Half Bad Girl

Half Bad Girl
kejutan tama 2


__ADS_3

Hari hari setelah kejadian di balkon Rossa tak simpatik lagi dengan Tama. Masih menerima telfonnya setiap hari, namun acuh saja. Di kursusan Rossa kebih suka menghindar. Ia menghabisan banyak waktu dengan teman teman menjahitnya. Ingin rasanya mengakhiri semua, namun cincin di jari manis itu tanda bahwa kedua belah orang tua sudah terlibat dengan hubungan mereka. Entahlah, Rossa hanya ingin di tunjukkan jalan terbaik.


Jumat pagi henpon Rossa berdering. "Halo mas" jawab Rossa tak acuh


"Yang tolong bilang sama pembimbingku. hari ini aku gak masuk. Pakde aku meninggal. Nanti aku nyuruh orang buat antar lelayu. Tapi tolong bilang dulu sama pembimbing yaa."


"innalilahii siapa yang meninggal mas? pakde Narto?"


"bukan pakde dari ibuk yang. Tapi pakde Narto juga gak masuk kayaknya. kan masih satu desa"


"oke nanti aku bilang"


"makasih yang. sayang kamu muuuaahh" tut tut tut Rossa menutup telponnya.


Sampainya ditempat kursus Rossa menuju kelas mobil Tama. "mas tolong bilangin sama pembimbing mas tama ijin pakdenya meninggal." kata Rossa pada teman Tama yang asik dengan mesin mobil. " haaa pade pakde nya?!!! pak Narto maksudnya???? welehh pendek banget umurnya. Baru kemarin marah marah. Serangan jantung apa?" cerocos teman Tama. pembicaraan mereka menarik teman teman yang lain. Jadilah segerombolan penyamun itu mengrubungi Rossa. " bukan mas, pakde dari ibunya. pakde Narto juga gak masuk soalnya masih satu desa." coppy Rossa. Ohh kirain pak Narto hehehehe."


"udah gitu aja. pamit mas" Rosa ngeloyor pergi. "ehhh Ross tunggu"


"apaan"


"emmmm anu......" senyum2 gak jelas


"apa cepet mau ke kelas"

__ADS_1


"ituuu Ross" matanya menunjuk ke arah bawah. Grombolan penyamun itu tertawa ngakak. Perhatian Rossa teralih pada tawa mereka " apa sih ngomong gak jelas malah ketawa"


"astaga Rooss itu resleting celana kamu terbuka!!!" tawa meledak lagi. Wajah Rossa semerah tomat. Berlari meninggalkan segrombolan penyamun yang menertawakannya. "polos banget yaa pantes si Tama gampang dapetin"


"iya gak percuma kemarin gembosin sepeda onthel hahahaha" samar samar Rossa mendengar percakapan mereka walau sudah cukup jauh ia meninggalkan kelas mobil. Haaa maksudnya yang kemarin sengaja!!


Sampai dikelas wajah Rossa masih merah dengan nafas ngosngosan. " habis di kejar banteng Ros?" tanya mbak Galih.


"Aku tuh malu mbak. ketahuan celana ku belum di kancingin sama anak mobil." adu Rossa sambil berusaha menaikkan resleting celananya. Tawa pun menggema dari kelas menjahit itu. "yaaaaahhhh malah copoot!!" teriak Rossa sambil membawa resleting celana. Merekapun kembali tertawa terbahak bahak. " udah baikan sama Tama. sampai main dikelasnya segala" tanya mbak Galih mengingat kejadian balkon senin kenarin. " yaa masih gitu dehh. aku cuman ngizinin dia gak masuk. Pakdenya meninggal."


"Innalilahi meninggal kenapa Ros?"


"gak tau mbak. Gak nanya akunya."


