GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
59. Satu Kebenaran Lagi.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Bara tahu ia sudah banyak bicara. Permasalahannya bersama Mona, tidak seharusnya di ketahui oleh Cira.


Apa reaksi wanita itu jika tahu Mona tidak bisa memiliki anak karena rahimnya telah di angkat, atau mandul. Permasalahan yang ikut menyeret Cira masuk ke dalamnya.


"Mona sudah tiga kali hamil dan mengalami pendarahan. Pada akhirnya, kandungnya akan gugur tidak lebih dari usia satu bulan. Kandungan Mona lemah, itu kata dokter." Jujur Bara akan kebenaran awalnya.


Namun ia tidak akan menceritakan jika rahim Mona telah di angkat, dan karena itu juga Mona tidak bisa memberikannya seorang anak.


"Sedangkan mama dan papaku menginginkan ahli waris dariku secepatnya, karena usia pernikahan ku dan Mona sudah memasuki usia 5 tahun lebih. Itu adalah desakkan dari anggota inti samping keluarga Daimos. Jika aku tidak segera memiliki seorang anak, posisi ku akan di gantikan oleh putra pamanku yang sudah memiliki seorang anak satu tahun yang lalu." Jelasnya.


Cira masih diam menyimak. Ada kejujuran dari sorot mata Bara, dia hanya dapat percaya untuk saat ini. Apakah itu memang kebenarannya?


"Karena desakkan itu, aku dan Mona harus bertindak secepatnya. Itulah persaingan di dalam keluarga kami." Gumam Bara tersenyum lucu akan situasi keluarganya.


"Sudahlah…lupakan masalah itu…" Ucap Bara ingin mengalihkan pembicaraan mereka.


"Apa kamu tidak lapar?" Tanya Bara sembari membelai lembut pipi Cira.


Cira tahu Bara ingin mengalihkan pembicaraan mereka. Dia hanya bisa mengikuti arahan tersebut.


"Lapar sih…tapi saya takut untuk makan." Jujurnya.


Cira memang lapar, tetapi dia takut untuk makan karena akan mual dan muntah kembali.


"Kenapa takut makan?" Tanyanya dengan tatapan yang begitu lembut.


Cira menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Saya takut makan, karena pada akhirnya akan mual dan memuntahkan semua yang saya makan tuan. Ini sungguh menyiksa saya…!" Jujur Cira dengan raut wajahnya yang terlihat benar-benar tersiksa.


Bara tersenyum dan sangat prihatin kepada wanita hamilnya itu. Takut makan karena takut akan memuntahkan makanannya lagi.


Bara menuntun Cira untuk bangkit dari pangkuannya yang nyaman. Bara menarik tangan Cira ke arah sofa, di mana sudah ada beberapa makanan sehat ibu hamil di atas meja kaca.


Cira melihat seksama semua makanan yang telah tersaji. Makanan siapa ini?


"Duduk dan makanlah. Aku akan menemanimu." Ucap perintah Bara sembari menuntun Cira untuk duduk pada sofa berdampingan dengannya.


"Kapan tuan menyiapkan semua ini?" Tanyanya heran karena Bara melakukan pergerakan yang sangat cepat dalam menyiapkan makanan untuknya. Walau ia yakin Kai lah yang membeli semua seperti biasanya.


"Aku hanya minta Kai untuk melakukan seperti biasanya."


'Benar tebakkan ku.' Batin Cira.


"Ayo makan. Ini semua makanan sehat untuk ibu hamil, dan aku yakin tidak akan membuat mu mual dengan semua makanan ini."


Bara memberikan piring yang sudah ada nasi di atasnya. Pria itu meletakkan beberapa potong daging kecap dan rebusan aneka sayuran ke dalam piring Cira. Wanita hamil itu tersenyum senang karena semua makanan itu sangat menggugah seleranya.


"Tuan tidak makan?" Tanya Cira setelah memasukkan sesuap nasi yang berisikan sepotong daging kecap ke dalam mulutnya.


Bara membersihkan sisa kecap yang belepotan pada ujung bibir Cira.


"Makan kok belepotan begini." Tegurnya setelah selesai membersihkan noda kecap pada ujung bibir Cira dengan ibu jarinya.


Cira hanya tersenyum dengan pipinya yang gembul karena penuh akan makanan di dalam mulutnya.


"Tuan tidak makan. Ayo makan bersama." Ajaknya.


"Iya aku juga makan. Ini makanan ku." Ucapnya sembari meraih sepiring nasi dan menunjukkan udang asam manis, ayam goreng dan sayuran tumis yang ada di sana.


Mereka makan bersama siang itu, dengan terus tersenyum karena itulah kebersamaan yang terasa nyaman bagi keduanya.

__ADS_1


"Tadi kamu bertemu dengan mamaku. Apakah ada yang ia tanyakan padamu?" Tanya Bara ingin tahu, apakah sang mama mengatakan sesuatu pada Cira atau menegur sesuatu tentang Cira?


