GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
45. Perasaan Tidak Menentu Cira.


__ADS_3

***Rumah Sakit***


Beberapa jam telah berlalu, Cira sadarkan diri pada pukul 7 malam. Ia merasakan sebuah panggilan alam yang ingin segera di tuntaskan.


Perlahan Cira membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya yang ada di dalam ruangan itu. Bara tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya di rebahkan ke atas ranjang perawatan Cira. Tangannya yang besar dan terasa hangat masih erat menggenggam tangan Cira. Wanita itu dapat merasakan ada yang tengah menggenggam tangannya.


Cira melihat ke sekeliling dan tahu jika ruangan itu adalah ruang perawatan rumah sakit. Dia pun melihat ke arah sampingnya, di mana Bara tengah tertidur sembari duduk.


Mata bulat wanita itu melihat intens wajah tampan yang terlihat lembut dan memiliki aura yang benar-benar kuat. Hingga Cira merasa betah melihatnya berlama-lama, tetapi karena ada yang ingin segera ia tuntaskan. Dia harus cepat bangun dan pergi ke toilet.


Pergerakan yang Cira lakukan untuk menarik tangannya dari genggaman Bara, membangunkan pria tersebut. Bara melihat ke arah Cira yang berusaha untuk bangkit dan duduk, pria itu tahu ada sesuatu yang di inginkan oleh Cira.


"Kamu sudah bangun…!" Kata Bara menatap Cira dengan lembut.


Cira hanya diam. Dia berpikir, Bara masih di sana. Cukup membuatnya heran karena di temani oleh pria dingin yang sudah menjadi suaminya itu. Pria yang terkadang mungkin tidak akan benar-benar peduli pada hal seperti itu.


"Ada apa?" Tanya Bara karena Cira hanya diam melihat ke arahnya.


"Tuan masih di sini." Balas Cira, dia tidak pernah berpikir dan menyangka jika Bara akan sudi menemaninya saat ia terkapar di rumah sakit.


Masih lekat dalam ingatannya di saat awal awal pernikahannya beberapa bulan yang lalu. Cira sakit karena siksaan dari pria itu, tetapi Bara sama sekali tidak peduli dan meninggalkannya di apartemen hingga ia pulih dan sehat kembali.


"Iya, aku masih di sini. Apa ada yang tidak nyaman yang kamu rasakan sekarang?" Tanyanya terlihat benar-benar tulus dengan wajah yang terlihat lembut.


"Tidak, tuan." Balasnya sembari menggelengkan kepalanya.


Cira mulai menggerakkan tubuhnya, karena panggilan alam yang mendesaknya untuk segera di tuntaskan. Buang air kecil.


"Permisi tuan."


"Mau ke mana?" Tanya Bara melihat pergerakan Cira ingin turun dari ranjangnya.


"Saya mau ke toilet tuan."


"Biar aku bantu." Balas Bara cepat, ia pun mematikan jalan infus dan meraih botol tersebut.


"pegang ini." Perintah Bara sembari memberikan botol infus kepada Cira.


Tanpa pikir panjang, Bara dengan sigap dan cepat mengangkat tubuh Cira ala bridal. Wanita hamil itu terkejut akan apa yang Bara lakukan, karena kakinya masih sehat untuk jalan sendiri. Jadi tidak perlu untuk di gendong seperti itu.


"Tuan saya bisa jalan sendiri, kaki saya tidak sakit." Balas Cira cepat dengan tatapan yang terkejut akan tindakan Bara.


"Sudah diam, jangan banyak komentar." Balasnya sembari melangkah menuju ke arah kamar mandi. Cira hanya bisa diam dan patuh akan perkataan Bara.


Perlahan tubuh Cira di dudukan ke atas closed, lalu menggantungkan botol yang di pegang oleh Cira pada sebuah gantungan khusus untuk botol infus. Cira hanya dapat melihat setiap pergerakan yang di lakukan pria yang terkadang dingin dan hangat padanya. Pria yang tidak dapat Cira tebak akan bersikap seperti apa kepadanya.


"Kalau sudah selesai, panggil aku. Aku akan menunggumu di depan pintu. Kamu mengerti?" Tanyanya. Cira hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan tatapan yang cukup heran melihat sikap lembut Bara.

