Half Bad Girl

Half Bad Girl
lulus sekolah


__ADS_3

Matahari menjalankan tugasnya. Bergantian dengan sang rembulan dan bintang gumintang. Setiap kemunculan mereka mengganti satu hari ke hari berikutnya. Melompati jam kejam berikutnya. Tanpa bisa terulang, membentuk kenangan yang terus membayang. Kenangan manis akan membuat insan yang mengenangnya bahagia. Kenangan buruk terkadang masih menyisakan air mata. Itulah waktu itulah hidup. Ada pahit manis, ada gelora ada hasrat, ada sejuta rasa lainnya.


Cewek berkebaya merah dan kain rok bermotif jarik itu melihat pantulan di cermin. Pantulannya buram karena ia tak memakai kacamata. Minus silinder di matanya yang tak bisa di hitung jari tangan penyebabnya. Semua buram, membayang. Ditambah dengan hobi baca yang susah di lepaskan.


"Cantik lho dek" sapa perias


"Iya to mbak? aku gak kelihatan solanya. hahahaha" jawab Rossa jujur


" Iyaa cantik kaya penganten"


"Halah mbak di wisuda baru sekarang masih lama jadi pengantennya. hahahaha"


Becak yang ditumpangi Rossa dan ibunya memasuki gedung serbaguna depan sekolahnya. Para gadis gadis cantik berkebaya memenuhi halaman gedung. Mereka anggun, cantik bak bunga mawar yang sedang mekar mekarnya. " Kok lu jadi tinggi banget?" tanya Janna saat Rossa baru turun dari becak. "Iya lah noh lihat sanggul ku kaya gunung berapi. Sendal ku kaya mau main egrang." bicara sambil jalan kaya nenek nenek

__ADS_1


"Ros jalannya biasa aja. Malu tuh di lihat temanmu." kata Ibu Rossa


" Ini juga udah biasa Bukk, cuman takut jatuh tuhh sendalku tinggi banget."


"Alah dasar ndeso!!! Pake high heels aja kaya gitu. Nohh ganti sandal jepit di mushola yang jamuran noh" timpal Ima


Suara terdengar dari dalam gedung menyuruh anak dan wali murid masuk. Acara akan segera di mulai. Setelah sambutan sambutan anak anak di panggil maju satu persatu untuk menerima map. Bak pragawati dadakan gadis gadis itu bersemangat maju. Termasuk Rossa yang mulai terbiasa pakai high hells walaupun masih sedikit terlihat jalan nenek nenek. Pensi dari adik adik kelas dan para alumni menjadi penutup.


kita masih berdiri


tunjukkan pada dunia


arti sahabat

__ADS_1


Lagu milik ban Nidji membuat para lulusan baru itu berderai airmata.


Ada awal pasti ada akhir. Berawal dari mereka ospek di kelas satu. Menyanyikan lagu absrud dengan goyangan. Kemudian hari demi hari melewati ekstra kulikuler yang wajib di kelas satu. Jadwal pelajaran setiap hari. Saling bersaing untuk mendapat nilai terbaik. Ada pertemanan, ada kebisingan melebihi pasar jika guru mapel tak masuk. Menempuh ujian bersama dan hari ini mereka lulus bersama. Mulai hari ini nasib dari mereka tak ada yang sama.


Rossa memandang langit langit gedung pertemuan. Kayu kayu besar berwarna coklat menghiasi. Kayu bersusun rapi bersilangan. Atap bercat putih kontras dengan kayu. Mulai hari ini tak ada lagi bangku sekolah. Sebagian dari temannya meneruskan sekolah mengejar sarjana. Sebagian akan bekerja menjadi spg di mall yang sudah menerima mereka waktu PKL. Sedangkan Rossa? tinggi badannya pun di tolak oleh mal mal waktu PKL. Bayangan mengenakan rok mini dengan stoking hitam, makeup tebal dan rambut tertata rapi hilang sudah. Ia hanya bisa PKL di toserba dekat sekolah. Entah nasib membawanya kemana. Hari esok masih benar benar misteri. Tak ada buku buku pelajaran. Otaknya yang terbilang cukup encer berhenti sampai disini. Pelajaran hidup sesungguhnya yang kini akan ia terima. Hai takdir, hai nasib berpihaklah kau pada ku. Berikan aku jalan yang tak terlalu terjal untuk hidupku.


" naek apa pulang Ross?" tanya Ana saat mereka keluar gedung


"becak lah tadi berangkat juga naek becak."


"lah kagak kasihan sama abang becaknya? rumah lu kan jauh. Copot gak jari abang becaknya nanti? naek taksi noh" tunjuk Ana pada mobil bercat biru yang mangkal di depan gedung " Alah becak ajalah murahan. Nih buat sewa baju ama makeup aja udah mahal tadi. Lagian emang jari kaki abang becak buatan Cina. Bisa copot sembarangan. Mau juga tuh abangnya" elak Rossa sambil menunjuk ibu yang berhasil menawar abang becak depan gedung "Serah lu deh Ssa, bey bey"


"Dadah Ana" Rossa berjalan sambil menenteng high hellsnya. Pegel juga pake sendal seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2