
Hari berganti hari, bulan berganti bulan perut Rossa kini sudah membesar. Sudah memasuki usia kandungan 6 bulan lebih. Acara tujuh bulanan akan diadakan di rumah Nicki.
“Nanti lahiran di tungguin siapa Ros?” Tanya ibu mertua
“Belum tau buk, belum kepikiran”
“Aku gak bisa nunggu lho Ros. Aku udah kaku pegang bayi. Kamu suruh ibu kamu aja yang nunggu. Lagian ngurus orang lahiran itu susah. Aku kalau nunggu bisanya yaa Cuma nunggu. Bayi sama cucian kamu sendiri yang urus yaa.”
Deg,, batin Rossa teriris pilu walau tak ia rasa. Ibu kandungnya sudah tua. Memiliki diabetes, vertigo, dan darah tinggi. Setahun bisa lebih dari tiga kali keluar masuk rumah sakit. Sedangkan mertuanya sebenarnya masih segar bugar. Jika mertuanya saja tak sanggup bagaimana dengan ibunya? Lalu siapa yang akan mengajarinya mengurus bayi? Seumur umur ia tak pernah dekat dengan anak kecil. Apalagi bayi baru lahir. Ia anak terakhir dari tiga bersaudara. Adik saja tak punya.
Suara ribut terdengar dari luar rumah. Nicki sudah pulang berbelanja kebutuhan tuju bulanan dengan ayahnya. Melihat kedatangan Nicki entah mengapa butiran air bening menetes di mata Rossa. Apa ibu hamil memang sesensitif ini? Untung keadaan rumah sedang gelap karena lampu belum dinyalakan walau sudah sore. Rossa langsung bersembunyi di sudut tergelap. Berharap Nicki tak melihat kesedihannya.
“Kamu kenapa yang?” tanya Nicki saat berada di kamar mereka.
__ADS_1
“Gak papa emang kenapa?”
“Beneran?”
“Iya” air bening sialan itu sudah membanjiri pelupuk mata Rossa. Sekuat tenaga Rossa menahan, namun akhirnya menetes juga. Nicki melihat airmata itu. Memeluk istri dan mengusap punggungnya.
“Jangan di tahan, jangan pernah menahan apapun dari aku. Kesedihan mu juga milikku. Hati yang harus ku jaga agar bahagia itu hatimu. Jika hatimu terluka, aku sudah gagal menjaganya sayang.” Tangis Rossa semakin membanjir.
“Katakan apa yang terjadi?” tanya Nicki saat Rossa sudah tenang.
“kita cari jalan lain.” Kata Nicki
“Jalan apa? Aku gak pernah pegang bayi Yang. Apalagi ngurus. Mbak Ifa juga baru lahiran anak ke dua. Trus siapa yang ngurus anak kita nanti?” buliran air bening menetes lagi. Dokter menyarankan operasi secar, karena minus Rossa yang banyak. Selepas operasi tentu butuh waktu penyembuhan. Lalu siapa yang akan membantunya mengurus bayi kalau tak ada keluarga yang bisa mengunggu. “Udah jangan nangis sayang, kita bisa sewa baby sistet kalo gitu.” Kata Nicki menenangkan.
__ADS_1
“Uangnya dari mana Yang? Kita hidup aja masih pas pasan?”
Nicki mengerutkan keningnya. Gurat sedih nampak di wajahnya. “Maaf ya yang kamu jadi susah. Maaf belum bisa membahagiakan kamu.”
Mereka berpelukan. Sepasang suami istri yang menunggu kelahiran anak mereka. Namun tergurat duka karena himpitan ekonomi. Jutaan orang mungkin mengalami hal yang sama. Kesulitan ekonomi atau apa pun. Karena hidup memang tempat kita di uji. Jadi ujian akan selsai jika kita sampai di gerbang rumah kita terakhir didunia. Saat nafas kita berhenti.
Rossa ingat buliknya dulu seorang baby sister, tapi sekarang sudah tua. Menjanda di temani dua anaknya. Maukah ia membantu? Rossa ceritakan buliknya itu pada Nicki. “Bayarannya gimana yang? Kasian kalo gak di bayar. Dia kan janda.”
“Yang jelas gak sebesar baby sister yang gak kita kenal Yang. Kita bayar seiklasnya aja.”
“Gitu yaa, oke kita cari contacnya Yang cepet cepet kita hubungi aja”
Mereka bergerak cepat. Ingin segera menemui bulik Wiwik itu.
__ADS_1
Bulik Wiwik bersedia merawat bayi Rossa. Bersedia datang jauh jauh dari Solo ke Jogja. Operasi akan di adakan awal tahun. Beliau mau datang sehari sebelumnya. Rossa dan Nicki mengucap syukur atas itu.