Half Bad Girl

Half Bad Girl
baby blues


__ADS_3

Keesokan harinya si kecil sudah di antar ke ibunya. Sakitnya menyusui di awal dialami Rossa. Benar benar nyeri. Lebih nyeri dari sayatan di perut menurut Rossa. Apalagi put*ng susu Rossa bukan tipe yang keluar. Namun semangat tetap harus semangat. Hidup bayi baru bergantung padanya kini. Semangatnya itu membuat Rossa sudah bisa berjalan di sore harinya walau tertatih dan nyeri tak terkira di perut dan dadanya.


Sebenarnya ingin Rossa memanggil putrinya dengan nama Jasmine, namun ternyata nama itu susah di ucapkan oleh orang tua.


“Nama anakmu siapa le(panggilan anak laki laki dalam bahasa jawa)” tanya ayah Nicki


“Jasmine pak” jawab Nicki


“lah, anakmu wedok kok mbok kei jeneng Dasimin(lah, anakmu cewek kok kamu kasih nama Dasimin)”

__ADS_1


“Bukan Dasimin pak jasmine pake j”


“Lha iya Dasimin”


“jas pak jas.... Jasmin” Nicki melafalkannya sejelas jelasnya, namun tetap saja nama Dasimin yang keluar. Jadilah bayi mungil itu di panggil Dhira.


Lek wiwik mengajari semuanya dengan sabar. Ia dulu adalah baby sister profesional untuk bayi bayi orang kaya. Semua menurut dokter. Tak ada mitos mitos bayi yang ia ajarkan. Rossa di bebaskan makan apapun selama menyusui. Rossa merasa tertolong benar benar tertolong oleh Lek Wiwik. Jika tak ada beliau entah bagaimana merawat si kecil itu. Dua minggu setelah kelahiran Dhira lek Wiwik pulang ke Solo. Jadilah Rossa merawat Dhira sendirian.


Belum lagi karena ia lahiran sesar. Banyak sekali hujatan yang harus di terima. Katanya tak dapat pahala lah. Katanya enaklah gak ngerasain sakit. Katanya bukan wanita sempurna lah. Padahal Rossa merasa juga mempertaruhkan nyawa saat operasi. Belum lagi luka operasi yang harus dirawat di saat yang sama harus mengurus bayi. Belum bekas suntikan ajaib di punggung belakang yang masih terasa sakit bahkan saat Dhira sudah bisa jalan. Belum luka sayatan yang kadang kalau kecapekan terasa amat sangat nyeri.

__ADS_1


Baby blues ia alami. Rossa merasa anaknya beban teramat sangat. Rossa merasa terhimpit hingga tak bisa bernafas. Dengan uraian airmata Rossa menceritakan semua pada Nicki. Dengan telaten dan sabar Nicki mengajak Rossa berkonsultasi dengan psikiater.


Psikiater meminta Rossa untuk menulis minimal satu hal yang membuatnya bahagia di hari itu. Hanya satu hal saja selama seminggu. Kemudian seminggu berikutnya Rossa diminta kembali. “Apa yang anda rasakan setelah menulis ini bu?” tanya si psikiater


“Ternyata dalam satu hari saya masih bisa bahagia dok. Bahkan lebih dari satu kali.” Senyum Rossa


“ Semua tergantung dari anda memandangnya bu. Jika ibu memandang hari ini melelahkan, maka sungguh yang terlihat adalah pekerjaan yang menggunung entah cucian, setrikaan, piring kotor dan lain lain. Namun jika anda melihat hari ini secara optimis, hari ini akan indah, walaupun anda harus dikejar angsa dan masuk selokan pun akan terasa lucu. Bukan sedih.” Jelas panjang lebar si psikiater.


Rossa tersenyum lebar. Ia membenarkan apa yang psikiater ini katakan. Ya, semua terlihat dari mana sudut pandang kita melihat. Hidup itu sesimpel itu. Lihat yang bercahaya, yang indah, yang positif. Jangan lihat sisi negatif, gelap, dan jahat. Lihat semuanya dengan rasa syukur. Dengan terimakasih yang amat sangat pada Allah. Pencipta langit bumi dan seisinya. Maka semua akan serasa indah. Maka beban itu akan hilang. Beban hidup, masalah hidup adalah cara lain agar hal kecil bisa kita syukuri.

__ADS_1


Dengan kesabaran Nicki dan keseriusan Rossa akhirnya Rossa terbebas dari baby blues itu.


__ADS_2