
***Perusahaan Daimos Grup***
Sehari penuh Cira bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang selalu menumpuk. Belum lagi ia harus menghadapi Bara yang banyak maunya. Hari ini, Lian tidak masuk karena harus ijin ke luar kota untuk menemui keluarganya.
Dengan otomatis Cira bekerja mengerjakan semuanya sendiri. Beberapa kali Bayu datang untuk melihat kondisinya, tetapi ada saja yang di lakukan oleh Bara untuk menjauhkan mereka.
Contohnya siang ini. Ketika Bayu ingin mengajak Cira makan siang bersama di cafe yang ada di depan perusahaan mereka. Bara lebih dulu memberikan perintah agar Cira menyiapkan makan siangnya. Dengan alasan banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Bayu sebenarnya kecewa, tetapi dia kalah kuasa dari Bara sebagai presdir perusahaan tersebut. Mau tidak mau, ia harus mengalah demi kebaikan Cira bekerja di perusahaan itu. Bayu berpikir, jika dirinya tidak ingin menjadi penghambat atau beban Cira dalam bekerja di perusahaan itu.
Bayu sudah mengakui siapa dia sebenarnya kepada Cira. Bayu mengakui, kalau dia adalah putra semata wayang dari keluarga bangsawan Dirgantara. Cira hanya berpura-pura terkejut, walaupun ia sebenarnya sudah tahu. Cira berpura-pura untuk dapat menerimanya.
Bayu juga mengatakan, jika Bara sudah tahu tentang hubungan mereka berdua. Cira cukup terkejut dan merasa takut, apakah Bara mengatakan sesuatu tentang pernikahan mereka kepada Bayu? Namun Bayu mengatakan, kalau Bara hanya memberikan sebuah peringatan untuk mereka berdua, agar tidak terlalu mencolok saat berada di dalam area kantor.
Cira tidak bisa mengatakan kebenaran tentang pernikahan kontraknya kepada Bayu. Cira memerlukan waktu lebih lama lagi. Bayu bersikap seperti biasanya, selayaknya tidak terjadi apa apa. Sedangkan Cira, berusaha untuk terus menghindari Bayu dengan berbagai cara.
Kini di sinilah Cira berada. Berdua duduk makan siang bersama Bara. Mereka makan siang bersama di dalam ruangan Bara, menyantap semua makanan yang Cira beli.
"Mengapa diam saja. Cepat habiskan makanan mu!" Perintah Bara sembari mulai menyantap makanannya.
Bara benci makan sendiri, sedangkan Kai sedang berada di luar kantor untuk urusan pekerjaan. Sehingga Bara meminta Cira makan bersama dengannya. Bara menyingkirkan sejenak rasa tidak sukanya terhadap Cira untuk sementara waktu, sampai mereka selesai makan. Hari ini untuk pertama kalinya mereka makan bersama.
"Baik tuan." Balas pasrah Cira. ia pun menikmati makanan yang sudah tersaji di meja kaca yang ada di hadapan mereka.
Bara mencuri-curi pandang ke arah Cira. Jika mereka sedang tenang seperti itu, Bara mengakui kalau Cira memang cantik dan manis seperti yang David katakan. Jika di pandang dengan teliti, Cira memiliki aura dan kharisma yang cukup kuat dan berbeda atau istimewa.
Bara kali ini cukup terhipnotis oleh wajah cantik Cira yang hanya di polesi dengan make up yang natural. Pandangan matanya terus melihat teliti ke arah Cira, sehingga ia pun salah tingkah ketika tiba-tiba Cira melihat ke arahnya.
'Ada apa dengannya?' Gumam Cira di benaknya melihat heran akan sikap Bara.
'Sial. Aku ketahuan.' Gumam Bara di benaknya merasa gugup karena ketahuan mencuri pandang, tetapi dengan cepat ia sembunyikan kegugupannya tersebut.
"Apa hubungan mu dengan Bayu?" Tanya tiba-tiba Bara. Sudah lama Bara ingin membahas ini bersama Cira.
Satu minggu Cira sakit, membuat Bara mengurungkan niatnya untuk membahas masalah ini. Kali ini lah waktu yang tepat.
"Seperti yang Bayu katakan kepada anda tuan." Balas Cira dengan tenang. Bara melihat ketenangan Cira terkontrol baik.
"Lalu bagaimana solusi untuk ini?"
Cira terdiam. Ia meletakkan sendok yang ada di tangannya ke atas piring.