Cira terdiam sejenak. Mendengar tentang Karina, dia teringat kembali siapa Karina yang selama ini dia kenal. Teman lamanya di dalam kelompok donatur yang ia ikuti selama 8 tahun ini.


"Tidak ada. Hanya bertanya siapa saya." Balas Cira seadanya. Dia tidak ingin jujur, bukan tidak ingin jujur. Belum siap mengakui bahwa dia sudah mengenal lama Karina.


Kembali Cira mengingat ide perjodohan yang Karina katakan beberapa jam yang lalu. Rencana perjodohan antara Bara dan Cira yang di inginkan oleh Karina.


'Apakah karena permasalahan keluarganya ini, tante Karina ingin menjodohkan Bara dan aku. Dunia ternyata sempit. Bagaimana reaksinya jika tahu aku sudah menjadi istri kedua dari putranya dan sekarang sedang mengandung cucunya.' Batin Cira mengingat Karina.


"Ada apa?" Tanya Bara melihat gelagat Cira sedikit aneh karena memperlambat makannya.


Cira melihat ke arah Bara. "Tidak ada." Balasnya tersenyum untuk menyembunyikan apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


Cira kembali memakan semua hidangan yang sangat menggugah seleranya siang itu. Tiba-tiba dia punya teringat akan janji temu yang sudah ia buat bersama Bayu. Janji temu untuk mengakhiri hubungan Cira bersama Bayu.


"Oya tuan. Saya sudah buat janji temu bersama Bayu untuk menjelaskan dan mengakhiri hubungan kami." Ungkap Cira dengan berusaha bersikap tenang.


Bara menghentikan gerakkan tangannya saat ingin mengambil sepotong ayam goreng. Perkataan Cira menarik perhatiannya, dan itulah yang sudah pernah mereka sepakati.


"Kapan dan di mana?" Tanya Bara dengan nada suaranya yang terdengar sedikit tidak suka.


Cira menyadari itu. "Tuan terlihat tidak suka." Imbuhnya jujur melihat apa yang ia lihat.


"Bagaimana aku suka melihat istriku sendiri akan menemui kekasih dan cinta pertamanya." Ucap Bara kini sudah berada pada mode cemburu.


"Aahhh…!" Tarikkan nafas Cira.


"Lalu saya harus bagaimana, tuan?" Tanya Cira meminta arahan dari suaminya yang mulai cemburu.


Bara diam sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia benar-benar tidak suka melihat Cira dan Bayu akan berinteraksi.


Kembali pria itu berpikir. Jika Cira tidak berbicara secepatnya dengan Bayu mengenai hubungan mereka, Bayu akan terus salah paham dan menganggap kalau dia dan Cira adalah sepasang kekasih. Itu lebih parah menurut Bara.


"Temuilah dia…Tapi ingat satu hal…!" Ucapnya. Cira diam menyimak sembari mengunyah makanan lezatnya.


Cira terdiam dengan sendok yang masih dia gigit setelah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


'Bagaimana caranya tidak ada kontak fisik. Apalagi jabat tangan. Aku yakin Bayu akan melakukan hal yang sama seperti biasanya kami bertemu, memeluk dan menciun pipi dan keningku. Aaahhhh…sangat banyak aturannya tuan satu ini…!' Batinnya mengeluh.


"Kamu mengerti tidak." Ucap Bara kembali karena Cira hanya diam saja.


"Iya saya mengerti tuan." Mengalah adalah hal yang terbaik saat ini.


Urusan nanti yang terjadi saat dia dan Bayu bertemu, itu akan Cira atasi nantinya.


"Ini baru istriku." Ucapnya dengan senyum senang, satu kecupan pada pipi Cira kembali ia dapatkan dari Bara.


"Tuan, kita lagi makan." Tegur Cira akan kecupan Bara karena mereka sedang makan.


"Baiklah, baik. Makanlah…!" Balasnya sembari membelai pucuk kepada Cira dengan lembut.


"Jadi kapan dan di mana kalian akan bertemu? Ingat aku akan mengawasi kalian, mengerti…!" Tanya kembali Bara mengingatkan jika dia juga harus ada di tempat pertemuan itu.


"Besok jam 4 sore. Di salah satu cafe yang ada di pusat kota." Balasnya sembari menikmati makanannya. Kebetulan besok hari libur.


"Baiklah. Aku yang akan mengantarkan mu langsung ke sana satu jam sebelum pertemuan kalian."


"Iya." Patuh Cira tidak ingin ada perdebatan lagi dan masalah baru yang akan timbul.


Lumayan sulit untuk mengatur hidupnya bersama Bara, karena terkadang Bara tidak dapat di tebak. Terkadang bersikap dingin sedingin es, terkadang datar dan setenang air di sungai, terkadang hangat dan lembut, terkadang ramah dan ceria, serta terkadang meledak-ledak tanpa kendali. Cira hanya cukup mengikuti alurnya saja.


Mereka kembali menikmati makan siang berdua, tentunya dengan nikmat dan beberapa kali candaan yang di buat oleh Bara agar mencairkan dan menghangatkan suasana mereka berdua.

__ADS_1


...--------------------------------...


