Half Bad Girl

Half Bad Girl
jasmine aliza dhira


__ADS_3

Seorang perawat berkata “ buu, anaknya akan lahir ya Bismilah” kemudian mendorong perut Rossa dari atas. Tangis bayi memenuhi ruangan itu. Rosa merasa tangisnya mirip suara tetrawa spongeb*b di tv. Apa mungkin gara gara waktu di perut sering nonton kartun itu? Bayi mungil itu di letakkan di dada Rossa. Di mungi sekali kulitnya kemerahan. Rossa baru pertama ini melihat bayi baru lahir. Benar benar baru lahir.


Suara denting alat operasi masih terdengar. Si mungil sudah di angkat dari dada Rossa. Entah mengapa Rossa merasa sesak. Seakan oksigen kosong di paru parunya. Rossa berusaha bernafas lebih banyak. Tetap saja kosong. “suster su su suster sesak” suara terbata Rossa memenuhi ruangan. Rossa merasa seluruh tubuhnya dingin. Matanya gelap meski sedang terbuka. Tubuhnya serasa diam. Melihat cahaya putih samar dari kejauhan. Kepanikan terjadi di ruangan itu. “Buat tidur saja ya buu” Rossa mendengar suara itu. Cahaya putih yang ia lihat perlahan menghilang.


Rossa terbangun. Sepertinya operasinya sudah selsai. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Banyak pasien di sana. Sepertinya ia berada di ruang pulih sadar. Kakinya masih mati rasa.


Ia mengingat mimpinya. Cahaya putih datang. Cahaya indah, sangat indah. Iya, hanya cahaya putih. Tapi Rossa belum pernah melihatnya. Belum pernah selama hidupnya melihat cahaya seindah itu. Cahaya dari surga kah? Ah, tapi ia yakin sekarang berada di rumah sakit. Monitor detak jantung dan alat lainnya terpasang bukti kalau dirinya masih hidup.

__ADS_1


Tiba tiba lapar menyerangnya. Tentu ia lapar sudah sejak siang tadi belum makan. Dan entah sudah jam berapa ini. Seorang suster mendatanginya “Bu, apa yang dirasakan?”


“Saya lapar sus”


“Ada lagi?”


Beberapa saat kemudian ia di pindah keruang perawatan. Saat keluar ruang operasi ia lihat Lek Wiwik sudah datang, Nicki suaminya dan mertua laki lakinya. Senangnya melihat wajah yang di kenali. Batin Rossa.

__ADS_1


Di ruang perawatan Rossa langsung di beri makan. Ia menghabiskan tanpa sisa di suapi Lek Wiwik. Mertua laki lakinya sudah pamit pulang. Tinggallah mereka bertiga di rumah sakit. Rossa belum bertemu si kecil, namun suaminya sudah memfotonya tadi. Bayi itu seperti tidur tenang di foto. Entah wajahnya mirip siapa Rossa belum bisa menyimpulkan.


Jasmine Aliza Dhira. Sebuah nama sudah ia siapkan. Sebenarnya sudah meminta Nicki menyiapkan nama sejak hamil. Bulan ketiga, tapi sampai bulan tujuh ia hamil nicki belum punya nama “belum punya wangsit(petunjuk)” katanya. Jadilah Rossa yang menyiapkan nama.


Tiga nama dari tiga bahasa jasmine bahasa inggris yang berarti melati. Harum, putih, indah. Aliza yang berarti bahagia. Dhira bahasa sansekerta berarti pandai. Jadi arti nama itu kurang lebih gadis harum, putih indah yang selalu bahagia dan pandai.


Menjelang tengah malam Rossa sudah bisa miring secara perlahan. Secara perlahan pula bius di perutnya habis. Jadi ia bisa merasakan nikmatnya luka sayatan di perutnya. Siapa bilang lahiran cesar itu mudah. Yaa, mungkin terlihat mudah. Tapi setelah melahirkan efek menghilangnya bius secara perlahan itu begitu menyiksa.

__ADS_1


Lek Wiwik menyuruhnya tidur secepatnya. Agar punya tenaga yang banyak buat besok. Suara kembang api memenuhi langit Jogja. Rossa benar benar menikmati tahun baru kali ini dari ketinggian. Bukan ketinggian bukit, tapi ketinggian kamar rumah sakit.


__ADS_2