GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
61. Hubungan Bayu Dan Cira.


__ADS_3

***Cafe di Pusat Kota***


Sore ini Cira dan Bayu sepakat untuk bertemu di sebuah cafe yang ada di pusat Kota. Tentunya Cira yang datang lebih awal ke cafe itu tidak sendiri, dia di temani oleh Bara sebagai supir, sekaligus suami yang sedang mengawasi istrinya bertemu dengan pria lain.


Cira duduk dengan tenang menghadap ke arah luar jendela, di mana ada sebuah taman dengan aneka bunga warna warni yang sedang bermekaran indah di sore itu.


Cira mencoba mengatur perasaannya saat ini. Sejujurnya tidak mudah untuk dia melepaskan begitu saja cinta dan kekasih pertamanya dengan begitu saja. Waktu 3 tahun cukup lama untuk mereka saling mengenal dan memiliki hubungan yang dekat dan juga serius.


Apalagi jika Cira mengingat kembali sebuah janji yang Bayu ucapkan beberapa bulan sebelum pernikahan kontranya bersama Bara. Bayu telah melamar dirinya, dan akan menikahinya beberapa bulan mendatang.


Pada saat itu Cira hanya dapat diam akan kejujuran dan niat baik Bayu kepadanya. Cira cukup bahagia di sela sela keterkejutannya atas lamaran Bayu. Cira hanya dapat menangis haru dan menerima dengan senang hati lamaran tersebut.


Kini lamaran Bayu hanya tinggal kenangan indah yang harus ia lupakan. Semua mimpi indahnya bersama Bayu harus Cira kubur sedalam mungkin.


Matanya menghangat saat mengingat kenangan itu, tidak dapat ia cegah air mata yang meluncur begitu saja. Cira segera menghapus air matanya, karena ia sadar jika Bara tengah mengawasinya di meja lain.


"Hai sayang…! Maaf aku terlambat…Apa kau sudah lama menunggu…?" Tanya Bayu begitu tiba dengan tergesa-gesa.


Cira melihat ke arah Bayu yang datang dengan nafas yang sedikit terengah-engah. Cira bangkit dari duduknya dengan raut wajah yang terlihat tenang.


"Tidak. Aku baru saja datang." Balas Cira masih terdengar biasa saja.


"Terima kasih kamu mau meluangkan waktu hari ini untuk kita bertemu. Aku sangat merindukanmu…!" Bayu ingin memeluk tubuh Cira seperti biasanya ia lakukan jika mereka bertemu.


Cira yang sadar akan peringatan dan pengawasan Bara. Dia masih ingat akan larangan Bara untuk tidak ada kontak fisik di antara dirinya dan Bayu. Cira segera menghindar dengan kembali duduk pada tempatnya.


Kedua tangan Bayu yang ingin merangkul tubuh Cira masih melayang di udara. Bayu tersenyum aneh melihat sikap Cira yang terlihat menghindari kontak fisik di antara mereka.


Namun dengan segera Bayu menepisnya. Pria itu tidak ingin merusak suasana mereka berdua, karena cukup susah untuk mereka memiliki waktu bertemu berdua seperti sekarang ini.


"Apa kamu baik hari ini?" Tanya Bayu yang telah duduk di hadapan Cira.


Cira melihat Bayu dengan raut wajahnya yang berusaha ia atur setenang mungkin.


"Aku baik." Balas Cira dengan senyum yang menurutnya perlu ia perlihatkan.


Bayu ikut tersenyum melihat sang kekasih tersenyum kepadanya.


"Aku senang melihatmu baik dan sehat seperti sekarang. Walaupun wajahmu masih terlihat pucat." Ucap Bayu jujur apa yang ia lihat pada wajah Cira.


"Kamu hanya minum saja. Apa tidak ingin makan sesuatu?" Tanya Bayu sebagai basa basi di antara mereka.


Bayu melihat hanya ada susu coklat hangat yang Cira pesan di atas mejanya. Sebenarnya dia mulai merasakan jika Cira sedikit berbeda padanya, seperti sedang menjaga jarak di antara mereka.


Kepekaan Bayu bukan tanpa alasan, tiga tahun hubungan mereka cukup membuat mereka saling mengerti satu sama lainnya. Bayu tahu ada yang tidak biasa pada sikap Cira kepadanya.