"Saya tahu harus berbuat apa, tuan. Saya membutuhkan waktu untuk siap mengatakan kebenaran ini kepadanya." Balas Cira dengan tatapan teduhnya yang terlihat sedih.
Bara dapat melihat kesedihan itu. Ia juga tahu dan mengerti. Cukup sulit untuk memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun lebih. Apalagi jika hubungan itu baik baik saja selama ini, dan tiba-tiba mendapatkan masalah seperti yang Cira alami.
"Ingat. Kau istriku dan dia keponakan laki-laki ku. Jadi hubungan kalian harus segera di akhiri." Ucap Bara tanpa basa basi ataupun mengerti perasaan Cira saat ini.
"Apa kau mengerti?"
"Iya tuan. Saya mengerti." Pasrahnya.
'Bahkan dia terlalu kejam, tidak memikirkan bagaimana perasaan Bayu setelah mengetahui hubungan ku bersamanya. Hati pria ini terbuat dari apa?' Gumam Cira di dalam hatinya.
'Maafkan om, Bayu. Hubungan kalian sebenarnya tidak salah. Keadaan yang membuat semua ini menjadi salah. Maafkan om dan tante Mona. Semoga dia dapat menerima kenyataan ini, walaupun sulit baginya.' Gumam Bara di benaknya merasa khawatir akan kondisi Bayu setelah mengetahui kebenaran itu.
__ADS_1
Cira melihat ada yang aneh dari sikap Bara.
"Mulai sekarang, berusaha lah menghindarinya. Walaupun berat dan sulit untuk mu. Jangan pernah membuat aku marah dan memancing emosiku." Peringatan tegas Bara.
"Saya mengerti, tuan." Balas Cira hanya bisa pasrah. Ia sudah tahu harus seperti apa untuk bersikap. Mencari aman dan membalas Bara dan Mona adalah tujuannya sekarang.
"Habiskan makanan mu, dan cepat kembali bekerja. Malam ini aku pulang ke apartemen." Ucap Bara yang membuat Cira menghentikan gerakkan tangannya.
"Ada apa?" Tanya Bara melihat perubahan dari sikap Cira.
"Tidak ada tuan." Gelengnya.
'Kenapa dia mesti pulang ke apartemen? Masa damai ku hilang sudah malam ini. Mengapa tidak bersama tante Mona saja sih.... !!' Gumam Cira di dalam hatinya.
"Jangan pernah berpikir untuk menolak kedatangan ku." Tebaknya.
"Mana saya berani berbuat seperti itu, tuan."
'Sialan. Bahkan dia bisa menebak apa yang baru saja aku gumamkan di dalam hati. Apa dia memiliki indra ke 6?' Gumam Cira lagi.
"Apa kau berpikir yang aneh tentangku?" Tebaknya. Cira tercengang, lalu dengan cepat menetralkannya dan bersikap biasa saja.
"Tidak tuan." Gelengnya sembari meraih sendok dan menyuapkan makanan ke mulutnya.
Mereka tidak banyak bicara, menghabiskan semua makan siang mereka dan kembali bekerja. Cira tidak banyak berpikir tentang kedatangan Bara. Ia harus terbiasa akan hal itu, bagaimana juga Bara adalah suami sahnya. Bara berhak atas dirinya, walaupun Cira tahu akan seperti apa yang ia lalui malam ini.
Saat bekerja, tiba-tiba Caroline datang ke tempatnya.
"Kak Cira…!" Panggil Caroline berdiri di balik meja kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Cira melihat datar ke arah adiknya itu.
Membuat Cira merengutkan alisnya heran. Mengapa Caroline bertanya seperti itu? Walaupun Caroline tidak mengetahui hubungannya bersama Bayu. Melihat sikap Caroline seperti ini, Cira mencurigai sesuatu.
"Tidak." Balasnya singkat.
Caroline tersenyum senang. Semakin membuat kecurigaan Cira menjadi yakin.
'Apa Caroline menyukai Bayu? Bukankah ada seseorang yang sejak lama Caroline sukai? Apa jangan jangan pria itu adalah Bayu?' Gumam Cira curiga di dalam hatinya.
"Kak…Aku lihat Bayu ramah padamu. Apakah kakak bisa membantuku?" Ucap Caroline tidak biasanya bersikap seramah itu padanya.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Cira langsung pada apa yang ia curigai.
Caroline tersenyum, lalu berkata.
"Iya kak. Aku sudah lama menyukainya. Aku melihat Bayu ramah padamu, jadi aku mohon bantu aku untuk dekat dengannya." Mohon Caroline.
