
Elena semakin khawatir dengan keadaan Malviano, suaminya itu sepertinya terlalu konsentrasi dengan isi kepalanya. Sejak tadi pulang dari Rumah Sakit ia tak pernah mendengar suara dari suaminya ini.
Bahkan Sambutan Rendra—anak merekapun, tak dihiraukannya. Elena harus memberikan pengertian bahwa Malviano sedang lelah, agar Rendra tak terlalu patah hati karena keterdiaman ayahnya itu.
“Segelas susu hangat akan membuat sedikit lebih baik,” tawar Elena sambil menyerahkan benda di tangan kanannya pada Malviano.
“Aku baik-baik saja.” tolak Malviano sambil mencoba menghindar menjauhi Elena, sebelum sebuah tangan menghalanginya.
“Apakah kau akan memulai lagi?”
“Apa maks—-“
“Katakan!” Elena berusaha mengatakan hal itu dengan sangat lembut, walau tidak terdengar sesuai dengan pendengaran lawan dengarnya.
Sepertinya keenggan Malviano berbagi pemikirannya membuat nada Elena terdengar lebih tinggi. Ia cukup lelah untuk selalu mengingatkan suaminya ini tentang rasa saling percaya.
Rasa saling berbagi beban apapun, sehingga mereka layaknya pasangan hidup. Bukannya mereka sudah sepakat? Apakah harus selalu ia mengingatkan hal ini terus menerus?
“Maaf... kebiasaan lama cukup susah untuk dirubah,” ucap Malviano setelah beberapa saat terdiam dan menyadari kesalahannya.
“Katakan,” ucapan Elena kini terdengar tenang sesuai dengan keingginannya.
“A-aku tak yakin dengan ucapan Kenzo tadi,” tutur Malviano menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur mereka sambil mengacak-acak kepalanya asal.
“Bagian mana?” tanya Elena mencoba mengorek lebih dalam kekhawatiran suaminya.
“Kecelakaannya dan orang tuaku,” jelas Malviano pasrah mengatakan pada istrinya, ia mencoba untuk dapat sejujur mungkin mengutarakan pemikirannya tanpa takut apapun seperti yang selama ini.
Bukankah ia sudah bertekad akan membuat rumah tangga ini berhasil. Ia tak inggin kehilangan istri dan anaknya lagi apalagi hanya karena kesalahannya.
“Minumlah, aku membuatkannya untukmu,” ucap Elena sambil menyerahkan segelas susu yang tadi tak dihiraukan oleh suami didepannya ini.
__ADS_1
Malviano hanya terdiam menatap Elena tanpa berniat mengambil gelas itu. Sementara Elena pun tetap kekeh menyodorkan segelas susu itu. Ia hanya ingin suaminya ini cukup tenang dalam mempertimbangkan hal-hal yanv sedang terjadi.
“Mengapa tidak kau saja yang meminumnya?”
“Kau menuduhku?”
“Apa maksudmu?” kini Malviano bertanya dengan nada terkejut.
“Apakah kau mencurigaiku menaruh racun diminuman ini sehingga kau tak ingin meminumnya?” tanya Elena.
Elena langsung menegak susu itu sampai habis ketika tak mendapat respons dari Malviano, sepertinya suaminya benar-benar mencurigainya tak ingin berlama-lama didepan Malviano akhirnya ia segera berjalan keluar kamar.
Pemikiran itu tiba-tiba saja bersarang dikepala Elena, mungkin kah Malviano sebenarnya mencurigai dirinya ingin membunuh Malviano memakai segelas air susu.
“Mom...” cicit Rendra ketika menyadari pelukan Elena ditubuhnya.
Karena tak ingin terlalu jauh memikirkan sesuatu hal, Elena memutuskan malam ini ia tidur dengan anaknya. Ia masuk kedalam kamar anaknya setelah mengunci untuk menghindari Malviano malam ini.
“Tidurlah lagi, malam ini Mom tidur bersamamu ya,” ucap Elena sambil menyamankan posisi tidurnya disamping Rendra yang kini berbalik memeluk dirinya.
“Mengapa?” balik Elena bertanya, karena setaunya anaknya ini tak pernah suka disebut julukan tersebut.
“Karena berpelukan seperti koala seperti ini,” jelasnya kembali dengan nada terlalu dewasa dalam nada suara yang tak bisa dibohongi bahwa usianya masih berusia anak-anak.
