
***Apartemen Mewah Bara***
Bara melangkah mendekati Cira. Wanita yang sudah ia nikahi dan kini menjadi istri keduanya. Begitu lancang mencela kekurangan yang di miliki oleh Mona istri pertamanya.
Pria itu terlihat begitu marah dan tidak terima akan perkataan Cira yang menghina kelemahan Mona. Walaupun Cira tidak berniat seperti itu, Cira hanya bertanya kepada Bara. Namun pria yang menjadi suaminya itu salah mengartikan perkataannya.
'Plak…!' Suara tamparan keras pada pipi putih Cira.
Terlihat jejak sebuah jari berwarna merah pada kulit putih Cira. Sakit. Sangat sakit yang Cira rasakan, pipinya kebas dan sangat sakit. Tetapi sakit di dalam hatinya terasa di remas.
"Beraninya kau berkata seperti itu? Kau bahkan lebih rendah dari wanita hina dan pelacur di luaran sana. Kau pikir siapa dirimu?" Ucapan Bara menekan sakit hatinya.
Cira perlahan mengangkat wajahnya, dan memandang benci kepada Bara yang tepat ada di hadapannya. Itulah pria yang menjadi suaminya, kasar dan kejam.
Cira tersenyum lucu pada nasib yang kini ia jalani. Bahkan untuk berbicara suatu pertanyaan yang mungkin saja benar. Ia tetap pada posisi salah.
"Benar tuan. Saya adalah wanita rendahan, lebih hina dari seorang pelacur di luaran sana. Tapi ingat satu hal tuan…!!" Ucap Cira dengan air mata kemarahan di wajahnya.
Sorot mata Cira begitu membenci dan marah kepada Bara, suaminya.
"Wanita ini yang sudah anda kontrak untuk menjadi ibu dari anak yang anda inginkan. Ingat tuan…!" Ucapnya terhenti untuk menguatkan hatinya.
"Wanita hina dan rendahan seperti saya yang akan melahirkan anak anda, wanita ini yang akan menjadi ibu kandung anak anda." Ucapnya dengan senyum dan air mata kebencian melihat tajam ke arah Bara.
Satu tamparan, dan beberapa kali cekikan yang ia dapatkan sejak kemarin. Mungkin harus ia dapatkan setiap harinya. Akan Cira terima dengan senang hati karena itulah takdirnya. Namun satu yang pasti, kepuasan dalam bertindak dan bersuara mengikuti kata hatinya lebih baik, dari pada berada di dalam kepura-puraan.
"Kau…!" Ucap Bara marah atas perlawanan dan perkataan Cira.
Bara mencekal rahang Cira dengan kuat. Ringis kesakitan yang akan keluar, di tahan sekuat mungkin oleh Cira. Tatapan tajam kebencian dari mata Cira dapat Bara lihat dengan jelas.
Tatapan keduanya saling memandang. Kemarahan, kebencian dan perlawanan ada di dalam sorot mata mereka.
Bara membuang keras wajah Cira dan melepaskan kasar tangannya dari rahang wanita itu. Hingga tubuh Cira terhuyung ke arah belakang.
"Sepertinya aku terlalu lunak padamu." Senyum devil Bara kini terlihat.
Tubuh Cira gemetar karena rasa takut, tetapi ia menahannya agar tidak terlihat.
Bara dengan cepat melepaskan ikat pinggangnya. Dengan kekuatan penuh ia ayunkan ikat pinggang tersebut ke arah tubuh Cira.
Cira menahan rasa sakit akibat cambukan yang di lakukan oleh Bara, sangat sakit. Bara beberapa kali melayangkan cambukannya, hingga beberapa goresan yang ada kini mengeluarkan darah segar. Namun tidak sama sekali Cira tumbang, ia masih berdiri dan bertahan.
Bara semakin marah akan sikap Cira yang seakan tidak kesakitan sama sekali, walaupun air mata Cira mengalir deras dalam diamnya.
Bara yang sudah gelap mata mencekik kuat leher Cira, sembari mendorong tubuh wanita itu ke arah belakang. Hingga tubuh Cira jatuh ke atas ranjang yang ada di belakang mereka.
Bara dengan brutal merobek gaun mini yang Cira gunakan. Beberapa kali tamparan Bara ada di wajah Cira. Ujung mulut wanita malang itu robek, dan kedua pipinya merah serta lebam. Entah setan apa yang sudah merasuki Bara, hingga ia tega memukuli, mencekik dan kini tengah memperkosa istrinya sendiri.
