Half Bad Girl

Half Bad Girl
jadian


__ADS_3

Rossa menjelaskan satu satu mulai ia selsai membuat sim sampai apa yang ia dengar di warung. Kalimat terakhir ia terlihat emosi “ kamu pikir aku cewek mata duitan. Kalau aku mata duitan aku gak peduli Tama suka sama aku. Aku gak peduli aku jadi pelampiasan atau apa. Yang penting aku bisa jadi juragan kos. Kaya raya gak perlu kerja di pabrik kayak sekarang dan bertemu kamu yang nyebelin” omel Rossa. “Trus giman?” Setyo bertanya


“Gimana apanya??!!!”


“Kamu tau kan aku suka sama kamu? Kamu mau kan jadi pacarku?” Setya mengambil kesempatan. Rossa diam.


“Gak mau?? Kamu kira selama ini aku Cuma teman? Kamu gak ngerasaain perasaan ku ke kamu? Atau kamu pura pura gak ngerasa?” Rossa masih diam. Ia sebenarnya masih malas dengan yang namanya pacaran. “Jawab Ross!!” Setya membentak lagi. Rossa tergagap.


“Kita cuman teman Set. Aku gak ngerasaain perassan lain ke kamu.” Setya tersenyum kecut. “cuman temen yaa. Kamu bener bener gak ngakuin perasaan kamu ke aku. Oke kita cuman temen.” Kata Setya berdiri berjalan meninggalkan Rossa. Setya kembali ke pabrik meski jam istirahatnya masih setengah jam. Rossa diam di pinggir sawah tak jauh dari pabrik. Tempat dirinya dan Setya berdebat. Iya kah dia cuman teman? Kenapa sakit hatiku di tinggalkan seperti ini? Batin Rossa


Setelah kejadian itu Setya menjauh dari Rossa. Layaknya hanya teman sift biasa. Tak ada canda tawa yang biasanya mereka buat. Setya begitu dingin sekarang. “ Set, sana berdiri depan oven” kata mas Ridho

__ADS_1


“Ngapain biar tambah gosong nih kulit”


“Enggah biar bisa cair.” Setyo diam saja ia tau arah pembicaraan itu. “Cie yang lagi marahhan. Di depan oven sana gih biar agak cair, sekarang dingin banget kaya es batu” goda mas Ridho yang tau kejadian sesungguhnya. Teman yang lain terbahak bahak. “ biasanya berdua aja ramainya kayak pasar. Dunia seakan milik berdua. Ehhh sekarang ber enam aja kok masih sepi.” Tambah mbak Anna. Rossa melirik Setya. Yang dilirik tahu pandangan mereka bertemu tapi hanya diam. Setya sama sekali mengacuhkan Rossa.


Dua minggu kemudian keadaan masih sama. Rossa kehilangan senyumnya. Teman bercandanya, teman penyemangat kerja, teman bercerita, teman gila ahhh Rossa merindukan sosok Setya. Sosok yang selalu mendampingi, menjaga, dan pendengar yang setia. Sebenarnya dua orang itu sama sama tersiksa, namun tak ada yang mau mengalah mengakui. Hingga Rossa yang lebih dulu tak tahan dengan semua ini. “Setyaaaaa, yang ganteng imud imud dan amit amit yuk kita kayak kemarin lagi yuk. Udahan ngambeknya. Aku gak semangat kerja tau.” Kata Rossa seimud imudnya. “boleh asal syaratnya harus kamu penuhi.”


“Apa?”


“Aku jadi pacar kamu gitu?”


“Mau gak?” kata Setya tak menyia nyiakan kesempatan. Rossa diam berpikir. “Kamu kehilangan aku kan. Kamu kangen aku kan. Ya udah itu namanya kamu cinta sama aku!”

__ADS_1


“ya udah kita pacaran” kata Rossa lirih


“apa?”


“Iya kita pacaran”


“Gak kedengeran”


“IYAAAAA KITA PACARAN!!!!!” teriak Rossa sekencang kencangnya. Membuat para penghuni warung itu kaget. Sorakan pun terdengar bersamaan. Senyum jahil Setya mengembang. “iya sayang iya kita pacaran gak usah keras keras. Tuh kedengeran orang sewarung” kata Setya sok bijak. Rossa yang wajahnya semerah tomat menutup wajahnya dengan telapak tangan meringkuk di pojokan MALUUUUUU


Setya langsung memanfaatkan wewenangnya sebagai pacar. Ia menghalau beberapa cowok yang mengejar Rossa. Memperkenalkan diri sebagai pacar baru. Mereka yang merasa kalah bersaing mundur teratur. Sebagian dari mereka tau Setya adalah saingan terberat mereka, karena bisa mendekati Rossa sebagai teman. Secara waktu pun mereka sangat intens bertemu. Hampir setiap hari selama 8 jam.

__ADS_1


__ADS_2