Mendengar itu Elena hanya bisa tertawa tertahan, ia tak ingin terlalu menejek keinginan putranya ini. Kemarahan Rendra terlalu menakutkan untuk dihadapi dari pada bertemu penagih hutang dahulu yang sempat ia harus hadapi.
“Tidurlah, ini hanya akan jadi rahasia kita berdua,” ucap Elena sambil mencoba menutup kedua matanya, “Mom sudah mengunci pintunya, loh.”
Mendengar ucap ibunya Rendra langsung mengikuti memejamkan kedua matanya. Ia sudah sangat lelah karena kesibukan orang dewasa yang dilakukannya hari ini, Om Hanz sepertinya terlalu bersemangat menguras otaknya kali ini.
Jika proyek game itu selalu seperti ini, Rendra tak ingin lagi membuat sebuah game bersama Om yang bercita-cita menjadi ayahnya itu. Ia akan merengek pada ayah kandungnya untuk menjauhkan ia dari Om Hanz walaupun itu melukai harga dirinya.
__ADS_1
———
Pagi ini Elena bangun bisa dikatakan terlalu pagi untuk menyiapkan sarapan. Hari ini ia benar-benar ingin memakan apapun hasil dari olahannya.
Makan masakan orang lain rasanya memang enak, akan tetapi kesenangan karena menciptakan suatu hidangan yang terasa lezat menjadi suatu hiburan tersendiri baginya.
“Aku kira kau masih tidur?” terdengar suara Malviano terdengar sangat parau dipendengaran Elena.
“Kau mau sarapan sekarang?” tawar Elena berbaik hati, melupakan perdebatan mereka tadi malam.
Kantung hitam dimata suaminya sudah cukup bukti nyata bahwa seorang Malviano kurang atau belum tidur sama sekali. Hal itu lantas membuat Elena sedikit merasa bersalah karena pemikiranya tadi malam, tidak menunjukkan ia pun belum terlalu dewasa pada pernikahan mereka ini.
“Sebenarnya aku hanya ingin air hangat,” tolak Malviano halus, tapi ia tetap duduk di meja makan sambil menatap sarapan mewah yang sudan disiapkan Elena.
Elena lalu beranjak mengambil sebuah gelas untuk membuatkan sesuatu untuk Malviano.
Karena tak tahu maksud dari air hangat apa, ia juga membawakan beberapa toples berisikan bubuk coklat, bubuk coffe, dan susu untuk suaminya itu.
“Apakah kau masih marah?” tanya Malviano takut-takut menyinggung kembali istrinya.
“Akan lebih yakin, kau menginginkan apa? Sekalian saja aku membawakan semua.” jelas Elena sambil mengangkat kedua bahunya mencoba untuk tidak salah mengambil tindakan dan maksud dari ucapannya kembali.
“Sepertinya terlalu banyak perbedaan diantara kita ya?”
“Haruskah kita memulai dengan sesuatu, seperti kau menyukai jenis minuman apa?” pertanyaan Elena sambil menunjukkan toples-toples bahan minuman kearah Malviano.
Karena jujur saja, Elena tak mengetahaui minuman apa yang disukai oleh Malviano. Mungkin saja tadi malam, Malviano menolak meminum susu karena suaminya itu tak menyukai minuman tersebut.
“Segelas susu sebelum tidur terlalu kekanak-kanakan untuk dilakukan orang dewasa, tadi malam aku hanya berpikir. Kapan terakhir kali ada seseorang yang menyiapan segelas susu untukku? Maaf jika keterdiamanku menyinggungmu. Aku— maaf.” jelas Malviano panjang lebar, sambil mencoba meraih tangan Elena.
Dan ketika tangan Malviano menyentuh tangan Elena, pria itu langsung menarik tubuh istrinya itu untuk mendekat lebih dekat ke arahnya. Berbicara seperti orang asing dengan seseorang yang sudah menjadi belahan jiwamu rasanya sangat menyesakkan dada.
__ADS_1
Dan ketika tak ada penolakan dari istrinya itu, Elana bisa melihat dengan jelas bahwa Malviano terlihat jauh lebih segar walaupun ia belum sempat tertidur.
“Kurasa bukan hanya kau yang memerlukan pemahaman dalam ikatan ini, aku pun terlalu berlebihan dalam menyimpulkan perkataan dan perbuatanmu padaku, maaf.” Jelas Elena.