
Enam bulan Rossa di toko, kembali pindah ke pabrik karena merasa lebih nyaman. Jam kerja di toko yang masuk pagi buta atau pulang larut malam membuat Rossa kelelahan. Apalagi jarak toko dan rumahnya yang sangat jauh. HRD mengizinkan permintaan Rossa kembali ke pabrik. Namun tidak pada bagian yang sama. Sekarang bagiannya adalah menghias tart.
Pabrik itu sudah banyak perubahan. Sekarang hanya ada dua sift di bagian Setya. Wajah wajah baru bermunculan. Entah apa yang salah dengan pabrik roti yang menurut Rossa nyaman itu. Dari total 10 orang baru angkatan Rossa kini hanya ia yang masih bekerja disana. Banyak orang yang masuk, sebanding dengan yang keluar. Jadi hampir tiap bulan ada saja karyawan baru.
Suasana kerja di tart hampir sama dangan bagian yang dulu. Penuh canda tawa walaupun pekerjaan kali ini lebih sulit. Rossa dekat dengan beberapa teman wanita di bagian ini. Yang unik dari bagian tart adalah lebih banyak di temukan species cewek di sini. Walaupun tetap ada cowok di bagian ini.
Jam makan siang tiba. Rossa dan beberapa temannya menju warung makan. Hp di celana Rossa bergetar pesan dari setya
“ngapain tadi boncengan sama Hedi. Mau selingkuh kamu?”
__ADS_1
“boncengan cuman ke warung doang sayang masa iya selingkuh sama bapak anak dua. Udah tua lagi”
“Emang gak bisa naik motor sendiri? Emang gak bisa boncengan sama cewek. Kamu tuh emang dasarnya kegatelan.” Rossa meremas hpnya. Sudah ratusan atau puluhan ribu kali pertengkaran unfaedah seperti ini. Hanya gara gara Rosa berpesan dengan cowok lain nanya harga sepatu onlen lah. Gara gara Rossa ngobrol dengan teman lelaki di pabrik lah. Sekarang hanya gara gara berboncengan dengan teman satu bagian untuk istirahat di warung. Janji tahun baru itu hanya janji. Bahkan Setya lebih posesif sekarang.
Sebenarnya Rossa lelah dengan semua keposesifan itu. Lelah membuatnya sulit bernafas, bingung bersikap. Sebagai makhluk sosial tentulah ia membutuhkan berinteraksi dengan orang lain. Teman teman di pabriknya kebanyakan cowok. Tiap ngobrol dengan cowok selalu di cemburui. Rossa tahu banyak pengorbanan yang Setya lakukan. Setya selalu ada untuknya di luar jam kerja. Menemani belanja, kondangan, apapun yang di butuhkan Rossa. Setya juga bukan orang yang pelit jika ia punya uang, walaupun itu jarang terjadi. Rossa lah yang nombok kiri kanan untuk kebutuhan Setya. Setya dengan segala keterbatasannya sebenarnya cowok yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk Rossa. Lebih dari itu Rossa sangat mencintai Setya. Setiap orang memiliki kekurangan. Pikir Rossa.
Hubungan mereka yang hampir dua tahun membuat keluarga mereka meminta kejelasan. Ibu Rossa ingin setidaknya tunangan atau apalah untuk mengikat hubungan mereka. Rossa menyampaikan itu pada Setya “boleh. Seneng banget aku malah. Biar gak ada cowok yang berani deketin kamu” kata Setya sambil mengecek hp Rossa. “tapi janji ya habis tunangan gak posesif lagi. Kalo udah tunangan mana ada sih cowok yang mau sama cewek yang udah tunangan." Setya manggut manggut. "Yaa tapi kamu harus siapin cincin Set. Trus habis itu nabung buat nikahan. Masak ia kamu gak bawa apa apa waktu nikahan”
“Ya masak segram doang. Aku doang gitu. Ya sama kamu dong”
__ADS_1
“yang penting kan kamu. Biar gak ada yang ngelirik.”
“Ya tapi kamu juga.”
“Baeklah”
Tiga bulan berlalu cincin yang di janjikan Setya belum juga terbeli. Padahal acara tunangan di adakan dua minggu lagi. Rossa pun berinisiatif membeli cincin itu i tambah uang yang di kumpulkan Setya. Jadilah dua buah cincin senilai dua gram masing masing hasil patungan mereka berdua.
Acara berlangsung sederhana. Hanya di hadiri orang rumah Rossa di tambah Om dan sekitar enam orang dari pihak Setya ber boncengan tiga sepeda motor. “Ini peresmiannya kapan pak buk?” tanya pakde Setya
__ADS_1
“Coba tanya anaknya pak” kata ibu Rossa. Karena kerdit motornya kurang setahun lagi Rossa pun menjawab setahun lagi. Mereka pun sepakat.
Cincin kedua di jari Rossa semoga cincin terakhir hingga akhir hayatnya.