GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
18. Perbincangan Pertama Mereka.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Bara Daimos***


Mery heran melihat kedatangan Cira dengan nafas yang terengah-engah. Cira melihat Mery sembari berusaha mengatur nafasnya agar normal kembali.


"Mery…apa tuan Bara sudah pulang?" Tanya Cira beberapa kali menelan salivanya sembari mengatur nafasnya agar kembali normal.


"Belum nona." Balas singkat Mery dengan wajahnya yang datar.


"Baik, terima kasih." Sahut Cira segera berlalu ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.


Cira segera mencuci wajahnya dengan cepat, kemudian mengganti pakaiannya dengan dress mini santai yang sudah di siapkan oleh Mona di dalam wardrobe di kamar itu.


Cira segera turun sembari mengirimkan pesan pada Kai untuk bertanya, Bara ingin makan malam apa?


"Tuan Kai…tuan Bara ingin makan malam apa?" Pesan Cira bertanya.


Sembari menunggu balasan pesan dari Kai, Cira meraih gelas dan menuangkan air untuk ia minum. Tenggorokannya terasa kering setelah lelah berlari tadi, kemudian ia melihat ke dalam kulkas mencari buah atau cemilan yang bisa ia makan. Perutnya begitu kelaparan karena tidak makan siang dengan benar.


Cira meraih satu buah apel dan satu kotak anggur untuk ia makan dengan cepat. Setelah di cuci, Cira duduk santai menikmati buah yang ada di atas meja makan sembari menunggu jawaban dari Kai, ia harus memasak makanan apa sebagai makan malam untuk tuan Bara.


Secepat kilat Cira melihat ponselnya begitu terdengar notifikasi pesan masuk. Itu pesan balasan dari Kai.


"Tuan ingin makan malam dengan menu Steak Tenderloin, sayuran dan juga baby kentang panggang. Saosnya menggunakan blackpepper tapi jangan terlalu pedas."


Cira terpaku membaca pesan tersebut, menu makanan mewah yang cukup rumit jika harus segera di buat. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama, Cira mencari keberadaan Mery.


"Mery…!" Panggil Cira begitu ia melihat wanita pengawas itu baru saja datang dari arah ruang tengah.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mery setelah berada di hadapan Cira.


"Bisa minta tolong siapkan bahan bahan menu makanan ini." Balas Cira sembari memperlihatkan ponselnya kepada Mery.


Mery melihat pesan yang di kirim Kai tadi, Mery mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Iya nona. Akan saya siapkan segera." Ucap Mery menerima perintah Cira.


Cira bukannya ingin sok memberikan perintah pada Mery, dia hanya meminta bantuan Mery karena belum tahu benar selak beluk dapur di apartemen tersebut. Sembari mengamati Mery mempersiapkan bahan masakan yang akan ia buat, Cira menghapalkan letak bahan-bahan makanan di setiap sudut dapur.


Cira yang begitu kelaparan menghabiskan semua buah yang ia ambil dari dalam kulkas sebagai pengganjal perutnya yang lapar. Cira meraih sebuah apron dari dalam laci meja dapur dan menggunakannya, diapun mendekati Mery yang tengah mempersiapkan bahan-bahan yang di butuhkan.


"Mery…biar saya yang memasak makan malam untuk tuan Bara, karena itu perintah darinya langsung." Ucap Cira sudah berdiri di samping Mery.


Mery mengerti apa yang di katakan oleh Cira, begitu ia selesai menyiapkan semua bahan yang di butuhkan Cira. Mery menyingkir dari tempat itu, dan memeberikan ruang untuk Cira.


"Baik nona. Saya ada di sini jika anda membutuhkan bantuan dari saya." Balas Mery berdiri tidak jauh di belakang Cira.


"Terima kasih Mery." Ucap Cira dengan senyum yang begitu tulus kepada Mery, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan senyum dari wajah Mery yang selalu datar.


Cira mulai mempersiapkan dan memasak apa yang terlebih dahulu harus ia masak, sembari menunggu kedatangan Bara semuanya akan selesai pada waktunya. Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mendapatkan hukuman dari Bara malam ini. Hukuman semalam masih dapat ia rasakan sakitnya, jadi tidak ingin merasakan rasa sakit dan takut itu lagi.


Beberapa menit telah berlalu, persiapan Cira hampir selesai. Hanya menunggu sang empunya datang, dan memanggang daging tenderloin yang di inginkan oleh Bara, semuanya selesai.


