
Tak terasa sudah 6 bulan Rossa bekerja di pabrik itu. Selama itu pula parsahabatannya dengan Setya terjalin. Sahabat yang sama sama gila. Kata teman temannya yang lain. Karena sepasang sahabat ini jahilnya mintaa ampun. Siapa pun akan sial bila dikerjain dua manusia itu. Selama itu pula Setya melindungi Rossa sebisanya dari gangguan cowok cowok iseng.
Rossa mendapat cuti pertamanya. Ia mengambil cuti hari ini untuk ujian sim. Dari gaji di pabrik itu ia dapat mengkredit sepeda motor. Ujian sim berlangsung setengah hari. Jam dua Rossa keluar dari tempat ujian dengan mengantongi sim barunya. Laperr batin Rossa yang belum makan siang. Ia melajukan motornya menuju warung dekat pabrik biasa ia makan.
“Pak nitip motor yaa,” kata Rossa pada satpam depan pabrik. “mau kemana? Cuti kamu?”
“Iya cuti. Mau makan di situ,” tunjuk Rossa pada warung tempat biasa ia makan
“esteh bungkus satu. Kalo gak motor mu tak taruh tengah jalan!” kata satpam
“Yeee cari kesempatan”
__ADS_1
“Mau gakk”
“enggih juragan (iya bos)” kata Rossa sambil jalan meninggalkan satpam tadi.
Di warung itu ada televisi dan gelaran tikar cukup luas tersedia. Tiga orang cowok sedang rebahan di tikar itu mbelakangi pintu masuk warung. Rossa berjingkat jingkat ingin mengagetkan teman teman satu siftnya itu. Namun ia lebih dulu terkejut dengan percakapan mereka.
“Luu sih gak pernah mau ngaku sama tentang perasaanmu. Terjebak di friend zone kan” kata mas Ridho
“Jadi gara gara itu tu bocah gak mau sama orang orang yang ngejar ngejar dia selama ini? Kurang tajir gitu?” lanjut Erik.
“Yaa tau dehh. Kayaknya juga trauma sih sama cowok.”
__ADS_1
“gak nyadar juga sama perasaanmu ke dia. Kita aja yang cowok tau kok kamu suka dia. Masak dia gak tau?” Tanya mas Ridho.
“Tau lah mas. Dia kan banyak di perhatiin cowok, di kejar kejar. Mungkin udah terbiasa jadi gak nyadar.” Jawab Setya. Rossa tak jadi mengejutkan mereka. Segera menjauh dan keluar dari warung itu.
Ia tau objek pembicaraan tiga cowok tadi adalah dirinya. Ia tak menyangka perasaan Setya selama ini. Juga lebih terkejut alasan Setya tak mau mengungkapkannya. Karena gak tajir. Di kira aku cewe matre apa cuman ngincer duwit. Batin Rossa kesal
Esoknya Rossa marah dengan Setya. Bicara sebatas kerjaan. Tak bercanda seperti biasanya. Setya menyadari hal itu. “lu kenapa? Aku ada salah apa?” tanya Setya mendekati Rossa. Yang didekati diam saja masih dengan adonan kulit di tangannya. Setya menghentikan tangan Rossa. “ngomong dong Ros!!” Rossa menepis tangan Setya tanpa jawaban.
Setya melepas clemeknya dan menarik tubuh mungil Rossa. “kami istirahat!” Pamitnya pada teman satu sift. Yang di pamiti saling pandang. Mereka baru dua jam bekerja.”Set sakit tangan ku!!” teriak Rossa karena di seret sepanjang pabrik tanpa dilepskan. “Sett.... Aaawww sakit beneran”
“Makanya jangan sok misterius.” Melepas tanfan Rossa di ruang loker. “Maksudnya apa? Aku salah apa Ros? Aku gak akan tahan kamu diemin kayak gini tau!!” Setya agak membentak. Rossa membisu masih bingung menjelaskan dari mana. “Jelaskan!!” kini Setya membentanya sambil menggebrak lemar lokker yang di sandari Rossa
__ADS_1