
Niat hati ingin menenangkan hati, pemandangan didepan mata malah membuat Elena
semakin meratapi kehidupannya. Dengan hembusan nafas berat terakhir ia memutuskan
berdiri untuk segera pulang kerumah, rumah yang sepi mungkin akan lebih
baginya.
Ketika membuka rumahnya, Elena tiba-tiba teringat hari pertama ia pindah kerumah
tersebut. Hari itu matahari tak terlalu terang pada bulan Desember yang
biasanya matahari sangat terang benderang menunjukkan kekuasaannya, awan
sepertinya melindunginya yang kesusahan membawa makhluk lain didalam perutnya
dan juga barang-barang yang dibawanya kala itu.
Hari itu ia memutuskan apapun yang terjadi ia akan hidup berdua saja dengan anak
yang sedang dikandungnya, ia memutuskan untuk berusaha melupakan ibu kandungnya.
Bukannya ia tak berbakti pada sang ibu, tapi dengan keadaannya yang berbadan
dua tanpa adanya seorang suami yang menemaninya lah yang membuat ia harus
memutuskan hal tersebut.
Elena pergi tanpa pamit pada ibunya, ia berpendapat ibunya akan jauh bahagia dengan
kepergiannya yang mungkin akan merasa malu dengan keadaannya, berbeda dengan
Rosa yang sebenarnya merupakan anak dari kakak ayahnya yang selalu bisa membuat
ibunya merasa bangga dengan apapun yang dilakukan olehnya.
Mengingat ibunya dan Rosa membuat Elena kembali merasa apa yang dimilikinya tak pernah
benar-benar menjadi miliknya baik ibunya maupun Rendra.
“Sepertinya aku harus meminta pekerjaan lebih pada Sandra.” Gumam Elena sambil meraih
telepon genggamnya.
“Tak biasanya kau menghubungi pada jatah liburmu?” ucap Sandra pada panggilan
telepon yang langsung diangkatnya pada deringan yang ketiga.
Elena yang merasa takjub akan jawaban Sandra yang langsung mengatakan hal itu, ketika
ia baru saja mengangkat telepon darinya.
“Bisakah kita bertemu?” ucap Elena yang sepertinya lebih baik membicarakan secara
langsung.
“Lima belas menit aku tiba, atau kau bisa membawa Rendra kesini sekalian.” Tawarnya
yang sepertinya semakin bersemanggat ketika menyebutkan nama anaknya.
Sandra sangat menyanyangi Rendra seperti anaknya sendiri, dulu ia pernah mengatakan
padanya jika Rendra terlahir lebih cepat dua puluh tahun. Sandra akan memohon
padanya agar Elena menyetujui Rendra dengannya, mendengar hal itu membuatnya
tak dapat menahan tawanya.
Elena memang sependapat dengan Sandra bahwa anaknya memang luar biasa tampan
diusianya yang masih kecil. Dulu ia sempat bertanya-tanya seberapa tampan
laki-laki yang telah memberikan benih padanya sehingga ia bisa melahirkan putra
setampan anaknya itu.
Tapi kini Elena tahu semenjak bertemu Malviano, pria itu memang luar biasa tampan.
Rendra hampir mengambil semua yang ada pada Malviano yang dulunya membuat Elena
kewalahan ketika orang-orang bertanya tentang ayah kandung dari anaknya itu.
“Kau berada dirumahkan?”
“Tidak aku berada dikantor.” Ucap Sandra sedikit ketus.
“Benarkah?”
“Jika aku berada dikantor, apakah aku akan membiarkan pipi calon suamiku memerah?”
“Jadi kau berada dirumah.”
“Tentu saja, kau tau aku tak rela membuat merah pipi suami masa depanku.”
“Astaga ingat umur, jika Rendra sudah dewasa nanti kau sudah berubah menjadi seorang
nenek-nenek.”
“Ibu mertuaku tersayang kau terlalu cepat membuat menantu kesayanganmu ini jatuh.” Balasnya.
“Aku akan kesana tapi Rendra tak bisa ikut, aku akan menjelaskan ketika kita bertemu
nanti.” Ucap Elena sebelum mengakhiri obrolan mereka ditelepon.
Setelah itu Elena langsung bersiap pergi ketempat Sandra berada, ia sebenarnya sangat
lelah berpergian hari ini. Tapi ia harus meminta pada Sandra bahwa ia siap
mendapatkan pekerjaan lebih banyak dari biasanya, agar ia mempunyai kesibukan
lain ketika sekarang Rendra tak selalu bersamanya.
