GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
22. Ingin Selalu Bersama mu.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Cira memandang datar punggung pria yang telah menjadi suaminya kini. Suami yang sukses membuat dirinya berada pada rasa trauma akan tindakan kekerasan, suami kontrak yang baru beberapa hari ini ia nikahi.


"Sabar ya Cira…bos kita memang seperti itu. Dingin dan galak. Tapi lama kelamaan kamu juga akan terbiasa pada sikapnya." Ucap Lian memberikan sebuah semangat, agar Cira lebih bersabar dan dapat bertahan dalam menghadapi kelakuan dingin serta galak Bara Daimos.


"Iya mbak." Balas Cira singkat.


Mereka pun segera melangkah mengikuti dua pria yang ada di depan mereka, untuk keluar dari ruang rapat tersebut.


Tepat di depan pintu ruang rapat, langkah mereka di cegah oleh Bayu Dirgantara yang mempunyai niat untuk mendekati Cira. Sang pujaan hati yang sangat ia cintai dan juga di cintai oleh Cira.


"Ada apa?" Tanya cepat Bara melihat Bayu berdiri tepat di hadapannya.


Cira yang baru saja keluar dari ruang rapat, kini melihat ke arah Bayu. Tatapan mata keduanya bertemu pandang. Bayu dengan pandangan teduh melihat gadis yang sangat ia rindukan beberapa minggu ini, gadis yang menghilang tanpa kabar sama sekali. Sedangkan Cira menatap Bayu dengan pandangan mata tenangnya, ia tahu harus bersikap seperti apa?


"Maaf Pak, apa bisa saya berbicara dengan sekretaris baru bapak? Saya ingin mendiskusikan dan menyelesaikan beberapa berkas yang harus segera di selesaikan untuk minggu ini." Balas Bayu mencari alasan yang tepat agar dapat mendekati Cira.


Bayu tahu jika dirinya harus tetap bersikap profesional karena ini adalah kantor. Tidak baik membawa urusan pribadinya pada pekerjaan.


Bara menatap datar sang keponakan sekaligus manager perusahaannya tersebut, Bara merasa curiga pada sikap Bayu yang tidak pada biasanya. Ini pertama kalinya bayu berinisiatif lebih dulu untuk berdiskusi bersama karyawan lain yang bukan bawahannya.


"Cira…!" Panggil Bara kepada gadis yang berdiri tepat di belakangnya.


"Iya tuan." Balas Cira datang mendekat.


Bara menatap tajam dan dingin ke arah gadis yang selalu sukses mengundang emosi pada hatinya. Namun untuk kepentingan perusahaan, Bara harus bisa menahan gejolak emosi yang ada di hatinya. Cira tidak melakukan kesalahan apapun? Jadi pria itu tidak memiliki alasan untuk marah atau tidak setuju.


"Ikut dengan nya. Setelah selesai, cepat lah kembali." Kata Bara sembari mengalihkan pandangan matanya ke arah Bayu yang terlihat tenang. Namun diam diam di dalam hatinya, Bayu bahagia dapat bersama sang pujaan hati.


Cira terdiam, dia hanya dapat menelan salivanya. Gadis itu tahu jika ini hanyalah alasan Bayu agar bisa bersama dengannya. Kembali ia mengingat jika posisi dan dirinya yang sekarang adalah Elcira Ardelia yang berbeda dari sebelumnya. Cira yang sekarang sudah tidak sama saat menjadi kekasih Bayu Dirgantara dulu.


Bara melihat Cira hanya diam saja tanpa bergerak ataupun berkata sesuatu. Bara mengingat jika Lian mengatakan, kalau Cira hari ini sedang tidak enak badan.


"Kenapa diam?" Tanya Bara. Cira seketika memandang ke arah Bara yang bertanya kepadanya. Kini semua pandangan mata mengarah kepada Cira.


"Apa kamu masih tidak enak badan?" Tanya Bara dengan tatapan matanya dingin dan sebelah alis yang terangkat.


"Tidak tuan. Saya masih bisa bekerja hari ini." Balas Cira merasakan jika tatapan mata Bara mengintimidasi dirinya.


"Kalau begitu saya permisi, tuan." Sahut Cira pamit sembari menundukkan sedikit badannya sebagai rasa hormatnya.


"Mari pak…!" Ajak Cira kepada Bayu setelah melihat ke arah pria tampan yang sangat ia kenal.


"Mari." Balas Bayu dengan senyum bahagia yang tidak dapat ia sembunyikan.


