
Rossa sudah bersiap sejak pagi. Hari ini Tama mengajaknya liburan ke air terjun yang cukup terkenal di kota Solo dan sekitarnya. Sejak pagi ia sudah bingung memilih baju mana yang akan ia pakai. Bahkan kartun faforit sejak kecil pun tak sempat ia tonton. Suara motor terdengar di depan rumah Rossa. “Udah siap dek?” Kata Tama sambil membuka helem. “udah dong nih udah cantik”
“Pamit sama ibuk dulu yaa” Tama dan Rossa masuk kerumah untuk berpamitan. Setelah berbasa basi sebentar, mereka siap berangkat.
Perjalanan dari rumah Rossa sampai di objek wisata itu sekitar satu jam. Setengah jam sebelum sampai, jalan yang dilalui sudah jalan pegunungan berkelok kelok. Di pinggir jalan berjajar penjual bakso penthol kuah, jagung bakar, mie rebus dan buah strawberry. Author kangen ‘howo gunung’ ituu😥😥. Rossa yang jarang piknik sangat antusias dengan jalanan yang di lalui. “Dingin gak Ros? Kalau dingin sini masukin tangan kamu di jaket” kata Tama sambil memasukkan satu persatu tangan Rossa kesaku jaketnya. Rossa yang seumur umur belum terlalu peduli dengan lawan jenis tersipu dengan perlakuan Tama. Kok jadi deg degan, seneng, malu nyampur jadi satu gini yakk. Batin Rossa.
Air terjun itu ternyata jauhhh di bawah pintu masuk. Harus melewati anak tangga turun yang puaaaannnjjaaang sekali. “ini tangganya masih banyak ya mas..... Hos .....hosss .....hosss” Rossa ngos ngosan. “Mau istirahat dulu di situ?” ajak Tama. Mereka berhenti di sebuah bale bale yang memang di siapkan untuk istirahat. “Capek yaa” kata Tama sambil mengacak rambut depan Rossa. Lagi lagi Rossa tersipu. Kali ini terbaca oleh mata Tama yang memberikan minum untuknya. Polos banget sih. Gitu aja tersipu. Batin Tama
Sampai di air terjun yang indah itu. Mereka melihat sepasang sejoli sedang di ganggu monyet monyet liar di tempat itu. Si cewek teriak teriak tapi si cowok tak bisa berbuat banyak. Si cowok memakai tongkat bantu jalan. Sepertinya kakinya terluka. Tama membantu menghalau monyet monyet itu. “ makasih ya mas udah bantuin.” Ucap si cowok. “iya untung ada masnya” sambung si cewek setelah monyet monyet itu berhasil di halau. “ masnya kok sampai sini, itu kakinya gak pegel buat turun ditangga?” tanya Rossa. “Gak mbak saya justru seneng. Udah lama gak main gara gara ini” menunjuk kakinya.
“Kakinya kenapa mas?” tanya Rossa.
“Kecelakaan mbak ketimpa motor. Patah. Udah 5 bulan ini harus jalan pake ginian. “ keluh si cowok.
Takdir mempertemukan Rossa dengan pasangan itu. Apakah takdir akan menuliskan kisah yang lain dalam hidup Rossa berhudungan dengan pasangan itu lagi? Hanya author yang tau hehehehe
__ADS_1
Rossa dan Tama berjalan jalan di tepi air terjun itu. Tama mengambil beberapa foto Rossa dengan kamera digitalnya. Juga meminta seseorang untuk foto mereka berdua.
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Mereka memutuskan pulang. Dalam perjalanan pulang Tama menawari Rossa bebrapa makanan. Tapi yang diminta Rossa hanya mie ayam. Makanan faforitnya. Mereka berhanti di warung mie ayam dan bakso yang cukup luas tempatnya. Tama memilih meja lesehan di pojok ruangan. Tama melihat lihat foto di air terjun tadi. “Cantik” kata itu meluncur dari mulut Tama saat melihat foto Rossa di bawah air terjun. Terpaan sinar matahari membuat rambutnya kecoklatan bersaing dengan kulit Rossa yang putih. “Rambut kamu di warnai ya Ross kok kecoklatan gitu?” tanya Tama setelah membandingkan aslinya juga kecoklatan. “ini asli kak. Rambut ku emang kecoklatan gini”
“kok bisa. Kamu bule ya?”
“hahahaha mana ada bule pendek kak?”
“ Lha itu kulit kamu putih, rambut kecoklatan. Kulit mu itu putih banget Ross di banding orang lain.”
“Embah buyut ku dari ibuk asli cina kak. Menikah dengan orang jawa. Dari bapak kaya ada keturunan bule gitu. Mbah kakung ku tinggi bangat matanya juga kebiruan gitu.” Jelas Rossa
Dua mangkok mie ayam sudah habis. Rossa masih menikmati es jeruknya. “Ross ada yang ingin aku omongin”
“Apa kak?”
__ADS_1
“aku mau minta kamu”
“Minta apa?”
“emmm”
“Apa?”
“minta kamu buat jadi pacarku. Mau kan?”
“Tapi kita baru kenal kak. Jalan juga baru sekarang.”
“Gak papa kita coba aja dulu. Mau ya ya ya. Please cantikk” Tama memohon. Rossa berpikir sejenak dan mengangguk.
Tama mengajak mampir kerumahnya sebelum pulang. Perjalanan panjang mereka tempuh. Ternyata rumah Tama berada di desa. Rumah besarr berbentuk joglo. Yang halamannya saja bisa membuat 4 rumah Rossa. Gadis kecil itu terkagum kagum.
__ADS_1
Seorang wanita tua menyambut mereka. Ia adalah ibunya Tama. Obrolan tentang asal usul calon mantu pun di mulai. Tama masuk ke dalam, kembali membawa bayi laki laki. “Ini namanya Firdaus. Anak kakak aku.” Kata Tama. Ia meletakkan bayi gembil itu di pangkuan Rossa. Rossa yang tak terbiasa dengan bayi kikuk menggendongnya. Bayi itu tak nyaman dan menangis. Tama mengambil Firdaus dan menyerahkan pada wanita tua berkebaya yang baru saja datang membawa minum untuk mereka.
Usai obrolan singkat dengan ibu Tama, Rossa diajak berkeliling sawah. “bapakmu yang mana mas?” tanya Rossa melihat para lelaki bekerja di sawah yang katanya milik Tama. “Bapak udah meninggal Ross. Kurang lebih enam bulan yang lalu.” Jawab Tama. Di matanya ada kesedihan yang mendalam. “maaf mas gak tau.” Jawab Rossa menyesal menanyakan. “Gak papa. Pulang yukk. Takut kesorean sampai rumahmu.”