
Hari hari berikutnya Rossa mengisinya dengan bekerja, bolos kerja, dan bersenang senang.
Rossa menjadi dirinya sendiri. Tak perlu ber dandan sexy, tak perlu perawatan mahal. Ia hanya rutin merawat tubuhnya dengan berlulur sendiri setiap minggu. Masker lidah buaya di rambut dan muka. Hanya itu perawatan rutinnya. Ia tetap kutu buku, tetap gila dan cuwawakan. Tetap dengan kacamata tebal. Yaa menjadi diri sendiri dengan nyaman. Percaya diri dengan apa yang Tuhan telah berikan adalah cara bersyukur dan tampil cantik dengan cara alami. Mengejar standar cantik manusia itu sulit. Tapi tampil sebaik baiknya dirimu dengan apa yang kau miliki itu mudah. Karena pada dasarnya wanita memiliki kecantikan dalam dirinya.
Rossa mengencani setiap laki laki yang mendekatinya. Mengajaknya jalan ke tempat wisata, mall, atau tempat makan. Mengencani sekali dua kali jika dirasa cocok lanjut, jika tidak ia mundur. Sampai gunjingan di kalangan teman temannya datang. Dianggap wanita gampangan yang mengencani banyak pria. Sampai sampai lingkungan rumah kak ifa menganggapnya seperti itu. Karena jika kesana membawa cowok berbeda beda. “Hiss kamu Ros, tiap kesini bawa cowok beda. Tetangga ku ngira kamu tuh genggek(wanita gak bener).” Tegur kak Ifa. Rossa nyengir. Tak tahu kalau sampai diperhatikan tetangga kakanya yang kini ikut suami tinggal di suatu desa tak jauh dari solo.
Pernah suatu ketika Rossa mengencani brondong yang usianya lebih muda darinya. Cowok itu putih, gendut, baby face gemees bener lihatnya. Terlihat ggugup ketika bersalaman dengan Rossa. Mereka bertemu di pusat perbelanjaan sambil Rossa belanja kebutuhan bulanannya. “Habis ini kita kemana?” tanya Rossa memancing pembicaraan. “Emmmm kemana yaa... Rossa biasa kemana?”
__ADS_1
“Nonton yuk”
“Boleh” mereka menuju bioskop terdekat karena tempat perbelanjaan itu tak ada bioskopnya. Motor Rossa di titipkan di pusat perbelanjaan itu. Mereka menggunakan motor Bintang, si cowok baby face itu. Rossa melihat tangan cowok itu bergetar. Memang seperti belum siap mengencani cewek. “ ini aku pegangan gak?” tanya Rossa sengaja menggoda bintang. “emmmm ter terserah kamu” kata bintang tapi justru memajukan duduknya hingga ia duduk di ujung jog depan. Rossa ingin tertawa berguling guling kalau tidak malu orang sekitar. Kalau cowok lain pasti sudah menarik tangan Rossa melingkarkan di pinggangnya mendengar pertanyaan “aku pegangan gak”. Cowok bau kencur yang sepertinya baru lulus sma ini justru takut takut.
Sampai di mall yang ada bioskopnya Rossa segera menggandeng Bintang. Tangan cowok itu gemetar berkringat dingin. Rossa semakin usil mengglayut manja pada lengannya. Sepanjang perjalanan menuju bioskop. Sepanjang filem pun Rossa terus nergelayut manja. Membuat Bintang semakin salah tingkah.
Usai kencan itu Bintang tak pernah membalas chat Rossa. Sepertinya takut dengan bad gril satu itu.
__ADS_1
“Orang tua mu gak marah kamu pergi dengan cowok cowok itu? Beda beda lagi orangnya?”
“Mereka gak tau Ren. Gak ada cowok itu yang aku bawa pulang. Kita ketemuan di jalan atau mall. Taunya ortu aku paling belanja sendiri, ketempat mbak Ifa, atau ada acara pabrik.”
“Dasar gila kamu Ross” sahut Hedi
“biarin. Daripada pusing pacaran mending gini enak. Toh mereka gak ada yang ngapa ngapain aku kok. Kita cuman jalan, jajan, seneng seneng udah”
__ADS_1
“Ya tapi pandangan orang ke kamu jelek Ross” Rena memberi saran
“Udah terlanjur basah juga. Pandangan mereka udah jelek kan sejak aku bubar tunangan sama Setya. Apalagi yang udah tau aku janda tunangan dua kali. Bodo amat pandangan orang yang penting aku bahagia.” Rossa berkeras.