memang benar. Bara adalah presdir perusahaan itu yang juga memiliki status sudah menikah. Bagaimana bisa ia kini merangkul seorang karyawan wanita, walaupun wanita itu adalah istri keduanya yang di rahasiakan. Tentu saja akan ada rumor tentangnya dan Cira dengan sangat cepat di dalam perusahaan itu.
"Biar saya yang membawa Cira." Bisik Bayu lagi. Bara hanya diam saja.
"Aku tahu harus melakukan apa?" Balas Bara berbisik dengan ketegasan.
Bayu dan Lian yang mendengarkan perkataan Bara terdiam. Bara tetap pada pendiriannya untuk mengangkat tubuh Cira. Dia tidak peduli pada rumor atau apapun yang akan beredar tentang dia dan juga Cira nantinya. Kenyataan yang ia ketahuilah menjadi pegangannya sekarang, Cira adalah istrinya. Itu sudah menjadi tanggung jawab Bara terhadap istrinya tersebut.
Bara dengan cepat mengangkat tubuh Cira ala bridal. Bara tidak peduli akan pandangan mata semua orang yang terkejut melihatnya. Melihat seorang presdir perusahaan merangkul tubuh karyawan wanitanya.
Bara memandang teduh wajah Cira yang terlihat sangat pucat dan tidak berdaya. Kepala Cira yang menempel pada dada bidangnya, membuat Bara merasa nyaman dan tenang Cira ada di dalam penanganannya sekarang. Ia pun melangkah cepat dengan langkah panjangnya membawa Cira pergi menuju rumah sakit yang ia inginkan.
Meninggalkan beberapa orang di sana, Bayu dan juga Rama melihat kepergian mereka. Khususnya Bayu dan Rama begitu terganggu akan tatapan teduh Bara ke arah Cira. Bayu merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya, melihat sang paman memiliki tatapan yang berbeda kepada kekasihnya itu.
...--------------------------------...
…Di rumah sakit…
David yang sudah di hubungi oleh Kai. Mengerti harus melakukan apa? David selaku pemilik rumah sakit yang di tuju oleh Bara, akan melakukan tugasnya. Bara adalah salah satu pemegang saham terbesar yang ada di dalam rumah sakitnya, jadi Bara dan seluruh anggota keluarga Daimos berhak mendapatkan pelayanan khusus dari pihak rumah sakit. Termasuk untuk kerahasiaan mereka.
Cira tengah di tangani pada ruangan khusus yang di siapkan oleh David. Ia sebagai dokter kepala sekaligus dokter pribadi keluarga Daimos mengambil alih pemeriksaan Cira.
David melakukan seluruh pemeriksaan yang di butuhkan oleh Cira. Tekanan darah dan HB nya menurun, tubuh Cira yang kekurangan cairan cukup hangat. Sehingga ia harus di infus dan terpaksa di rawat inap.
__ADS_1
Cira belum siuman juga. Walaupun seorang perawat berusaha membuatnya sadar. Mereka akhirnya akan membiarkan wanita itu sadar sendiri, sembari menunggu semua hasil tes Cira keluar. Namun ada yang membuat David curiga akan kondisi tubuh Cira saat ini.
Bara mengatakan, jika sejak kemarin tubuh istrinya itu lemas tidak bertenaga. Puncaknya siang ini Cira merasa mual dan muntah-muntah. Setelahnya pingsan tidak sadarkan diri. Itulah yang dapat Bara jelaskan sedikit mengenai kondisi Cira sebelumnya.
David akhirnya memutuskan untuk memanggil seorang dokter wanita untuk melakukan pemeriksaan khusus. Bara dan David melihat dengan teliti apa yang ada di layar USG, ada yang mereka ingin ketahui saat ini terkait kondisi Cira.
"Nyonya sedang hamil, dan perkiraan, kandungannya ini akan memasuki usia tujuh minggu." Penjelasan dokter spesialis kandungan sembari mengarahkan alat USG ke atas perut Cira yang terlihat masih rata.
Cira di nyatakan hamil tujuh minggu. Bara dan David saling memandang sejenak. Kemudian Bara melihat lagi ke arah layar monitor yang menampilkan sebuah gambar berbentuk gumpalan di dalam sana.
'Deg deg deg…!' Suara detak jantung bayi di dalam perut Cira.
"Ini suara detak jantung bayinya. Terdengar sehat dan bagus. Bayinya sangat sehat sekali." Ucap sang dokter kandungan.
Bara terkesima mendengar detak jantung bayi di dalam perut Cira saat ini. Itu bayinya, anak kandungnya. Ada perasaan bahagia dan rasa haru yang menjadi satu saat ini di dalam hati Bara.
Untuk pertama kalinya Bara mendengarkan detak jantung seorang bayi yang masih berada di dalam perut ibunya. Dulu selama tiga kali kehamilan Mona, ia tidak pernah mendengarkan suara detak jantung seorang bayi. Kandungan Mona yang lemah selalu mengalami pendarahan dan keguguran pada saat kandungannya memasuki usia satu bulan.
Kali ini ada sebuah kegembiraan dan rasa haru yang tengah Bara rasakan. Hingga tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja akan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Bara menghapus air matanya, ketika David menyadarkannya dengan menepuk pundak bara beberapa kali.