Bayu mencoba menepis semua itu, agar tidak merusak suasana mereka.


"Tidak, aku tidak ingin makan apapun. Susu ini sudah lebih dari cukup." Balas Cira berusaha bersikap biasa.


Cira bingung harus mulai dari mana untuk membicarakan tentang hubungan mereka. Sebenarnya Cira belum sanggup untuk menyelesaikan hubungannya bersama Bayu.


Tatapan mata Cira begitu teduh sekaligus sedih melihat ke arah Bayu. Bayu tidak buta untuk tidak dapat mengartikan tatapan mata Cira kepadanya.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" Tanya Bayu sembari menyentuh dan menggenggam erat tangan Cira yang ada di atas meja.


Tentu sikap hangat Bayu dapat membuat seseorang yang melihatnya sedikit geram, namun dia harus tetap tenang dan menahan dirinya. Dia adalah Bara yang sedang duduk pada meja tidak jauh dari meja Bayu dan Cira. Melihat dan mengawasi apa yang terjadi.


Cira hanya diam, dia tidak menarik sama sekali tangannya yang sedang di genggam oleh Bayu. Walaupun ia mengingat jelas peringatan Bara untuk tidak ada kontak fisik di antara mereka berdua. Cira hanya diam dan meresapi kedekatan mereka untuk terakhir kalinya.


Benar. Biarkan kedekatan itu Cira rasakan sebelum semuanya berakhir hari ini. Seperti keinginan Bara Daimos.


"Bayu…!" Panggil Cira melihat ke arah tangannya yang di genggam, lalu melihat ke arah wajah Bayu.


"Iya sayang." Balas Bayu begitu lembut dan hangat.


"Maaf…!" Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Cira, setelah beberapa kali ia menghela dan mengatur nafas dan debaran jantungnya untuk berkata jujur.


"Maaf untuk apa…?" Tanya Bayu tidak mengerti.


Cira masih memandang wajah Bayu yang selalu tampil tampan di hadapannya. Wajah yang selalu ia rindukan jika berada jauh dari pria itu. Wajah yang selalu membuat Cira merasakan seseorang yang berharga dalam hidupnya selama tiga tahun ini.


Cira tidak dapat menahan lagi perasaan kecewa dan sedihnya. Matanya yang sudah menghangat, begitu saja mengeluarkan cairan bening yang lolos tanpa dapat Cira cegah. Tentunya membuat Bayu terkejut akan air mata Cira yang luluh begitu saja, tanpa Bayu tahu apa alasannya.


"Ada apa sayang…?" Tanya cepat Bayu memajukan tubuhnya untuk melihat Cira lebih dekat.


Tiba-tiba saja hatinya khawatir dan terkejut akan air mata Cira yang meluncur begitu saja.


Cira menundukkan wajahnya, dia tidak kuasa melihat wajah khawatir Bayu. Cira menangisi nasibnya yang tidak baik. Cira tidak kuasa melihat wajah Bayu saat ini.


"Maafkan aku…!" Balas Cira dengan suaranya yang terdengar bergetar karena menahan tangisannya.


Cira meremas genggam tangan di antara mereka. Sontak Bayu melihat ke arah genggaman kuat tangan mereka. Bayu merasakan semua tidak baik baik saja, gadisnya sedang tidak baik saat ini. Ada apa dengan Cira?


"Sayang…!" Panggil lembut Bayu mencoba untuk menenangkan Cira.


"Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal hatimu saat ini. Katakan padaku, ada apa?" Tanya Bayu mencoba menebak seperti apa yang ia curigai terhadap sikap Cira beberapa bulan ini.


"Katakan sejujurnya padaku. Aku tidak bisa melihat mu bersedih seperti ini…Jadi tolong jangan menyiksa dirimu sendiri, berbagilah denganku beban yang sekarang kamu hadapi." Bujuk Bayu begitu lembut.


Bara dapat mendengarkan semua itu, genggaman kedua tangannya kuat akan sikap lembut dan hangat Bayu terhadap Cira. Bara menahan hatinya yang mulai merasa kesal.


Cira mencoba mengangkat wajahnya yang penuh akan air mata. Bayu meraih beberapa tisu dan memberikannya kepada Cira. Gadis itu menerima tisu pemberian Bayu dan segera menghapus air matanya.


