Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 1 Hallo Dad!


__ADS_3

Elena adalah seorang wanita atau sekarang bisa disebut


seorang ibu yang mandiri. Ia menjuluki dirinya sendiri ibu yang mandiri karena


walaupun dengan keadaannya yang tak memadai, ia telah berhasil berjuang


membesarkan Virendra atau biasa ia menyebutnya dengan Rendra, sendirian tanpa


bantuan dari siapapun.


Karena enam tahun yang lalu, Elena


memutuskan pergi menjauh dari orang-orang yang dikenalnya, termasuk kedua orang


tuanya sendiri. Tepat pada saat ia dinyatakan positif hamil oleh dokter


kandungan ketika ia memeriksakan dirinya ketika kalapada hari itu ia merasakan mual yang


tak biasa.


Kala itu, Ayah dari Rendra bukan tidak mau


bertanggungjawab, tapi setelah malam terjadi pembuahan, pagi hari yang cukup


rumit Elena langsung memutuskan untuk pergi tanpa tahu bahkan melihat wajah dari


siapa pria tersebut. Jadi dengan kata lain ayah Rendra sama sekali tak mengetahui


sedikitpun keberadaan anaknya.


Elena memutuskan tak akan pernah mencaritahu, dan juga


bertekad Rendra tak akan pernah tau siapa ayahnya sesungguhnya. Karena Elenapun


menanamkan dalam benak Rendra ketika anaknya sudah tau arti dari seorang ayah. Kala


itu ia terpaksa mengatakan bahwa ayahnya sudah lama meninggal jauh hari ketika


Rendra masih didalam kandungannya.


“Mom..” ucap Renda sambil menyentak pundak Elena, karena


cukup kesal ucapannya yang sejak tadi tak didengarkan oleh ibunya.


Panggilan itu memang sedikit aneh, dulu Elena sudah


membiasakan Rendra memanggilnya Mamah, Ibu bahkan Bunda, tapi anak itu tetap


pada pendiriannya dengan memanggilnya sebuat Mom. Elena yang pasrah pun


bertanya alasannya dan Rendra hanya menjawab dengan santai bahwa ia hanya ingin


pangilan yang berbeda dengan temannya yang lain.


“Kau sudah mengantuk?” Elena bertanya agar anaknya tak


menanyakan apa yang sedang dilamunkannya.


“Apakah kerjaan Mom masih banyak?” Rendra balik bertanya


sambil menguap pelan.


“Maaf sayang malam ini kau tidur sendirian lagi.” Ucap


Elena tapi ketika melihat wajah Rendra berubah menjadi sendu ia pun bertanya.


“kau ingin tidur dipelukan Mom?"


Dan dijawab oleh anggukan kepala penuh dengan semangat.


Elena mengerti karena sudah seminggu ini deadline revisian untuk sebuah buku karya


penulis Langit yang harus segera ia serahkan pada pihat Editor. Karena hal itulah


membuatnya Elena sedikit mengabaikan keperluan Rendra.


“Kemarilah, Mom akan memelukmu.” Elena merentangkan kedua


tangannya dan disambut oleh Rendra yang langsung masuk pada pelukannya.


Elena langsung mengangkat tubuh kecil Rendra menuju kamar


tidur mereka, rumah ini memang hanya terdapat satu kamar tidur yang mereka


gunakan bersama. Karena rumah mereka hanya terdiri dari satu kamar tidur, satu


tempat untuk ia memasak sekaligus mencuci, satu kamar mandi, dan satu ruangan


serba guna yang kebanyakan ia pakai untuknya bekerja.


Hanya rumah inilah yang bisa ia dapatkan dari


tabungannya, tapi walaupun dengan segala kekurangan yang ada, rumah ini lebih


dari cukup ketika kau hanya hidup berdua dengan seorang anak berusia lima


tahun.


**


Tok.. tok..


Elena tersentak bangun ketika mendengar suara ketukan


pindu depan rumahnya.