__ADS_1


Bara meninggalkan Cira di sana. Agar wanita itu dapat melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Bara tersenyum tipis saat berdiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia bahagia melihat istri keduanya itu terlihat lebih baik dan sehat kembali.


Bara meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya, ia ingin mengirimkan pesan kepada Kai. Meminta Kai untuk membawakan makan malam untuk dirinya dan Cira. Tidak lupa Bara mengatakan untuk membawa makanan sehat yang di perlukan oleh ibu hamil.


Kembali ia tersenyum jika mengingat tentang kehamilan istri keduanya itu. Ada anak kandungnya saat ini di dalam perut Cira. Sungguh kebahagiaan yang tidak dapat Bara ungkapkan dengan kata kata.


"Tetap sehat untuk kalian berdua. Papa akan selalu menjaga kalian, karena kalian berdua adalah milik papa." Gumam Bara pelan sembari tersenyum bahagia saat memanggil dirinya dengan sebutan seorang Papa.


Beberapa saat telah berlalu, Cira datang dan membuka pintu kamar mandi itu. Sontak Bara melihat ke arah belakangnya, dan menemukan Cira tengah berdiri di sana sembari memegangi botol infusnya.


"Kenapa tidak panggil aku?" Tanya Bara.


"Tidak apa apa tuan, saya masih bisa jalan sendiri. Saya sudah cukup sehat sekarang." Balas Cira tidak ingin di gendong lagi.


"Apa kamu yakin?" Tanya Bara tidak percaya. Wajah Cira masih terlihat pucat.


"Iya tuan, saya yakin." Balas Cira menatap dengan anggukkan kepalanya.


"Baiklah, sini biar aku yang membantumu membawa botol infusnya." Balas Bara mengalah sembari meraih botol infus dari tangan Cira. Sebenarnya dia masih ingin menggendong Cira, mendekap wanita itu dalam pelukkannya.


Rasa sayangnya timbul begitu saja, ingin selalu dekat dan melindungi Cira dan juga bayi yang ada di dalam kandung wanita itu. Bara hanya dapat mengikuti apa yang di inginkan wanitanya, merangkul pundak Cira sudah cukup membuatnya puas saat ini.


Mereka melangkah kembali ke ranjang perawatan Cira. Perlahan Bara membantu Cira untuk duduk bersandar pada sandaran ranjangnya, dan kemudian menggantung kembali botol infus yang ia pegang.


"Apa posisinya sudah nyaman?" Tanya Bara begitu perhatian, ia tidak ingin Cira dan bayinya merasa tidak nyaman.


"Iya, sudah tuan." Balas Cira sembari menganggukkan kepalanya dengan pandangan heran melihat sikap Bara.


Cira melihat ada yang beda dari sikap ramah dan baik Bara. Begitu penuh perhatian dan lembut. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya saat ia tidak sadarkan diri tadi? Itulah yang Cira pikirkan, melihat perubahan sikap Bara.


"Ada apa?" Tanya Bara terlihat aneh melihat tatapan Cira kepadanya.


"Tuan, apakah ada yang terjadi saat tadi saya tidak sadarkan diri?" Tanyanya ingin tahu.


Bara melihat intens ke arah wanita itu. Dia pun berpikir apakah kabar kehamilannya harus di katakan sekarang? Cira harus tahu kalau sekarang ia sedang hamil, agar bisa menjaga diri dan kandungnya dengan baik. Cira berhak tahu kabar tersebut.


"Ada apa tuan? Mengapa anda diam saja?" Tanya Cira merasa ada yang aneh dan curiga kalau ada yang telah terjadi.


Bara duduk di samping Cira menghadap ke arah wanita itu. Cira masih melihat intens ke arah wajah Bara yang sekarang terlihat serius.


"Sebenarnya, memang ada yang telah terjadi sewaktu kamu tidak sadarkan diri tadi." Ucap Bara terlihat serius sembari menggenggam tangan Cira dengan lembut dan hangat.


Cira terdiam dengan pikiran dan perasaan yang tidak menentu. Ada apa sebenarnya dengan dirinya?


"Saat ini…!" Ucapnya terhenti sembari meremas lembut tangan Cira.


Wanita itu melihat sejenak ke arah tangannya yang di remas, kemudian melihat kembali ke arah wajah serius Bara.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu harus menjaga diri dengan baik, karena kamu tidak sendiri lagi." Ucapnya. Cira semakin tidak mengerti maksud perkataan Bara kepadanya.


