
Satu bulan berlalu. Rossa mulai terbiasa tanpa Setya. Kadang mereka masih ber chat sesekali. Tak sesering dulu hampir dua puluh empat jam saling berbalas chat. Jangan tanya soal perasaan. Jika cinta itu melekat terlalu lama maka ia akan hilang dalam waktu yang lama. Rossa sekuat tenaga menahan rindunya. Sekuat tenaga menahan rasanya. Otaknya tak boleh kalah dengan perasaan.
Rossa dikenalkan banyak cowok oleh teman temannya. Mereka yang sayang gadis itu ingin ia segera move on. Rossa berkompromi dengan hati. Minimal jika ada orang lain ia tak kan kembali pada Setya. Akhirnya ia memilih fotografer yang di kenalkan Hedi.
Awal chat mereka normal. Perkenalan saling bertanya. Fotografer ini bernama Rahmat, cowok mantan atlit badminton bertubuh tinggi besar. Rossa tak sampai sebahunya. Benar benar terlihat jomplang dari tinggi badan. Suatu hari Rossa ingin di antar membeli sepuit keperluan tart. Ia meminta Rahmat mengantar sepulang kerja. Rahmat yang jam kerjanya begitu fleksibel langsung menyanggupinya.
Rahmat menunggu di depan pabrik saat Rossa keluar saat itu pula Setya melihat Rossa berboncengan dengan Rahmat. Setya langsung menghubungi Rossa rasa cemburu membakar dadanya. Meski Rossa sekarang bukan siapa siapa. Puluhan panggilan puluhan pesan Setya kirim. Entahlah apa maksudnya. Setya sendiri tak mengerti. Toh sebenarnya hubungan mereka sudah berakhir. Rossa bukan miliknya.
Percayalah apa yang dirasakan Setya tak jauh dari apa yang di rasakan Rossa. Hatinya remuk melihat kekecewaan di wajah Setya. Ia berboncengan dengan Rahmat, namun hatinya tertinggal di Setya. Melihat Setya begitu kecewa atas apa yang ia lakukan, Rossa juga kecewa. Sedih. Ini titik terendah Rossa untuk lepas dari Setya. Lepas dari hubungan tak sehat yang penuh pertengkaran. Namun, seburuk apapun sebuah hubungan jika kamu sudah terbiasa akan sulit melepasnya.
Banyak hal yang merugikan Rossa karena bubaran tunangan dengan Setya. Banyak sekali. Keperawanan yang di ragukan banyak orang. Gunjingan dari teman, keluarga, dan tetangga. Bahkan hujatan dari keluarga Setya. “Biasanya kalau udah tunangan udah bolong aja sih. Anak jaman sekarangkan nyicil nyicil.”
“Emang dasarnya aja sok cantik. Udah tunangan pake di bubar bubarin segala”
__ADS_1
“Nyari yang kaya mungkin. Setya kan miskin.”
“Kasian yaa, padahal udah ngapain aja tuh anak sama Setya”
“Waahhh suaminya bekasnya Setya dong.”
“jagain jodoh orang”
Dan masihh banyak banyak lagi. Padahal masalah keperawanan Rossa menjaganya dengan baik. Lagi pula Setya lebih mementingkan cemburu dari pada nafsunya. Pacaran mereka pun selalu di tempat ramai dengan dana pas pasan. Kecuali orang gila yang mau bermesraan di tempat ramai.
Rossa mandi dan masuk kamar beristirahat. Menghidupkan hp yang dari tadi ia matikan karena terlalu mengganggu. Puluhan pesan dan pemberitahuan panggilan menyerbu hp. Hanya satu orang tentunya.
“Udah beneran bisa lupain aku”
__ADS_1
“Kamu bener bener udah gak sayang sama aku?”
“Angkat telpon ku Ros!!?!”
“Kamu pikir aku ini sampah. Udah gak berguna kamu buang gitu aja”
“Aku hajar cowok itu nanti”
“Dasar lon*e. Emang dasar kamu murahan bisa pindah gitu aja kelain hati”
“kamu udah lama kan pacaran sama dia. Kamu selingkuhin aku kan lon*e”
Dan masih banyak lagi. Pesan rayuan hingga pesan hujatan. Rossa membaca satu satu pesan itu. Hati wanita mana yang tak sedih di bilang lon*e oleh orang yang dia sayang. Hati wanita mana yang tak sedih selalu selalu saja di tuduh selingkuh walau hanya bicara pada lawan jenis. Butiran bening itu kembali menetes. Air mata sekarang teman setia Rossa dikala ia sendiri.
__ADS_1
Di pertahankan remukkan hati, di lepaskan menghancurkan hati. Oh cinta. Semua kata kata kasar Setya menjadi penguat dirinya untuk lepas dari cinta beracun itu. Semua rasa kesal yang ia dapat ketika di cemburui ia tumpuk biar menjadi gunung yang menghambat rasa cintanya. Waktu akan menyembuhkan. Rossa berkeras untuk melangkah. Walau malu pada orang orang sekitar dan patah hati tak terperi. Bubar sekarang dengan segala keterpurukan ebih baik. Daripada nanti sesudah menikah. Lebih baik salah memilih tunangandari pada salah memilih suami.
Rahmat malam minggu mengajak Rossa keluar. “Nongkrong yuk, aku kenalin ke teman teman ku. Seru seru kok mereka” ajak Rahmat. Mereka nongkrong di cafe tempat biasa Rahmat nongkrong. Beberapa teman Rahmat di perkenalkan. Yaa mereka memang asik. Setidaknya Rossa menghabiskan malam minggu yang menyenangkan. “Kok mau mbak sama Mamat?” Tanya Satria teman Rahmad. “pingin tau aja apa pingin tau banget??” Jawab Rossa nyeleneh. Masa iya harus di jelaskan kalau ia memacari Rahmad hanya buat pelampiasan. “Hahaha misterius gitu sih kamu. Lucu.” Mereka mengobrol hingga jam 9. Rossa pulang kerumah mengantongi beberapa nomer teman Rahmat.