
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
…Elcira Ardelia…
Pagi hari yang seharusnya di sambut ceria dan bahagia bagi sebagian orang, tetapi tidak berlaku untukku. Aku membuka mata dan memandang langit kamar yang menjadi saksi bisu kejadian semalam.
Air mataku jatuh luluh karena mengingat kejadian semalam, di mana kesucian mahkotaku hilang terenggut begitu saja. Apakah aku masih dapat bersyukur, kesucianku di renggut oleh pria yang sudah menjadi suami sahku? Pria angkuh dan dingin tuan Bara Daimos.
Pandangan mataku melihat ke arah samping tubuhku, di mana om Bara masih tertidur lelap di sana. Perlahan aku bangkit dari tidurku, seluruh tubuhku rasanya remuk redam dan bagian bawah tubuhku perih luar biasa. Aku membalut tubuh polosku dengan sebuah selimut yang aku gunakan semalam.
Tertatih aku melangkah melawan rasa sakit di bawah sana. Dengan sekuat tenaga yang ada aku seret kakiku masuk ke dalam kamar mandi, aku ingin membersihkan tubuhku yang tidak lagi suci. Aku tidak ingin mendapatkan masalah lagi dari om Bara, tuan arogan dan dingin serta kejam yang bisa melakukan dan berbuat apa pun kepadaku?
Begitu terkejutnya aku melihat pantulan tubuhku di depan cermin kamar mandi, seluruh tubuhku di penuhi oleh bercak merah. Seluruh leherku masih terdapat merah kebiruan akibat cekikan dari om Bara semalam.
Tangisanku meredam karena bekapan tanganku, aku tidak ingin suara tangisanku terdengar oleh om Bara yang masih tertidur di dalam kamar.
"Ya Tuhan… Apa dosa dan salah hamba? Mengapa kebahagiaan seakan tidak ingin singgah di dalam kehidupan yang hamba jalani? Apakah hamba tidak berhak untuk bahagia?" Ucapku pelan sembari menekan tangisanku.
"Aku ingin bahagia walaupun hanya sesaat saja, ya Tuhan berikanlah kebahagiaan itu walaupun hanya sesaat dapat di rasakan." Gumamku pelan sembari merosotkan tubuhku ke atas lantai.
Aku menangis dalam diam meratapi nasib dan perjalanan hidupku yang tidak pernah bahagia. Aku hanya bisa menjalaninya dengan sekuat aku bisa bertahan, jika aku sudah tidak kuat lagi. Matilah yang aku inginkan.
...--------------------------------...
…Bara Daimos…
Aku terbangun akibat guncangan pelan di atas ranjang, ingin rasanya aku murka dan marah karena tidur nyenyakku terganggu oleh seseorang. Begitu aku sadar dan sudah membuka mata, aku melihat wanita itu tertatih melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Kini aku dapat mengingat jelas semuanya, jika wanita itu adalah istri keduaku yang kemarin sudah sah aku nikahi. Semalam aku telah merenggut kesucian mahkota yang ia miliki, aku berpikir jika dia adalah seorang wanita murahan dan kotor yang di jual begitu saja oleh keluarganya, untuk melunasi semua hutang perusahaan keluarganya yang ada di ambang kebangkrutan dan mendapatkan suntikan dana besar dariku.
Pernikahanku dengannya bisa terjadi itu karena dukungan dan keinginan dari istri pertamaku Mona yang memaksaku untuk menikahinya, dengan alasan untuk mendapatkan seorang keturunan selanjutnya keluarga Daimos, sebagai ibu pengganti untuk Mona yang tidak bisa melahirkan seorang anak.
Masih teringat jelas perkataan Mona saat meyakinkan aku untuk menikahi wanita itu yang merupakan anak angkat dari kakak laki-lakinya. Aku yang sangat mencintai Mona tentu saja awalnya menolak ide tersebut, dan aku tidak dapat berpaling kepada wanita lainnya.
"Kedua orang tuamu menginginkan anak kandung darimu, seorang putra keturunan bagi keluarga Daimos. Jadi menikahlah dengannya, tidak ada wanita yang cocok untuk menjadi istri kontrakmu sekaligus ibu pengganti untuk anak kita selain Cira. Begitu anak itu lahir, kontrak pernikahan di antara kalian berdua akan putus secara otomatis mengikuti perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh kalian berdua." Ucap Mona meyakinkan diriku agar mau menikahi wanita yang tidak lain adalah keponakan angkatnya sendiri.