"Selamat sobat. Kau akan menjadi seorang ayah." Ungkap David tersenyum ke arah Bara.
"Terima kasih." Balas Bara tersenyum bahagia. Senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun?
Bara melihat ke arah wajah Cira yang pucat.
'Terima kasih sudah mengandung anakku. Semoga kalian selalu sehat, dan aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik.' Gumam Bara di dalam hatinya
Bara kembali melihat ke arah dokter.
"Apakah kondisi ibunya juga sehat, dokter?" Tanya Bara mengkhawatirkan kondisi lemah Cira.
Dokter bangkit dan berdiri di hadapan Bara.
"Kondisi ibunya cukup lemah. Itu biasa untuk ibu yang pertama kalinya hamil. Tidak perlu khawatir, kondisinya akan membaik, saya akan memberikan vitamin dan obat penambahan darah, agar zat besi si ibu kembali normal. Berikan waktu istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi. Itu akan memulihkan kondisi sang ibu." Penjelasan dokter dengan ramah menjelaskan.
"Baik dokter, saya mengerti." Balas Bara mengerti perkataan dari dokter wanita itu.
"Baiklah tuan. Sebaiknya nyonya di rawat selama beberapa hari ke depan, untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Ingat satu hal tuan. Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran dan lelah yang akan membuat stress ibu dan juga bayinya. Itu tidak baik untuk perkembangan bayinya." Jelas sang dokter.
"Saya mengerti dokter." Balas Bara mengerti.
"Baiklah. saya permisi dulu. Sekali lagi selamat ya tuan atas kehamilan istrinya." Ucap sang dokter dengan mengulurkan tangannya ke arah Bara.
__ADS_1
"Terima kasih, dokter." Balas Bara dengan senang hati menyambut uluran tangan sang dokter yang telah memberikannya kabar gembira.
Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, dokter wanita itu berlalu pergi.
"Baiklah. Aku akan menyiapkan kamar untuk nyonya Daimos ini dulu. Sekali lagi selamat sobat, semoga kalian selalu bahagia." Ucap David tulus dari hatinya melihat kegembiraan Bara hari ini.
"Terima kasih." Balas Bara terlihat tulus.
David berlalu dari tempat itu, meninggalkan Bara dan Cira yang masih setia pada tidurnya. Bara meraih dan menggenggam lembut tangan Cira, mengecupnya dengan sayang sembari satu tangannya membelai lembut pipi Cira yang terasa hangat.
"Terima kasih. Kau sudah berhasil mengandung anak kita. Semoga kalian berdua selalu sehat dan selamat sampai nanti waktunya melahirkan." Ungkap Bara kepada Cira.
Bara merendahkan wajahnya untuk mencium kening Cira, kedua pipi dan terakhir memberikan sebuah kecupan panjang pada bibir Cira yang terlihat pucat saat ini. Bara kembali tersenyum, hatinya benar-benar bahagia mendengar kabar tersebut. Kebahagiaan Bara tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa menit kemudian Cira di pindahkan ke dalam ruang VVIP. Bara memutuskan untuk menemani Cira di dalam ruang perawatannya. Kai masih ada di sana untuk siap menerima perintah selanjutnya dari Bara.
"Kai…Cira sekarang hamil. Dia berhasil mengandung anakku…!" Ucap Bara memberitahukan kabar tersebut. Kai cukup terkejut serta ikut bahagia mendengar kabar tersebut.
"Selamat tuan." Balas Kai tersenyum senang untuk tuannya.
"Terima kasih Kai."
"Aku berharap anak ini dapat bertahan hingga waktunya dia lahir ke dunia. Ingat Kai, kau juga harus menjaganya dengan baik jika aku tidak ada bersamanya. Aku ingin kau juga menempatkan beberapa bodyguard mulai sekarang, untuk menjaganya dari jarak jauh. Jangan sampai Cira tahu, jika ia sedang di awasi dan di ikuti secara diam-diam." Itulah keinginan Bara untuk menjaga keselamatan Cira dan bayinya mulai sekarang.
"Baik tuan, saya mengerti." Balas Kai mengerti harus berbuat apa.
"Baiklah, kau kembali ke kantor. Aku akan tetap di sini, pekerjaan yang tertunda kau saja yang menyelesaikannya. Setelah pulang kantor, cari Mery dan katakan padanya untuk mempersiapkan semua kebutuhan ku dan Cira selama kami ada di sini."
"Baik tuan."
"Satu lagi. Jangan katakan padanya kalau Cira hamil, katakan padanya Cira masuk rumah sakit karena kekurangan cairan dan zat besi. Aku tidak ingin Mona tahu jika Cira sudah berhasil hamil. Aku akan mengatakan kabar ini, di saat kandungan Cira cukup kuat agar semaunya aman terkendali." Ucap keinginan Bara.
"Saya mengerti tuan. Kalau begitu saya permisi." Pamit Kai berlalu pergi setelah memberikan sikap hormatnya kepada Bara.
Bara mendekati ranjang Cira, pria itu duduk pada kursi yang ada di samping ranjang. Dia menggenggam erat tangan Cira, kemudian memberikan beberapa kecupan pada wajah Cira. Dia akan setia menemani Cira hari ini, hingga Cira membuka matanya kembali.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1