Caroline tidak pernah tahu ataupun curiga jika Bayu dan Cira memiliki hubungan asmara. Caroline tahu Cira yang sudah menikah dengan Bara, tidak akan mungkin memiliki hubungan bersama Bayu. Jadi kedekatan di antara Bayu dan Cira yang ia lihat tadi siang, hanyalah kedekatan biasa sebagai teman sekantor saja.
"Kak…kenapa diam saja?"
"Apa yang bisa aku bantu?" Pada akhirnya ia harus mulai merelakan Bayu untuk wanita lain, walaupun di dalam hatinya sakit.
Caroline kembali tersenyum, kali ini terlihat sangat senang.
__ADS_1
"Bisakah kakak mencari tahu, apakah Bayu memiliki seorang wanita yang ia sukai?"
"Mana bisa aku melakukan itu Caroline. Itu sudah ada pada urusan pribadi." Tolaknya. Bagaimana bisa dia melakukan itu, sedangkan wanita yang ingin Caroline ketahui adalah dirinya.
"Aku mohon kak…Setidaknya berbasa-basi lah untuk hal ini. Aku melihat Bayu nyaman bekerja bersama kakak, karena dia menghargai kakak sebagai istri Om nya." Sungguh Cira terkejut akan perkataan jujur Caroline.
"Dia tidak tahu hubungan ku bersama Om nya. Ingat Caroline, kamu tahu hubungan ku ini adalah rahasia keluarga kita. Apa kamu lupa dengan apa yang sudah papa dan tante Mona katakan?"
"Jadi Bayu tidak tahu…!" Balas Caroline sembari mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mendekat ke arah Cira.
"Seharusnya kakak yang berhati-hati. Ingat, kakak sudah menikah dan tidak bisa lagi tebar pesona kepada pria lain. Ingat itu…!" Bisiknya dengan menampilkan senyum licik dan remehnya ke arah Cira. Dia tahu Caroline tidak akan pernah merubah sikapnya terhadap Cira.
Gadis itu berlalu begitu saja dengan senyum kemenangan di wajahnya. Cira menatap punggung gadis itu dengan perasaan kesal.
"Apa yang di katakan oleh Caroline benar. Kau sudah menikah dan tidak bisa lagi tebar pesona kepada pria lain." Ucap Bara tiba-tiba sudah ada di samping mejanya.
Cira sontak terkejut dan langsung melihat ke arahnya.
'Sejak kapan dia ada di sini. Bagaimana bisa ia dapat mendengar bisikkan Caroline?' Tanyanya di dalam hati.
Cira menetralkan keterkejutannya, lalu berkata.
"Saya tahu, tuan." Balasnya sembari bangkit dari duduknya. Bersikap sopan dan tenang, itulah yang harus ia lakukan sekarang.
'Apa dia pikir aku wanita murahan. Benar…selama ini dia memang menganggap ku wanita murahan. Dasar suami kejam…!' Gerutunya di dalam hati.
"Ada apa? Apa kau mengumpatku?" Tuduhnya.
"Tidak tuan. Mana ada saya mengumpat tuan." Balas Cira tidak ingin selalu di salahkan.
"Lagi pula, sebaik apapun saya berkata dan bersikap. Tidak akan ada yang benar di mata tuan. Saya selalu salah." Ungkap Cira jujur apa yang menjadi pendapatnya tentang Bara.
Bara menatapnya tajam. Cira tidak peduli.
"Menjadi istri yang baik, dan patuh kepada suami. Itulah yang seharusnya kamu lakukan." Balas Bara dengan tatapan dinginnya.
"Iya tuan, saya mengerti." Balas Cira mengalah.
Bara menatapnya dengan raut wajah yang datar.
"Cepat bersiap, kita pergi sekarang. Apa kau sudah siapkan berkas yang Kai berikan padamu tadi?" Tanya Bara. Mereka akan melakukan pertemuan di luar kantor.
"Sudah tuan. Ini…!" Katanya sembari menunjukkan berkas yang di maksudkan.
Bara melihat berkas itu sejenak, kemudian melangkah pergi begitu saja. Cira dengan segera meraih tasnya dan berkas yang ada di atas meja, lalu menyusul Bara dari arah belakang pria itu.
Mereka akan bertemu rekan bisnis untuk membicarakan masalah perpanjangan kontrak baru. Kai dan Lian tidak ada di tempat, dengan terpaksa Cira lah yang menemani Bara untuk pergi hari ini. Berdua saja.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.
"