Half Bad Girl

Half Bad Girl
gadis kecil


__ADS_3

Kondisi perekonomian mereka perlahan membaik. Rossa sedikit demi sedikit bisa mengatur keuangan. Mencari sedikit tambahan dari berjualan online ala emak emak. Tubuhnya tak semulus dulu, tak selangsing dulu. Namun Nicki tetap setia padanya. karena pada dasarnya tukang selingkuh akan terus selingkuh. dia yang setia akan menerima apa adanya seburuk apapun fisik kekasih hatinya.


Nicki, pria itu mulai menua. Perutnya sedikit membuncit walau tertutup tinggi badanya. Ada gurat halus di matanya. Penuaan mulai terjadi di raganya. Rossa semakin hari justru semakin mencintainya. Segala tentang dirinya begitu dikagumi Rossa. Bapak yang begitu menyayangi putri kecilnya.


Sedang si gadis kecil kini sudah 2 tahun. Mulai bisa di ajak bicara, bahkan bisa bicara. Gadis kecil itu bisa menirukan kata apa saja kecuali panggilan untuk ibunya


“Panggil ibuk. Iiiiii bbbuuuukk.” Kata Rossa


“Nen*n!!” jawab gadis kecil berpipi chubby itu

__ADS_1


“iiiiiibbbbuuukkk iii buuk”


“Nen*n” ulang gadis itu ngeyel (bandel)


“Sak karepmu nduk (terserah kamu nak)” kata Rossa. Perdebatan seperti itu sering terjadi. Gadis kecil itu kekeh tak mau memanggil ibu. Sedang Rossa sebenarnya malu di panggil *****. Orang orang pasti langsung berpikir payuda*a jika kata ‘nen*n’ terucap. Apa mau di kata si bocah memiliki panggilan sayang sendiri untuk ibunya.


Gadis kecil itu mewarisi kulit Rossa. Postur tubuhnya mirip Nicki. Di usianya yang dua tahun termasuk anak yang tinggi. Gadis kecil berkulit mulus seputih pualam. Memiliki rambut keriting keriting kemerahan mirip Rossa. Sedang jidatnya sedikit maju entah mirip siapa. Hidungnya pesek entah juga mirip siapa. Sedang hidung Rossa dan Nicki terhitung mancung. Memiliki bibir mirip papapnya sampai selidah lidahnya.


Gadis kecil itu cahaya, kesayangan, sekaligus teman untuk Rossa menghadapi hari harinya. Meski harus jungkir balik sendiri mengurusnya. Hanya di bantu Nicki saat dia tidak bekerja. Untung Nicki bukan suami yang tak perduli. Sepulang kerja, secapek apapun ia. Masih mau di repotkan mengurus gadis kecil itu.

__ADS_1


"Nen*n!!! Nen*n!!!" teriak si gadis memanggil emaknya. Rossa sedang mencuci piring berlari kearahnya. Ternyata ada kucing kecil ngeyel mengejar ngejar anaknya. Sudah dua kali kucing itu di keluarkan dari rumah masih saja nekat masuk lagi. Rossa melihat tangan gadisnya. "Pantes kamu di kejar kucing ndok." tangan anaknya memegang ikan sisa lauk tadi sarapan. Rossa sedikit ngomel pada si kucing. Mengancam kucing itu jika sekali lagi masuk akan dimandikan dengan air. "Kucing kok di omelin mbak" kata tetangga Rossa. Emak emak itu hanya tertawa bodoh menutupi malu. Benar juga, kok kaya orang kurang seember aku ngomelin kucing. Batin Rossa.


Masuk kedalam rumah melihat gadis kecilnya menyuapi boneka kesayangannya dengan ikan sisa sarapan yang entah di dapat darimana. Rambutnya yang kriting kriting bakmi juga terdapat remahan ikan goreng. Sekelilingnya juga terdapat remahan ikan. Baju dan celananya tak luput dari remahan ikan. Rossa segera menggendong gadis kecil itu untuk cuci tangan dan membuka bajunya. setelah mengomel pada si gadis agar tidak melakukannya lagi. Selsai melakukan aktifitas itu Rossa menyalakan kompor merebus air hangat untuk mandi si gadis. Melanjutkan mencuci piring yang tertunda karena teriakan si gadis. Baru tangan Rossa menyentuh busa sabun si gadis berteriak lagi. "Nen*n!!! Nen*n" kali ini ada nada tangisan. Membuat Rossa kembali mencuci tangannya dan berlari.


Ternyata boneka bear kesayangan anaknya di seret seret kucing tadi. Dengan daya kekuatan omelan penuh Rossa mengomeli si kucing lagi dan mengambil boneka kesayangan si gadis. Untung bonekanya belum koyak. Kucing bisa di usir dengan ikan sisa sarapan yang di lempar jauh ke depan jalan rumah. "Bear biar mandi dulu ya. Bear bau ikan. Biar wangi biar gak di culik kucing lagi." bujuk Rossa pada gadisnya. Susah sekali membujuk anak ini untuk mencuci Bear sekucel apapun boneka ini. Benar saja kali ini si gadis justru mengambil boneka itu dan memeluknya. Terdengar air untuk mandi si gadis sudah matang. Rossa berlari kedapur mematikan kompor dan menuang air panas itu kedalam ember yang sudah berisi air dingin sebelumnya.


"Nen*n pipis" kata bocah itu dengan terbata. Celananya sudah basah. Rossa memang melepas daypersnya tadi. "Pipis dimana?" tanya Rossa. Si gadis berjalan menuding sekeranjang celana yang belum dilipat. Benar saja keranjang itu sudah basah dan berbau pesing.


Begitulah seculi cerita keseharian Rossa bersama gadis kecilnya. Selalu dan pasti ada cerita setiap harinya. Mengomel sudah tiap hari Rossa lakukan. Ada saja yang membuatnya harus ngomel. Ada saja pula tingkah si gadis yang membuatnya tertawa. Kadang juga tertawa dan mengomel bersamaan. Kehadiran gadis kecil bernama Dhira itu sungguh memberi warna dikehidupan Rossa kini.

__ADS_1


__ADS_2