GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
57. Perasaan Cinta Bara.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Lian dan Cira masih memandang punggung dua wanita yang menjadi nyonya dari keluarga Daimos, hingga menghilang di balik pintu lift yang tertutup rapat.


"Tatapan keduanya begitu dingin. Nyonya besar tidak seperti biasanya seperti itu." Gumam Lian masih dapat Cira dengarkan.


Wanita hamil itu kini duduk di balik meja kerjanya, tanpa melihat ke arah Lian ataupun ingin mengomentari ucapan temannya itu.


"Cira, sepertinya tante mu terlihat kurang baik dan ramah padamu kali ini? Mengapa dia menjadikan mu sekretaris tuan Bara, kalau memang dia tidak suka?" Tanya Lian sembari duduk dan melihat ke arah Cira yang ada di sampingnya.


Cira tidak sama sekali mengalihkan pandangan matanya. Dia mendengar tapi cukup males untuk mengatakan sesuatu sebagai balasan darinya.


"Cira, apa kamu memiliki masalah dengan tante mu itu?" Tanya Lian ingin mengalihkan perhatian Cira sekali lagi.


"Tidak ada." Balas Cira berbohong tanpa melihat ke arah Lian yang terus memandanginya.


Lian tahu jika temannya itu sedang malas untuk berkomentar banyak. Dia hanya dapat memandang wajah Cira yang samar terlihat masih pucat, apakah Cira belum pulih sepenuhnya.


"Wajahmu masih pucat Cira. Jika kamu masih kurang sehat, sebaiknya mintalah ijin untuk cuti beberapa hari dan pulanglah lebih awal." Saran Lian cukup prihatin melihat Cira yang kini masih fokus pada layar komputer di hadapannya.


Banyak pekerjaan yang Cira tinggalkan yang harus di selesaikan. Lian bahkan sudah membantunya mengerjakan hampir setengah laporan Cira selama wanita itu sakit.


Cira merasa tidak nyaman jika mengabaikan Lian terus menerus.


"Saya baik baik saja mbak." Balasnya menghentikan pergerakannya, kini Cira menghadap ke arah Lian.


"Wajahku masih pucat karena masa pemulihan. Lagi pula tiga hari ini, saya terlalu banyak tidur dan sudah cukup untuk beristirahat. Tenang mbak, saya baik baik saja." Ungkap Cira dengan tersenyum untuk meyakinkan Lian. Senyum manis Cira memperlihatkan dua lesung pada pipinya yang membuat wajah pucat Cira semakin cantik dan kini mulai berwarna.


Lian terdiam sejenak untuk mencoba mengerti maksud perkataan Cira. "Baiklah, tapi jika kamu rasa badanmu mulai kurang sehat, jangan di tahan. Katakan padaku, oke…!!" Saran Lian.


"Baik mbak." Bals Cira dengan senyuman.


"Sekretaris Cira, tuan Bara memanggilmu." Tegur Kai yang sudah berdiri di depan meja sekretaris setelah keluar dari ruang kerja presdir.


"Baik tuan." Balasnya sembari bangkit dari duduknya.


Cira segera melangkah masuk ke dalam ruangan Bara. Terlihat jelas oleh mata Cira jika Bara tengah fokus pada berkas yang sedang ia baca. Sehingga ia merasa untuk memberitahukan kedatangannya kepada Bara.


"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Cira dengan bersikap sopan. Dia masih ingat pada aturan yang Bara buat untuknya. Selalu bersikap sopan kepada Bara di manapun dan kapanpun.


"Sudah makan siang?" Tanya Bara tanpa melihat ke arah Cira sama sekali.


Bara tahu jam makan siang sudah lewat satu jam yang lalu. Pria itu mengingat kehamilan Cira dan ingin memastikan. Apakah wanita hamil itu makan dengan baik? Jika mengingat saat mereka sarapan pagi, Cira menyantap sarapannya sedikit dengan raut wajahnya yang terlihat terpaksa.


Cira sudah makan siang bersama dengan Karina, Bayu, dan Caroline saat akan kembali ke kantor. Walaupun makannya sedikit, karena selera makannya menghilang saat melihat makanan yang tidak ia inginkan.


"Sudah tuan, saat akan kembali ke kantor tadi siang." Balas Cira pada kenyataan yang ada.


Kini pandangan mata Bara terangkat untuk melihat ke arah Cira yang berdiri di hadapannya itu. Ia ingin tahu apakah Cira makan dengan benar? Pria itu tidak ingin bayinya kelaparan dan kurang mendapatkan nutrisi.


