
HPL bayi Rossa di perkirakan pertengahan Januari. Namun karena akan secar di jadwalkan tanggal muda di bulan januari. Rossa dan Nicki disuruh memilih tanggal. Mereka memilih tanggal 4 Januari. Jadilah bulan Desember ini mereka mengurus surat surat keperluan operasi secar.
25 Desember Rossa cek kandungan memastikan kalau semua baik baik saja sekaligus mohon izin dokter untuk pergi agak jauh. Nicki dapat bonus akhir tahun cukup lumayan. Ia ingin menghabiskan malam tahun baru di ketinggian. Menikmati suasana Jogja saat tahun baru sebelum melahirkan. Izin di berikan karena semua baik baik saja.
30 Desember sehari sebelum berangkat. Rossa merasakan sesuatu merembes, tapi tidak pesing. Itu artinya ia tidak ngompol. Namun celana dalamnya basah. Ah, Rossa menganggap mungkin kencing tapi sedikit jadi tidak bau. Malam harinya Rossa merasakan lagi. Kali ini lebih banyak. Tidak bau juga. Rossa mulai curiga dan mendaftar priksa dokter kandungan secara online. Membatalkan perjalanan mereka esok hari.
Sampai di rumah sakit dan giliran diperiksa dokter. “Saya harap bukan ketuban bu, tapi saya harus mengadakan cek dulu ya. Silahkan ibu berbaring.” Pemeriksaan kali ini bukan usg seperti biasanya. Tapi Rossa harus melepas celana dalamnya dan dimasuki semacam kertas untuk mengecek air apa yang merembes. Malunyaaaaa. Apalagi sang dokter cowok.
__ADS_1
“Ini ketuban pak, bu. Sepertinya harus dilakukan pembedahan segera karena ketuban sudah rembes. Silahkan menunggu di ruang sebelah suster akan menuntun anda selanjutnya.” Kata dokter Bambang bagaikan kejutan tahun baru yang mendebarkan
Nicki dan Rossa kalangkabut. Mereka sudah menjadwalkan Lek Wiwik datang tanggal 3. Belum membawa pakaian ganti dan pakaian bayi. Padahal operasi diadakan sore itu juga. Artinya sore itu mereka akan bertemu si kecil yang selalu aktif dalam perut. Si kecil yang menurut USG berjenis kelamin perempuan.
Lek Wiwik di hubungi dan ikut kalangkabut. Secepat mungkin ia harus sampai Jogja. Langsung tancap gas menuju terminal terdekat.
Operasi mundur dua jam. Rossa yang dijadwalkan operasi jam 4 sore mundur dua jam karena jam makan terakhir Rossa terlalu dekat. Pukul 3 sore seorang perawat datang “Selamat sore bu, saya akan mencukur bulu2 dan memasang kateter selang pipis. Mohon ijin yaa”
__ADS_1
“Bulu kemalu*n bu.”
“Haaaa. Saya malu sus saya cukur sendiri saja.”
“Memang bisa bu?” Rossa terdiam sejenak. Benar juga perutnya yang membincit tak mungkin bisa menyukur sendiri. Jangankan menyukur. Untuk rukuk waktu Sholat saja susah. “Maaf ya sus, maaf sekali.” Kata Rossa sambil menutup mukanya. Saat suster mulai melakukan tugasnya. “Ini sudah tugas saya bu, gak perlu malu.” Tetap saja mantan bad girl itu malu minta ampun.
Selsai itu Rossa di suruh mandi dan di pasangi kateter. Memakai baju rumah sakit tanpa celana dalam dan bh.
__ADS_1
Tiba di ruang operasi. Entah ada berapa orang Rossa tak tahu sangking tegangnya. Mula mula di suntik di bagian tulang belakang. Sakitnya lumayan sekali. Kemudian di salib dengan ntah alat apa saja terpasang. Sebuah tirai di pasang di dada Rossa menjadi penghalang melihat perutnya sendiri.
Detik demi detik terasa begitu lama untuk Rossa. Seakan suara debaran jantungnya sanggup menandingi detak detak detik jam dinding di ruangan itu. Dokter melakukan doa sebelum melaksanakan tugasnya. Suasana di ruang operasi memang tidak tegang. Justru di penuhi canda tawa oleh suster dan dokter. Namun tak bisa mengusir ketegangan di hati Rossa.