
Seminggu setelah lulus Rossa masih menganggur. Luntang lantung di rumah tak tahu arah. Ternyata mencari pekerjaan tak semudah bayangannya. “Dek ikut kursus menjahit aja kaya kakak kemarin” usul kak Ifa, kakak Rossa. Sebenarnya Rossa tak terlalu minat dengan dunia perjahitan, namun banyak sekali lapangan kerja di dunia jahit menjahit di sekitar rumahnnya.
Betapa terkejutnya Rossa ketika melihat tempat kursus itu. Bangunan megah bertingkat dengan cat merah di depannya. Di tempat itu tak hanya menyediakan tempat kursus untuk menjahit, kursus bengkel mobil, kursus bengkel sepeda motor, kursus seni perkayuan pun ada. Setiap tahunnya tempat kursus itu membuka 20 orang gratis untuk mengikuti kursusnya. Syaratnya harus mengikuti tes.
Rossa mengikuti tes yang di sediakan, namun ia tidak lolos. “Gak papa nanti kita minta uang sama ibuk agar kamu bisa ikut yang berbayar (swadana)” hibur kak Ifa. Dari hasil menjual perhiasan Rossa dapat masuk kursus menjahit.
Siswa yang lolos tes di wajibkan ikut apel pagi tiap harinya. Pulang jam 4 sore dan mengenakan seragam hitam putih saat di tempat kursus.
Rossa sebenarnya tak wajib pakai seragam hitam putih, namun ia tak enak beda sendiri dalam satu kelasnya. Ia pun akhirnya ikut pakai hitam putih. Saat itu apel pagi baru saja usai. Rossa yang tak punya kewajiban ikut apel pagi baru datang. Langsung geloyor menuju kelasnya. “Mbakkkk, mbakkk berhentii” seorang instruktur bengkel mobil meneriaki Rossa dari kejauhan. Yang di teriaki masih ngeloyor dengan santainya.
__ADS_1
“Heh kamu, telat ikut apel se enaknya langsung masuk kelas!! Sini hormat dulu di tiang bendera 30 menit” pria tinggi hitam besar itu menarik Rossa ke tiang bendera. Rossa yang kaget melawan, namun tenaganya kalah besar. “ Cepat hormat disini. Tak lihat dari sana!” tunjuk sang pembimbing ke kelas mobil yang dekat dengan tiang bendera. “tapi paaakk....”
“tapi apa gak ada alasan. Sudah telat banyak alasan. Saya lihat sendiri kamu datang terlambat tadi”
“Tapi saya ini swadana pak. Gak wajib ikut apel kan” bantah Rossa sambil menyerahkan kartu swadananya. “Saya juga masih simpen kwitansi pembayarannya lho pak. “ bela Rossa. Pembimbing itu mengecek kartu Rossa” kalau swadana kenapa pakai baju hitam putih. Gak punya baju kamu.”
“Pak saya ini cantik, imud kalau pake baju beda sendiri semua mata bisa teetuju pada saya. Pakek baju gini aja banyak yang tergoda.”
Seorang pria tersenyum. Matanya terus mengikuti sosok mungil yang menjauh itu. iya cantik, imud, menyenangkan lagi. Batin pemuda itu. semenjak itu ia berniat mencari informasi sebanyak banyaknya tentang makhluk mungil yang menarik hatinya.
__ADS_1
Di tempat kursus itu sebuah mushola tak pernah sepi pengunjung. Setiap adzan berkumandang , para siswa berbondong bondong untuk pergi ke mushola. setiap habis dhuhur ada seorang ustad yang datang untuk memberikan siraman rohani dan mengaji bersama sampai ashar.
Hari ini kelas menjahit tak padat materi. Mereka berencana mengikuti siraman rohani di mushola. " gak ikut siraman rohani Ros?" tanya mbak Diah melihat Rossa berkemas pulang. "gak mbak, mau tidooorr. Udah lama aku gak ngerasaain tidoorr siang habis lulus." jawab Rossa. "lha kamu enak Ros. Berangkat seenaknya pulang seenaknya."
"makanya bayar dong jangan suka yang geratisan gitu." jawab Rossa selengekan berlalu meninggalkan teman temannya yang memonyongkan bibir kearahnya.
sesampainya di halaman mushola mata jahil Rossa berkilat kilat di balik kacamata minus. Ia memenuhi sepeda motor di mushola itu dengan sepatu teman temannya. satu nangkring di boncengan, di plat nomer, di stang, di mana saja yang bisa di cantelin sepatu. Setelah semua terpasang ia tersenyum bangga dan meninggalkan tempat kursusan itu.
Di pojok beranda mushola seorang laki laki duduk memperhatikan cewek bonsai yang sedang melakukan misi jahilnya. Ia hanya mengamati sampai cewek itu tak terlihat dari pandangan matanya.
__ADS_1
Esoknya Rossa mendapat toyoran dari teman temannya. "lu tau gak itu motor pak ustad. Kami malu tau masa sepatu nangkring di motor pak ustad." ucap mbak Galih sambil menoyor Rossa "haaa masak motor pak ustad sih. Waduh kualat gak aku mbak. Di kutuk jadi batu gak yaa" Rossa panik. " iya rasain di kutuk jadi batu kali biar kerendem terus di air." sambung mas Tomo. satu satunya lelaki di kelas itu.