"Apa kamu makan dengan benar?" Tanyanya, ia meletakkan pena yang ia pegang ke atas meja.


"Iya tuan." Balasnya berbohong.

__ADS_1


Cira merasa pagi dan siang ini dia tidak makan dengan baik, bahkan hanya menelan beberapa makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Sebenarnya Cira menginginkan sesuatu untuk dia makan agar tidak memuntahkannya dari dalam perutnya. Hari ini sudah dua kali Cira harus merasakan perutnya yeng tiba-tiba bergejolak dan memuntahkan semua isi di dalam perutnya.


Bara memandang ke dalam sorot mata Cira, dia tahu wanita hamil itu sedang gelisah dan menyembunyikan sesuatu.


"Kemari…!" Panggil Bara untuk Cira datang lebih dekat.


Cira maju dan melangkah ke samping Bara. Belum sempat ia bertanya, tangan Bara dengan cepat mencekal dan menarik tubuh Cira untuk duduk di atas pangkuannya.


Cira yang memang tidak dapat membaca pergerakan Bara, jatuh begitu saja di atas pangkuan Bara. Kedua tangannya kini sedang menahan dada bidang Bara.


"Tuan…!" Gumam Cira terkejut akan tindakan Bara.


"Kamu makan dengan baik hari ini?" Tanya Bara sekali lagi. Bara tahu Cira sedang tidak memiliki selera makan yang baik, karena masa awal kehamilannya.


Bara menatap ke dalam mata Cira. Wanita itu tahu Bara tidak mudah percaya akan pengakuannya.


"Selera makan saya menurun tuan, tapi saya berusaha menelan semua makanan itu." Ucapnya, Cira tahu Bara menginginkan bayinya selalu sehat. Sehingga pria itu bertanya kepada Cira, apakah dia makan dengan baik hari ini?


"Apa kamu muntah hari ini?" Tanya Bara dengan tatapan mata yang terlihat teduh dan hangat. Rangkulan tangan Bara pada pinggangnya begitu erat tapi tidak menyakiti bayi dalam perutnya.


"Iya tuan, dua kali." Jujur Cira sembari menganggukkan kepalanya.


"Apa sekarang perutmu masih tidak nyaman?" Tanyanya sembari membelai lembut perut Cira yang masih terlihat rata.


"Tidak tuan, sudah baik baik saja."


"Apa yang kamu lakukan sehingga perutmu baik baik saja?" Tanya Bara.


Pria itu tahu jika Cira sedang muntah, wanita ini akan mencari sesuatu yang bisa membuat perutnya terasa nyaman. Beberapa hari mereka bersama di rumah sakit, masih lekat dalam ingatan Bara di saat Cira muntah akan merasa tenang jika Bara membelai lembut perutnya.


Cira terlihat merogoh saku jasnya, dan mengeluarkan sapu tangan yang memiliki aroma sebuah parfum maskulin milik Bara yang dapat menenangkan gejolak perutnya hari ini.


"Dengan ini." Ucap Cira menunjukkan sapu tangan itu pada Bara.


Bara melihat ke arah sapu tangan yang Cira pegang, samar ia dapat mencium aroma yang sangat familier dari sapu tangan tersebut. Hatinya menghanghat mengetahui apa yang dapat menenangkan gejolak perut Cira selain belaian tangannya.


"Kamu mencium aroma ini…!" Ucap Bara melihat ke arah Cira.


"Iya." Angguknya.


"Apa gejolak perutmu akan tenang jika mencium aroma ini?"


"Iya tuan."


Bara tersenyum senang. Dia dapat tenang jika ada sesuatu yang dapat membantu Cira di saat wanita hamil itu merasakan mualnya datang kembali, di saat dirinya tidak ada. Dia senang jika aroma parfumnya dapat menenangkan untuk Cira cium di masa kehamilannya. Aneh tapi nyata terjadi di hadapan mereka.


"Kamu mencurinya diam diam." Tuduh Bara ingin sedikit menggoda Cira. Dia begitu suka menggoda istri keduanya itu.


"Mencurinya tuan." Ulang Cira dengan kerutan pada pangkal alisnya melihat ke arah Bara.


Bara mengangguk untuk menanggapi ucapan Cira.