Sudah seminggu ia bebas tugas dari deadline, akhirnya


kini ia mendapatkan waktu luang untuk menghabiskan waktu bersama Rendra yang


kini entah berada dimana. Sepertinya Elena jatuh tertidur ketika bermain


bersama Rendra yang membuat anak itu kini entah pergi kemana.


Tok.. tok..


“Ada yang bisa saya bantu?” ucap Elena setelah membukakan


pintu dan menemukan seorang pria asing didepannya kini.


Elena serasa masih bermimpi ketika melihat sosok yang


kini berada dihadapannya, seorang yang tak mungkin bisa dijumpai pada kehidupannya


yang normal. Bahkan dalam mimpi sekalipun bagaimana bisa ia bermimpi akan kedatangan


seorang pria yang  bertubuh tinggi,


pakaian yang sepertinya cukup mahal dan jangan lupakan wajah yang biasanya


hanya bisa dijumpai dilayar televisi.


Elena yang merasakan hal yang tak


nyata, berusaha untuk bangun dari mimpinya  dengan cara mencubit


dirinya sendiri. Hal itu


membuat Elena mempermalukan dirinya sendiri dengan berteriak sekencang-kencangnya yang


membuat pria


didepannya merasa heran akan tingkahnya. Elena hanya bisa mengatakan dalam hati meski pria didepannya


hanya diam, ia ingin meneriakan sekencang-kencangnya bahwa ia rela mati karena telah berjumpa


seorang pria paling tampan yang pernah dilihatnya selama ia hidup.


Namun hal itu hanya bisa ada didalam


kepalanya, karena setelah


kewarasan Elena kembali, ia memikirkan opsi paling mungkin orang didepannya


bertamu kerumahnya, adalah pria didepannya Mungkinkah Kepala Editor yang baru? Dan


memikirkan kemungkinan itu membuatnya merasa bahagia. Karena jika tebakannya


benar, setidaknya pria ini akan menyegarkan matanya setelah ia melewati medan


perang.


“Selamat siang, saya Malviano Manager


ZRO.” Ucap pria itu sambil memberikan tanda pengenalnya, ketika melihat Elena


yang terdiam cukup lama.


“ZRO?” Elena kini mengerutkan alisnya,


setaunya ZRO adalah sebuah perusahaan yang berkaitan dengan teknologi.


“Bisakah saya masuk? atau mungkin anda


ingin berbicara ditempat lain?” Ucapan yang keluar dari Malviano membuat Elena


merasa pria didepannya ini tak ingin basa-basi meskipun pada orang asing.


“Aku mempunyai seorang anak yang tak


mungkin kutinggalkan.” Sesal Elena yang dengan tegas menolak tawaran untuk


meninggalkan rumahnya.


“Kalo begitu, permisi saya memaksa masuk.”


Ucap Malviano sambil melewati Elena yang diam mematung dengan wajah keheranan,


melihat tindakannya yang langsung menyerobot masuk ke dalam rumah.


“Aku merasa belum menawarkanmu untuk


masuk kedalam rumah?” ucap Elena penuh nada sindiran.


“Bukankah tadi anda mengatakan tak bisa


meninggalkan tempat ini?” Malviano sudah duduk sambil melihat-lihat rumah kecil


Elena.


“Dan aku sepertinya tak meminta kau

__ADS_1


untuk masuk kedalam rumah apalagi duduk didalamnya?” jelas Elena yang masih


betah untuk berdiri, sambil menyilangkan kedua tangannya.


“Terimakasih, saya hanya ingin kopi atau


teh hangat.” Ucapnya setelah menyaman posisi duduknya.


hanya bisa merespon perkataan Malviano yang


merupakan tamu asing dirumahnya dengan mulut terbuka, sepertinya ia kehabisan


kata-kata untuk orang didepannya kini.


“Baiklah, tak ada kopi atau teh”


ucapnya yang tak dapat respon dari Elena yang masih setia berada di posisinya.


“Bisakah kau memberitahuku ada


keperluan apa kau kemari? Sebelum aku memutuskan untuk menghubungi seorang


penjaga keamanan atau mungkin seorang polisi jika perlu?” ucap Elena meraih


telepon genggam miliknya dan ditunjukan pada Malviano.


