
“kamu masih cinta gak sama Citra mas?”
“Jujur aku belum bisa melupakan dia Ros. Aku hanya mencoba menbuka hatiku. Ketemu kamu yang lucu dan periang. Sepertinya akan menghiburku” ucap Tama yang setengah dirinya masih dalam planet galau. “ Kamu pikir aku pelawak. Kalau mau ketawa terus noh pacaran sama Nunung” kata Rossa sewot. “Masa aku pacaran sama nenek nenek Ross.”
“misal aku gak tau fakta ini. Kamu juga tetep bohongin aku mas? Kamu gak kasihan sama Daus?”
“Aku bisa apa Ross. Keluarga ku menyalahkan aku atas kematian bapak. Aku juga merasa bersalah. Mungkin bisa menebus semuanya kalau aku hidup dengan benar sekarang. Waktu aku ngenalin kamu ke ibuk, keluarga ku langsung mendesak aku buat nikahin kamu. Makanya aku trus ngelamar kamu.”
__ADS_1
“Keluarga ku udah curiga. Ada yang aneh dengan lamaran kamu. Mereka akan menyelidiki latar belakang kamu. Belum sempat di selidiki ehhh aku udah tau duluan”
“jadii orang rumah udah tahu?”
“Belumm. Aku minta penjelasan dulu sama kamu”
Rossa dan Tama menikmati makan siang terakhir mereka sebagai tunangan. Ditemani gemricik air kolam dibawah mereka. Rossa melepas cincin yang ia pakai. Mendorong benda itu mendekat pada Tama.”aku gak mungkin bahgia dengan orang yang masih mencintai orang lain. Kematian bapak mu sudah digariskan Tuhan mas. Jika bukan karena kabar kamu menghamili janda, pasti ada sebab lain. Kamu justru berdosa memisahkan anak dengan ibunya. Trus emang kamu gak pingin merjuangin cinta kamu mas?” kata Rossa panjang lebar.
__ADS_1
“iya lah”
“tapi masih temenan kan”
“Boleh. Yuk main terapi ikan mas.” Ajak Rossa mengalihkan perhatian Tama. Dengan cepat mengusap air mata yang mulai mengganggu pandangannya. Entah mengapa hatinya sakit juga. Meski baru mengenal Tama beberapa minggu. Tama lah laki laki pertama yang membuat Rossa tersipu. “Trus orang tua mu gimana Ross!” tanya Tama ketika sudah sampai di kolam terapi ikan.”orang tua ku biar aku urus nanti. Mereka pasti ngerti kalo aku jelasin. Orang tua mu ya jelasin sendiri lah. Aku sih berharap kamu sama mbak Citra mas. Perjuangin cinta kamu mas. Kebahagiaan kamu.”
Hening di antara mereka. “Kamu laki laki mas. Udah mapan, udah tua. Masak ia gak tanggung jawab sama perbuatan sendiri” sambung Rossa. “aku belum tua tau!!!” protes Tama. Mereka terus berbicara tentang apa saja. Dari hati ke hari sebagai teman, sahabat, kakak beradik.
__ADS_1
Matahari sudah mulai condong ke barat. Mereka pulang sebagai teman. “Maaf buat semuanya ya Ross. Maaf udah jadiin kamu janda tunangan.” Ucap Tama. “Yaa mending janda tunangan mas daripada janda sungguhan. Hahaha" tawa Rossa menyembunyikan getir di hatinya. Ahhh janda tunangan di usia ku yang baru 18 tahun. Batin Rossa.
Rossa duduk diboncengan Tama. sinar mentari sore menerpa wajahnya di sela sela pepohanan. Kali ini air mata perpisahan dangan Tama tak bisa terbendung lagi. Mungkin sebenarnya Ia mulai suka pada laki laki di depannya ini. Alah apa arti cinta bila hanya aku yang mencintai. Apa arti cinta jika dia yang kau cintai memikirkan wanita lain. seperti menggenggam tangan yang tak mau kau genggam. Seumur hidup akan terasa penuh perjuangan untuk mendapatkan cinta. Bukan, bukan ini jodohku. Aku akan menemukan pria yang mencintai dan di cintai oleh ku. baru itu cinta yang adil. Rossa menguatkan dirinya sendiri.