Suara bel terdengar, yang artinya Bara telah datang. Cira segera melepaskan apron kain yang ia gunakan dan merapikan penampilannya. Ia masih mengingat jelas perkataan dan peringatan Bara, untuk selalu berpenampilan semenarik dan rapi mungkin agar pengelihatan mata Bara tidak terganggu.

__ADS_1


Walaupun belum terbiasa, Cira terus berusaha agar dirinya tidak mendapatkan masalah dan hukuman dari tuan kejam serta dingin yang kini sudah menjadi suaminya sejek kemarin.


"Begini ternyata menjadi seorang istri yang harus menyambut kedatangan suaminya." Gerutu pelan Cira segera berdiri di ruang tengah yang menghadap pintu masuk apartemen.


Bara masuk setelah pintu di buka oleh Mery, dengan berusaha tersenyum tipis Cira menyambut kedatangan suaminya. Tentunya Bara dan Kai heran melihat sikap dan senyum Cira ke arah mereka.


"Selamat datang tuan." Sapa Cira menyambut kedatangan Bara dengan ramah dan senyum tipis yang terlihat manis.


Bara melihat dengan tatapan heran akan sikap Cira. Cira sebenarnya adalah pribadi yang ceria dan ramah, jadi dia mencoba untuk menjadi dirinya sendiri seperti biasanya. Jika sikapnya itu tidak juga di sukai oleh Bara, terpaksa ia akan bersikap seperti yang di inginkan Bara.


"Jangan tersenyum, cepat lakukan apa yang seharusnya kau lakukan sekarang." Kata Bara tegas. Seketika senyum Cira menghilang dari wajahnya.


"Baik tuan." Balas Cira segera menundukkan pandangan matanya.


'Dasar pria yang kejam, akan selalu seperti itu. Tidak bisa sedikitpun di berikan keramahan.' Gumam Cira di dalam benaknya.


Cira mengikuti Bara dari arah belakang. Masuk ke dalam kamar mereka, segera Cira menyiapkan air hangat untuk Bara merendam tubuhnya. Cira melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan untuk suaminya.


Cira keluar setelah selesai menyiapkan air hangat untuk Bara. Cira mendekati Bara yang duduk pada sofa sembari bermain dengan ponselnya.


"Tuan, air hangatnya sudah siap." Kata Cira memberitahukan apa yang sudah selesai ia siapkan.


Bara mengalihkan pandangan matanya ke arah depan. Melihat Cira dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


'Dia sudah mengerti apa yang aku ucapkan semalam. Penampilannya kali ini cukup baik dari sebelumnya.' Gumam Bara di dalam benaknya.


'Gadis ini, apa yang di lihat oleh mona darinya? Mengapa harus dia yang mengandung dan melahirkan anakku? Apa Mona tidak bisa mencari wanita atau gadis lainnya, yang lebih baik dari dia.' Gumam Bara kembali di dalam benaknya.


Hanya karena Bara tidak memiliki perasaan apapun terhadap Cira dan tidak mengenal baik bagaimana Cira sebenarnya. Itulah yang menjadi minus Cira di mata Bara.


"Kau…!!" Ucap Bara melihat tajam ke arah Cira.


Cira tahu ada yang tidak beres pada pria di hadapannya itu.


'Apa lagi yang akan dia lakukan padaku?' Gumam Cira di dalam benaknya melihat tatapan tajam dan tidak suka Bara padanya.


"Ada perjanjian apa di antara kau dan Mona?" Tanyanya tegas.


Cira tahu jika Bara benar-benar tidak suka padanya, Cira tahu jika Bara ingin tahu bagaimana pertama kalinya mereka bisa melakukan perjanjian kontrak tersebut. Ini akan menjadi perbincangan panjang pertama mereka berdua setelah menjadi pasangan suami istri.


'Apa dia tidak tahu, apa yang sudah di lakukan oleh tante Mona?' Gumam Cira kembali di dalam benaknya.


Cira mencoba untuk berani menghadapi Bara, karena dia merasa tidak bersalah di sini.


"Perjanjian pernikahan kontrak dan menjadi ibu pengganti untuk melahirkan anak keturunan keluarga Daimos." Jawab Cira dengan sikap tegasnya. Dia bukan wanita bodoh yang tidak tahu jika dirinya hanya di manfaatkan karena keadaan yang tidak sama sekali menguntungkan dirinya.


Bara terdiam sejenak mendengar jawaban tegas Cira. Dia menangkap tidak ada keraguan dan kebohongan sama sekali dalam nada suara Cira.


"Apa kau sadar telah melakukan apa?" Tanyanya.


"Sadar, tuan."


"Mengapa kau setuju dengan perjanjian itu? Aku tahu kau tidak suka melakukan perjanjian itu. Apakah aku benar?"