Wanita murahan dan kotor yang di jual oleh keluarganya sebagai jaminan untuk melunasi semua hutang perusahaan keluarganya. Di mataku wanita itu bahkan lebih rendah dari seorang pengemis di jalanan, wanita j*l*ng yang tidak memiliki harga diri.
Namun malam pertama pernikahan kami semalam membuktikan segalanya. Bahwa dia bukanlah wanita murahan dan kotor seperti yang aku tuduhkan kepadanya. Malam pertama kami adalah pengalaman pertama baginya bersama seorang pria, dan akulah pria pertama yang mendapatkan segalanya yang ia miliki. Ada rasa menyesal akan ucapan yang sudah aku lontarkan.
Namun aku berpikir kembali, itu sudah sepantasnya aku dapatkan karena aku sudah membelinya. Aku membayar mahal wanita itu dari keluarga Santoso.
"Itu sudah sepantasnya aku dapatkan, aku tidak bisa luluh hanya karena dia memberikan kesuciannya padaku. Dia tetap wanita murahan yang sudah di jual dan aku beli dengan harga yang sangat mahal." Gumamku pelan menatap tajam pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
"Wanita itu hanya akan menjadi istri kontrak dan mesin pencetak anak untukku, setelah anakku lahir akan aku ceraikan dia dan bahagia kembali bersama Mona. Itulah rencana serta keputusan yang aku dan juga Mona rencanakan." Gumamku lagi sembari menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang.
...--------------------------------...
Beberapa menit kemudian, Cira keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono handuk yang ia dapatkan dari dalam lemari meja di bawah wastafel. Langkahnya terhenti karena terkejut akibat bentakkan dari Bara yang terlihat kesal duduk di atas ranjang.
"Apa yang kau bersihkan dari tubuhmu itu?" Ucap bentak Bara terlihat kesal melihat ke arah Cira yang baru saja keluar dari kamar mandi, sembari mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.
Cira menelan salivanya karena suara bentakkan dari Bara, tangannya terdiam dan meremas handuk yang ia pegang.
"Tubuh kotor dan murahan mu itu tidak akan bersih, walaupun kau mandi berjam-jam." Sahutnya menyindir.
Cira hanya diam tertunduk. Untuk sekedar menatap mata Bara saja dia pun tidak berani. Dia hanya bisa diam dan berusaha menahan diri agar tidak menangis akan bentakan Bara padanya.
'Aku harus kuat, jangan menangis Cira. Sudah cukup semalam dan pagi ini aku menangis. Lagi pula masih sepagi ini, kenapa dia harus marah marah?' Gumam Cira di dalam benaknya sembari masih menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau lihat di bawah sana? Apa kau tidak punya sopan santun pada orang yang sedang mengajakmu bicara. Apa kau pikir aku sebuah lantai sehingga lebih betah melihat lantai dari pada wajahku?" Tegur tegas Bara sembari beranjak dari duduknya.
Cira tahu teguran itu adalah sebuah perintah baginya sekaligus peringatan untuk tidak mencari masalah pada Bara. Cira menelan salivanya dengan susah payah, sembari mengangkat wajahnya dan memandang takut ke arah wajah Bara.
"Maaf tuan." Balas Cira dengan cepat agar kemarahan Bara sedikit melunak.
"Selain meminta maaf, apa kau tidak bisa melakukan apa pun dengan benar?"
Bara tahu mencari kesalahan yang di miliki oleh wanita di hadapannya itu akan sangat mudah dan banyak sekali yang akan dia dapat gunakan. Melihatnya saja sudah membuat hatinya dongkol, tidak terlihat menarik sama sekali.
'Apa yang di lihat oleh Mona dari wanita ini? Tidak bisakah Mona mencari wanita yang lebih baik dan cantik darinya untuk melahirkan anakku?' Gumam Bara di benaknya.
Dia juga cukup malas untuk berdebat pagi, lebih memilih memberikan tugas untuk Cira kerjakan sebagai istrinya mulai sekarang. Lebih tepatnya lagi sebagai pelayan pribadi baginya.
"Cepat siapkan pakaian untuk aku pakai ke kantor sekarang, dan sarapan pagi untukku. Aku ingin kopi hitam pahit dan roti panggang isi keju saja pagi ini." Perintahnya sembari bangkit dari duduknya, lalu melangkah melewati Cira.
"Ingat aku tidak ingin melihatmu berpakaian seperti semalam lagi, jika kau lakukan itu lagi, yang dapat merusak pemandangan mataku. Hukuman dariku pasti akan kau dapatkan lebih dari semalam." Ancamnya menghentikan langkahnya sejenak, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu terdengar suara pintu kamar mandi tertutup, Cira dapat bernafas dengan benar. Sebelumnya dia susah untuk bernafas karena tekanan dari aura Bara yang terlihat menakutkan di matanya. Namun itu tidak berselang lama, karena segera terdengar teriakan Bara memanggilnya dari arah dalam kamar mandi.
