Half Bad Girl

Half Bad Girl
bucin


__ADS_3

Cinta yang tumbuh di antara adonan roti. Itulah kisah cinta Rossa dengan Setya kini. Kisah cinta dua buruh pabrik roti yang jauh dari kata mewah. Dua orang muda itu hanya menghabiskan malam minggunya di tempat tongkrongan murah. Di hik (angkringan) atau di alun alun menikmati bakso bakar. Tak ada malam minggu nonton atau di caffe mewah. Gaji Setya sebulan hanya cukup untuk bermalam minggu di hik atau alun alun. Itu pun kalau tanggal muda ia masih pegang uang. Kalau tanggal pertengahan saja Rossa lah yang keluar uang untuk malam minggu mereka. Belum terkadang Rossa harus memberi uang untuk pegangan Setya di tanggal tua. Kala dompet Setya tak terisi sepeserpun.


Setya anak buruh tani sederhana. Setiap bulan menyerahkan beberapa lembar gajinya untuk tambah kebutuhan pokok. Belum ia mencicil motor seken yang ia pakai sehari hari. Gajinya yang tak seberapa habis sudah. Rossa tak mempermasalahkan semua itu. Baginya nyaman bersama Setya lebih dari segala kemewahan saat ia bersama Tama.


Setya begitu overprotektif terhadap laki laki yang melirik Rossa. Ia yang dulu menjadi tempat curhat segala macam lelaki yang mendekat Rossa kini menjadi singa yang setiap saat menerkam siapa saja yang mendekati kekasihnya. Setiap hari tak pernah dilewatkan Setya untuk mengecek hp milik Rossa. Mengecek nomer baru yang di simpan, pesan dan panggilan masuk.


Rossa sedang membantu kakaknya memotong kain. Kak Ifa memiliki konveksi jilbab kecil kecilan. Handpone di meja terus saja begetar menimbulkan suara mengganggu karena terlalu lama” angkat Ross, siapa tau penting.” Kata mbak Ifa.


“Paling juga Setya. Pesannya gak aku balas soalnya” kata Rossa beranjak mengambil hp. Benar saja. Beberapa kali mised call dari Setya. Rossa menulis pesan keburu hp itu bunyi lagi. “Kenapa?” baru kata itu terucap sambungan dimatikan. Rossa kembali menulis pesan


“Kenapa Set, aku lagi sibuk bantuin kak Ifa gak bisa bales pesan kamu”

__ADS_1


“bantuin apa lagi di apelin cowok lain!!!”


“Bantuin sayang, besok kirim barang. Kasihan belum jadi”


“awas aja kalau aku cek kamu di apelin cowok lain atau chatan dengan cowok lain!!”


“Sumpah ini bantuin mbakku. Sini aja kalau gak percaya.” Rossa meletakkan hp nya kembali sibuk dengan kain kain. Sepuluh menit kemudian hp nya kembali bergetar tiada henti. Rossa yang kini memangku hpnya sambil mengerjakan kain kain itu kembali ganggu.


“yang”


“Yang”

__ADS_1


“Yang”


“Sama cowok lain ya”


Pesan yang satu satu terkirim. Dan dua mised call terakhir. Rossa kembali mengetik hp nya “ini masih ribet bantuin. Diem dulu napa!!!”


Pertengkaran pun terjadi. Rossa yang tak sabar menghadapi Setya, Setya yang selalu posesif terhadap Rossa. Pertengkaran seperti itu hampir seminggu sekali terjadi. Esoknya selsai dengan sendirinya. Terulang lagi minggu depan. Selsai lagi. Terus berulang.


Teman yang menjadi pacar belum tentu seenak di jadikan teman. Ia akan berubah dengan statusnya yang berubah atas dirimu. Namun Rossa masih menganggap Setya wajar. Dulu Setya lah tempat curhat tentang para lelaki yang mendekatinya. Mungkin itulah yang menyebabkan ia jadi amat sangat posesif terhadap Rossa. Terkadang di posasifi itu juga menyenangkan. Dianggap penting dan selalu di perhatikan.


Tak terasa setahun mereka menjadi sepasang kekasih. Masih dalam tim kerja yang sama. Masih dalam canda dan tawa yang terukir saat bekerja. Seolah dunia milik mereka saja. Walaupun kerja dengan pacar mereka amat profesional. Justru kinerja mereka yang terbaik di bandingkan sift sift yang lain.

__ADS_1


__ADS_2