***
__ADS_1
Elena berjalan kedapur untuk mengisi ulang kopi yang sudah habis digelasnya, sudah
seminggu lamanya Rendra bersama Malviano setiap hari diwaktu siang hari, dan pada
matahari sudah berganti bulan Liam akan datang untuk mengantarkan Rendra
kerumahnya.
Dan hampir setiap malam Rendra akan menceritakan kesehariannya sebelum ia jatuh
tertidur, sepertinya Malviano membuat Rendra senang sepanjang hari sekaligus
membuatnya cepat lelah. Terlihat semakin cepatnya anak itu tertidur ditengah
cerita kesehariannya.
Elena sebenarnya tak begitu keberatan dengan apa yang mereka lakukan, Malviano berhak
memutuskan apa yang akan mereka lakukan terhadap Rendra. tapi pada susatu malam
Elena terkejut mendengar bunyi perut Rendra ditengah nyenyak tidurnya. keesokan
harinya ia langsung menanyakan apakah Rendra melupakan untuk mengisi perut
kecilnya dan langsung dibenarkan olehnya.
Sejak hari itulah Elena selalu membuatkan bekal makan siang dan sedikit cemilan untuk
Rendra bawa ketika ia pergi, ia tak peduli seberapa kayanya Malviano ia nekat
menyiapkan dan akan menelepon untuk menginggatkan putranya untuk memakan bekal
makan siangnya.
Mengingat itu membuat Elena melihat kearah jam dinding yang berada didapur yang ketika
dilihatnya kini sudah menunjukkan pukul dua belas tepat, sepertinya ia terlalu
serius mengerjakan pekerjaannya membuatnya lupa kini waktunya untuk menelepon
anaknya untuk memakan bekal yang dibawanya.
Tuut…
Tuut….
Hanya bunyi itu yang terdengar ditelinga Elena, ia langsung mematikan sambungan
teleponnya dan mencari kontak nama lain yang mungkin bisa dihubungi untuk
berhubungan dengan Rendra.
Matanya tertuju pada satu nama Malviano, haruskah ia mencoba menghubungi pria itu?
Elena terlalu malu dan juga tak ingin berhubungan langsung dengan ayah dari
anaknya itu. Bukan karena ia takut pada pria itu tapi mengingat pertemuan
Ia takut jika ia jatuh pada pesona pria itu, sedangkan pria itu sepertinya tak ingin
berhubungan terlalu intim dengannya menginggat perjanjian mereka dirumah pria
itu. Meskipun perjanjian itu entah masih berlaku atau tidak karena sampai saat
ini pria itu tak pernah mengantarkan kertas perjanjian apapun.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu Nyonya?.” Jawab pria pada panggilan telepon
sana.
“Bisakah kau memanggilku nama saja?”
“Anda adalah ibu dari tuan kecil.” Jawab singkat.
“Tapi aku tak pernah menggajimu.” Balas Elena yang entah sudah ribuan kali ia mengatakan
pada pria itu.
“Tenang saja ayah dari tuan kecil tak pernah lupa memberikan pada tabunganku setiap
bulannya.” Ucapnya riang.
“Tersaerah padamu sajalah.” Ucap Elena yang sekarang menyerah dengan panggilan yang
ditujukan padanya.
“Jadi ada yang bisa saya bantu?”
“Bisakah aku bicara pada Rendra?”
“Mengapa Nyonya tak menghubunginya secara langsung?” pria itu malah balik bertanya.
Memang tak ada yang salah dengan ucapan pria yang sedang diteleponnya, Malviano memang
sudah memberikan Rendra sebuah telepon genggam untuk anaknya khusus tapi ia tak
akan repot-repot menelepon Liam pria yang cukup menyebalkan ini jika ia bisa
menghubungi langsung pada anaknya.
“Ia tak menjawabnya sejak tadi.” Ucap Elena singkat.
“Lalu mengapa Nyonya tak menguhungi Tuan besar?”
Haruskah Elena menjelaskan pada Liam bahwa ia menghunginya karena ia enggan menguhubungi
Malviano. “Aku takut mengganggunya.” Sebagai gantinya hanya itu yang bisa ia
katakana.
“Tuan kecil sepertinya sedang menemani Tuan didalam perusahaan.”
“Apakah kau mengatakan kau sedang berada ditempat lain?” ucap Elena.