“Boleh saja, kita lihat siapa yang akan


ditangkap oleh mereka.”


“Makk..”


“Aku Malviano seperti perkataan saya


tadi, dan mengapa nama belum juga mengatakan nama anda?”


“Elena” jawabnya singkat.


“Ya Elena, kedatangan saya kemari untuk


mewakili perusahan saya dengan maksud untuk menuntut pertanggung jawaban anda


pada perusahaan kami.”


“Pertanggung jawaban?”


Apakah Elena tak salah dengar, Apa yang


dilakukannya pada perusahaan besar apalagi pada perusahaan yang begerak dalam


bidang teknologi. Elena mencoba mengingat-ingat tentang tulisan-tulisan hasil


penulis yang sudah ia revisi, tapi setelah mencoba menelusuri ingatannya


sepertinya tak pernah ada yang pernah menyebutkan sebuah nama perusahaan.


Elena semakin tak mengerti apakah pria


asing ini telah salah orang atau salah alamat dengan menuduhnya. Bagaimana


mungkin ia yang hanya seorang editor buku yang tak terlalu terkenal bisa


merentas sebuah perusahaan besar.


Elena berusaha mengingat kembali dalam


buku-buku yang mereka buat, biasanya hanya terdapat tempat-tempat acak yang tak


ada didunia nyata, dan walaupun tempat jika tempat itu benar-benar ada,


biasanya pihak yang berkaitan akan memaklumi dengan wajar.


karena dalam hal buku tertulis yang


mereka buat mereka mengatakan bahwa nama dan tempat adalah fiksi semata apabila


ada nama, tempat dan kejadian yang sama itu murni adalah ketidaksengajaan. Dan


juga penulis biasanya sangat berhati-hati dalam menyebutkan apalagi sampai


menjatuhkan nama sebuah lembaga.


“Sebulan yang lalu anda memasukan


sebuah virus baru kedalam sistem ZRO yang membuat kegiatan bekerja disana


dihentikan selama dua puluh empat jam dan anda bisa membayangkan berapa


kerugian jika berusahaan besar berhenti beroperasi?” Ucap Malviano yang kini


mulai mengeluarkan data-data yang sejak tadi berada didalam map yang dibawanya.


“Hahh”


“Anda tak akan bisa mengelak, karena IT


perusahan kami telah menemukan IP alamat rumah ini sebagai sumber dari virus


itu berasal, meskipun mereka memerlukan waktu yang lama untuk melacaknya.”


Ucapnya dengan nada yang kentara tak dapat menyembunyikan kekesalannya pada


mereka.


kesalahan?” ucapan Elena terdengar begitu meragukan keahlian dari karyawan IT


perusahaan itu.


“Saya tahu anda sangat pintar dalam


bersembunyi setelah membuat sebuah perusahaan besar hampir gulung tikar, yang


untung saja hal itu bisa ditangani oleh CEO perusahaan kami yang langsung turun


tangan memperbaiki sistem. Dana juga CEO juga lah yang ikut andil dalam


menemukan alamat rumah ini.” Ucapan panjang lebar Malviano.


Hal itu membuat Elena bertanya-tanya


apakah yang pria didepannya kini banggakan, karena menurut pengalaman Elena


dulu ketika bekerja disebuah perusahaan, ia tak pernah sekalipun melihat


perkataan bahkan sebuah pujian langsung untuk atasannya. Walaupun ia tak pernah


bertemu dengan atasannya langsung, tapi ia sangat tahu ketika mba Wenda berubah


ketus padanya setelah keluar dari ruang bos besar mereka.


Memang dulu Elena pernah bekerja di


sebuah pekerjaan, dulu ia menjabat sebagai seorang sekertaris diperusahan


tersebut. Akantetapi itu sudah lama dan tak mungkin juga ia mengerti hal-hal


seperti yang dituduhkan. Karena pekerjaannya dulu hanya mengerjakan hal-hal


kecil, salah satunya hanya menerima pangilan telepon.


