GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
27. Akar Dari Permasalahan.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos grup***


Bara sedang duduk di balik meja kerjanya, begitu ia menerima pesan dari Bayu. Sang keponakan laki-laki yang membuatnya kini berpikiran berbeda. Keponakan yang selalu ia percaya dan sayangi selama ini.


"Om Bara, maaf…sepertinya sekretaris om yang bernama Cira, tidak bisa datang ke kantor siang ini. Kakinya di perban akibat terkilir hebat. Dokter menyarankan untuk tidak bergerak terlalu banyak, agar penyembuhan pada kakinya bisa lebih cepat. Semoga om dapat mengerti dan memberikannya ijin hari ini untuk pulang lebih awal." Pesan Bayu yang Bara terima.


Bara terdiam sembari terus melihat pesan tersebut. Kai melihatnya dengan jelas karena pria itu ada di sana bersama Bara.


"Anak ini. Bahkan dia bertindak seperti ini. Dia tidak sadar jika tindakannya ini akan menimbulkan sebuah kecurigaan dan pertanyaan. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya sama sekali, dia terlihat berbeda." Gumam Bara pelan, tetapi masih dapat di dengarkan oleh Kai.


Kai tahu apa yang di maksudkan oleh tuannya tersebut. Kai tahu itu pasti berhubungan dengan Bayu dan Cira, seperti apa yang ia lihat dan mulai di curigai olehnya dan juga Bara.


"Pastikan dia pulang dengan selamat." Balasan pesan yang Bara kirim.


"Terima kasih om." Balasan cepat Bayu.


Bara segera meletakkan ponselnya ke atas meja yang ada di hadapannya. Kembali melihat ke arah layar komputernya, dan mencoba untuk fokus walaupun bayangan kejadian tadi siang masih terus berputar di kepalanya.


"Kai…Apa wanita itu ada mengirimkan pesan padamu untuk meminta ijin siang ini?" Tanya Bara ingin tahu tindakan Cira. Pandangan mata Bara masih fokus pada pekerjaannya.


Kai menghentikan gerakkannya dan melihat ke arah Bara.


"Tidak tuan. Belum ada." Balas Kai apa yang sebenarnya.


"Pastikan wanita itu untuk meminta ijin langsung padaku." Perintah Bara. Pria itu ingin tahu sampai di mana Cira bisa menghargainya sebagai atasan dan suaminya.


"Baik tuan." Balas Kai mengerti.


Beberapa menit kemudian. Ponsel Kai berdering, sukses mengalihkan perhatian Bara saat ini melihat ke arah Kai.


"Tuan. Ini dari nona Cira." Ucap Kai tahu arti tatapan Bara melihat ke arahnya.


"Lakukan seperti yang aku perintahkan tadi." Balas Bara dengan tenang, tetapi di dalam hatinya penasaran ingin tahu apa yang di inginkan oleh Cira.


"Hallo…!" Sapa Kai menerima panggilan telepon dari Cira.


"Hallo asisten Kai. Maaf, siang ini saya tidak bisa kembali ke kantor, karena kaki saya sedang di perban dan tidak bisa berjalan dengan leluasa. Tolong sampaikan ijin saya ini kepada tuan Bara." Ungkap Cira tanpa basa basi.


"Maaf nona. Silahkan sampaikan sendiri pada tuan Bara." Balas Kai.


"Tapi saya tidak memiliki kontaknya."


"Akan saya kirimkan nomer kontaknya. Silahkan sampaikan ijin anda langsung kepada beliau."


"Baiklah. Terima kasih." Cira mati kutu dan tidak dapat membantah lagi.


"Selamat siang nona."


"Selamat siang asisten Kai." Sambungan telepon mereka pun terputus.


Bara menatap ke arah Kai yang segera mengirimkan nomer kontaknya kepada Cira. Kai kembali melihat ke arah atasannya tersebut.


Beberapa detik kemudian ponselnya berdering dan terlihat nomer baru sedang menghubunginya. Bara tahu itu pasti nomer Cira, ia pun meraih ponselnya dan ingin tahu apa yang akan di katakan oleh istri keduanya tersebut.


"Hallo…!!" Sapa Bara dengan nada tegas.


"Hallo tuan…Ini saya, Cira." Balas Cira terdengar takut di dalam nada suaranya.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Maaf tuan…Begini…" Hening sejenak karena Cira harus mengatur irama detak jantungnya. Cira masih merasakan rasa takut pada Bara.


