Half Bad Girl

Half Bad Girl
udan nyawang srengenge


__ADS_3

Angga mengajak Rossa ke sebuah air terjun. Lokasi tempat wisata ini tak jauh dari kota, namun cukup menenangkan. Terdapat kolam kecil yang menampung cucuran air. Kolam itu tak dalam. Hanya sebatas betis. Airnya yang begitu jernih membuat siapa pun ingin nyemplung. Untuk bermain air dengan ceria.


Karena datang di hari biasa membuat air terjun itu sepi pengunjung. Seakan tempat itu tempat privat mereka berdua. Angga merentangkan tangan membantu Rossa naik di bebatuan agar dapat melihat keindahan air terjun lebih dekat.


Rossa menerima tangan Angga. Menggenggamnya sebagai pegangan mengangkat tubuh. “Kamu berat juga Ros, makan dedak berapa karung tadi?” Angga kesusahan menarik Rossa dari atas.


“Kamu kencan sama cewek, tapi omongan kamu masih ajaib gitu Ngga. Pantes gak laku laku.”


“Elleh, cuman sama kamu aja.” Kata Angga. Tetap menggenggam tangan Rossa meski jalan yang dilalui sudah cukup datar.


Angga mengajak Rossa duduk di bebatuan. Dari tempat itu nampak cantikan air terjun sekaligus keindahan kolam di bawahnya. “Ini lepasin kek. Kayak kereta api aja gandengan terus.” Kata Rossa menarik tangannya. Angga terdiam. Sepertinya sedang menikmati suasana di tempat itu. Sepiii sungguh sepi hanya mereka berdua. Rossa sudah asyik memakan snack yang ia bawa.


"mau?" tawar Rossa sambil menyodorkan snacknya


“Kamu serius sama Nicki Ros?” di jawab pertanyaan Angga tanpa menyentuh snacknya.


“Huum” gumam Rossa dengan mulut penuh snack.

__ADS_1


“Kamu bahagia sama dia. Apa dia gak pernah nyakitin kamu? Apa dia gak pernah berkata kasar seperti Setya? Apa dia tulus mencintai kamu?”


“ini wawancara kerja?” Rossa balik bertanya


“Ini wawancara hati kamu. Aku cuman mau mastiin kamu bahagia”


“Aku bahagia kok. Nicki memperlakukan ku dengan baik. Gak ada perlakuan buruk dia ke aku.”


“Kamu suka sama dia?”


“Kamu belum move on?”


“Aku masih berusaha Ngga, tapi aku yakin Nicki cowok baik. Suatu saat nanti aku akan mencintai dia setulus hatiku.”


Mereka diam sejenak. Angga melirik cincin di jari manis Rossa. “Kamu yakin bisa move on sama Nicki? Aku bisa lho bikin kamu move on. Aku........ Aku.......” kata kata Angga menggantung di udara. Dari pengalamannya menghadapi cowok Rossa bisa menebak kearah mana pembicaraan ini. “Aku udah tunangan Ngga. Dua bulan lagi menikah. Kamu terlambat kalau mengatakannya sekarang.”


“memang aku mau bilang apa? Dasar sok tahu!!” Angga kembali ke mode pabriknya. Selengekan.

__ADS_1


“Yaaa kali tebakan ku bener. Kalo kamu bilang ini sebelum aku dilamar Nicki, mungkin aku bisa pertimbangkan. Aku juga nyaman kok sama kamu. Walaupun dengan semua kata kata ajaib kamu, aku tahu kamu cowok yang baik.” Rossa menjawab kalem. Angga memalingkan wajahnya. Tak ingin terbaca ekspresinya oleh Rossa.


“Fotoin aku di situ!” Angga mengalihkan pembicaraan. Mereka berfoto di beberapa tempat. Berkeliling sambil mencari enggel terbaik. Suasana mendung mulai menebal. Titik titik hujan mulai turun. Mereka segera mencari tempat berteduh.


Mereka berteduh di mushola. Waktu juga sudah masuk sholat duhur. Sekalian berteduh sekalian sholat. Mereka sholat bergantian. Usai sholat mendung yang menggantung di langit entah kemana. Mentari bersinar dengan cerahnya, namun hujan masih deras tercurah. Mereka menyaksikan fenomena itu di pinggiran masjid. “Setelah ini kita masih bisa berteman kan? Aku gak mau kita saling jauh setelah ini.” Angga kembali membuka percakapan


“Tentu, kamu masih sahabat terbaik ku”


“Bener bener gak ada kesempatan Ross? Kamu akan bener bener bahagia kan sama Nicki?”


“Sekarang udah gak ada. Aku akan bahagia Ngga.” Jawab Rossa. Mereka terdiam.


“Sejak kapan?” tanya Rossa. “Sejak kapan kamu suka sama aku? Kenapa gak pernah kamu tunjukan?” kata Rossa. Terselip penyesalan disana.


Rossa sebenarnya sangat nyaman dengan Angga. Sahabatnya itu, bila ia mengutarakan semuanya dari awal, mungkin Rossa akan memilih Angga untuk membantunya move on dan mencintainya dari pada Nicki. Angga yang lebih mengerti keadaan dirinya, Angga yang menghibur dan menemani saat saat terpuruk dalam cinta Setya. Sekarang semuanya sudah terlambat. Di jari manisnya melingkar pengikat Nicki dengan dirinya. Dan perlahan tapi pasti Rossa mulai menyukai Nicki. Ia tak mungkin membatalkan semuanya.


“Sejak kamu di lamar Nicki, hatiku patah Ros. Aku gak tau kapan suka sama kamu. Yang jelas kabar pernikahanmu membuat hatiku sedih, sekaligus gembira. Aku cemburu kamu nikah. Tapi aku gembira, karena Nicki cowok yang baik menurutku. Dia bisa buat kamu bahagia.” Angga menggenggam tangan Rossa mengecupnya beberapa kali. “Pokoknya habis ini. Kamu tetap temanku yang gila. Oke” Angga berkata sambil tersenyum. “Oke” Rossa menjawab dengan semangat. Permasalahan hati mereka sudah diluruskan. Mereka memilih jalan dimana mereka berjalan dulu. Tak ada yang berubah. Rasa yang tumbuh dibiarkan padam. Sebelum rasa itu membakar semakin dalam. “Mau sampai kapan hujan seperti ini. Udan kok nyawang panase srengenge (hujan kok bisa lihat panasnya mentari)” kata Angga.

__ADS_1


__ADS_2