"Ada apa tuan? Mengapa tuan mengatakan seperti itu? Sebenarnya ada apa dengan saya? Tolong katakan dengan jelas" Tanya Cira ingin kejelasan dari Bara.


Bara yang di tanya, dan melihat raut cemas serta penasaran Cira terlihat lucu dan menggemaskan di matanya. Tidak tahan untuk tidak tersenyum, dia tidak dapat menahan kebahagiaan untuk menyampaikan kabar baik itu kepada Cira. Kabar kehamilannya.


"Saat ini kamu sedang hamil. Kamu sudah berhasil mengandung anakku. Anak kita." Ucapnya dengan penekanan setiap kata-katanya.


Satu, dua detik Cira masih terdiam untuk mencerna perkataan Bara saat ini. Kata kata hamil dan mengandung yang di katakan Bara dapat Cira mengerti dengan jelas, namun ia ingin lebih memperjelasnya lagi.


"Hamil…saya sekarang hamil dan mengandung anak tuan." Ucap Cira memperjelas.


"Iya, kamu sekarang hamil dan mngandung anak kita." Ucapnya dengan memperjelas perkataannya. Bara tersenyum bahagia melihat mimik wajah terkejut tidak percaya Cira saat ini.


Cira tidak dapat mempercayai apa yang telah terjadi, jika dirinya sekarang hamil dan berhasil mengandung anak keturunan dari Bara Daimos. Apakah itu nyata? Cira terdiam akan kebenaran itu, dalam hatinya ada rasa senang, lega sekaligus sedih.


Lega karena penantian dan usahanya beberapa bulan ini membuahkan hasil seperti apa yang ia harapkan. Senang akan kehamilannya yang telah berhasil mengandung anak keturunan dari keluarga Daimos, sehingga jalannya untuk balas dendam semakin dekat. Sekaligus sedih karena itu artinya dia semakin jauh dari Bayu dan cinta pertamanya tersebut.


"Saya hamil, sekarang saya mengandung anak tuan." Ucapnya pelan dengan nada yang terdengar tidak bersemangat.


Bara tahu ini pasti sangat mengejutkan Cira. Pria itu melepaskan genggaman tangannya, lalu mencari sesuatu dari laci nakas di samping ranjang perawatan Cira. Bara memberikan sebuah kertas hasil photo USG yang tadi di berikan oleh David kepadanya. Hasil photo USG bayi mereka.


"Lihat ini, anak kita." Ucap bara tersenyum bahagia memperlihatkan hasil photo USG itu kepada Cira.


Cira melihat hasil photo USG tersebut. Ada perasaan yang kini tercampur aduk di dalam hatinya. Matanya menghangat dan berkaca-kaca melihat hasil photo USG itu. Itu anaknya, bayi yang ada di dalam perutnya saat ini. Air matanya tidak dapat ia tahan lagi meluncur begitu saja.


"Ini seorang bayi." Ucap Cira melihat ke arah Bara dengan pandangan tidak percaya.


"Iya. Itu bayi kita." Balas Bara tersenyum bahagia melihat ke arah Cira.


"Aku benar-benar hamil." Ucapnya di sela-sela rasa harus dan isak tangis yang merasakan begitu banyak perasaan di dalam hatinya.


Bara dapat melihat jelas, bagaimana Cira saat ini? Wanita itu menangis dengan perasaan yang tidak dapat Bara ketahui. Bara hanya tahu, kalau saat ini Cira merasa terharu akan berita kehamilannya. Bara mencangkup wajah Cira dengan kedua tangannya, dan menghapus air mata itu dengan lembut dari wajah Cira.


"Jangan menangis. Kamu harus selalu bahagia, kamu harus tetap sehat dan selalu bahagia bersama anak kita, bayi kita." Ucap Bara dengan lembut dan hangat. Cira dapat melihat begitu lembut tatapan mata Bara, dan hangatnya perhatian pria itu kepadanya.


Kembali Cira terisak akan perkataan Bara. Hatinya tidak menentu dengan begitu banyak perasaan yang sekarang ia rasakan di dalam hatinya. Isakan yang tidak dapat Bara mengerti dengan jelas, apa yang sebenarnya Cira alami.


Bara hanya dapat memeluk Cira dan berusaha memberikan sebuah ketenangan kepada wanita hamil itu, istri keduanya tersebut.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2