“Anda tak bisa lari lagi, sekarang


giliran saya yang akan menghubungi pihak berwajib.” Ucap Malviano ketika


mendapati Elena yang terdiam.


“Mom..” terdengar suara Rendra.


Sepertinya Rendra sangat bahagia saat


ini ketika berlari untuk menghampirinya setelah melepaskan tangan pria asing


dan berdiri tepat didepan Elena ketika menyadari bahwa ia membawa sebuah es


krim ditangan satunya lagi yang terlambat ia sembunyikan dibelakang punggung


kecilnya.


“Bisakah kau simpan itu untuk besok,


hari ini kau sudah makan sebungkus coklat.” Ucap Elena sambil mengulurkan


tangannya meminta apa yang dikatakannya.


Dengan berat hati tangan


Rendra menyerahkan bungkus es krim yang dengan susah payah ia dapatkan dari


paman asing yang berada dibelakangnya. Es krim itu merupakan alat tukar sebuah


informasi tentang nama dan juga alamatnya yang ditanyakan paman itu ketika ia


sedang bermain bersama teman-temannya.


“Terimakasih sayang.” Ucap Elena memuji kepatuhan


anaknya, lalu ia segera pergi untuk meletakkan Es krim tersebut didalam tempat


beku dilemari pendinginnya


“Bukankah Mom belum


memberikan uang jajan?” Lanjutnya ketika berjalan mendekati anaknya.


“Diberi paman ini.” Adu Rendra sambil cemberut dan


menunjuk pada orang yang ia maksud.


Elena melupakan orang lain yang berada didalam rumah


mereka yang ketika ia melihatnya, sedang berkomunikasi lewat tatapan mata


mereka.


“Lain kali ingat kalo ada orang asing memberikan sesuatu


kau harus langsung menolak kalau perlu kau langsung pergi dari orang tersebut,


bukankah Mom pernah bilang dilarang berbicara dengan orang asing?” peringatan


Elena pada Rendra.

__ADS_1


“Sorry Mom.” Ucap Rendra dengan pandangan tertutup.


“Dan ubah bahasamu.” Ucap Elena semakin tegas.


Sebenarnya Elena bangga anaknya bisa


menguasai bahasa asing diusia dini tapi ia tak ingin anaknya nanti kehilangan


teman-teman bermainnya karena bahasa yang dipakainya. Selain alasan itu Elena


pun tak begitu pandai mengusai bahasa asing tersebut, sepertinya Rendra


mempelajari semuanya sendirian.


“Maaf Mom.” Ulang Rendra, yang langsung


mendapatkan senyum oleh Elena bahwa kini ia tak lagi dimarahi.


“Maaf melupakan keberadaan kalian.”


Ucap Elena yang kini menghadap pada dua pria asing didepannya.


“Kami mengerti, Sekarang seperti yang


ku katakan sebelumnya perusahaan kami akan mengajukan gugatan atas penahanan


anda karena telah membuat perusahan ZRO menggalami kerugian.” Ucap Malviano


yang sejak tadi terdiam memberikan waktu Elena bersama anaknya sebelum ia


membuat mereka berpisah.


“Maaf Bos.”ucap pria asing yang tadi


bersama Rendra.


“Kalian saling kenal?” ucap Elena


terkejut ucapan orang tersebut.


“Dia Liam, bawahan langsung CEO ZRO.”


Jawab Malviano singkat.


“Dan mengapa dia memangil Bos pada


bawahannya? Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau adalah manager?” ucap Elena


yang tak mengerti tindakan Malviano yang seolah-olah begitu berkuasa padahal


mereka sesama para pegawai.


Entah mengapa Elena tak menyukai sikap


Malviano yang begitu meremehkan orang-orang, sedangkan pekerjaannya pun tak


kalah seperti orang yang diremehkan. Mungkin karena dulu Elena mempunyai teman


yang seperti itu, yang membuatnya ingin orang-orang tersebut tau bahwa


merekapun sama.


“Manager? Dia Bos saya nyonya.” Ucap


Liam.


“Dan mengapa anda berada disini Bos,


bukankah sudah saya katakan bahkan saya yang akan turun tangan.” Lanjutnya


berbicara pada Malviano.