Tubuh polos Cira di nikmati dalam marah oleh Bara. Cira hanya dapat menangis sakit dan menahan semua siksaan tersebut.
__ADS_1
Beberapa gerakkan kasar Bara lakukan hingga sakit yang tidak dapat Cira tahan, akhirnya wanita itupun mengeluarkan suara erangan yang begitu pilu. Perlakuan kasar di sela-sela penyatuan tubuh mereka menyiksa tubuh Cira. Namun membuat Bara merasakan kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa.
Kepuasan dalam derita istrinya itu adalah kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari Mona. Bara seolah bukan dirinya yang asli. Bara buta akan amarahnya terhadap Cira. Wanita yang seharusnya di perlakuan lembut dan di sayangi sebagai seorang istri. Tidak akan Bara lakukan kepada Elcira Ardelia.
Begitu Bara telah selesai dan berada pada puncak kenikmatan. Dorongan dan jambakan kuat pada rambut Cira, menjadi puncak ketahanan tubuh wanita itu yang akhirnya tumbang. Cira tidak sadarkan diri akibat sikap kasar dan brutal Bara pada tubuh yang kini penuh akan beberapa bercak darah, merah, goresan, dan lebam di sekujur tubuh Cira.
Bara berdiri tegak di samping ranjang yang sudah tidak terbentuk rapi lagi. Cira yang sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya di tutupi dengan selimut. Bara muak melihat tubuh Cira yang kotor dan terlihat buruk di matanya.
"Inilah yang akan kau dapatkan, jika berani melawan ku." Ucapnya benci melihat wajah pucat Cira yang terlihat buruk saat ini.
Bara pergi masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Cira begitu saja. Tidak ada rasa iba di dalam hati Bara sedikitpun terhadap Cira.
...--------------------------------...
…Keesokan Harinya…
Bara akhirnya tidak makan malam di apartemennya. Pria itu memutuskan untuk kembali pulang ke mansion, menemui Mona yang sangat ia rindukan. Bara bermalam di mansion bersama wanita yang ia cintai.
Sedangkan Cira tidak sadarkan diri satu malam penuh akibat ulah Bara. Mery yang menjadi penjaga Cira di dalam apartemen tersebut, tidak di ijinkan melihat Cira ke dalam kamar.
Wanita malang itu di biarkan tidak sadarkan diri begitu saja. Tanpa adanya pertolongan dari siapa pun. Begitulah kejam dan kejinya seorang Bara Daimos.
Di pagi yang terlihat cerah, Cira sadar dengan tubuhnya yang terasa remuk redam akibat siksaan padanya semalam. Perlahan Cira bangkit dan duduk di atas ranjang. Bahkan tubuhnya masih polos hanya di tutupi oleh selimut.
Cira kembali menangis mengingat bagaimana kejamnya siksaan Bara kepadanya. Pria yang menjadi suaminya itu bahkan tega meninggalkan dirinya dalam keadaan mengenaskan.
Cira menangis sejadi-jadinya. Ia Histeris meluapkan kebencian dan kemarahan di dalam hatinya. Dia yang menjadi korban, di jadikan orang yang paling bersalah akan semuanya.
"Semoga kalian mendapatkan balasan yang setimpal…aaaahhhhh…" Histerisnya menangis.
"Ya Tuhan, ampuni segala dosa dosa hamba. Bimbinglah hamba di jalanmu yang benar." Gumamnya berdoa di sela-sela tangisan yang begitu menyesakkan dadanya.
Cira memerlukan waktu untuk menangis pagi ini. Setelah itu ia harus kuat untuk hari hari selajutnya.
Setelah puas akan tangisannya, Cira perlahan bangkit dan membersihkan dirinya. Sesakit apapun dia, harus tetap bekerja seperti yang tertera di dalam kontrak perjanjian.
Cira memutuskan tetap bekerja, dia menggunakan setelan jas wanita dan celana panjang untuk hari ini. Wajahnya yang terlihat lebam pada pipi, dengan terpaksa ia tutupi dengan make up yang lebih tebal dari biasanya. Namun Cira tetap terlihat cantik, walaupun wajahnya muram dan sedih.
Cira melewatkan sarapan pagi yang di sajikan oleh Mery. Cira mengendarai mobil pribadinya sendiri, mobil yang ia beli dari hasil keringatnya membangun bisnis cafe tempat tongkrongan yang kini sudah maju pesat dan berkembang.