Bara, Lian dan Kai mengenal baik Bayu, cukup heran melihat sikap ramah Bayu kepada Cira. Mereka bertiga memandang Cira dan Bayu dengan pikiran mereka masing-masing, tentang dua orang yang tidak di ketahui oleh orang lain jika ada hubungan cinta di antara mereka berdua.


"Saya permisi pak." Pamit Bayu dengan sikap sopannya kepada Bara.


Cira dan Bayu melangkah beriringan, meninggalkan tiga orang di belakang yang melihat mereka dengan aneh.

__ADS_1


Sedangkan Bayu segera mengatakan sesuatu yang membuat Cira menghentikan langkahnya yang sedikit pincang.


"Aku merindukanmu." Ucap Bayu sedikit berbisik, namun sukses membuat Cira terkejut akan perkataan jujur Bayu.


Cira melihat ke arah Bayu saat menghentikan langkahnya. Sedangkan Bayu melihat ke arah Cira dengan senyum bahagia penuh cinta dan kerinduan terhadap gadis yang sangat ia rindukan beberapa minggu ini.


"Tolong jaga sikap anda. Ini di kantor." Balas Cira ingin mengingatkan Bayu mereka sedang berada di mana sekarang.


Cira takut jika perkataan rindu Bayu, akan terdengar oleh orang lain.


"Jika anda tidak bisa menjaga sikap, saya akan kembali ke ruangan." Ucap Cira sedikit menggertak dengan nada sopan. Ia tidak tahu akan mempan atau tidak terhadap Bayu yang terlihat jelas merindukan dirinya.


Senyum Bayu seketika meredup, tatapan serius Cira dapat ia mengerti.


"Baiklah." Jujurnya luluh akan perkataan Cira. Bayu begitu mencintai dan merindukan sosok gadis di hadapannya tersebut, bagaimana bisa ia harus berpisah secepat itu. Bayu tidak rela.


Tanpa berkata apapun, Cira melangkah terlebih dahulu. Ia tidak ingin membuat orang lain curiga kepada mereka berdua.


Bayu memandang ke arah gadis itu, dan baru menyadari jika ada yang salah pada langkah kaki pincang Cira. Ia pun melangkah cepat dan meraih lengan Cira untuk menghentikan gadis tersebut.


"Ada apa?" Tanya Cira terkejut akan cekalan Bayu padanya secara tiba-tiba.


Tanpa menjawab, Bayu segera merendahkan tubuhnya dan menyibak kain celana panjang Cira. Ia ingin melihat pergelangan kaki Cira yang terlihat tidak beres dengan langkahnya.


"Apa yang bapak lakukan?" Tanya cepat Cira mencegah apa yang ingin di lakukan oleh Bayu pada kakinya.


"Diam." Ucap tegas Bayu mencegah Cira menarik kakinya.


Cira menelan salivanya melihat tatapan tajam dan marah Bayu kepadanya. Dia terdiam seperti apa yang Bayu katakan.


"Kamu terkilir seperti ini, dan masih datang bekerja dalam kondisi kaki yang bahkan tidak dapat di pakai untuk berjalan." Ucap Bayu melihat tajam serta ada rasa sedih mengetahui kondisi dari gadisnya.


Cira terdiam sejenak akan tatapan mata Bayu yang terlihat khawatir pada kondisinya. Cira tahu Bayu begitu mencintai dan menyayanginya selama tiga tahun hubungan asmara mereka. Cira pun sama seperti itu.


"Hanya terkilir sedikit. Ini sudah membaik." Balas Cira dengan pandangan mata yang terlihat teduh dan ingin Bayu tidak mengkhawatirkan dirinya.


Bayu menatap heran ke arah Cira. Bagaimana kaki yang membengkak dan merah dapat di katakan baik baik saja? Bayu semakin khawatir sekaligus curiga jika selama Cira tidak ada kabar, gadis itu pasti mendapatkan atau memiliki masalah yang telah terjadi.


"Kamu lihat baik baik." Balas Bayu dengan menunjuk ke arah kaki Cira.


"Bengkak dan memerah seperti ini, kamu bilang sudah membaik." Sahutnya lagi. Cira tidak bisa berkata-kata.


Cira tahu jika Bayu sangat khawatir padanya. Namun mereka berada pada tempat yang salah. Tatapan matanya jauh memandang ke arah Bara yang datang mendekati mereka. Ingin menghindar, Cira tidak bisa.


"Ada apa?" Tanya Bara datang mendekat dan melihat ada yang tidak beres pada dua orang tersebut.