__ADS_1
“Aku juga sedang bersama mereka diperusahaan.”
“Lalu apakah kau keberatan, memberikan telepon ini pada Rendra?” ucap Elena yang
entah mengapa merasa jengkel dengan apa yang diucapkan oleh Liam padanya.
“Sebentar.” Ucap Liam yang terdengar berjalan kesuatu tempat lainnya.
“Mom.” Kini terdengar suara Rendra pada telepon genggam miliknya.
“Sayang, Mom sejak tadi menghubungi teleponmu.” Ucap Elena.
“Maaf Mom Rendra lupa menghidupkannya.” Ucap polos anak itu setelah cukup lama,
sepertinya anak itu memastikan sendiri apa yang sedang terjadi pad telepon
genggam miliknya.
“Jangan pernah lupa lagi sayang, kalau terjadi sesuatu padamu kau bisa menggunakan itu
untuk menghungi Mom kapan saja.” Ucap Elena menginggatkan kegunaan benda itu.
“Rendra janji ini yang terakhir Mom.”
“Mom menghubungimu karena ingin mengingatkanmu ini sudah waktunya makan siang
sayang.” Ucap Elena.
“Mom sepertinya Rendra lupa membawa bekal yang Mom siapkan.” Ucap Rendra sendu
diujung telepon sana.
Dan benar saja Elena melihat wadah bekal yang disiapkan untuk Rendra masih berada
ditempatnya. Tadi pagi Elena tak sempat memberikan langsung pada Rendra karena
ia sangat sibuk dengan apa yang baru saja dikerjakannya, pekerjaan yang Sandra
berikan memang membuatnya sangat sibuk.
Biasanya ia sendiri yang mengantarkan Rendra kerumah Malviano dipagi hari menggunakan
angkutan umum. Tapi sejak kemarin Malviano mengutus Liam untuk menjemput dan
sekaligus mengatarkan putranya dengan alasan kenyaman putranya adalah yang paling
utama.
Sejak hari itu Elena hanya bisa menantarkan Rendra sampai depan rumah mereka dan
menjemput juga didepan rumahnya setiap harinya. Akan tetapi tadi pagi, Elena
hanya sempat menyiapkan dan memeluk Rendra sebentar sebelum kembali pada
pekerjaannya. Sekarang ia menjadi menyesala karena telah melakukan hal itu,
kini Rendra sedang kelaparan berkat kebodohannya.
“Mom.” Terdengar suara Rendra pada telepon genggam yang entah sejak kapan berada
diatas meja.
“Ya sayang.”
“Apakah Rendra boleh meminta paman Liam membelikan hamburger untuk makan siang?” tanya
Rendra penuh harap terdengar ditelingga Elena yang kini sudah terpasang
earphone untuk menghubungankan sambungan telepon dengan telingganya.
Elena sengaja melakukan hal itu karena kini kedua tanggannya sudah sibuk menyiapkan
apa yang dibutuhkan agar ia bisa membawa bekal Rendra.
“Tentu tidak sayang.”
“Tapi Rendra lapar Mom.”
“Makananmu akan segera datang sayang.”
“Tapi Rendra lupa membawanya Mom.”
“Mom akan mengantarkan sekarang sayang.”
“Mom akan kesini.” Ucapnya yang kini terdengar sangat senang mendengar ketika Elena akan
mengantarkan makanannya.
“Kau bisa menunggu sekitar lima belas menit?” ucap Elena yang kini sudah berada didepan
rumah mengkunci pintu rumahnya sebelum pergi.
“Tentu saja Mom.” Ucap Rendra semakin riang.
“Kalau begitu sampai jumpa lima belas menit lagi sayang.” Ucap Elena sebelum mematikan
komunikasi mereka lewat telepon genggam.
“Hati-hati Mom.” Ucap Rendra diakhir pembicaraan mereka lewat telepon genggam.
Mendengar hal itu membuat Elena menyadari kedewasaan anaknya yang masih berusia lima
tahun, bukan hanya otaknya yang terlalu Cerdas tapi anak itu juga begitu
terlalu dewasa diwaktu-waktu tertentu hingga membuatnya begitu mensyukuri apa
yang sudah dimilikinya.
Kini Elena berangkat ke perusahaan Malviano untuk mengantarkan bekal Rendra,
meskipun dalam hati ia sangat takut bertemu Malviano, tapi demi kesehatan
anaknya ia rela melakukan apa saja.
__ADS_1