"lha kamu gak layat Ros? Awas ketusuk." kata mbak Diah memperingatkan. Rossa mencoba menutupi resleting celananya dengan peniti yang di kaitkan. " gak mbakk. rumah Tama jauh bgt. Gak ada motor gini." jawab Rossa polos. " lah tak anterin gimana. nanti izin sama bu Win dulu" tawar mbak Galih. " gak usah mbak ngrepotin"


"iya lah kapan lagi bisa pakai hasil karya Diah. setahun lagi mahal itu. Dia kan jahitannya paling bagus, paling rapi" sahut mbak Galih sudah dapat izin.


Jadilah Rossa mengenakan tunik Puanjang, karena ukuran mbak Diah yang lebih tinggi dari Rossa. Ia juga di pinjami jilbab pasangan tunik sekaligus di pakaikan oleh mbak Galih, karena Rossa belum becus memakai jilbab sendiri. Mereka berangkat dengan sepeda motor mbak Galih.


Sampailah mereka di desa Tama. " kok rumah Tama sepi yaa mbak. " saat mereka melewati rumah Tama. "ya iyalah kan yang meninggal pakdenya. Ya di rumah pakdenya lah. Kamu tau enggak rumah pakdenya?"


"enggak, tak telpon Tama aja biar kasih tau. "

__ADS_1


"gak usah lah. kita cari sendiri aja. Tohh satu desakan. pasti ketemu."


"makan dulu yuk mbak. Tuh ada warung Miso aku laper nih" ajak Rossa


"boleh. kamu yang bayar yaa hahahah"


"iya iya tenang aja"


Mereka memesan dua mangkuk mie so dan dua gelas es teh. Seorang ibuk2 tua dan anaknya melayani dengan ramah. " buk, ibuk tahu rumah pakdenya mas Tama yang meninggal gak. Mas Tama yang rumahnya di situ" tanya mbak Galih saat ibu2 itu menyajikan es teh. "ohh mas Tama. Di ujung desa sana mbak. Tadi pagi mas Tama sekelurga pergi kesana. Anaknya gak di ajak tapi di rumah sama pembantunya. Masih kecil kan gak boleh datang ke layatan."


"anak? anak siapa buk"


"ya anaknya mas Tama lah....."


mbak Galih batuk2 tersedak es.


"yang Firdaus masih 3 bulan itu buk?" sahut Rossa berusaha setenang mungkin.


"Iya, kasihan ya mbak ibuk nya Daus. Masak iya habis lahiran di lemparin uang segepok trus suruh minggat. Orang berduit emang semena mena ya." kata ibuk penjual bakso. " iya ya buk. Rasa kangennya pasti lebih besar daripada uang yang di berikan." lanjut Rossa sok bergosip ala ibuk ibuk. " buk jangan bergosip tentang keluarga itu. Nanti kena masalah lho." si anak memberi peringatan sambil menghidangkan mie so pesanan Rossa. " eh ngomong ngomong mbak mbak darimana yaa. Kok saya baru lihat?" tanya ibuk ibuk.


" ahh orang sini aja buk tetangga desa. Mbak saya ini temennya mas Tama waktu kuliah. Denger kabar pakdenya meninggal mau layat." lancarrr benar mulut Rossa berbohong.


Rossa menghabiskan semangkok mie so dengan cepat. Entah apa rasa mie soo itu. Makanak faforitnya hanya berasa hambar sungguh hambar. " kita balik ke kursusan aja mbak" kata Rossa setelah membayar mie so.

__ADS_1


Di atas motor yang melaju air mata Rossa tak terbendung lagi. ia menangis sampai mbak Galih menepikan motornya di pinggir jalan. "sabar ya Ross." kata mbak Galih sambil memeluk Rossa.


Rossa sebenarnya tidak terlalu patah hati, karena hatinya untuk Tama pun masih ia pertanyakan. Ia hanya merasa terbohongi, di kecewakan. Bagaimana pakde pakde Tama datang kerumah kemarin. Tentang pernikahan yang amat sangat terburu buru. Bagaimana mereka menyombongkan harta. Halahhh semuanya tumpah dalam tangis gadis belia berusia 18 tahun itu.


__ADS_2