Cira menatap takut ke arah Bara yang melihatnya dengan tajam dan dingin. Sedangkan Bayu mendongak melihat ke arah Bara yang datang bertanya.


"Kakinya terkilir, bengkak dan memerah." Balas Bayu sembari memperlihatkan kaki Cira yang terkilir kepada Bara.


Bara melihat ke arah pergelangan kaki Cira yang di maksudkan. Terlihat jelas bengkak dan memerah. Kemudian pandangannya beralih melihat ke arah Cira yang terlihat cemas dan takut.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, kalau kau sakit katakan. Jangan mempermalukan diri sendiri dan aku sebagai atasan mu." Ucap tegas serta ketus Bara.


Cira tahu maksud perkataan Bara. Ia tidak ingin ada masalah baru, karena rasa sakit dan trauma kejadian semalam masih membekas saat ini.


"Tidak tuan. Kaki saya baik baik saja. Pak manager kaki saya baik baik saja." Kata Cira mengarah kepada Bara, lalu beralih melihat ke arah Bayu. Dia ingin semuanya baik baik saja.


"Kaki saya baik baik saja." Ucapnya lagi sembari menarik kakinya dari genggaman tangan Bayu dan melangkah mundur sedikit menjauh dari Bayu.


Bara dan Bayu melihat ke anehan dari sikap cemas dan takut Cira saat ini. Bayu bangkit dan berdiri sejajar dengan Bara.


"Lian." Panggil Bara tanpa melihat ke arah Lian. Namun tatapan matanya tajam ke arah Cira yang terlihat takut dan cemas.


"Iya tuan." Balas Lian datang mendekat.


"Bawa dia ke ruang kesehatan. Jika perlu antarkan ke klinik atau rumah sakit terdekat. Aku tidak ingin di pandang kejam terhadap bawahannya." Sahut Bara menatap tajam dan dingin ke arah Cira.


"Baik tuan." Balas Lian mengerti perintah dari tuannya. Ia tahu jika keadaan Cira tidak baik baik saja hari ini.


Lian datang mendekati Cira.


"Ayo Cira, aku antar." Ajak Lian kepada Cira yang di balas anggukan kepala oleh gadis itu.


Cira ingin menghindari Bara dan Bayu secepatnya.


"Biar aku yang antar." Cegah Bayu tidak rela Cira pergi dan meninggalkan dirinya secepat itu.


Semua mata memandang ke arah Bayu yang tidak seperti biasanya, begitu peduli kepada seseorang di sekitarnya.


"Setelah mendapatkan penanganan pada kakinya, kami bisa segera berdiskusi." Balas cepat Bayu tahu arti tatapan mata semua orang.


Apalagi tatapan Cira yang terlihat tidak setuju akan ide Bayu tersebut.


"Biar saya bersama mbak Lian saja, pak manager." Balas Cira cepat agar dapat menghindari ide gila Bayu.


Bayu tahu jika Cira ingin menghindarinya karena situasi dan tempat yang tidak tepat. Sedangkan Cira hanya tidak ingin membuat orang lain curiga dan berpikir yang tidak tidak kepada mereka berdua.


"Kakimu bengkak dan memerah. Mana bisa di ajak melangkah begitu jauh, akan semakin parah dan sakit." Balas Bayu tidak ingin di bantah.


"Saya bisa melangkah perlahan. Ayo mbak…!" Balas Cira menolak Bayu. Dan mengajak Lian segera berlalu dari tempat itu.


"Dasar keras kepala…!!" Gumam bisik Bayu melihat kepergian Cira dengan langkahnya yang sedikit pincang.


'Kau yang ingin aku melakukan sesuatu padamu. Aku hanya ingin selalu bersamamu hari ini. Tapi kau tidak mengerti, dan aku tidak bisa melihatmu dalam kondisi seperti itu. Maafkan aku, jika tindakanku kali ini akan membuat mu marah. Ini hanya bentuk rasa sayang dan cinta ku padamu.' Gumam Bayu di dalam hatinya memandang ke arah punggung Cira.


Bayu segera menyusul dengan langkah panjangnya, dia tidak ingin di bantah lagi oleh Cira. Dengan cepat tanpa dapat di cegah oleh gadis keras kepala itu, tubuhnya melayang dan kini berada tepat pada gendongan ala bridal Bayu. Semua orang yang melihat dan juga Cira, terkejut dengan apa yang di lakukan Bayu sekarang terhadap tubuh Cira yang ada dalam rangkulan ala bridalnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2