Cira tidak kuat berada terlalu dekat dan lama bersama Bayu. Dia harus segera mengakhiri semuanya dan pergi dari tempat itu.


Cira memantapkan hatinya untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.


"Bayu, maafkan aku. Aku tidak bisa lagi bersama denganmu…Mari kita akhiri hubungan kita berdua sampai di sini." Ucap Cira dengan beberapa tekanan pada kata katanya.


Beberapa detik berlalu, Bayu terdiam dan mencerna dengan baik semua kata kata Cira yang baru saja gadis itu ucapkan.


"Apa maksud mu…?" Tanya Bayu masih tidak percaya akan pendengarannya.


"Aku ingin kita akhiri hubungan kita sampai di sini." Jelas Cira dengan keteguhan hatinya.


"Apa ini sebuah lelucon sayang?" Tanya Bayu tidak percaya.

__ADS_1


"Tidak." Gelengnya tegas.


"Aku serius." Ucap Cira lagi. "Aku ingin kita putus, karena kita tidak bisa bersama lagi." Balasnya lagi.


Bayu seketika melonggarkan genggaman tangannya karena benar benar terkejut akan keputusan Cira.


Cira melirik sejenak ke arah genggaman tangan mereka yang sudah longgar. Cira dengan segera menarik tangannya dan meremas kedua tangannya yang sangat gugup.


"Sayang…sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu…?" Tanya Bayu masih tidak dapat mempercayai apa yang Cira putuskan sekarang.


Cira memejamkan matanya sejenak, lalu menatap Bayu dengan serius. Setelah menghela nafasnya dan menelan salivanya, Cira berkata dengan tegas tanpa keraguan sama sekali.


"Aku sudah menikah tiga bulan yang lalu, dan sekarang sedang hamil." Ucap jujur Cira tidak ingin lagi menutupi apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Bayu terdiam dengan mata yang membulat sempurna dan mulut sedikit terbuka karena terkejut akan kejujuran Cira. Apa semua itu benar? Itulah yang ada di pikiran Bayu sekarang.


"Kamu sudah menikah tiga bulan yang lalu dan sekarang sedang hamil." Ulang Bayu akan perkataan Cira yang tadi gadis itu ucapkan.


"Iya. Aku sudah menikah tiga bulan yang lalu, dan sekarang sedang hamil anak dari suamiku." Jelas Cira.


Bayu diam dan berusaha mencerna semua ucapan Cira. Bayu berusaha mengatur perasaannya yang mulai tidak nyaman akan kenyataan itu.


"Apa kamu serius tentang hal ini?" Tanya Bayu ingin lebih memperjelas lagi.


"Iya, aku serius." Angguk Cira jujur.


Bayu diam dengan tatapan kecewa ke arah Cira. Sedangkan wanita hamil itu tidak dapat menahan air matanya yang kembali meluncur begitu saja.


Cira segera meraih beberapa tisu di hadapannya, kemudian menghapus air mata yang ada di pipinya.


"Kamu telah mengkhianati aku." Ucap Bayu terdengar lemah.


"Kamu tega mengkhianati cinta kita." Ucap Bayu kembali terdengar kecewa dan sedih.


"Maafkan aku Bayu." Hanya kata kata itu yang terlontar dari mulut Cira.


"Maaf. Kamu mengucapkan kata maaf, apakah kata maaf mu bisa mengurangi rasa sakit dan kecewa di dalam hatiku saat ini?" Tanya Bayu benar benar kecewa.


Cira diam dan tidak dapat berkata apapun sebagai pembelaan. Dia yang bersalah kepada Bayu, hanya bisa menerima dan diam saja.


Sedangkan Bara yang dapat mendengarkan semuanya, juga hanya diam di tempatnya dengan segala gejolak perasaan yang ia rasakan saat ini. Bara tahu keponakan laki-lakinya sedang kecewa dan bersedih akan rasa kehilangan dan hancurnya hubungan yang sudah lama terjalin.


Bayu melihat Cira dengan tatapan sedih dan kecewa, akan hubungan tiga tahun mereka yang hanya berakhir dengan kesia-siaan. Bayu tidak dapat menerima semuanya begitu saja, dia harus mendapatkan kejelasan yang dapat ia terima dengan lapang dada akan berakhirnya hubungan mereka berdua.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2