Half Bad Girl

Half Bad Girl
mencoba bangkit


__ADS_3

Jam 7 malam Rossa sampai du salon. “Mbak mau potong rambut. Sama smoothing, trus facial juga”


“Boleh tapi nanti lama dong dek. Ini kan udah malam.”


“Gak papa mbak udah izin pulang malam. Kalo mbaknya mau sih hehehehe”

__ADS_1


“Mau kok dek masa nolak rejeki” jadilah malam itu Rossa memanjakan diri di salon. Uang yang ia tabung untuk pernikahan kelak ia ambil untuk memanjakan diri.


Seorang cewek berkacamata ber rambut lurus sebahu, dengan wajah kinclong habis facial memasuki pabrik itu. Sorak sorai teman pabrik yang melihatnya terdengar heboh. Seisi pabrik yang tahu kisah pertunangan mereka berakhir. Beberapa teman mendukung Rossa dan beberapa lainnya mendukung Setya. Tergantung keyakinan masing masing. Rossa yang kini berdiri tegak menyapa siapapun yang lewat dengan ceria. Tak takut lagi di cemburui. “Ceritanya rubah penampila ini” kata Rena teman di tart. “Ia dong move on” jawab Rossa. “pagi pagi udah bikin heboh Ross” kata Hedi. Canda tawa pagi itu terasa begitu ceria. Karena Rossa lebih lepas menyampaikan apapun. Ada aura lain dalam diri Rossa yang terpancar. Aura bebas aura menjadi diri sendiri.


“Minta uang 10 ribu buat ongkos makan siang.” Ulang Setya. Rossa benar benar spechless. Mengeluarkan dompetnya mencabut uang 20 ribu menyerahkannya pada Setya. Setya berlalu setelah benerapa saat memandangi Rossa tanpa berkomentar.

__ADS_1


Teman teman Rossa ternyata berpikiran gak jauh jauh dari bayangan Rossa. “Ngapain tuh anak? Minta balikan” tanya Rena mewakili tanya semua orang di ruangan itu. Rossa menggeleng. “Trus? Ngembalikin cincin? Kalian jadi tunangan lagi?” Rena dan seisi ruangan menjadi tambah penasaran. “Menyesal dan minta maaf gitu?” lanjut Rena lagi. Rossa menggeleng lagi. “Minta uang sepuluh ribu buat ongkos makan” jawab Rossa membuat seisi ruangan ternganga mendengarnya. Rossa tertawa “aku pikir dia juga bakalan berlutut minta aku jadi pacarnya lagi. Ehh ternyata minta uang buat jajan.” Rossa tertawa terbahak bahak di ikuti oleh temannya yang lain. “Owalah Ross, cerita mu kok mesakne mesakne lucu (kisah hidupmu kok kasihan tapi juga lucu)” kata mbak Atin. Begitulah Rossa menertawakan nasibnya. Kisah pilunya. Haram baginya menunjukkan airmata sepedih apa pun matanya menahan cairan bening itu.


‘move on’ kata yang mudah di capkan sulit di lakukan. Rossa yang ceria seolah sudah melupakan segalanya sebenarnya masih terluka. Tiga tahun lebih hidupnya terpusat pada Setya. Terbiasa dengan kehadiran setya. Melakukan segalanya bersama. Semuanya tak mudah. Mengembalikan dirinya sendiri tanpa Setya saja tak mudah. Apalagi melupakan perasaannya begitu saja. Luka itu menganga. Luka itu masih ada.


Hingga suatu hari hatinya yang sakit menunjukkan diri menjadi penyakit. Rossa terpaksa di rawat di rumah sakit karena dehidrasi. Muntah dan bab tak henti. Saat itu mbak Ifa memiliki pacar dan ber rencana menikah di waktu dekat. Jadilah Rossa di jaga bergantian oleh ibu dan kak Ifa. Saat kak Ifa yang jaga pacarnya ikut jaga di rumah sakit. Jadilah Rossa obat nyamuk patah hati yang sedang remuk di antara dua sejoli yang sedang di mabuk asmara.

__ADS_1


__ADS_2