“Sepertimu, aku juga gatal ingin


melihat dan mendengarkan alasan dari seseorang yang membuat masalah yang cukup


besar pada perusahan. padahal selama ini tak ada yang bisa menembus sistem


keamanan data yang kubuat.” Ucap Malviano terdengar bahagia sekaligus kesal


ketika mengatakannya.


“Saya mengerti, tapi sepertinya anda


salah tangkap orang Bos.” Ucap Liam berucap seperti tengah menjatuhkan


kebanggaan seorang teman walaupun diucapkan dengan ucapan yang cukup formal.


“Saya yang pertama kali datang


kesini..” ucap Malviano tak terima akan sebuah kekalahan.


“Tapi sayalah orang pertama yang


menangkap orangnya.” Memotong ucapan Bosnya, sekali-kali ia cukup bahagia


menang dari Bosnya yang sangat pintar.


“Maksudmu, saya salah alamat?”


“Anda salah orang.” Ucap Liam sambil


mengelengkan kepalanya.


“Saya benci berputar-putar.” Ucap


Malviano yang kini terlihat semakin kesal.


“Dan saya suka ketika anda kalah.” Ucap


Liam yang sepertinya menantikan pemandangan dimana Bos besar yang selalu benar


didepannya kini harus mengakui bahwa ia telah kalah padanya.


“Katakan.” Ucap Malviano dengan tegas.


“Satu minggu jatah cuti saya, ditambah


tanpa ada gangguan dalam bentuk apapun terutama dari anda.” Liam mencoba


berkompromi, ia mencoba keberuntungannya yang sangat jarang terjadi, laki-laki


didepannya ini terlalu pintar yang entah mengapa tak pernah ingin lepas


darinya.


“Satu hari.”


“Empat hari, ayolah Bos saya sudah


berjanji pada Kiki dan ibunya, bahwa saya akan menemani mereka dalam liburan


tahun ini.” Ucap Liam memohon pada atasannya.


“Baiklah, jelaskan.”


“Anak itulah dalang dalam kekacauan


perusahaan.” Ucap Liam menunjuk pada Rendra.


“Bagaiman..”


“Tidakkah lihat Virus itu membuat


pesan?”


“Ya tap..”


“Anak itu sepertinya hanya ingin anda


menemuinya.”


“Tap…”


“Aku sudah membawamu menemui orang yang


kau mau.” Ucap Liam pada Rendra yang sejak tadi berada dibelakang tubuh Elena


entah sejak kapan.


“Jangan mendekat.” Ucap Elena yang


mencoba memahami perkataan orang-orang asing didepannya.


“Kami tak akan menyakiti anak anda.”


Ucap Liam mencoba meyakinkan Elena mencoba berbicara dengan Rendra.


“Tadi kami sedikit berbincang,


sepertinya anak itu menggunakan cara yang luar biasa agar bertemu denganmu


bos.” Ucap Liam pada Malviano.


“Bagai…”


“Apakah anda meragukan ucapan saya?”


“Ya, memang Rendra yang melakukannya.”


Tiba-tiba Rendra berbicara dan keluar dari persembunyian kecilnya.


“Kamu anak kecil?” ucap Malviano yang


tertawa dan mendekati Rendra mencoba melihat dengan seksama sosok yang sejak


satu bulannya ini membuatnya frustasi.


“Ya.” Ucapnya singkat.


“Saya akan mengira semua ini lelucon,


jika saja kepintaran saya tak terjadi pada seusiamu, baiklah saya percaya kalau


anak inilah yang berbuat.” ucapan Malviano lebih pada dirinya sendiri “Jadi apa


yang menjadi alasanmu berbuat hal tersebut pada perusahaan Om?” lanjutnya


bertanya langsung pada Rendra yang menatapnya penuh kekagumanan.


“Hallo Dad!” dan dijawab Rendra dengan

__ADS_1


singkat namun diucapkan dengan penuh semangat berbeda dengan orang orang yang


mendengarnya.


__ADS_2