
Rossa tak ingin memiliki perasaan terlalu dalam. Tak ingin patah hati. Gadis lugu setengah gila itu kini semakin gila. Ia menerima siapapun yang mengajaknya jalan. Sekedar pergi ke tempat wisata atau makan di suatu tempat. Cowok yang di kenalkan temannya ia terima semua. Jalan sekali dua kali. Cocok berlanjut tak cocok ia mundur pelan pelan. Ia ingin mencari yang paling baik dari yang terbaik.
Hubungan dengan Rahmat yang hanya menjadi pelampiasan membuatnya ‘lirik sana sini’ di belakang Rahmad. Hp android Rossa berbunyi
“Ross besok jalan yuk . Rahmad motret besok.” Chat Satria
“Kemana?”
“Maunya kemana?”
“Pantai yuk”
“Boleh. Jemput jam berapa?”
__ADS_1
“Jam 8 lebih di pom. Aku bolos kerja. Gak bilang ortu. Nanti kamu antarin dulu surat izin dokter ku ke pabrik yaa”
"Boleh" jadilah kencan antara Satria dan Rossa. Jam 8 seperempat Satria menemui Rossa di pom bensin dekat pabrik. Rossa sudah berganti baju bebas disana.
Begitulah Rossa kini. Melompat dari satu cowok ke cowok lain. Termasuk teman Rahmad, pacarnya sendiri.
“Kemarin sakit apa loe. Panu?” Tanya Hedi yang sudah tahu kelakuan Rossa kini. “Iya nih panuan. Mau lihat?” kata Rossa sambil seolah olah akan membuka baju. “jangan di sini Ross, di kamar mandi boleh yukk?” ajak Hedi. “boleh tapi matamu tak congkel dulu yaa” kata Rossa sambil tertawa. Mereka pun tertawa bersama. Rossa yang sekarang lebih fulgar berbicara. Tidak takut di cemburui, tidak takut di marahi.
Kakak Ifa menikah. Rahmad ikut menjadi panitia nikahan itu. Satria ikut membantu. Rossa tahu Satria ikut bukan karena ia teman baik Rahmad, tapi Satria ingin mendapatkan perhatian Rossa. Teman baik yang menusuk dari belakang. Ahh, bodo amat. Rossa tak peduli.
Rossa, Rahmad, dan Satria sering jalan bertiga. Seperti saat ini mereka ke pantai bertiga. “Yang, kamu gak punya temen cewek yang cantik gak?” tanya Rahmad
“Buat apa?” tanya Rossa menikmati es kelapa mudanya. “Buat si Baja hitam(julukan Satria). Masak iya jadi obat nyamuk kita terus.”
__ADS_1
“Emang mau yang tipe kayak apa?” tanya Rossa santai.
“Kayak kamu! Kamu juga boleh” Satria nyaut. Membuat Rossa tersedak. “Mau gue hajar apa?” kata Rahmad sambil tertawa. Ia mengira itu hanya candaan Satria. “Dia tuh sayangku. Lihat aja bentar lagi langsung tak nikah. Gak pake tunangan tunangan segala. Biar gak trauma dia." Lanjut Rahmad. Sambil menepuk nepuk punggung Rossa yang tersedak es klamud. Satria menatap Rossa serius. Rossa benar benar salah tingkah. Rahmad mengira Rossa salah tingkah karena ucapannya. Padahal tatapan Satria yang begitu tajam yang membuat Rossa bingung harus bersikap apa.
“Kamu harus milih sekarang. Kamu gak bisa gini terus!” kata Satria saat Rahmad sibuk memfoto pemandangan pantai itu. “Trus gimana?” tanya Rossa. “Ya kamu putusin Rahmad lah. Pacaran sama aku. Kamu pikir enak jadi aku kaya gini terus?”
“Trus kamu gak mikir perasaan Rahmad?”
“Yaa itu terserah dia lah. Yang penting aku gak mau gini terus”
“Hubungan pertemanan kalian bisa hancur.”
“Ya itu sudah pilihan.”
__ADS_1
“Putusin dia secepatnya, atau aku cium kamu di depan dia!!” ancam Satria. Rahmad kembali dengan kameranya. Ia duduk di sebelah kanan Rossa. Rossa berada di tengah tengah dua sahabat itu. “lihat deh yang bagus kan potretan ku” kata Rahmat memegang kepala Rossa menyandarkannya di bahunya. Rossa menurut melihat lihat foto sambil menyenderkan kepalanya. Tiba tiba pinggang Rossa ditarik Satria ke arahnya. Awalnya Rossa mengacuhkan tarikan itu. Lama lama semakin kuat. Rossa berdiri berpura pura minta di foto dekat pantai takut Rahmad menyadarinya. Satria mengamati sejoli itu dengan pandangan cemburu. Rossa tau itu.
Pulang dari pantai Rossa benar benar pusing. Satria mulai menunjukkan rasa sukanya pada Rossa di depan Rahmad. Persahabatan dua cowok itu sudah cukup lama. Rossa tak bisa membayangkan apa yang terjadi bila menuruti keinginan Satria. Padahal ia jalan dengan mereka berdua tak menggunakan hati. Hatinya masih hancur bersama masalalunya.