"Tidak tuan, saya tidak mencurinya. Saya hanya memintanya sedikit." Balasnya dengan raut wajah yang terlihat kesal, dia tidak suka atas tuduhan Bara jika dirinya mencuri.

__ADS_1


"Memintanya, tapi kamu tidak pernah bilang sama pemiliknya?" Ucap Bara terus menggoda.


Cira terdiam, kini dia mengerti maksud Bara.


"Bagaimana mau memintanya, kalau saya tidak memiliki kesempatan untuk mengatakannya. Ada tante Mona yang terus menempel pada tuan." Jujurnya. Bara melihatnya intens.


Bara melihat raut kesal sekaligus sedikit kecewa pada wajah manis di hadapannya itu.


"Kamu cemburu?" Tanya Bara. Sangat jelas pada pengelihatannya. Sejak kedatangan Mona ke apartemen kemarin, raut wajah Cira terlihat berbeda. Terlihat tidak nyaman, terkadang kesal dan terkadang sedih melihat interaksi Bara dan Mona kemarin.


"Cemburu…!" Cicitnya.


"Tidak tuan. Untuk apa saya cemburu?" Kilahnya berbohong. Padahal Cira kesal dan cemburu melihat sikap mesra dan manja Mona kepada Bara. Namun dapat Cira tahan.


"Benar?" Bara memastikan dengan menatap teliti perubahan mimik wajah Cira.


"Benar tuan." Cira mencoba untuk meyakinkan.


Bara sedikit kecewa mendengar Cira tidak cemburu kepadanya dan Mona.


"Padahal aku ingin kamu cemburu dan kesal melihat interaksi ku bersama Mona." Ucap Bara dengan raut wajahnya yang terlihat kecewa.


"Mengapa harus seperti itu tuan?"


Bara menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Kalau kamu tidak cemburu, itu artinya kamu tidak memiliki rasa padaku?"


Cira mengerti maksud perkataan Bara. Tapi untuk apa dia harus memperlihatkan kecemburuannya? Apakah dengan begitu Bara akan tahu Cira menyukainya? Apakah Cira menyukainya sehingga kemarin sempat merasa kesal dan cemburu kepada Bara dan Mona? Apakah itu akan berarti untuk Bara?


"Apakah saya boleh memiliki rasa pada anda tuan?" Tanya Cira selidik.


"Kenapa tidak? Kamu istriku." Ucap Bara terlepas begitu saja.


"Istri anda tuan, mungkin yang benar istri kontrak anda tuan, ingat itu." Balik Cira membuat Bara terdiam akan kata kontrak.


'Mengapa susah sekali membuat mu jujur. Aku bukan orang bodoh yang tidak tahu arti tatapan mu beberapa bulan ini padaku. Apa lagi melihat raut kecewa dan sedih mu kemarin, terlihat jelas kamu menahan rasa cemburu melihat interaksi ku dan Mona.' Gumam Bara di dalam hatinya.


Bara tahu jika Cira memiliki perasaan yang berbeda untuknya. Tatapan mata Cira berbeda beberapa bulan ini, Bara tahu itu. Bara yakin jika di hati wanita itu ada tempat untuknya, walaupun terlihat samar dan mencoba untuk di tekan.


'*Apa kamu tidak dapat melihat perubahan sikap ku padamu yang mulai perhatian dan memiliki perasaan yang berusaha aku tahan, tetapi aku tidak bisa. Sikap patuh dan manis sert*a manjamu beberapa bulan ini terhadapku, sangat memperngaruhi diriku. Aku seakan ingin selalu bersama denganmu, di sisimu, dan memelukmu seperti ini setiap saat. Apa kamu masih menyimpan perasaan untuk Bayu, sehingga sangat sulit untuk melihat yang lainnya.' Gumam Bara di dalam hatinya mencurahkan apa yang ia rasakan terhadap Cira beberapa bulan ini.


Bara berusaha menahan perasaannya terhadap Cira, karena alasan di balik awal kebersamaan mereka. Namun Bara gagal, perasaan itu terus mengalir begitu saja, dan tidak dapat ia tahan. Hingga saat ia mengetahui kabar kehamilan Cira, perasaannya semakin besar, yakin dan kuat.


Perasaan yang mengalir begitu saja tanpa dapat ia tahan lagi. Bara telah jatuh cinta pada pesona kuat Cira. Inilah perasaan Cinta Bara terhadap Cira, istri keduanya itu. Dia akan memastikan perasaan itu benar atau tidak, dan apakah Cira juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya saat ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2