
Hari itu juga Rossa mendapat balasan dari teman temannya. Sepatunya raib entah kemana setelah ia sholat. " haduh kena batunya aku sekarang. Ngerjain emak emak pendendam" Rossa ngedumel sambil celingkuan mencari sepatunya. Memang teman sekelas Rossa kebanyakan lebih tua darinya. " cari apa mbak?" tanya seorang lelaki berkulit sawo matang, berhidung mancung, berperawakan tegap.
" harta karun mas, siapa tau ada yang dari peninggalan majapahit" jawab Rossa asal
" ohh harta karun. Kalo gitu cari sendiri deh, tapi kalo sepatu putih ada bunga di sampingnya saya tau" kata cowok itu hendak berlalu meninggalkan mushola. " eeehhh mas iya itu maksudnya hehehe kok mas tau sih emang mas turunan orang pinter yaa. bisa nebak apa yang saya pikirkan. di mana mas itu harta berharga saya. masa mas rela saya nyeker" Rossa menampakkan muka melasnya. " tuh di pojok belakang tong sampah" jawab mas mas baik hati itu. Rossa pun berlari kepojok mushola itu. " ngomong ngomong saya bukan turunan mbak. Saya tanjaakan karena lebih tinggi dari mbak yang semampai" Rossa hanya tersenyum menanggapi guyonan cowok itu. Ia pun berlalu setelah memakai sepatunya. " gak terimakasih dulu gitu mbak."
" ehhh iya mas terimakasih yaa berkat mas saya gak jadi nyeker"
" Said Tama panggil aja tama" cowok itu mengulurkan tangannya
"Rossa panggil aja Ross" menerima uluran tangan. 'ciye ciye' pun datang dari gedung lantai dua dekat mushola. ternyata teman teman sekelas rossa memperhatikan dari depan kelas mereka.
" mas jangan di bantuin napa. dia itu usilnya gak ketulungan" teriak mbak Galih
__ADS_1
"iya mas jangan deket deket nanti ketularan usil" sambung mbak Diah
"kayak di hutan aja kalian!!! cewek cewek teriak teriak!! gak ada sopan santunnya!!!!" bentak pak pembimbing tinggi besar hitam. Rossa pun kaburr gak mau lagi berurusan dengan pembimbing satu itu. Teman temannya pun ikut menciut. Masuk kelas beraturan.
" mau pulang Ross?" sapa Tama seusai kursus. " ehhh mas Tama. iya mas. Mari duluan yaa" kata Rossa sambil menaiki sepeda onthelnya. Iya Rossa hanya memakai sepeda untuk pergi ke kursusan. Karena gak punya motor dan jarak dari rumah ke tempat kursusan lumayan dekat juga. Dulu waktu sekolah di antar jemput bapak, karena cukup jauh. Sekarang ia lebih suka naik sepeda onthel. Gak ngerepotin bapak juga kan.
Dua hari berselang ban sepeda Rossa kempes. "haduh lha ini pulangnya gimana aku" Rossa bingung melihat sepedanya kempes. Celingak celinguk mencari bengkel sekitar tempat kursusan. " kenapa Ross?" tanya Tama "ini mas sepeda ku kempes dua duanya. Udah sore lagi. Mana ada bengkel bukak" gerutu Rossa. " di tambal dikelas ku aja Ross. kita ada kok alat buat nambal." jawab Tama yang kursus bengkel mobil di situ. " tapi ini kelasnya udah tutup. Gimana kalau sepeda kamu di titipin di sini dulu. Besok tak tambalin"
" oke lah, tak telpon bapak buat jemput" Rossa berbinar binar karena dapat solusi.
"ya udah sana kalo mau loncat loncat kaya pocong apa ngesot kaya suster ngesot" goda Tama. "ya udah deh makasih sebelumnya mas Tama" kata Rossa sambil melompat ke boncengan motor Tama.
Motor pun melaju pelan membelah jalanan sore itu. Selama di perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan. " nanti belok kanan trus masuk gang di ujung sebelum perempatan ya mas" arahan Rossa " baik nona manis" goda Tama
__ADS_1
"ihh mas Tama aku tuh gak manis tau"
"trus"
"aku tuh cantik, imud......"
"jahilll, tinggi semampai" lanjut Tama. mereka sudah sampai depan rumah Rossa.
"lohh kamu kenapa di anterin orang?"
ibunya Rossa khawatir. "enggak apa2 buk tadi sepeda Rossa kempes, trus di tolongin mas Tama pulang. Besok juga mau di benerin mas Tama" jelas Rossa. Setelah sedikit berbasabasi dengan orang tua Rossa, Tama pun pamit. " makasih ya mas. mau repot2 antar aku"
"sama sama Ross kebetulan juga searah kok. pulang dulu yaa
__ADS_1
tinggalin jejak yuks😘