***Sebuah Cafe di pusat kota***


Sore itu ada pertemuan antara Bayu dan sang Oma, Karina Richard Daimos di sebuah cafe yang cukup terkenal di pusat kota.


Di sinilah Karina dan Bayu berada, menikmati minuman dan kue yang mereka pesan.


"Ada apa Oma ingin bertemu dengan ku?" Tanya Bayu sembari meminum kopi hangatnya.


"Apakah tidak boleh seorang Oma menemui cucunya, yang sudah lama tidak mengunjungi Omanya?" Karina balik bertanya. Itulah kebenarannya.


Semenjak Bayu sibuk bekerja di perusahaan Daimos grup. Bayu jarang sekali mengunjungi Oma dan Opanya itu.


"Bukan begitu Oma. Tidak biasanya Oma minta bertemu di luar seperti ini."


Biasanya mereka akan kumpul di mansion kediaman keluarga Daimos.


Karina tahu cucunya itu sangat cerdas dan cepat membaca situasi yang ada. Tidak ada gunanya juga dia banyak berbasa-basi. Karina ingin tahu ada perasaan apa Bayu terhadap Cira. Agar dia dapat mengambil keputusan, apakah tetap melanjutkan ide perjodohan itu ataukah membatalkannya?


Belum lagi masalah Mona yang ternyata tante angkat dari Cira sendiri. Mengapa untuk menjodohkan Bara dan Cira begitu sulit dan banyak rintangannya? Itulah yang di pikirkan Karina. Jadi dia akan mencoba menyelesaikan masalah serta rintangan itu satu persatu.


Tidak menutup kemungkinan jika kesempatan untuk Bara dan Cira bersama masih ada. Untuk itu, harus ada usaha yang akan Karina upayakan.


"Oma lihat, kamu memilih tatapan yang berbeda kepada Cira. Apakah kamu memiliki perasaan khusus terhadap gadis itu?" Tanya Karina langsung pada intinya.


Bayu diam sejenak. Jika dia jujur kepada sang Oma mengenai hubungannya dan Cira. Itu artinya Omanya lah orang kedua di dalam keluarga Daimos yang tahu akan hal itu. Sebelumnya ada Omnya Bara Daimos yang juga bertanya tentang hubungannya bersama Cira.


"Apa yang Oma lihat dari tatapan mataku kepada Cira?" Tanya balik Bayu ingin mengumpan sang Oma kali ini.


"Anak ini, di tanya malah balik bertanya." Keluhnya tidak suka akan sikap Bayu sekarang.


"Jawab saja pertanyaan Oma, jangan banyak bertanya lagi. Apa kamu memiliki perasaan khusus terhadap Cira?"


Bayu perlahan menarik dan menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya mengakui hubungannya bersama Cira.


"Bukan hanya memiliki perasaan khusus Oma. Tapi Cira adalah kekasih dan cinta pertamaku. Singkatnya, kami adalah pasangan kekasih yang saling mencintai." Jujur Bayu pada akhirnya.


Cukup membuat Karina terkejut akan kebenaran itu. Bagaimana kelanjutan dari perjodohan itu?


'Mereka sepasang kekasih.' Batin Karina tidak percaya. Tidak ingin percaya kebenaran itu.


Kalau sudah seperti itu bagaimana dia bisa memisahkan Cira dan Bayu, serta bagaimana caranya untuk menjodohkan Bara dan Cira? Semuanya semakin sulit saja. Karina frustasi sekarang. Satu kebenaran lagi yang Karina ketahui tentang Cira.


"Kalian sepasang kekasih, sudah berapa lama?" Tanya Karina ingin tahu lebih lanjut lagi.


"Hampir 3 tahun lebih Oma. Setelah aku bekerja beberapa bulan di perusahaan Daimos grup."


"Kenapa kamu tidak pernah memberitahukan kami atau mama mu, kalau kamu sudah punya seorang kekasih?"


Karina cukup heran akan hal itu. Pasalnya wanita paruh baya itu masih mengingat jelas, bagaimana putri sulungnya yang merupakan mama kandung Bayu Dirgantara, ingin menjodohkan putranya dengan salah satu putri rekan bisnis keluarga mereka.


"Itu permintaan Cira, Oma. Cira ingin kami merahasiakan hubungan kami. Dia ingin menjadi layak untuk ku sebelum aku memperkenalkannya kepada keluarga Dirgantara." Jujurnya.


"Oma tahu…Cira sebenarnya tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dia tidak tahu jika aku adalah putra semata wayang keluarga Dirgantara. Cira baru tahu kebenaran jati diri ku setelah bekerja menjadi sekretaris Om Bara tiga bulan yang lalu."


Karina terdiam dan terus menyimak. Kepalanya mulai pening akan hal hal yang ada di luar kendali dan rencananya. Mengapa untuk menjodohkan sang putra dan gadis pilihannya begitu sangat sulit sekali? Apakah mereka berdua memang tidak memiliki jodoh dan takdir untuk di satukan? Itulah yang ada di dalam pikiran Karina sekarang.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2