"Maaf tuan…Siang ini, saya tidak bisa kembali ke kantor. Kaki saya sedang di perban dan tidak bisa bergerak dengan leluasa. Mohon maaf tuan, apakah saya bisa pulang lebih awal." Ungkap Cira terdengar ragu, jika dirinya akan mendapatkan ijin dari Bara.


"Ada apa dengan cara bicaramu, apa Bayu masih ada di sana bersamamu?" Tanya Bara penasaran ingin tahu. Apakah Bayu masih bersama Cira saat ini?


Hening sejenak. "Maaf tuan, Iya." Balas Cira pada akhirnya, dan ia tidak mengerti maksud Bara. Cira merasa jika dirinya seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh oleh suaminya sendiri.


"Jadi Bayu masih ada di sana, bersamamu. Di mana kalian sekarang?"


"Iya, kami, kami masih makan siang sembari membahas materi berkas yang ingin di tanyakan oleh pak Bayu." Cira tidak ingin berbohong.


Bara terdiam sejenak. Kepalan tangannya yang ada di atas meja terlihat kuat, dan Kai melihat itu.


"Cepat selesaikan urusan mu dan segera pulang. Pastikan Bayu tidak curiga padamu. Kau mengerti…!" Peringatan keras Bara.


"Iya tuan, saya mengerti."


"Ingat, kau hutang penjelasan padaku. Persiapkan dirimu, dan pastikan… aku dapat menerima penjelasan tentang apa yang aku lihat hari ini. Kau mengerti…!"


"Iya tuan, saya mengerti."


Bara segera menutup sambungan telepon mereka, tanpa salam perpisahan sama sekali. Hatinya marah saat mengingat kejadian tadi siang, dan sekarang ia kesal mendengar suara Cira. Entah mengapa, Cira selalu sukses membuat dirinya marah dan kesal.


"Kai…Pastikan wanita itu ada di apartemen selama masa penyembuhan kakinya, dan berikan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan. Dia akan tetap bekerja walaupun ada di apartemen." Perintah Bara mutlak.


"Baik tuan." Kai menerima perintah.


Kedua pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.


***SINEL Cafe***


Cira menggenggam ponselnya dengan tatapan menerawang ke arah ponsel yang ada di tangannya.


'Apa dia sudah tahu atau curiga jika aku dan Bayu memiliki hubungan khusus?' Gumam Cira di dalam benaknya.


'Apa yang harus aku katakan. Tidak Cira, kau harus jujur dan katakan semua kebenarannya. Tidak perlu menutupi segalanya, yang hanya akan menambah beban masalahmu di masa depan. Apapun resikonya, kau harus tetap berkata jujur apa adanya. Kau dan Bayu, hubungan kami tidak salah. Mereka lah yang salah. Bara dan Mona Daimos, kalian berdua lah akar permasalahan ini terjadi.' Gumamnya kembali, Cira tengah asyik pada pemikirannya sendiri tentang semua yang telah terjadi.


"Cira…!" Panggil Bayu. Namun Cira masih betah pada pikirannya hingga tidak mendengar panggilan tersebut.


"Cira…!" Panggil keras Bayu sembari menyentuh punggung tangan Cira yang ada di pangkuan wanita itu.


"Iya." Balas Cira sadar dari lamunannya.


Tatapan mata keduanya bertemu. Saling bertanya dan mencari tahu apa yang terjadi?


"Ada apa? Apa yang di katakan oleh tuan Bara?" Tanya curiga Bayu.


Cira tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak. Menetralkan pikiran, hati dan emosinya.


"Tidak ada hal yang penting. Aku di berikan ijin untuk pulang lebih awal. Itu saja." Balas Cira ingin membuat tenang dan Bayu tidak curiga kepadanya.


"Sebaiknya kita makan siang dulu, dan kita bahan materi berkas yang ingin kamu ketahui." Ungkap Cira ingin mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Baiklah. Setelah itu, akan aku antar kamu pulang."

__ADS_1


"Tidak. Jangan…!!" Cegahnya dengan sedikit keras.


Bayu mengerutkan alisnya melihat heran akan sikap Cira.


"Aku bisa pulang di antar oleh Sarah." Balas Cira cepat. Ia pun menghela nafasnya sejenak.


