
Dari ketiga nomer yang pak Bambang berikan hanya dua nomer yang menghubungi Rossa.
Satu seseorang bernama Dimas, seorang cowok berkulit hitam berwajah manis. Cowok itu beda setahun dari Rossa. Cukup asik dan nyambung perkenalan mereka lewat hp. Cowok itu bekerja di pabrik jas hujan dekat pabrik Roti tempat Rossa bekerja.
Mereka memutuskan bertemu suatu sore. “Udah lama kerja di pabrik itu mas?” Tanya Rossa sambil menyantap burger keju miliknya.
“Lumayan Ros, setengah tahun juga ada. Jangan panggil mas dong panggil aja nama. Kita hampir seumuran”
“Oke oke. Kok kenal pak bambang darimana Mas?”
“Temenku dulu di tambang. Di Kalimantan. Aku cukup lama di sana Ross. Trus pulang cari kerja di sini aja. Jangan panggil mas lah panggil aja Dimas”
“Lah aku tuh udah nyebut nama kamu. Masa iya nama kamu Dimas aku panggilnya Dim Dim ya gak enak. Dikira dimsum gimana. Ya panggil aja Mas. Hahahaha”
__ADS_1
“Ooohh gitu hahahaha” Dimas pun ikut tertawa. Pertemuan singkat mereka berkesan baik. Dimas cowok supel yang mudah akrab membuat Rossa seakan berbicara dengan teman lama. Dimas rajin mengkomen status Rossa dan rajin berchat dengannya.
Satu nomer lagi seorang cowok cukup matang berjarak 8 tahun dengan Rossa. Cowok itu bekerja di lombok, namun orang asli sekitar solo. Dan ternyata cowok itu tetangga desa dengan kakak ipar Rossa yang menikahi kak Ifa.
‘namanya siapa mas dapat nomerku dari siapa?’
‘Nicki, kamu Rossa yaa temannya Brambang’
‘bambang maksudnya. Aku temen dia waktu di tambang. Sekarang kerja di lombok di toko teknik tempat orang orang kaya gitu’ kesan pertama yang Rossa tangkap pada Nicky kurang menyenangkan. Nicky seperti cowok sombong. Chat Rossa dengan Nicki hanya pendek pendek kesan pertama yang kurang baik membuat Rossa malas menanggapi chatnya. Mereka jarang berpesan meski kadang saling mengomentari status masing masing.
Rossa masih dengan dunianya. Menelusuri satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain. Sambil menelusuri hati cowok yang sekiranya cocok untuk ia pacari. Rossa tak ingin salah memilih lagi. Hatinya leleh patah hati.
Beberapa teman prianya meminta Rossa jadi pacar. Tapi Rossa menolak. Merasa belum ada yang tepat. Termasuk Setya yang masih berbalas pesan atau pergi berdua jika ada kesempatan. Setya yang sekarang lebih sabar. Ia jarang memaksakan kehendak. Lebih asik karena tak bisa memarahi Rossa ketika cemburu. “Emang aku siapa mu” kata kata mujarab Rossa bila Setya cemburu dengannya.
__ADS_1
Hari ini hari ulang tahun Rossa. Ia dapat kado dari Setya. Seumur umur baru kali ini Rossa dapat kado dari Setya. “apa ini?” Tanya Rossa sambil mengangkat kotak besar itu di tangannya. “Buka aja mudah mudahan suka”
“Gak biasanya kasih kado kado segala.” Rossa dengan senyum anak kecil dapat hadiah. Ternyata sebuah helem merah cantik. “Waahhh bagus banget. Makasih yaa” masih dengan senyum merekah. “Mimin (nama motor Rossa) kan merah. Pasti lebih cocok kalo kamu pake helem merah”
“Ihh tumben mbahas penampilan”
“Trus imbalannya apa dong udah kasih hadiah”
“Lah ngasih hadiah minta imbalan juga” Rossa dengan nada heran
“Imbalannya gimana kalo kita jadian lagi?” tanya Setya
“Gak mau! Temen ya temen. Kalo mau jadi pacar ku harus saingan sama cowok cowok lain. Aku mau cari yang terbaik.” Rossa masih tetap dengan pendiriannya.
__ADS_1