"Elcira Ardelia…!!" Panggil keras Bara dari dalam kamar mandi.
Cira yang di panggil segera masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi?
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Bara marah melihat ke arah Cira yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa tuan?" Tanya Cira yang tidak mengerti, apa yang sudah dia lakukan? Cira melihat ke sekeliling kamar mandi dan tidak ada sedikitpun yang janggal di sana.
__ADS_1
"Apa kau tidak tahu cara menjadi seorang istri dengan benar?" Tanyanya lagi.
"Maksud anda tuan?"
"Dengarkan aku wanita bodoh." Kata Bara sembari mencekal kuat kerah kimono handuk yang di pakai oleh Cira.
"Apa kau pikir, aku yang harus menyediakan air hangat sendiri untuk aku pakai mandi?"
Pertanyaan dan perintah ancaman dari Bara, cukup dapat Cira mengerti. Wanita itu bukan orang yang bodoh , yang tidak tahu arti ucapan dari mulut Bara untuknya.
"Maafkan saya tuan. Akan saya siapkan sekarang." Sahut Cira cepat.
Mengalah dan merendah lebih baik untuk di lakukan saat ini oleh Cira. Dari pada akan mendapatkan hukuman dari Bara yang terus mencari kesalahan darinya.
Bara menatap tajam serta dingin mata bulat Cira yang terlihat sudah ketakutan padanya. Itulah yang Bara harapkan, Cira takut dan tunduk serta patuh kepada dirinya.
Bara puas akan raut ketakutan Cira. Dia pun melepaskan cekalan tangannya dan memberikan kesempatan bagi Cira melakukan kewajibannya sebagai seorang istri kedua, atau lebih tepatnya lagi sebagai seorang pelayan pribadi untuk Bara.
Dengan cekatan Cira menyiapkan air hangat yang tidak lupa ia berikan sabun cair aroma therapy untuk Bara merendam tubuhnya. Setelah selesai menyiapkan air hangat, penderitaan dirinya tidak selesai sampai di sana.
Matanya harus ternodai oleh sebuah pemandangan yang sejak semalam harus ia lihat. Tubuh Bara yang polos dan putih bersih kini terekspos oleh matanya. Pemandangan itu akan nyaman untuk di lihat oleh mereka yang memang suka melihatnya, tetapi tidak sama dengan Cira sekarang. Ia sungguh tidak nyaman akan pemandangan sebuah tongkat yang dapat mengecil dan membesar sesuka hatinya.
Cira hanya berusaha menyingkirkan pandangan matanya ke arah lainnya, sembari melangkah secepat mungkin keluar dari ruangan yang terasa panas baginya. Sedangkan Bara puas akan kelakuannya yang membuat Cira panik dan tidak nyaman akan tingkah lakunya.
Tanpa sadar, bibirnya pun tersenyum melihat Cira yang salah tingkah seperti orang linglung dan tegang.
"Dasar wanita…!" Gumamnya pelan dengan senyum tipis yang terlihat puas, namun perkataannya terputus saat akan mengatakan 'wanita murahan'.
Bara melangkah dan masuk ke dalam bathtub, pria itu merilekskan tubuh dan juga pikirannya di dalam air hangat yang sudah di siapkan oleh Cira. Suhunya terasa pas dan nyaman untuk Bara.
Sedangkan Cira berusaha dengan cepat memakai dress mini selutut yang cukup baik yang ia miliki, serta tidak lupa ia membubuhkan sedikit bedak dan lipstik pada wajahnya agar terlihat segar. Parfum favorit yang ia sukai tidak lupa juga untuk Cira semprotkan, sedangkan rambut panjangnya yang masih basah di biarkan tergerai begitu saja, karena tidak sempat untuk mengeringkannya.
Cira harus menyiapkan pakaian kantor yang akan di gunakan oleh Bara, dan juga menyiapkan sarapan pagi yang di inginkan juga oleh Bara. Cira berusaha melakukan yang terbaik, demi menghindari kemarahan Bara yang tidak dapat di tebak kapan saja akan muncul dan meledak? Hukuman berat pastinya sudah menunggu jika Cira melakukan suatu kesalahan, di sengaja atau pun tidak.
Sungguh pagi pertama yang melelahkan dan sangat berat menjadi seorang istri bagi Cira, setelah menyandang status seorang istri kedua dari tuan Bara Daimos.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.