
Di balkon lantai dua sebuah sekolah SMK, segrombolan genk cewek berkumpul. Mereka duduk duduk di bangku yang tertata rapi. Ada satu nangkring di pagar. "Im aku boleh minta sesuatu gak ?"
“apaan?” Tanya Ima
"tapi jangan marah yaa”
“Iya cepetan apaan”
“Buka topeng mu!! hahahaha" kata Rossa meniru judul lagu band terkenal di jaman itu. Tawa pun meledak di antara genk cewek itu. Ima gadis yang paling bermakeup tebal di antara mereka juga ikut tertawa. “Woooooiiii turun wooooiii. Cah wedok penekan koyo ketek ( anak perempuan manjat manjat kaya monyet)” suara dari bawah mengejutkan Rossa. Guru BP meneriakinya dari bawah. Ia pun melompat turun dan berlari masuk kelas. Berharap guru tadi tak mempermasalahkan prilakunya lebih panjang. “Sukurin makanya jangan suka ngledekin aku” teriak Ima. Gadis yang berlari menuju kelas pemasaran 2 itu tak menghiraukannya.
Rossa gadis yang tingginya tak lebih dari 150 cm. Berkulit putih berotak encer. Satu satunya kebanggaan yang bisa ia banggakan. Otak encernya yang datang dari hasil belajar tiap hari, bahkan untuk main pun tak sempat. Ia kutu buku sejati. Gadis yang bisa meminjam lima novel sekaligus dengan pinjaman kartu perpus temannya tentunya.
Pemilihan ketua osis baru dimulai. Tiap tiap kelas dua harus memiliki calon ketua osis. Mereka harus kampanye dari kelas kekelas. Yang paling menakutkan kampanye di kelas tiga. Semacam ospek dulu terulang lagi. Berbagai pertanyaan yang menyulitkan tentang visi dan misi calon ketua osis atau tentang apa saja akan hadir. Pertanyaan pun dengan berbagai macam bahasa. Dari bahasa inggris, sampai jawa halus. Harus di jawab dengan bahasa yang sama.
“kak mau kampanye” takut takut jubir itu mendekati kelas praktikum komputer. “Oh iya silahkan, dari partai apa?” senyum Janna sok ramah, namun demi semua komputer di lab itu senyum itu mengandung keganasan. Seperti senyum harimau jomblo. Pertanyaan demi pertanyaan pun dimulai. Tangan anak anak kelas dua itu mulai berkeringat dingin. “Mana nih pertanyaan inggrisnya?” tanya Loly bermaksud memanggil Rossa. Yang di beri tugas memberi pertanyaan bahasa inggris. “Nohhh orangnya molor di bawah!” tunjuk Ima pada seonggok daging yang molor di atas lantai beralaskan karpet itu. “ Kalian beruntung dek. Jubir kita lagi tidur, jadi gak ada pertanyaan bahasa inggris. Kalian boleh pergi.” usir Janna. Adik adik kelas itu menampakkan muka leganya dan segera berlalu. “ Ross Ros Rossss bangun wooyy. Ni praktek komputer mau di lanjut lagi” suara Ima membangunkan Rossa.
“Lah, mana kampanyenya. Aku kan belum ngasih pertanyaan.” jawab Rossa sambil mengucek mata di balik kacamata minusnya“ lu molorrr” jawab teman Rossa serempak. Gemas dengan cewek satu itu “Hehehehehe maaf habis enak gini. Ruangan ac, bawah karpet. Gak kotor lagi kan enak buat tidur." jawab Rossa kembali duduk di kursinya. “Ross Ros. Muka lumayan, otak encer, cuman sayang rada gila” umpat Ima. Rossa hanya cengengesen menanggapinya.
__ADS_1
Hp jadul monoponik milik Rossa bergetar. Ada pesan masuk. Ternyata dari PPL yang tadi siang meminta nomer Rossa.
'Dek gak ikut ngajar pramuka'
'Gak pak, enakan di rumah aja'
'Panggil kakak aja lagi kalo di luar kelas'
'Oke kakak'
'Ikut ngajar gih, aku juga masih di sekolah bisa ketemu aku lho'
'Lha kenapa?'
'Males maen tenda tendaan, maen masak masakan wong aku masak telor aja gak bisa baliknya'
'kamu tuh malesan yaa'
__ADS_1
Rossa mulai emosi di bilang malesan. 'Yaa bukan males kak. Emang bisa jamin ikut pramuka bisa jadi presiden? Gak toh. Bisa jamin langsung mandiri tiap hari masak sendiri. Gak juga kan. Lagian aku malu masak dateng dateng ngajar pramuka wong udah gak ikut dari kelas dua'.
Esoknya terdengar gosip Rossa gak cinta pramuka. “Gosip dari mana tuh jelek bgt” Rossa cemberut. “Dari Guru PPL PKN yang kemaren minta nomer luu. Kowar kowar dia kemaren sore” jawab Ima , ia juga ngajar pramuka kemarin sore. “Cari masalah tuh guru. Ganteng kagak belagu iya!” Rossa semakin manyun
Tibalah pelajaran PKN di kelas Rossa. Ia sengaja memancing amarah guru PPL itu. Ia tidur saat jam pelajaran berlangsung. Saat di bangunkan guru itu, ia justru menggebrak meja dan memandang sinis ke guru itu.”Dek, kamu kalau gak suka ikut pelajaran aku gak usah kayak gitu!!! Kalo gak suka keluar aja!!!!" bentak si guru muda. “Kamu itu katanya terkenal murid yang cerdas, gak banyak tingkah tapi ternyata kelakuannya gak baik!!!” Lanjutnya. “Lha kelakuan murid yang baik gimana kak?” tanya Rossa santai
“Murid yang baik ya kalau di ajar mendengarkan bukan malah tidur kayak kamu!!”
“Kalau guru yang baik gimana kak?”
“guru yang baik ya ngajar yang baik.....”
“kalau mencemarkan nama baik siswanya gimana kak. Kowar kowar kalau siswanya gak cinta pramuka. Apa itu guru yang baik” wajah guru muda yang belum lulus itu merah padam “Yaa bukan mencemarkan itu memberi motifasi. Kalau menurut hukum......”
“Ooohhh maaf kak saya siswa yang baik bukan pengacara” potong Rossa. Guru muda itu sudah tak sanggup menahan emosinya memilih pergi dari kelas itu.
Karena pergi dengan terburu buru guru itu meninggalkan bukunya. “Lahh bukunya ketinggalan nih” kata Anna yang duduk dekat meja guru. “Sini biar aku yamg anterin” kata Rossa melesat ke ruang PPL. “Kak bukunya ketinggalan nih." kata Ross di buat secenti centilnya. “Makasih!!!!” guru itu menerima buku dengan muka masih merah padam. Rossa pun ngeliyor dengan lagak centil yang di buat buat lagi.
__ADS_1
Moga moga nanti malam ngimpi ketemu aku tuh orang. Batin Rossa.