Wanita cantik itu melangkah anggun dan perlahan menuju ke depan lift. Banyak mata memandang ke arahnya, tetapi Cira hanya cuek dan tidak peduli. Pikirannya kosong dan malas saat ini. Tanpa ia sadari tegur sapa dari Lian teman satu ruangan dengannya.
"Selamat pagi Cira…!" Sapa Lian menepuk lembut pundak Cira yang masih berdiri dengan pikiran yang tidak berada di dalam kepalanya.
Cira terkejut dan akhirnya sadar. Ia pun melihat ke arah Lian yang ada di sampingnya.
"Selamat pagi Cira…!" Gumamnya pelan karena Cira hanya diam saja.
"Selamat pagi mbak." Balas malas Cira terdengar jelas.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kamu kurang sehat?" Tanya Lian.
"Tidak. Aku baik baik saja. Hanya lelah saja." Balas Cira berbohong. Dia tidak sedang baik baik saja sekarang. Ia sekarat dengan sakit pada sekujur tubuhnya, apalagi bekas cambukan dan bagian bawah tubuhnya yang lecet akibat perbuatan kasar Bara.
"Terlihat jelas dari mimik wajahmu. Kamu lelah dan tidak bersemangat." Balas Lian.
Mereka masuk beriringan ke dalam lift yang sudah terbuka. Berdiri paling belakang dan menunggu lift tersebut membawa mereka ke lantai paling atas.
"Pekerjaan kemarin terlalu banyak untuk di kerjakan dalam satu hari. Bagaimana kamu tidak lelah. Bos kita memang kejam ya." Bisik Lian pada kalimat terakhirnya, agar tidak terdengar oleh orang lain yang ada di dalam lift tersebut.
Cira hanya diam dan mengangguk saja tanda menjawab perkataan Lian. Mereka pun sampai pada tujuan mereka, lantai paling atas.
Presdir mereka belum datang. Jadi Lian yang masuk ke dalam untuk mempersiapkan semua yang di butuhkan oleh Bara. Sedangkan Cira hanya duduk di balik mejanya sembari menghidupkan layar komputernya. Dia harus menyelesaikan sisa berkas yang kemarin tidak ia selesaikan.
Beberapa saat kemudian Bara dan asistennya datang, Cira dan Lian yang baru saja kembali berdiri menyambut kedatangan presdir mereka.
Tatapan tajam Bara melihat dingin ke arah Cira. Pria itu pikir jika Cira tidak akan datang, ternyata tebakkannya salah. Cira datang dengan wajah yang dipoles make-up sedikit tebal dari sebelumnya, untuk menutupi lebam lebam di wajahnya. Bara berlalu begitu saja dengan sikap dinginnya.
"Dingin sekali. Dasar kutub utara." Celoteh Lian karena merasa bosnya begitu dingin pagi ini.
Cira mendengarkan celotehan tersebut, tetapi tidak komentar apapun. Ia mulai bekerja agar melupakan sedikit penderitaan yang ia lalui kemarin. Tenggelam dalam pekerjaan akan membuat pikirannya teralihkan.
Asisten Kai keluar dari ruangannya. Melangkah mendekati meja sekretaris yang ada di depan ruang presdir.
"Satu jam lagi ada rapat dadakan. Siapkan semua berkas yang sudah di selesaikan kemarin. Pembahasan itu yang akan di rapatkan hari ini." Ucap Kai memberitahukan perintah dari tuannya.
"Selalu saja seperti itu." Balas Lian terlihat sedikit kesal. Rapat dadakan sangat tidak ia sukai.
"Jangan banyak protes. Siapkan semuanya di ruang rapat. Rapat ini akan di hadiri oleh semua bagian manajemen di perusahaan ini. Ada sedikit pencerahan yang akan mereka dapatkan dari tuan Bara."
Saat Lian akan mengeluarkan pendapatnya, Kai lebih dulu berbicara.
"Jangan banyak protes, cepat lakukan semua dengan rapi. Jangan sampai kau yang akan kena sasaran dari tuan Bara." Tunjuk Kai dengan dinginnya ke arah Lian.
Kai berlalu dari tempat itu, dia masuk ke dalam ruangannya dan mempersiapkan bahan rapat hari ini.
"Atasan dan asisten sama dinginnya. Dasar kutub utara." Celoteh kesal Lian akan rapat dan sikap dingin Kai padanya.
Cira hanya diam dalam tindakan pergerakan tangannya yang masih mengetik. Tidak lama mereka berdua bergegas membawa semua berkas sebagai materi rapat hari ini. Tanpa banyak bicara, Cira dan Lian pergi ke ruang rapat yang ada satu lantai di bawah ruangan presdir.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1