__ADS_1


"Benar tuan. Saya menolak keras perjanjian serta ide tante Mona dan papa saya." Jujur Cira. Ia ingin sedikit mengungkapkan, jika dirinya hanyalah korban dari ide dan perjanjian gila yang tidak ia setujui sejak awal.


"Jika dari awal kau menolaknya, mengapa pada akhirnya kau setuju juga melakukan perjanjian itu, apa tujuan mu?" Curiga Bara. Cira tahu itu.


Cira menelan salivanya, lalu berkata.


"Saya tidak ada pilihan, dan tidak memiliki hak untuk memilih ataupun menghindari apa yang sudah di tentukan oleh papa." Balas tegas Cira.


Tidak ada yang ingin ia sembunyikan, jika kejujurannya pada Bara membawanya untuk mendapatkan hukuman. Cira akan menerimanya dengan iklhas. Setidaknya hatinya lega karena kejujuran dan perasaan hatinya tercurahkan.


'Gadis ini terlalu naif.' Gumam Bara di dalam hatinya.


Bara tahu jika apa yang Cira katakan adalah benar. Cira menjadi istri keduanya dengan dana yang cukup besar telah Bara keluarkan untuk membantu perusahaan Santoso grup. Bara tahu jika tidak sepeserpun dana besar itu jatuh pada Cira. Semua di kendalikan oleh Mike Santoso.


"Apa kau yakin bisa mengandung dan melahirkan anakku?" Pertanyaan yang tidak bisa di jawab yakin oleh Cira.


"Saya tidak tahu dan tidak yakin, tuan. Saya hanya mengikuti apapun yang di arahkan kepada saya. Selayaknya sebuah boneka hidup yang di atur oleh pawangnya." Hanya itu balasan yang dapat di keluarkan oleh Cira.


Bara tersenyum mengejek dan remeh akan jawaban Cira. Cira hanya diam dengan wajahnya yang datar.


"Tentunya kau masih ingat apa isi dari kontrak perjanjian yang sudah kau tanda tangani. Jika selama dua tahun kau tidak dapat memberikan anak kepada kami, kau akan menjadi budak kami selamanya tanpa bayaran sama sekali. Apa itu tidak masalah bagimu?" Ungkap Bara mengingatkan apa menjadi perjanjian di antara mereka.


"Iya tuan, saya masih mengingatnya dan mengerti. Apapun yang terjadi, saya tetap tidak memiliki hak untuk memilih. Semua akan terjadi mengikuti takdir yang sudah di gariskan, jika saya harus menjadi budak yang tidak di bayar untuk selamanya." Balas Cira dengan tatapan mata terlihat sedih dan putus asa. Bara dapat melihat itu dengan jelas.


"Akan saya terima." Ucapnya lagi.


"Satu hal lagi." Ucap Bara.


Cira melihat intens pria yang terlihat masih begitu dingin padanya.


"Jika anak itu hadir dan lahir dengan selamat. Apa kau yakin akan rela menyerahkannya tanpa tuntutan dan rasa menyesal?" Pertanyaan yang pernah terlintas di pikiran Cira.


'Apa aku akan rela menyerah anak kandungku kepada mereka, dan pergi meninggalkan anakku begitu saja?' Itulah pikiran yang pernah terlintas dari pikiran Cira, begitu ia terima pernikahan kontrak dan setuju menjadi ibu pengganti untuk melahirkan anak keturunan keluarga Daimos.


Bara menunggu jawaban Cira, tetapi bukannya menjawab. Cira balik bertanya yang membuat Bara terdiam seribu bahasa.


"Mengapa kalian memakai jasa ibu pengganti untuk melahirkan anak kalian? Ada apa dengan tante Mona? Apa dia tidak bisa melahirkan seorang anak yang kalian inginkan?" Tanya Cira dengan tegasnya.


Cira tidak peduli jika pertanyaannya akan mendapatkan hukuman dari Bara. Setidaknya ia sudah mengutarakan apa yang membuatnya penasaran. Walaupun dia yakin jika Bara tidak akan pernah menjawab pertanyaannya itu.


Rahang Bara mengeras, pertanyaan Cira begitu lancang telah mencela kelemahan yang di miliki oleh Mona.


Bara bangkit dari duduknya, tatapan tajamnya terlihat marah. Rahangnya mengeras menahan amarah akan pertanyaan Cira. Cira menelan salivanya, dia tahu jika Bara berada pada mode marah saat ini. Cira masih berdiri tegak pada tempatnya dan berusaha kuat untuk menghadapi Bara, walau dalam hatinya sudah ketar ketir.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2