"Aku ingin di sini sampai sore. Aku harus menyelesaikan beberapa laporan cafe selama aku tinggalkan kemarin." Ucap Cira mencari alasan yang tepat agar Bayu percaya dan tidak curiga apapun.


Bayu masih diam mengamati raut wajah Cira. Ia ingin melihat dan tahu apakah ada sesuatu yang berubah dan lain dari sosok kekasihnya tersebut.


"Ada apa?" Tanya curiga Cira akan tatapan selidik Bayu ke arahnya.


'Kamu sedikit berbeda dan berubah.' Gumam Bayu di dalam hatinya. Namun akan ia pendam, ia tidak ingin mereka memiliki masalah hanya karena kecurigaan Bayu yang tidak jelas. Itulah menurutnya.


"Tidak ada. Ayo kita makan, dan kamu harus segera meminum obat mu." Balasnya.


"Terima kasih sayang." Balas Cira berusaha tersenyum tulus dan bersikap seperti biasanya, agar Bayu lebih tenang untuk tidak berpikiran yang macam macam tentangnya saat ini.


Bayu menatap wajah cantik yang tersenyum kepadanya. Hatinya menghangat dan tenang melihat senyum manis yang begitu tulus dan penuh binar cinta di dalam sorot mata itu. Bayu membelai lembut dan penuh kasih sayang pucuk kepada Cira. Sikap yang selalu Bayu lakukan, jika ia ingin menunjukkan kasih sayangnya kepada wanita yang begitu membuatnya tergila-gila.


"Selalu lah seperti ini. Bahagia dan tersenyum. I love you my queen." Ungkap perasaan Bayu yang begitu tulus. Cira tahu dan dapat merasakan itu.


"I love you too my Lord." Balas Cira dengan tulus dari hatinya. Setidaknya ini untuk terakhir kalinya, sebelum semuanya terungkap. Cira ingin merasakan cinta dan kasih sayang itu dari Bayu.


Mereka menikmati kebersamaan dan kebahagiaan itu berdua. Makan siang, dan selanjutnya membahas materi berkas yang ingin di ketahui oleh Bayu. Penuh dengan kehangatan dan canda tawa.


Beberapa jam telah berlalu. Seperti yang sudah di sepakati oleh mereka berdua. Bayu akan kembali ke kantor sendiri, sedangkan Cira masih berada di dalam ruang kerja cafenya.


Setelah memberikan sebuah pelukkan hangat dan kecupan mesra pada bibir Cira, Bayu berlalu dengan hati yang cukup bahagia dan tenang. Kerinduannya telah terobati setelah bertemu dan bersama Cira beberapa jam hari ini.


Cira di temani oleh Sarah. Sarah menatap curiga dan intens sahabatnya tersebut. Ia tahu jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Cira.


"Katakan, ada apa sebenarnya?" Tanya curiga Sarah dengan tatapan tajam mengintimidasi.


Cira diam dan masih mengamati. Ia sadar tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Sarah. Sarah adalah satu-satunya sahabat yang akan tahu apapun tentangnya.


"Aku tahu ada sesuatu yang telah terjadi padamu, dan kamu juga tahu. Aku akan sangat mudah mengetahui apapun yang kamu coba sembunyikan dariku." Ungkap Sarah mencoba untuk menggertak Cira.


Cira tahu Sarah dapat melakukan apapun yang ia katakan tadi.


"Aku tahu. Tidak akan ada yang bisa aku sembunyikan darimu." Balas Cira pada akhirnya membuka suara.


"Baiklah, kalau begitu katakan, apa yang terjadi…?"


"Dua hari yang lalu aku sudah menikah. Saat ini aku sudah sah menjadi istri kedua seseorang." Ungkap Cira dengan sekali tarikkan nafasnya.


Hening sejenak, Sarah mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Cira.


"Sudah menikah dan menjadi istri kedua." Gumam Sarah pelan mencoba mencerna apa yang tadi Cira katakan.


Sarah menatap serius sahabatnya tersebut, ia ingin mencari sebuah kebohongan dari perkataan dan sorot mata Cira. Namun, tidak ada kebohongan apapun yang ia lihat. Sarah mencoba untuk tenang dan ingin bertanya sekali lagi, dan ia berharap apa yang di katakan oleh Cira hanyalah lelucon saja.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2